Di New Delhi, India, pernah ada toko buku independen yang dikemas dengan menarik: Yodakin. Selain menjadi antitesis toko buku besar, ia juga menjadi tempat orang saling berbagi cerita, membaca puisi, dan tempat kumpul para aktivis.

APA YANG TERJADI saat sebuah toko buku menutup pintu untuk selamanya? Apakah ada elegi, atau ratapan dari pengunjung setianya? Apakah ada pesta kecil di mana orang-orang saling bertukar cerita manis tentang masa-masa ketika toko buku itu dipenuhi gairah? Ataukah ia akan hilang begitu saja? Sepi, tanpa suara?

*

Pada satu bulan Oktober saya berjalan di gang-gang Hauz Khas Village, New Delhi, di bawah payung-payung warna-warni yang bergelantungan, di antara ibu-ibu  dengan sari merah muda dan blus hijau,  juga barisan penjual gelang manik-manik. Tujuan saya hanya satu: mencari toko buku Yodakin.

Saya sudah berencana untuk membeli buku karya beberapa penulis India sejak seminggu yang lalu, namun masih menahan diri karena belum menemukan toko buku independen. Telah lama saya meyakini bahwa menghabiskan uang di toko buku independen bisa berarti lebih banyak dibandingkan membelanjakannya di jaringan toko buku besar.

Dan di New Delhi, toko buku itu adalah Yodakin.

Saya mendengar soal Yodakin jauh sebelum saya tiba di Delhi.

Pada tahun 2013, The New Yorker menulis artikel tentang sebuah toko buku legendaris di Hauz Khas Village yang menjadi simbol harapan bagi sebuah kota metropolis yang kelelahan dan nyaris putus asa. Yodakin adalah saudara dari Yoda Press, penerbitan independen yang berdiri sejak tahun 2004 untuk menerbitkan karya-karya feminis dan berbagai wacana alternatif.

Di sela-sela kesibukannya dengan penerbitan, Arpita Das, sang pendiri, juga membayangkan sebuah toko buku yang bisa menjadi antitesis toko-toko buku besar. Sebuah toko buku kecil yang merayakan penulis-penulis dan karya-karya alternatif yang layak untuk dibaca lebih luas.

Ide itu akhirnya diwujudkan. Pada tahun 2009, di Hauz Khas Village, sebuah komplek perumahan lengang yang mulai bergeliat karena energi yang dibawa para seniman dan wirausahawan muda, toko buku Yodakin berdiri.

Hauz Khas sekarang tidak lagi lengang. Saya berjalan di gang-gang belakang untuk menghindari keramaian di jalan utama. Ternyata di sini pun cukup ramai. Toko-toko, lapak-lapak, orang berbagai usia, semua saling berdesakan. 

Saya melewati toko-toko yang konon baru saja ada di sana (toko yang menjual koper berbahan kulit paten) atau toko yang telah berdiri bertahun-tahun (toko barang antik yang menyebut peta-peta yang dijualnya “wintage”). Namun, Yodakin tak terlihat di antaranya.

Saya berjalan semakin ke dalam dan ia tetap tak terlihat. Peta Google menunjukkan saya sudah ada di dekat Yodakin, dan bahwa toko buku itu masih buka. Saya bertanya pada orang-orang sekitar, tetapi tak seorang pun pernah mendengar soal Yodakin atau mengetahui bahwa di sekitar sana ada sebuah toko buku kecil. 

Ini aneh sekali. Yodakin jelas bukan toko biasa, namun tak ada yang mengetahui keberadaannya. Bahkan The New Yorker pernah menulis panjang lebar tentangnya, tentang betapa ia adalah ruang di mana orang dapat dengan mudah membaca buku karya penulis yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Kashmir.

Yodakin juga adalah ruang di mana gerakan semacam The Pleasure Projects mengumpulkan orang-orang di malam hari untuk membacakan tulisan soal fantasi seks masing-masing. Dengan begitu pembicaraan tentang seks yang aman tidak lagi tabu.

Yodakin adalah tempat di mana para aktivis dan mahasiswa berkumpul dengan darah mendidih setelah mendengar seorang pelajar diperkosa ramai-ramai di dalam bus.  Mereka menjadikannya ruang yang aman untuk saling berbagi tentang pelecehan yang pernah dialami, atau kekerasan terhadap perempuan yang kerap ditutup-tutupi.

Bukan hanya itu, dalam beberapa pertemuan mereka juga saling membacakan puisi. Di sana, di toko buku kecil itu.

“Aku sempat terkejut melihat bagaimana Yodakin dapat menjadi sedemikian berarti untuk orang-orang di kota ini,” ujar Das suatu kali.

Saya bertanya pada seorang penjaga toko aromaterapi apakah Yodakin sudah pindah lokasi. Seberapa besar pun arti Yodakin untuk orang-orang di sini, ia tentu tidak kebal pada harga sewa yang meroket.

Dalam artikel di The New Yorker, Das mengatakan ia hendak pindah ke toko yang lebih kecil di gang yang lebih dalam. Ini disebabkan uang sewa yang oleh induk semang digandakan seenaknya. Penjaga toko aromaterapi mengatakan ia tak tahu menahu soal Yodakin. 

Akhirnya saya bertemu pengelola kafe Kunzum, sebuah kafe generasi awal di daerah Hauz Khaz Village. Ia berkata beberapa kata dalam bahasa Hindi yang kemudian dilanjutkan dalam bahasa Inggris yang terpatah, “Toko buku itu sudah tutup, selamanya. Yodakin sudah tidak ada lagi.”

*

“Mereka terus bermunculan, orang-orang kreatif itu, terlepas dari segala kekacauan yang ada. Mereka adalah harapan bagi tempat yang—seperti banyak tempat di bumi yang sempit ini—mulai putus asa.”

Demikian tulis Teju Cole dalam bukunya ‘Everyday is For The Thief”. Cole menulis tentang Jazzhole, sebuah toko buku dan musik independen di Lagos. Satu-satunya toko di sana yang menjual buku Michael Ondaatje, salah satu pengarang kesukaan Cole.

Perasaan Teju Cole diamini banyak penulis lain di banyak tempat lain. Dalam buku “My Bookstore”, 84 penulis mulai dari Dave Eggers hingga Pico Iyer menulis ungkapan cintanya pada toko buku independen favoritnya masing-masing.

Setiap toko buku memiliki ceritanya, tulis mereka. Toko-toko buku itu melakukan jauh lebih dari sekadar berjualan, mereka menjadi tempat di mana buku bertemu pembaca, dan pembaca menemukan dirinya. Mungkin benar, toko-toko buku independen adalah simbol sebuah harapan.

Namun, masalah dari sebuah simbol adalah ia kerap diterima begitu saja sebagai penebar inspirasi dan keteladanan. Kerapuhan-kerapuhan yang ada adalah bagian dari pesonanya dan dianggap sebuah kewajaran belaka. Sehingga, saat ia terjungkal, kerap tak banyak yang bisa diperbuat.

Demikian pulalah dengan toko buku independen. Ia kerap dianggap Daud yang akan dengan ajaib berhasil menghantam Goliat, dalam hal ini toko-toko buku fisik atau daring yang bermodal besar.

Memang dalam beberapa kasus mungkin benar, banyak toko buku independen yang bertahan lama dan terus mencatat sejarah. Toko buku Parnassus milik penulis Ann Patchett justru dimulai dan terus bertahan saat semua toko buku independen di Nashville gulung tikar. Shakespeare and Co yang legendaris di Paris, The Strand di New York, Powell’s di Portland tetap bertahan dan menjadi pesona bagi kotanya masing-masing. Seandainya saja semua toko buku independen bisa begitu.

Sayangnya, kenyataan tentu bicara lain.

Atlantis Books, toko buku di Oia yang indah itu, terancam tutup beberapa bulan saja sesudah berhasil mengundang David Sedaris dalam festival buku mereka. Jen Campbell menulis buku “The Bookshop Book” sambil bekerja di toko buku berusia 80 tahun bernama Ripping Yarns di London. Beberapa bulan sesudah bukunya diterbitkan, Ripping Yarns tutup permanen.

Bagaimana pun, toko buku independen merupakan usaha kecil yang memerlukan sedikit kegilaan. Di antara harga sewa properti yang terus membubung, dan pergeseran kebiasaan membaca dan membeli buku ke daring, dapat bertahan melewati tahun-tahun yang berat adalah tantangan bagi semua toko buku di dunia.

Hal yang sama terjadi pada Yodakin. Terlepas dari simbol apa pun yang ditampilkan sebuah toko buku independen, terlepas dari harapan apa yang mereka berikan pada orang-orang di daerahnya. Sebuah toko buku bisa tutup begitu saja dan orang-orang di sekitarnya bahkan tak pernah lagi mengingat keberadaannya.

*

Bayangan akan Yodakin masih menghantui jauh sesudah saya meninggalkan New Delhi. Saya tak pernah mengunjunginya, tetapi ada sesak yang saya rasakan setiap kali mengingat sore saat saya mengitari Hauz Khas Village untuk mencarinya.

Akhirnya saya mencari tahu lebih banyak soal Arpita Das, perempuan di balik Yodakin itu. Pencarian membawa saya pada tulisannya di blog Yoda Press. Tulisan berjudul sederhana, “What Yodakin Did For Me”.

Ditulis pada malam ketika Yodakin tutup pertama kali di bulan Mei 2013, Das mengenang hari-hari menjelang pembukaan toko bukunya itu. Saat itu anak perempuannya yang berusia empat tahun mengalami luka bakar dari suka ria perayaan Diwali. Malam-malam Arpita Das akhirnya dihabiskan berpindah-pindah dari toko buku yang sedang dipersiapkan untuk dibuka ke bangsal rumah sakit. Putrinya sedang dalam masa pemulihan saat Yodakin akhirnya dibuka.

Pada enam bulan awal masa pemulihannya, sang putri mengabiskan waktu di antara rak-rak buku Yodakin, atau di toko-toko lain di sekitarnya. Sang putri, juga Arpita Das, menciptakan pertemanan baru di toko buku itu, kenalan-kenalan baru yang memperlakukan mereka sebagai kerabat dekat.

Tentang masa-masa ini Das menulis: “Ini adalah masa ketika untuk pertama kalinya setelah satu dekade aku berhenti mengucap betapa aku membenci Delhi. Aku telah menemukan sudut kecilku di kota ini, juga teman-teman baruku yang seolah merupakan belahan-belahan jiwaku yang telah lama tercerai berai.”

Ia mengakhiri tulisan dengan meyakinkan pembacanya bahwa walau harga sewa telah memaksa Yodakin yang pertama tutup, toko buku ini akan buka kembali. Yodakin baru akan lebih kecil, namun dengan semangat yang sama besar.

Arpita – ya, Arpita, saya tidak dapat menahan diri untuk tidak memanggilnya dengan nama depan sesudah membaca catatannya yang demikian personal—membuat saya mengerti betapa narasi soal toko buku independen tidak berhenti pada posisinya sebagai sebuah simbol belaka.

Di atas semua itu, narasi soal toko buku independen adalah juga tentang orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka yang kerja keras dan cintanya akan bacaan telah menghasilkan sebuah simbol yang dirayakan oleh orang-orang yang juga menemukan hidupnya dalam buku-buku indah.

Saya mengerti mengapa kita jauh lebih mudah untuk berfokus pada simbol. Simbol mewakili sisi-sisi ideal dari manusia. Sementara manusia sering kacau, tak dapat ditebak, dan cenderung mengecewakan begitu ia ditempatkan di tempat yang tinggi.

Terlepas dari tulisan yang ia buat dengan penuh emosi itu, dan Yodakin baru yang betul-betul dibuka dua bulan sesudahnya, Arpita memutuskan untuk menutup Yodakin secara permanen pada Juli 2015. Ia tak sanggup lagi bertahan dengan harga sewa yang semakin tinggi. 

Sesudah menutup Yodakin, Arpita mengajar di sekolah bisnis di Delhi. Di sana ia juga menjadi mentor untuk anak-anak yang berencana membuka koperasi toko buku di kampusnya. Selain itu ia meluncurkan situs penerbitan mandiri bernama Authors Upfront, sambil tetap mengelola penerbitannya, Yoda Press.

Dunia Arpita tetap dikelilingi buku-buku walau Yodakin sudah menghilang tanpa elegi atau gegap gempita perpisahan yang berhak ia dapatkan. Manusia mungkin tidak seideal simbol, mereka mungkin sering membuatmu kecewa, namun, manusia juga kerap lebih tahan banting dibanding simbol yang terlanjur memanggul beban berat.

Manusia-manusia dan semangat dibalik simbol itu akan tetap hidup dan merangkak maju jauh sesudah simbol-simbol itu tamat. Kisah mereka belum berakhir.

*

Apa yang terjadi sesudah sebuah toko buku menutup pintunya untuk selamanya?

Orang di balik toko buku itu mengambil bara semangat yang dulu digunakannya saat membuka pintu toko buku itu pertama kali, lalu memindahkannya ke sebuah tempat baru dan memulainya lagi. Mungkin dalam bentuk yang berbeda, tetapi dalam semangat yang sama.

Karena mereka yang terlanjur jatuh cinta pada buku-buku tidak akan membiarkan baranya betul-betul padam.

 

*Diterjemahkan dari Yodakin, The Bookshop That Is No More, pertama kali diterbitkan di thedustysneakers.com, pada tanggal 31 Januari 2016.


Maesy Ang
Maesy Ang adalah pengelola POST, toko buku independen di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sesekali menulis cerita perjalanan di thedustysneakers.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara