24 Jan 2017 Saut Situmorang Sosok

Film "Istirahatlah Kata-kata" menjadi perbincangan ramai. Perbincangan itu selalu terkait dengan nama "Wiji Thukul", melihatnya kembali dari berbagai sudut, termasuk terutama sosoknya sebagai seorang penyair sekaligus aktivis.

NAMA “Wiji Thukul” tiba-tiba jadi topik pembicaraan yang hangat beberapa hari terakhir ini, padahal sebelumnya nama tersebut cuma populer di kalangan sastrawan dan aktivis politik terutama aktivis gerakan mahasiswa 1998. Mencuatnya kembali nama penyair-cum-aktivis buruh yang “hilang” di kekacauan politik akhir 1990an itu bukan karena dipecahkannya misteri hilangnya dirinya tersebut tapi disebabkan oleh munculnya sebuah film biopic tentang dirinya.

Biopic atau biographical picture adalah sebuah istilah standar dalam dunia perfilman yang memiliki arti “film biografis”. Sebuah genre film yang mendramatisir kehidupan dari seorang tokoh penting sejarah, bisa politikus, penjahat, ilmuwan, atau seniman. Film biografis biasanya memberikan tekanan pada peristiwa-peristiwa besar sejarah yang mempengaruhi kehidupan tokoh yang difilmkan yang menyebabkan tokoh tersebut menjadi penting dan terkenal. Contoh yang sangat terkenal dari jenis film ini adalah film Gandhi (1982) yang mengisahkan kehidupan Mahatma Gandhi, tokoh spiritual India yang merupakan pemimpin gerakan anti kekerasan dan anti kerjasama dalam usaha membebaskan India dari kolonialisme Kerajaan Inggris di paroh pertama abad 20 lalu.

Film biopic tentang Wiji Thukul berjudul Istirahatlah Kata-kata itu ternyata menimbulkan keriuhan pro dan kontra, terutama di media sosial seperti Facebook. Banyak penonton yang merasa sangat kecewa setelah menonton film tersebut. Harapan penonton untuk menyaksikan sosok Wiji Thukul yang sudah menjadi bagian dari folklore masyarakat Indonesia kontemporer itu, dan juga seperti yang dipropagandakan iklan promosi film itu sendiri, ternyata gagal dipuaskan. Bahkan judul film sendiri, yang diambil dari judul salah satu puisi Wiji Thukul, dianggap tidak tepat untuk menggambarkan persona populer dari tokoh sejarah bernama “Wiji Thukul”. Klimaksnya adalah munculnya anggapan bahwa film yang mengklaim dirinya sebagai film biografi Wiji Thukul tersebut tak lebih dari sebuah usaha Deradikalisasi Wiji Thukul, sebuah usaha Revisi Biografi Wiji Thukul, melalui penggambaran dirinya sebagai “manusia biasa”. Sesuatu yang tentu saja sudah bertentangan dengan hakekat sebuah film biografi atau biopic yaitu film yang mendramatisir kehidupan dari seorang Tokoh Penting Sejarah!

Salah seorang penonton film Istirahatlah Kata-kata yang merasa sangat kecewa setelah menonton film tersebut menulis begini di status Facebooknya:

“kenapa seorang wiji thukul yang begitu dikenal sebagai aktivis dan penyair dan sangat berani menyuarakan sikap politiknya justru dilepaskan dari semua itu? sementara film ini dipasarkan untuk "merawat ingatan", "menolak lupa", "mengenalkan sejarah pada anak-anak muda"? pada akhirnya warisan apa yang ingin diberikan film ini kepada penontonnya?”

Dia bahkan mempertanyakan relevansi dari pemakaian teks-teks bahasa Inggris dalam film (yang kemudian diterjemahkan sebagai subtitle ke dalam bahasa Indonesia!) sementara film tersebut diputar di Indonesia untuk pasar publik (berbahasa) Indonesia! Dan tragisnya, bukankah film Istirahatlah Kata-kata tersebut merupakan sebuah biopic tentang seorang Penyair Bahasa Indonesia yang semua karyanya ditulisnya dalam bahasa nasionalnya yaitu Bahasa Indonesia!

Komentar penonton lain di bawah ini makin menunjukkan betapa parahnya peristiwa Deradikalisasi Wiji Thukul itu terjadi dalam film yang, sebelum tanggal pemutaran resminya di jaringan bioskop kapitalis monopolis terbesar di negeri ini, dipropagandakan dengan sangat intens di media sosial sebagai sebuah film “tentang Wiji Thukul”:

“Waktu pertama kali mendengar kabar ikhwal pembuatan film ini, saya senang sekali dan berdebar-debar menanti pemutarannya di bioskop. Maka, ketika film ini akhirnya tayang di bioskop, saya berusaha keras menonton di hari pertama pemutarannya. Saya gembira mengetahui seluruh tiket (di Jakarta dan Bandung) habis terjual pada hari itu (semoga hari-hari selanjutnya juga demikian). Rupanya, magnet Wiji Thukul telah menarik minat para penonton film Indonesia.”

Kita lihat betapa kekuatan magnet nama “Wiji Thukul” begitu besar sebagai daya penarik untuk menonton film tentangnya itu. Tentu saja bukan sekadar nama “Wiji Thukul” yang dimaksudkan di sini tapi:

Saya tentu tidak tahu persis alasan orang-orang menonton film garapan Yosep Anggi Noen ini. Barangkali sebagian karena ingin tahu tentang Wiji Thukul. Sebagian lagi, seperti saya, mungkin karena ingin menyaksikan kisah hidupThukul, sebagaimana telah kita ketahui selama ini: seorang buruh kecil bernyali besar, yang dengan gagah berani melawan penguasa zalim di masa Orde Baru bersenjatakan puisi-puisinya.

Saya berangkat menonton berbekal sebuah harapan akan menemui Thukul yang saya kenal—lewat bacaan dan perbincangan—sebagai penyair pemberani yang kata-katanya setajam peluru dan membuat pemerintah ketakutan. Dia dianggap berbahaya, ancaman bagi penguasa.”

“Wiji Thukul” yang “seorang buruh kecil [tapi] bernyali besar”, “Wiji Thukul” yang “dengan gagah berani melawan penguasa zalim di masa Orde Baru bersenjatakan puisi-puisinya”, “Wiji Thukul” yang dikenal “lewat bacaan dan perbincangan”, “Wiji Thukul” yang “penyair pemberani yang kata-katanya setajam peluru dan membuat pemerintah ketakutan” hingga “dianggap berbahaya, ancaman bagi penguasa” makanya harus dihilangkan sampai hari ini itu!

Inilah Persona Wiji Thukul yang merupakan pengetahuan umum para penonton waktu mereka berbondong-bondong menonton film “Istirahatlah Kata-kata” serentak secara nasional. Inilah sosok Penyair-Aktivis Wiji Thukul yang telah menjadi bagian dari folklore masyarakat kontemporer Indonesia, seperti sosok Binatang Jalang Chairil Anwar, seperti sosok Burung Merak Rendra.

Salahkah para penonton kalau kemudian merasa sangat kecewa karena tidak menemukan sosok Wiji Thukul ini di film yang justru mempromosikan dirinya sebagai Biografi Wiji Thukul?! Sebuah kebodohankah ketika penonton yang mencintai Wiji Thukul itu tapi dikecewakan oleh film yang tak lebih dari sebuah revisi atas biografi Wiji Thukul tersebut menulis:

“Saya membayangkan mengajak keponakan saya yang masih SMP dan SMA menonton film ini. Sebelum nonton, karena mereka belum mengenal Wiji Thukul, saya akan memberi kata pengantar soal “kepahlawanan” sang penyair agar mereka tidak terlalu gelagapan. Tetapi, keluar dari bioskop, mereka menatap saya dengan heran sambil berkata, “Kok Wiji Thukul-nya nggak sama dengan yang Uwa ceritakan?””  

Mirisnya, malah ada yang berkomentar bahwa harapan penonton yang sangat wajar seperti di atas justru sangat tidak wajar dan diklaimnya bisa begitu karena terlalu banyak nonton film Hollywood dan Bollywood yang, konon, selalu merepresentasikan sosok dalam film biopic seperti yang diinginkan penonton! Patronising dan arogan betul pendapat bodoh yang menunjukkan absennya pengetahuannya tentang sejarah film dan arti genre film biopic ini!

Apakah seorang sutradara film memiliki kebebasan dalam menafsir materi yang akan difilmkannya? Jawabannya ya dan tidak. Sebagai seniman, tentu saja seorang sutradara film memiliki kebebasan kreatif dalam menyeleksi hal-hal apa yang ingin dia presentasikan ke publik sebagai materi filmnya. Tapi di sisi lain, genre sebuah film membatasi seorang sutradara dalam kebebasan tafsirnya terutama dalam apa yang disebut sebagai biopic yaitu film yang berdasarkan biografi seorang tokoh sejarah penting. Film biopic harus tetap menghadirkan sosok yang dikenal oleh publik luas sebagai representasi dari seseorang yang difilmkan tersebut. Persona publik dari seseorang itu TIDAK dapat dengan seenaknya dikesampingkan apalagi sampai dilupakan dalam film. Kalau kita menonton film biopic tentang Muhammad Ali, petinju terbesar dalam sejarah itu misalnya, maka sudah sangat wajar sesuai dengan tuntutan genre film untuk menunjukkan adegan-adegan di mana Muhammad Ali memenangkan pertandingan-pertandingan penting dalam kariernya, tidak cuma tentang Muhammad Ali sedang berfilsafat tentang sakitnya dipukuli lawan di atas ring dan betapa sunyinya mengalami kekalahan dari Joe Frazier dan Ken Norton.  

Wiji Thukul bukanlah sebuah fenomena unik dalam sejarah Sastra Indonesia. Bahkan bisa dikatakan bahwa Wiji Thukul adalah contoh khas dari sejarah kepenulisan kita sejak lahirnya apa yang disebut sebagai Sastra Indonesia.

Sudah merupakan raison d'être semua rezim diktator untuk membungkam para tukang kritiknya. Dan penyair/sastrawan di mana saja di planet ini selalu merupakan warganegara yang mengkritik kebobrokan rezim yang berkuasa, termasuk di Indonesia. Makanya mereka harus dibungkam kalau bisa atau dibunuh kalau terpaksa.

Di Indonesia sejak dari era kolonialisme Belanda sampai hari ini banyak penyair/sastrawan yang dibungkam bahkan dibunuh oleh rezim yang berkuasa. Tokoh "Mingke" dalam Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer adalah gambaran dari tokoh historis Tirto Adhi Soerjo yang meninggal dunia dalam pembuangan Belanda di Pulau Bacan, Maluku Utara. Kemudian ada muridnya penulis novel Student Hidjo yaitu Marco Kartodikromo alias Mas Marco yang dibuang ke Boven-Digoel.

Selama era diktator militer Jendral Suharto yang dikenal dengan nama Orde Baru itu ada dua nama penyair yang jadi korbannya yaitu Rendra dan Wiji Thukul. Rendra pernah dicekal tidak bisa baca puisi dan mementaskan teaternya selama bertahun-tahun di awal tahun 1980an dan kita semua tahu nasib Wiji Thukul. Dan jangan lupa juga para penyair/sastrawan Lekra yang dibunuh atau dibuang ke Pulau Buru seperti Pramoedya Ananta Toer di atas atau yang dilarang pulang ke Indonesia. Para sastrawan Lekra ini bahkan sampai hari ini dilarang dibaca karya-karya mereka seperti yang terjadi pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Padahal Pramoedya Ananta Toer berkali-kali dinominasi jadi Pemenang Hadiah Nobel Sastra.

Pembuatan film tentang Wiji Thukul adalah sebuah usaha yang terpuji. Khalayak luas harus tahu tentang dia dan nasibnya. Tapi sayangnya pemutaran film Istirahatlah Kata-kata juga menimbulkan kritik karena diputar di jaringan bioskop kapitalis monopolis dan harga tiketnya mahal. Harusnya diputar seperti film-film dokumenter yang dulu-dulu yaitu di kampus-kampus dan di tempat-tempat lain yang bisa dihadiri dengan gratis! Kalau tidak bisa gratis, ya harga tiketnya dibikin murah. Bukankah Wiji Thukul itu seorang Penyair Rakyat yang miskin dan Pembela Rakyat Miskin?! Mosok film tentang dirinya tidak bisa ditonton oleh Rakyat Miskin cuma karena diputar di bioskop orang kaya! Bagaimana perasaan Wiji Thukul kalau mengetahui hal ini?!

Sebagai penutup mari kita baca lagi dua puisi Wiji Thukul berikut ini:

 

Catatan

udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88

 

Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan

tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tikar pandan
lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
tikar plastik makin mendesak
tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

solo, april 88


Saut Situmorang
Saut Situmorang. Penyair. Tinggal di Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara