16 Jul 2017 Emrudy Bicara Buku

Seorang pendekar tampan, hidup pada zaman yang tak tunggal: zaman kerajaan-kerajaan kuno, bepergian ke masa lalu, dan masa modern. Wiro Sableng adalah kisah buku pendekar yang sampai ke pelosok kampung.

GENERASI TAHUN '70-'90an, siapa tak kenal Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu? Generasi 2000an ke atas mungkin kurang begitu mengenalnya, pada masa jayanya sekalipun, saya kira cersil Wiro Sableng mungkin juga dianggap cerita picisan.

Anggapan semacam itu jelas tak sepenuhnya benar, jika dikategorikan picisan benarnya mungkin karena memang harga cersil ini sangat murah, tetapi sebagai sebuah genre silat, Wiro Sableng popularitasnya sungguh luar biasa. Dalam kategori fiksi genre ini saya kira Wiro Sableng sudah mencapai puncak pencapaian. Nama Bastian Tito sama terkenalnya dengan pengarang cersil lain seperti Kho Ping Ho, dll.

Wiro Sableng adalah salah satu cerita silat yang cukup lengkap diangkat ke berbagai media, ia pernah diangkat ke layar lebar, juga pernah diangkat sebagai sinetron pada era tahun 90an. Cersil ini juga pernah diadaptasi sebagai komik.

Sebagai buku, Wiro Sableng  adalah cersil yang sangat mudah didapatkan, ia tidak cuma konsumi masyarakat perkotaan, tetapi penjualannya pun mampu menerobos pelosok-pelosok kampung. Saya ingat, pertama kali mengoleksinya sekitar tahun 90an, cersil ini saya beli di lapak buku pasar tradisional di kampung halaman saya, sebuah kampung yang berbatasan dengan wilayah Kuningan Jawa Barat. Jika ke pasar itu, orang sudah bisa melihat gunung Ciremai.

Di pasar itu, Wiro Sableng dijajakan menjadi satu dengan Juz Amma, Iqro, Alquran dan buku-buku lain yang pada umumnya dijual di lapak buku emperan dan di lapak-lapak koran. Begitu populernya Wiro Sableng, saya kemudian mencoba mencari tahu oplah penjualan buku ini dan informasi yang saya dapat sungguh mencengangkan: situs Wikipedia mencatat ada sebuah judul yang penjualannya mencapai lebih 920.000 eksemplar, disusul 10an judul lagi yang penjualannya rata-rata mencapai 800.000 eksemplar!

Meski harga per bukunya sangat murah, tetapi ini sungguh angka luar biasa, saat itu mungkin harganya hanya sekitar sebungkus rokok. Pertengahan tahun 90an itu, harga per jilidnya sekitar 1500 rupiah. Harga jual Wiro setara dengan novel-novel Freddy. S yang juga sama-sama banyak nangkring di lapak koran dan buku kelas emperan. Harga itu tak beranjak jauh meski pun kemudian saya membelinya di tahun 2000an. Saat ini anda masih bisa dengan mudah mendapatkan novel Wiro Sableng di lapak buku bekas dengan harga sekitar 5000 rupiah, tetapi mengumpulkan semua serinya tentu saja butuh sebuah perjuangan dan kesabaran luar biasa.

Melihat gaya penjualan Wiro Sableng yang mampu menjangkau pelosok kampung ini, tiba-tiba saya teringat dengan artikel di sebuah majalah tentang penerbit Penguin di Inggris, Penerbit yang dirintis oleh Allen Lane Williams sekitar pertengahan 1930an ini menerbitkan banyak buku-buku sastra dengan kualitas paperback dan dijual sangat murah. Allen Lane semula adalah editor pelaksana di penerbit Albatros asal Jerman yang disebut-sebut sebuah artikel lain lagi sebagai pelopor format paperback untuk pasar massal.

Secara komersial, penerbit Albatros ini gagal, tetapi masih menurut artikel yang sama, kegagalan itu justru membekas dalam benak Allen Lane. Kegagalan Albatros bertahun kemudian menumbuhkan keyakinan pada Allen untuk mencoba kembali strategi yang diterapkan di penerbitan tempat ia dulu bekerja. Strategi Allen ternyata cukup manjur, Ia berhasil menjual jutaan kopi dan kemudian mendapat pesanan dalam jumlah besar dari perusahaan grosir non buku.

Kesuksesan Penguin tentu memunculkan para epigon, strateginya diikuti para penerbit Amerika. Penguin menerbitkan karya-karya Hemingway dan sastrawan lainnya, termasuk Animal Farm dan 1984 karya George Orwell. Orwell konon mendukung langkah Penguin dengan strategi penerbitannya itu. Buku-buku Penguin yang berharga murah bisa dengan mudah didapatkan di stasiun-stasiun kereta dan tempat umum. Kesuksesan Penguin kemudian melahirkan anak penerbitan sesuai genrenya, Pelican untuk isue kontemporer dan Puffin untuk anak, disusul kemudian Penguin Classics yang menerbitkan karya sastra bermutu. Karya-karya yang diterbitkan Penguin mampu menghapus citra murahan secara intelektual bagi penerbit itu.

Mungkin sebuah kebetulan saja ada sedikit kesamaan strategi jualan Wiro yang banyak diterbitkan oleh penerbit Lokajaya itu. Saya juga tak paham mengapa kemudian tak lagi menemukan logo penerbit di beberapa buku Wiro yang terbit tahun 90an. Buku itu seperti diproduksi massal seperti halnya TTS, pedagang eceran “kulakan” buku ini di Pasar Senen.

Cersil Wiro Sableng sudah terbit sekitar tahun 1960an. Bastian Tito saat itu masih menggunakan nama pena Bastian B.A. Berbeda dengan bukunya yang dicetak tahun 90an, Wiro Sableng  tahun 1960an terbit dengan tampilan kover yang sangat bagus dan artistik. Untuk kovernya sendiri kerap dibuat oleh seniman komik top zaman itu, antara lain dikerjakan oleh Tati. Kalau tak salah Tati ini bukan komikus perempuan, tetapi komikus pria. Tak banyak yang tahu, Wiro Sableng juga sebenarnya pernah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah, yang saya temukan banyak terdapat dalam majalah Violeta yang terbit tahun 70an.

Sementara itu, novel Wiro Sableng yang beredar tahun 1990-2000 itu kovernya tak seapik yang terbitan 1960an. Ciri khasnya: pada bagian belakang buku terbitan 90an biasanya terdapat foto pengarangnya, Bastian Tito. Seperti sudah saya tulis di atas, cersil Wiro sangat mudah didapat, Saya tidak tahu, apakah dulu Bastian menjual putus karyanya atau dengan sistem royalti. Jika dengan sistem jual putus, tentu penerbit atau agensinya bisa mencetak berapa pun dia mau, dan Bastian tentu saja tidak mendapat royalti meski bukunya laris sampai ke kampung-kampung sekali pun.

Beberapa tampilan kover Wiro Sableng yang terbit era tahun 60an:

Di bawah ini tampilan kover Wiro Sableng era 90an:

Di bawah ini adalah Wiro Sableng versi komik:

Jumlah serial cersil Wiro Sableng ada sekitar 185 seri. Judul pertama adalah “Empat Brewok dari Goa Sanggreng” lalu dilanjutkan dengan seri lainnya. Meskipun dibuat berseri, Wiro Sableng adalah cersil yang bisa berdiri sendiri, kecuali memang ada beberapa seri lain yang agak sulit dan kurang seru jika tidak membaca seri sebelumnya, tetapi sebagai pengarang, Bastian Tito tergolong informatif memberi informasi terkait seri buku sebelumnya. Pembaca pun biasanya penasaran mengikuti cerita-cerita selanjutnya.

Selain di nusantara, petualangan Wiro juga sampai ke luar negeri, Beberapa episodenya, sampai ke negeri tirai bambu, Cina, dan negeri sakura, Jepang. Seri Wiro di Cina terangkum dalam 3 seri (Lima Iblis Dari Nanking, Pendekar Pedang Akhirat, dan Pendekar Dari Gunung Naga), sementara petualangan Wiro di Jepang juga terkumpul dalam 3 seri (Pendekar Dari Gunung Fuji, Ninja Merah, dan Sepasang Manusia Bonsai).

Wiro, saya pikir, mungkin satu-satunya pendekar kita yang go international...

Bastian Tito adalah pengarang kelahiran Minang, karena itu ia tak lupa membuat episode berlatar tanah kelahirannya, daerah Sumatera Barat. Seri ini bisa dibaca dalam dua buku yakni Dendam Di Puncak Singgalang dan Harimau Singgalang.

Bastian Tito adalah pengarang dengan imajinasi luar biasa. Wiro tak cukup dibuatnya bertualang ke berbagai wilayah nusantara hingga mancanegara, tetapi ia juga dibuat bertualang ke negeri Latanah Silam, negeri 1200 tahun ke belakang dari zamannya. Wiro oleh sang pengarang dibuat semacam memasuki mesin waktu, tentu saja mesin waktu yang dimaksud bukan sebuah mesin, melainkan semacam benda sakti.

Seri Latanah Silam ini saya anggap seri terbaik karena banyak memunculkan tokoh-tokoh aneh, tokoh-tokoh itu antara lain adalah sosok berjuluk Hantu Langit Terjungkir, sosok manusia yang berdiri dengan kaki di atas dan tangan di bawah, lalu ada juga Hantu Jatilandak, sosok manusia bertubuh kuning dengan tubuh penuh duri, ada juga Hantu Tangan Empat yang memang bertangan empat, Hantu Muka Dua yang dalam kondisi marah kepalanya bisa berubah menjadi dua. Lalu ada juga sosok berjuluk Hantu Selaksa Angin, sesuai namanya tokoh satu ini setiap saat selalu kentut sembarangan. Ini belum ditambah tokoh aneh lain termasuk para peri dan lain sebagainya yang semuanya memiliki rupa dan kesaktian aneh.

Apakah seri Wiro Sableng hanya berhenti sebatas latar zaman kerajaan tempo dulu? Ternyata tidak. Sekali lagi imajinasi Bastian Tito sebagai pengarang sungguh luar biasa. Oleh Bastian, Wiro Sableng dibuat masuk ke abad milenium. Seri ini terangkum dalam seri Boma Gendenk, anak muda pelajar SMA Jakarta yang dijadikan murid oleh Sinto Gendeng yang sudah berwujud sebagai makhluk astral. Dalam seri yang berjumlah 9 episode ini, Wiro sudah bukan lagi tokoh utama, tokoh utamanya adalah Boma Gendenk, Wiro hanya muncul sesekali saja membantu anak SMA yang otomatis menjadi adik seperguruannya.

Dalam seri Boma Gendenk, kover-kover bukunya banyak menampilkan putera-puteri Bastian Tito yang ketika itu masih ABG, satu perempuan dan satu lelaki. Anak yang lelaki itu di kemudian hari dikenal sebagai aktor film Indonesia, Vino G. Bastian. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:

Kabar terbaru tentang Wiro Sableng adalah rencana pembuatan filmnya yang menggandeng sebuah perusahaan film Hollywood, Fox International, yang mungkin bekerja sama dengan perusahaan film Indonesia. Saya membayangkan, alangkah keren jika Wiro Sableng diangkat sebagai film oleh pembuat film sekelas penggarap film Harry Potter dengan teknik dan teknologi yang canggih, tentu akan jadi luar biasa. Kabarnya Vino G. Bastian yang merupakan anak kandung Bastian Tito-lah yang memerankan Wiro.

Dalam sebuah wawancara dengan media, Vino mengatakan bahwa tawaran itu sudah ada sejak lama, sudah sejak 3 tahun lalu. Awalnya Vino menolak memerankan Wiro Sableng, Vino ingin peran itu diambil orang lain dan ingin menikmatinya sebagai penonton saja, tetapi dari berbagai pihak kreatif membujuknya karena dia dianggap pas. Dari segi fisik dan wajahnya yang ganteng, Vino memang memenuhi persyaratan, namun suatu hal yang menurut saya sulit adalah karakter Wiro Sableng yang memang sableng dan cengengesan.

Bastian membuat karakter yang klasik dalam setiap cerita, yakni Wiro digambarkan sebagai seorang pemuda tampan bertubuh kekar, disukai banyak perempuan, tetapi bukan seorang mata keranjang. Sepanjang ratusan ceritanya, Wiro hanya mencintai dua perempuan, Bidadari Angin Timur dan satu lagi tokoh bernama Suci, tokoh ini bukan manusia, melainkan makhluk alam gaib.

Suatu hal yang menarik dari Tokoh pendekar bernama asli Wiro Saksana ini, bahwa ia ternyata tidak hanya mempunyai satu orang guru saja. Guru pertama Wiro memang adalah Sinto Gendeng, nenek tua beser  yang sama gilanya dengan muridnya, nenek inilah yang merawat Wiro sejak bayi. Tetapi dalam petualangannya di kemudian hari, Wiro berguru dengan banyak orang sakti. Berbagai ilmu kesaktian ia dapatkan termasuk ketika ia berkelana sampai negeri sakura, Jepang. Petualangannya di negeri Minang pun memperkenalkannya dengan Datuk Rao Basaluang Ameh yang mewarisi banyak ilmu. Datuk Rao ini juga kemudian memberinya binatang peliharaan, seekor macan gaib yang bisa dipanggil kapan saja. Wiro juga belajar ilmu silat dewa mabuk dari seorang tokoh silat Andalas bernama Tua Gila. Pendekar satu ini pun menguasai ilmu meraga sukma yang dipelajarinya dari seorang tokoh yang bermukim di laut selatan.

Karena itulah ilmu kesaktian pendekar satu ini banyak sekali. Ini belum lagi yang sejak awal dipelajarinya dari Sinto Gendeng. Dari Sinto Gendeng, guru pertamanya inilah ia mewarisi Kapak Maut Naga Geni 212. Kapak pendek ini tak cuma bisa mengeluarkan semburan lidah api yang besar, tetapi gagangnya sendiri adalah sebuah seruling, yang jika ditiup menggunakan tenaga dalam mampu mengeluarkan suara mematikan pendengarnya. Selain itu, Wiro juga menguasai Kitab Wasiat Dewa, kitab ini adalah kitab tandingan dari Kitab Wasiat Iblis yang dikuasai Pangeran Matahari, musuh bebuyutan Wiro sepanjang petualangannya.

Karya Bastian Tito sebenarnya tak cuma Wiro Sableng, ada banyak karya lain tetapi memang tidak sepopuler Wiro Sableng. Dikumpulkan dari berbagai sumber, karya-karya itu antara lain adalah Serial Kindo - Pendekar Sabuk Rotan (2 seri), Serial Mimba Purana - Satria Lonceng Dewa (6 seri), Serial Mahesa Edan - Pendekar Dari Liang Kubur (4 seri), Serial Mahesa Kelud - Pedang Sakti Keris Ular Emas (15 seri), Serial Tiga Dalam Satu - Ario Bledeg – Pendekar Keris Tujuh Petir (4 seri), dan Serial Tiga Dalam Satu - Kungfu Sableng (4 seri).

Entah, berlebihan atau tidak, sejak dulu, saya mengharapkan serial Wiro Sableng bisa dicetak ulang secara ekslusif seperti buku Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto atau Nagabumi-nya Seno Gumira Ajidarma. Serinya yang berjumlah ratusan itu bisa terkumpul dalam dua atau tiga buku dikemas dengan bagus dan hard cover, bukan lagi sebuah buku kecil tipis-tipis seperti yang terbit di masa lalu. Bagaimanapun, Wiro Sableng adalah salah satu cersil legendaris. Kami yang hidup di kampung hanya akrab dengan bacaan ringan dan tentu saja terjangkau, dan bacaan terjangkau itu dulu kebanyakan merupakan novel roman yang dianggap picisan seperti Freddy S. dll.

Ada masanya kami terhibur dengan cersil Wiro ini. Dia adalah jembatan yang membuat saya membaca karya tulis lain yang lebih serius. Orang di pelosok kampung itu bukan tak suka membaca, melainkan memang akses bacaan yang tak ada. Orang kampung lebih suka membelanjakan uangnya yang tak seberapa untuk membeli sembako atau hal lain yang lebih penting. Buku adalah barang mewah. Beruntung, saat ini ada banyak elemen masyarakat yang mulai sadar dengan persoalan ini, mereka banyak membuka taman-taman bacaan dan pustaka bergerak. Ini sangat membantu rakyat Indonesia yang konon minat bacanya begitu rendah.

Salam 212.


Emrudy
Pecinta buku dan jalan-jalan
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara