Di Yogya ada sebuah toko buku yang terkenal karena harga koleksinya yang murah: Yusuf Agency. Harga yang murah itu harus "dibayar" dengan kesabaran bergerilya memindai sendiri tumpukan-tumpukan buku.

TOKO BUKU yang satu ini sangat tidak wajar dibandingkan dengan teman-teman seperjuangannya di Yogya. Kondisi lapak akan membuat kita bingung. Bukan masalah tempat tokonya, tapi posisi dari buku-buku itu beradalah yang membuat mata pengunjung sebisa mungkin harus mengalahkan mata elang. Minimal setara.

Buku-buku yang ada di sana dibiarkan bertumpuk tanpa aturan membentuk gelombang ombak laut yang sedang pasang. Tidak ada label yang menempel di badannya. Kalau toh ada, label itu biasanya hanya sekadar tempelan tak berarti yang tentunya tidak mempengaruhi patokan harga yang keluar dari mulut si penjual.

Tempelan kategori di rak yang menyangganya pun demikian halnya. Tak satu pun jenis-jenis  kategori yang dipasang guna membatasi pencarian mata pelanggan yang datang berkunjung. Buku itu hanya dibiarkan duduk berjajar lagi bertumpuk dalam susunan atas dasar gemuk badan serta kertas yang menguliti. Juga ada lagi dari sebagian para buku itu disukukan berdasar harga yang nilainya masih berat sebungkus nasi telor di warung Burjo.

Untuk kisaran kurs terkini Jogja yang sedikit dimahalkan pula, katakanlah itu pas sepuluh ribu rupiah.

Tidak jarang juga kita temui Alquran bertumpuk atau bersebelahan dengan buku yang membahas tentang agama kristiani. Mungkin itu pandangan multikultural dalam beragama yang coba ditampilkan oleh si penjual, mungkin. Atau, kalau kita berbaik sangka, itu karena kelakuan para pembeli yang setelah membolak-baliknya lantas tidak sengaja menaruhnya di tempat yang berbeda dari yang sedari awal sudah disusun oleh si penjual. Ya, atau bahkan hal itu bisa jadi disebabkan kemungkinan lain yang tidak saya ketahui alurnya.

Percaya saja, ini jangan sampai dihubung-hubungkan dengan penistaan agama. Sama sekali tak ada hubungannya dengan wacana demikian.  

Ada hal yang penting untuk diingat. Satu pesan penting ini harap diperhatikan oleh para khalayak ramai yang hendak berkunjung ke toko buku ini: jangan pernah membawa rentetan daftar buku-buku yang mau dibeli, karena itu sama halnya dengan anda sedang berjudi. Ya, berjudi.

Pada akhirnya anda hanya akan bisa mengandalkan bejo-beji. Mesin pencari tidak ada, sedang si penjual pun tak akan pernah tahu keseluruhan isi di lapaknya. Mungkin hanya beberapa buku saja yang diingat, yang buku itu sendiri sudah dipilih sebelumnya dari tumpukan di gudang yang menggunung. Meski di website si pelapak terpampang beberapa buku dalam kategori, itupun tak menjamin pencarian para pelanggan tertunaikan.

Mereka, buku-buku itu, dilepas liar dalam rak ataupun meja, bahkan lantai yang berselimut debu dari alas kaki para pengunjung. Memang sengaja demikian, karena ketersediaan tempat yang luasnya tidak sampai mengalahi mal yang melebar kian luas serta menjulang tinggi di bumi Yogyakarta ini.

Bukan maksud hati penulis merendahkan si buku-buku yang dijajakan, sama sekali bukan. Tentu akan sangat menyumpal mata kita sampai buta kalau hanya menilainya secara fisik. Buku-buku itu disuguhkan dengan membawa misi besar dari si empunya toko, “termurah se-Indonesia” menjadi slogannya. Ini tentu sejalan dengan kondisi beberapa penikmat buku di sekitarnya. Sebagai contoh mahasiswa kampus UIN Sunan Kalijaga, dengan segala kenekatannya. Seperti saya juga tentunya. Uang jajan yang pas kekurang-kurangan ini jadi lumayan terbantu saat ingin memenuhi rak buku di kamar kos.

Semua buku yang menyumpal sisi ruang toko itu adalah buku asli cetakan dari penerbit yang menelurkannya. Tidak ada kopian buku yang tercetak ulang dari tempat lain. Keaslian buku tetap terjaga meski tidak tersusun dalam bentuk yang wajar sebagai toko buku besar.

“Yusuf Agency”—sesuai dengan nama sang empunya toko, Pak Yusuf—adalah nama tempat para buku tersebut bersimpuh. Tepat di samping sungai Gajah Wong yang sering menghanyutkan banyak sampah rumah tangga dan kadang mencipta banjir juga meski toko tersebut sangat aman karena posisi yang nun di atas ketinggian sejajar dengan jalan raya. Ya, toko buku itu berada di pinggir jalan besar, jalan Laksda Adisucipto, bersebelahan dengan kampus UIN Sunan Kalijaga di sisi baratnya.

Tampak ketika melewati depan lapak Yusuf Agency, bertumpuk buku tanpa sampul. Para pengunjung harus siap dengan segala risiko mengurangi tenaga. Apalagi dikala musim puasa seperti ini—bagi umat beragama Islam. Siang hari dengan panas yang merongrong tenggorokan harus disisihkan untuk  memfokuskan mata menatap satu demi satu para buku yang mengombak.

Cerita anak menonjolkan diri di tengah tumpukan, di atasnya ada novel Harry Potter seri 2 dan 3, di bawahnya mengintip novel karangan Dee, Perahu Kertas. Serta yang berbadan kurus di paling bawah ada buku Ketika Matahari Bicara, yang berisi kumpulan editorial Ahmad Suroso. Semuanya tertata tapi tak beraturan.

Saya mengambil buku terbawah, membalik-balik lembar mencari alasan rasional kenapa saya harus mengangkutnya ke kantong belanjaan. Selesai itu saya menuju kasir, menanyakan harga buku—yang memang tidak dipasangi label harga—dan membelinya.

“Yang itu dua puluh ribu mas,” tutur si penjaga toko yang sempat saya ajak ngobrol soal kondisi lapak yang ditunggui.

Buku memang tidak tersusun rapi, tetapi pengunjung tetap saja berseliweran memelototi tumpukan pertama sampai yang paling ujung. Harga murah tentu penawarnya. Harga menarik untuk menggaet pelanggan yang siap bertarung dengan kesabaran membongkar-bongkar tumpukan.

Iqbal, nama si penjaga toko yang kebetulan dengan saya saling bertukar nama, sibuk melayani pengunjung yang menanyakan harga dari dagangannya. Lelaki muda asal Jakarta ini tidak perlu pemindai harga atau lembar daftar harga untuk menjawabnya. Dengan melihat fisik buku saja harga sudah bisa disuarakan kepada calon pembeli.

Terkadang tawar-menawar turut serta mericuhi suasana. Terkadang ada yang berhasil memotong harga meski hanya seribu atau dua ribu. Ya,  itu hanya terkadang saja. Kebanyakan memang akan takluk di mulut si penjaga toko. Karena murahnya buku yang ditawarkan kiranya agak membuat sungkan untuk menawarnya lagi.

“Ya memang sudah segitu mas, nggak bisa kurang lagi,” jawabnya kepada pembeli yang sedang menenteng buku The Interior karya Lisa See, dengan raut wajah datar ditambah senyum yang sedikit tertutup kumis tebalnya.

Toko buku ini buka saat matahari sudah agak condong ke barat. Patokan pastinya dalam jam ya antara jam 2-3. Kadang lebih. Tergantung si penunggu tempat. Kadang juga lebih awal, kadang pada hari yang lain malah sampai tidak buka.

Sempat saya mengumpat dalam hati, “ini kok iya toko buku selow amat. Apa iya nggak rugi si empunya toko.” Sudahlah, setidaknya ada tempat untuk menunaikan hasrat memiliki buku asli dengan harga murah. Meski tantangannya lumayan berat: harus bergerilya dahulu.


M. Abd. Rouf
Seorang yang sedang membantingi tulang. Salah satunya dengan menyamar menjadi mahasiswa. Juga menyamar menjadi anak Persma di salah yang lain.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara