Musik memerlukan “pengaksaraan”, atau penjelasan kembali melalui tulisan. Belum banyak buku yang membahas hal itu, jurnalisme musik, buku “Dari Bunyi ke Kata” karangan Erie Setiawan adalah salah satunya.

MINIMNYA LITERATUR musik di Indonesia membuat kehadiran buku ini menjadi penting dan perlu disimak bagi siapa saja yang tertarik dengan kepenulisan tentang musik: jurnalisme, kritik, kajian ilmiah, ilmiah populer, sastrawi hingga sekadar hobi. Beberapa literatur musik yang pernah ada di Indonesia rata-rata masih bersifat dokumentatif, pragmatis atau biografis. Belum banyak yang membedah produk atau peristiwa musik menjadi karya-karya dengan nilai intelektual?yang tentunya penting untuk diinformasikan kepada khalayak.

Salah satu musikolog yang melakukan hal ini ialah Erie Setiawan. Melalui lembaga yang digagasnya, Art Music Today, bacaan berjudul “Dari Bunyi Ke Kata: Panduan Praktis Menulis Tentang Musik” merupakan karya mutakhir dari buku-buku lainnya yang pernah ia tulis diantaranya Memahami Musik dan Rupa-Rupa Ilmunya (2014), Serba-Serbi Intuisi Musikal Dan Yang Alamiah Dari Peristiwa Musik (2015), Musik Untuk Kehidupan (2016) dan Membaca Musik Dari Masa Ke Masa: Katalog Literatur Musik Berbahasa Indonesia Dalam Lima Dekade (2016).

Tak ingin basa-basi, buku ini dibuka dengan dua halaman pengantar sebagai prolog isi buku yang bertutur tentang tujuan proses kreatif selama penulisan. Buku ringkas ini berisi 12 bab yang membedah sejarah jurnalisme musik hingga analisis musik yang disertai teknis serta tips-tips kepenulisan tentang musik. Bagi Anda yang tak begitu mendalami musik lebih jauh, jangan khawatir, karena buku ini juga diperuntukan siapa saja yang ingin belajar mengenai kepenulisan musik dari nol. Mulai yang awam hingga yang profesional.

Ada beberapa alasan yang meyakinkan Erie bahwa musik perlu diaksarakan atau dijelaskan kembali melalui tulisan. Diantaranya adalah untuk memberikan informasi mengenai kronologi peristiwa musik, media promosi kelompok musik, upaya membangun dialektis kepada publik, meningkatkan pengetahuan dan apresiasi musik, membangun kajian ilmiah dan menemukan teori baru tentang musik, panduan bermain musik serta sebagai dokumentasi (hal 1-2).

Dari situ kita bisa melihat cara pandang musikolog dalam melihat jurnalisme musik. Begitu luas dan tak dipersempit. Musik tak hanya dipahami sebagai media hiburan atau gaya hidup yang melulu kita konsumsi. Lebih dari itu, musik adalah produk kebudayaan yang memiliki nilai kultural dan intelektual tertentu. Bermakna multidisipliner.

Meskipun buku ini bukan karya akademik, di dalamnya Erie melakukan pemetaan paradigma bagaimana perluasan topik atau objek mengenai musik. Mulai dari induknya ilmu musik (musikologi), berkembang menjadi etnomusikologi hingga dilengkapi oleh kemunculan kajian budaya (cultural studies) yang membuat musik kian asyik untuk dibahas.

Beberapa jenis kepenulisan musik yang dikupas antara lain ialah teknik observasi dan wawancara, teknik mengutip, kaidah pembahasaan, elemen kritik, teknik menulis ulasan, teknik menulis profil, serta kaidah opini dan deskripsi. Istilah ‘logika musikal’ digunakan Erie untuk menerjemahkan misteri yang terkandung dalam musik. Porsi logika dan perasaan harus seimbang. Caranya dengan membangun logika intuitif dan melatih kepekaan rasa dalam melihat peristiwa musik.

Karena jika hanya mengandalkan perasaan, yang timbul adalah fanatisme dan egosentrisme pribadi akan selera musik. Meskipun karya musik adalah produk ekspresi subjektif si pembuat musik, namun Erie memberi garis tegas bahwa selera dan pemahaman berada di jalur yang berbeda. Khususnya untuk kepenulisan musik.

Dalam langkah-langkah menulis tentang musik, Erie membedakan dua jenis peristiwa musik yaitu: peristiwa pertunjukan musik dan peristiwa non-pertunjukan musik.

Peristiwa pertunjukan musik seperti reportase konser musik. Dua aspek utama dalam penulisan pertunjukan adalah aspek komunikasi struktural: hubungan antara pemusik dengan karyanya; dan aspek komunikasi emosional: hubungan antara pemusik dengan penonton.

Sementara itu, peristiwa non-musik meliputi kepenulisan workshop musik, diskusi musik, seminar musik dan resensi rekaman musik (audio CD). Karena ekosistem musik yang sehat adalah tentang hubungan karya, musisi dan publik. Tugas utama penulis musik adalah membuat bagaimana tiga unsur ini saling berdialektika.

Kritik Musik di Indonesia

Hampir sekujur buku ini mengulas tentang teknis dan tips bagaimana menulis musik yang ideal sesuai kaidah jurnalisme dan disiplin ilmu. Namun yang paling berkesan bagi saya justru pada bagian akhiran buku. Erie berusaha membeberkan kondisi jurnalisme dan kritik musik di Indonesia. Nama-nama seperti Denny Sakrie, Roy Thaniago, Joko S. Gombloh, Michael Budiman Priyadi, Bambang Muryanto, Taufiq Rahman hingga vokalis band Tika and The Dissidents, Kartika Tjahja muncul sebagai opini perbandingan.

Mereka mengungkapkan pandangan-pandangannya terkait kondisi jurnalisme dan kritik musik di Indonesia, misalnya.

Bambang Muryanto mengungkapkan jurnalisme musik di Indonesia pada umumnya hanya dikuliti sebatas kosmetika gaya hidup yang jauh dari esensi pemberitaan musik yang sebenarnya. Sementara Kartika Tjahja mengomentari ihwal penyeragaman media informasi musik. Serta penggagas portal jakartabeat.net, Taufiq Rahman beropini bahwa Indonesia tak memiliki paradigma tradisi kritik seni yang pasti.

Kritik lebih tajam dipaparkan Michael Budiman Mulyadi. Baginya, dari sekian media musik yang ada di Indonesia, tidak banyak yang mampu memberikan reportase yang berkualitas akan sebuah peristiwa musik. Reportase yang ada seringkali tidak mampu mengupas peristiwa musik secara mendalam, hanya sebuah peristiwa musik yang tereduksi terlalu jauh hingga pembaca tidak bisa mendapat gambaran akan apa yang terjadi sebenarnya (hal 82).

Sayangnya, buku ini tak diulas dari berbagai perspektif. Sebagian besar hanya berkutat pada disiplin ilmu musikologi. Mungkin jika diperluas melalui berbagai disiplin seperti ilmu sosial, budaya atau jurnalistik, misalnya?buku ini akan lebih memikat.

Membaca “Dari Bunyi Ke Kata: Panduan Praktis Menulis Tentang Musik” juga seperti sedang menyimak workshop menulis musik. Erie menggunakan diksi-diksi yang lugas dengan menggunakan beberapa istilah-istilah ilmiah. Meskipun secara tata letak, buku ini kurang memuaskan, namun secara substansial buku ini cukup kuat untuk membangun jalan terjal wacana jurnalisme dan kritik musik di Indonesia. Semoga saja.


Gunawan Wibisono
Domisili di Solo. Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Sebelas Maret. Tulisan-tulisannya tersebar di media cetak dan daring.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara