Tak banyak yang tersisa dari toko buku yang suatu hari pernah berjaya di jalan Braga, Bandung. Satu per satu toko buku mulai tak jelas jadwal bukanya, kemudian suatu hari benar-benar tak lagi buka.

SOROT MATANYA terlihat redup. Senada dengan pencahayaan di dalam toko yang ia jaga. Sinar matahari melumuri Jalan Braga, sebuah ruas jalan tua yang menor oleh sejarah kolonial. Udara lembab mengambang, ditingkahi debu tipis yang hinggap di buku-buku. Saya mengambil buku Komplek Percandian Batujaya karya Hasan Djafar, membaca narasi di sampul belakang, lalu menuju perempuan muda yang redup sorot matanya. Sonder senyum, hanya tangannya bergerak memberikan uang kembalian.

Barangkali perempuan itu telah tahu tanggal kematian. Toko buku Djawa yang dijaganya tengah sekarat. Dua minggu pasca-pertemuan tersebut, ajal menjemput. “Buku-bukunya sudah diangkut tadi pagi,” kata seorang kawan. Dua hari setelah itu, bertitimangsa 3 Maret 2015, Harian Pikiran Rakyat menurunkan berita: Akhir Perjalanan Toko Buku Djawa.

Dalam gemerlap Jalan Braga yang kesohor, ada riwayat toko buku yang telah mati dan sebagian masih bertahan dengan kerlip yang kian meredup. Toko buku Djawa yang berdiri sejak 1955, hanyalah salah satu yang tak sanggup bertahan dari gempuran zaman. Ia tak sanggup menghidupi dirinya, terseok-seok, kalah bersaing dengan niaga pangan dan sandang.

Tak jauh dari toko buku Djawa, persis di sebelah mulut Jalan Kejaksaan, terdapat toko buku Intervarsity yang sudah lama lebih sering tutup daripada buka. Fakir pengunjung, pemandangan dari luar terlihat mengenaskan. Sekali waktu saya masuk dan mendapati rak-rak buku berdebu dan menguarkan aroma masa lalu. Ada beberapa buku berbahasa asing, buku-buku ekonomi, kamus, dan beberapa lembar peta Kota Bandung yang entah edisi terbaru atau sudah kadaluwarsa. Beberapa lemari dan rak buku yang telah kosong dikumpulkan di satu sisi dan ditempeli secarik kertas bertuliskan: “dijual”.

Penjaga toko, seorang perempuan setengah baya tak berkata sepatah pun. Ia hanya berdiri, tangannya diletakkan di atas meja kaca yang memajang buku-buku ekonomi. Entah sudah berapa hari ia tak bertemu dengan pengunjung. Tak ada cahaya kegembiraan dari tatapan matanya. Belakangan setiap kali saya melintas di Jalan Braga, toko buku itu tak pernah terlihat buka. Mungkin sudah tutup untuk selama-lamanya.

Menurut Moro Sujatmiko—warga Kota Bandung yang sering membeli buku di beberapa toko di Jalan Braga, selain Djawa dan Intervarsity, dulu ada juga toko buku Scientific yang lokasinya sebelah Braga Permai (niaga kuliner legendaris sejak zaman Belanda), dan satu lagi toko buku Indira. Keduanya kini telah tiada, diganti oleh usaha dagang komoditi lain.

Warsa 1922, di sebelah utara Jalan Braga, bersisian dengan rel kereta api, dibangun sebuah gedung mewah yang diberi nama Landmark. Di gedung itu toko buku Van Dorp pernah bercokol. Van Dorp pernah membuat terobosan dan meraih kejayaan ketika menerbitkan buku Indische Tuinbloemen karya M.L.A Bruggemen yang dibantu oleh Ojong Soerjadi.

Dalam buku botani yang memuat ratusan jenis kembang itu ternyata ada 107 halaman yang dikosongkan tanpa gambar. Setiap pembeli buku, jika ingin melengkapi halaman kosong tersebut harus membeli gambar kembang sesuai dengan deskripsi yang sudah tertulis. Setiap membeli satu gambar, maka pembeli diberi hadiah satu bibit kembang sesuai gambar yang dibelinya beserta potnya. Misal membeli gambar bunga mawar, maka pembeli akan diberi bibit bunga mawar.

Strategi dagang yang aduhai ini berhasil menarik minat warga Bandung untuk membeli buku dan rajin menanam bunga di pelataran rumahnya masing-masing. Dalam sebuah versi, konon bermula dari sinilah Kota Bandung dijuluki Kota Kembang. Dalam tempo satu bulan, berkat buku Indische Tuinbloemen, satu juta bibit kembang beserta potnya berhasil diboyong oleh warga.

Pasca Belanda hengkang dari tanah air, dan Van Dorp gulung tikar, gedung Landmark berganti-ganti fungsi, dari tempat hiburan malam sampai toko alat tulis kantor. Sekarang gedung ini kerap dijadikan tempat pameran buku yang diselenggarakan oleh IKAPI Jabar, yang tragisnya dari tahun ke tahun pengunjungnya semakin berkurang.

“Mungkin masyarakat sudah bosan,” ujar Didin Tulus, penjaga jongko buku Komunitas Bambu menanggapi sepinya pengunjung pada gelaran Pameran Buku Jabar 2017 dengan tajuk Sepekan di Tanah Pasundan.

Hari ini toko buku yang masih bertahan di Jalan Braga adalah toko buku Nusa Cendana. Lokasinya di salah satu sudut simpang Jalan Braga – Jalan Lembong – Jalan Suniaraja. Meski koleksi yang tersisa tidak terlalu banyak, namun setidaknya masih ada buku-buku dengan tema kedokteran, sejarah, sastra, dan buku-buku pelajaran untuk siswa SMA.

Kalau malam datang, toko buku ini terang benderang ditaburi cahaya lampu neon dan pendar sinar dari papan iklan digital yang berdiri di depannya. Beberapa koran, tabloid, dan majalah menggantung dekat kaca, posisinya seperti ayam atau bebek yang bergelantungan di restoran.

Jalan Braga yang dari dulu dipersepsikan sebagai kawasan elit sehingga muncul keengganan belanja buku di sini, ditambah kondisi pasar buku yang tengah lesu—setidaknya jika dilihat dari minimnya pengunjung di pameran buku yang digelar di Landmark, barangkali yang membuat beberapa toko buku di Jalan Braga bertumbangan. Di tengah biaya operasional yang kian mendesak, sementara pemasukan minim, maka para pemilik toko buku tak punya banyak pilihan.

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” tulis Tan Malaka dalam Madilog.

Kalau pakaian dan makanan dikurangi, apakah Kota Bandung akan kehilangan citranya sebagai kota kuliner dan fashion? Serta Jalan Braga akan luntur pesonanya? Entahlah. Lagi pula seperti yang ditulis oleh Wiji Thukul, “Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.”


Irfan Teguh Pribadi
Menulis di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Aleut. Blog: wangihujan.blogspot.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara