Tahun 2016 penerbit Oak menerbitkan terjemahan Candide karya Voltaire. Judul itu sekaligus adalah nama tokoh utama novel tipis yang membuat kita mau tak mau setuju bahwa Voltaire adalah seorang satiris yang berani ini.

CANDIDE ADALAH novel klasik berlatar abad pertengahan, di dalamnya Voltaire membuka mata kita sebagai manusia abad 21 yang sedang menkmati bangkitnya ideologi konservatif. Meskipun tidak secara eksplisit di novel Candide ini ia mengkritik secara vulgar feodalisme dan dominasi gereja terhadap manusia.

Sebenarnya novel ini apabila dibaca dengan cermat banyak sekali mengandung lompatan cerita yang begitu cepat, cerita petualangan yang tergesa-gesa dan membingungkan. Namun agaknya Voltaire sedang mengajak pembaca untuk memahami bahwa dunia ini tidaklah indah seperti yang dikatakan oleh para filsuf dan agamawan, dunia ini hanyalah kebengisan, keserakahan, dan ketertindasan.

Seperti itulah memang Candide: seorang pemuda yang polos, punya gairah intelektual yang tinggi, dan lugu, yang mengalami peristiwa kebiadaban-kebiadaban yang dilihatnya secara langsung. Pembantaian terhadap manusia, perbudakan yang saat itu menjadi kenormalan, dan kemiskinan yang melilit kaum tak bermodal. Novel ini kemudian menjadi menarik lantaran peran tokoh perempuan cantik bangsawan bernama Cunogonde, dan Tuan Pangloss sang Filsuf romantik yang sangat moralis. Keduanya membantu cerita ini menjadi lebih hidup.

Jika kita sebagai manusia biasa, tentunya kita akan selalu merasa bahwa diri kita ini sebagai makhluk yang paling menderita dibandingkan makhluk yang lain. Misalkan saja saat diri kita ini ditolak perempuan, atau gagal menikah pasti sebagai manusia biasa kita akan merasa bahwa kita menjadi tumbal dari kehidupan. Kemalangan diri kita akan kita ungkapkan kepada siapapun kalau diri ini adalah orang yang paling malang sedunia.

Namun, apakah benar diri kita ini manusia paling malang? Banyak orang-orang yang hidup kelaparan di jalan, masih banyak orang yang tak punya rumah karena rumahnya digusur oleh pemerintah daerah. Ada juga korban pembantaian 65 yang sampai saat ini tak menemukan keadilan, bahkan Suku Rohingnya diusir dan dibantai oleh pemerintahnya sendiri. Masih ada banyak orang yang jauh lebih menderita keimbang yang pernah kita alami.

Voltaire dalam novel ini tampak menempatkan dirinya pada kritisisme, khas intelektual abad pencerahan. Ia selalu mengutip perkataan Tuan Pangloss bahwa “Dunia ini untuk yang terbaik.” Kita kemudian akan bertanya yang terbaik itu siapa? Bagaimana cara untuk menjadi yang terbaik?

Jelas bahwa Tuan Pangloss di sini merupakan filsuf yang mengagungan dahsyatnya buah pemikiran imajiner ketimbang melihat dunia secara empiris dan konkret. Saat Candide menyelamatkan Tuan Pangloss dari perbudakan, lantaran ia diusir dari istana karena kekalahan perang atas kerajaan Bulgaria, misalnya, a masih sempat-sempatnya berkata kepada Candide bahwa ia dipertemukan lantaran ia merupakan orang yang terbaik. Segala sesuatu di dunia adalah untuk yang terbaik.

Omong kosong semacam ini sebenarnya buah dari pikiran nyinyir Voltaire terhadap filsuf yang sok bijak dan buta melihat kenyataan. Pada akhirnya yang terbaik adalah orang-orang yang punya kekuasaan dan menggunakan cara-cara licik untuk menindas yang lemah. Pada akhirnya cara menjadi yang terbaik hanyalah menindas musuh-musuh atau membantai siapapun orang yang dianggap mengganggu kemapanan.

Lalu kita juga bisa membandingkan keadaan abad pertengahan itu dengan negara Indonesia. Indonesia, sebuah negara yang dibangun dari perjuangan dan pergolakan politik yang ekstrem. Sukarno yang cerdas dan berani terkadang berkompromi bisa menjadi Presiden, dan Suharto yang diam, santai, santun, dan tenang dengan mudahnya menjungkalkan Sukarno dan kelompok kiri. Yang terbaik hanyalah untuk orang-orang yang mampu menyingkirkan musuh-musuhnya, termasuk ketika musuh itu hanyalah diada-adakan semacam Hantu Komunis yang bangkit lagi.

Kelebihan buku ini sendiri terletak pada alur cerita cinta antara Candide dan Cunogonde. Alur cerita cinta ini bisa membuat  pembaca selalu ingin mengetahui kabar Cunogonde yang cantik jelita itu yag diperistri oleh Raja dari Amerika Selatan. Namun setelah membaca beberapa bab ternyata cukup lama bagi Candide menemukan Cunogonde. Setiap membuka bab baru kita tidak sabar untuk mengetahui bagaiamana nantinya Candide bisa bertemu lagi dengan Cunogonde.

Sayangnya di kisah ini akhirnya Candide sudah tak mencintai Cunogonde lantaran ia sudah tak cantik lagi dan berwajah jelek. Dadanya sudah tidak beris lagi, dan giginya menguning. Apa yang diceritakan oleh Voltaire disini adalah bagaiamana laki-laki selalu melihat fisik dahulu baru kemudian hati. Candide hanya terobsesi pada kecantikan Cunogonde namun sejatinya ia hanya mengejar nafsunya saja.

Meski demikian, musti diingat juga bahwa cinta dan nafsu itu saling beriringan. Namun memang pada akhirnya laki-laki sentris menjadi titik pijakan Voltaire untuk melukiskan bahwa Candide merupakan lelaki normal yang memuja kecantikan wanita bukan hatinya.

Untuk kekurangan ataupun kritik terhadap novel ini, nampak bahwa pemikiran orientalis sangat kental menjadi titik pijak Voltaire. Hal ini bisa kita ketahui lewat penggambaran masyarakat adat, dan masyarakat hutan yang ia sebut bertingkah biadab, tak manusiawi, dan tak berbudaya. Disinilah Voltaire nampaknya membuat sebuah standar bahwa hanya manusia yang diberikan ilmu pengetahuan yang bisa menjadi manusia beradab.

Padahal, pada kenyataannya, meskipun manusia itu diberi pengetahuan ilmiah ia masih bisa menindas dan bahkan bisa lebih biadab dari binatang. Disinilah corak orientalis dalam pemikiran Voltaire terdengar sudah tak relevan lagi. Kecenderungan menganggap bahwa orang Eropa yang paling berbudaya nyatanya itu salah besar.

Novel ini seperti membawa pembacanya menjelajahi dunia, pertualangan-petualangan ke Amerika Selatan yang menceritakan kekayaan alamnya dan cerita kemegahan Kerajaan Turki Otoman sehingga bisa membuat pembaca membayangkan bagaimana keadaan masyarakat pada saat itu. Pada bagian akhir pembaca juga akan menemukan hal yang bisa disebut titik akhir di bagian cerita ini, sebuah teka-teki filsafat Tuan Pangloss yang dengan sempurna dikritik habis oleh kenyataan itu sendiri. Bahwa dari aktivitas produksi-lah manusia mengenal dirinya dan dunia, bukan dari ide imajiner yang membuat adagium-adagium yang menyesatkan.

“Kerja itu senantiasa menjauhkan kami dari tiga keburukan besar: Kebosanan, Kejahatan, dan kemiskinan.” Kata Si Pria Tua di halaman 259.

Titik balik dari cerita moralis dan emosional ini akhirnya bermuara pada aktivitas nyata dunia yaitu kerja! Dan Tuan Pangloss menjadi simbol kegelapan yang masih diamini oleh intelektual-intelektual Indonesia yang menganalisa gerak masyarakat Indonesia dengan menutup kenyataan bahwa penindasan itu nyata setiap hari di negara tercinta ini. Voltaire, tak berlebihan jika dikatakan sebagai sebagai penulis paling satiris dan berani pada masanya    


Danang Pamungkas
Penulis dan peneliti di Yayasan Kampung Halaman. Aktif menulis di berbagai media daring termasuk indoprogress.com dan berisik.id. Satu novelnya diterbitkan PATABA Press berjudul "Kisah Harubiru Sang Pengoceh".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara