Pesantren selama ini telah melahirkan banyak penyair. Tahun 2017 ini salah satu antologi puisi seorang penyair yang lahir dari pesantren diterbitkan oleh Diva Press, judulnya: Kasmaran. Antologi puisi yang pekat dengan cinta.

USMAN ARRUMY adalah santri yang menulis puisi. Dan ia bukan hanya “menulis”, melainkan “terus menulis” puisi. Ada beda tentu antara hanya “menulis” dengan “terus menulis”. Pada yang awal puisi bisa jadi hanya semacam persinggahan sementara sebelum ditinggalkan karena tuntutan banyak hal lain yang mengisi hidup, sementara mereka yang “terus menulis” puisi berarti telah menganggap bahwa—mengutip baris terkenal dari Chairil Anwar—“rumahku dari unggun-timbun sajak”.

Mereka inilah yang biasa kita anggap penyair.

Kita tahu bahwa Usman terus menulis puisi sebab puisi-puisinya dalam antologi Kasmaran yang diterbitkan Diva Press pada September 2017 ini merupakan puisi-puisi dari tahun yang panjang: 2013-2016. Belum lagi jika kita melihat biodatanya singkatnya di halaman belakang antologi ini maka kita akan tahu pada tahun 2012 satu antologi puisinya sudah terbit, kemudian tahun 2014 terbit satu lagi.

Kasmaran, judul antologi ini, diambil dari judul puisi keenam di dalamnya, puisi 12 baris yang dibagi menjadi 4 bait dengan per bait masing-masing tersusun dari 3 baris. Diksi kasmaran sendiri memang sudah masuk ke dalam KBBI edisi kelima, diartikan sebagai “mabuk berahi; jatuh cinta”. Secara etimologis, diksi itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu sang penyair: Usman Arrumy adalah penyair kelahiran Demak.

Dalam salah satu puisi yang ada dalam antologi ini, berjudul Memoar, kita menemukan pasase semacam ini:

Atas nama Moyang, sumpahnya

Akan kusenandungkan Pupuh Dandanggula

sebagai penegasan penyair yang lahir di tanah Jawa

...

Di hatinya bergema abadi Sluku-sluku Bathok

Tembang macapat yang ia dapat manakala di pondok

...

Demi bumi Demak, ikrarnya lagi

akan kurapal madah Kinanti berulang kali

agar cintaku pada kampung halaman tak mati

Dandanggula, tembang macapat yang biasa digunakan—mengutip Remy Sylado—untuk bebuka prayoga, untuk cerita gandrung-gandrungan, untuk mengajarkan kebaikan, atau untuk bagian penutupan. Sedangkan Kinanti, biasanya digunakan untuk menerangkan pelajaran atau yang mengandung petuah. Sluku-sluku Bathok sendiri adalah tembang dolanan anak di tanah Jawa yang asal-usulnya biasa dinisbatkan ke Sunan Kalijaga.

Puisi Memoar ini, ditulis dengan titimangsa 2015, nampaknya merupakan penegasan jati diri sang penyair, meski tak tertutup juga kemungkinan bahwa ia memiliki makna lain. Di dalamnya sang penyair merunut asal-usul kepenyairannya pada kejawaan (nature) dan kepesantrenan (nurture). Puisi, dari sudut pandang dua asal-usul ini, biasa dianggap pertama-tama sebagai penyampai pesan—sebagaimana kita temukan dalam tembang Dandanggula, Kinanti, dan juga Asmaradana yang dijadikan judul puisi ke-26 dalam antologi ini. Puisi, dengan demikian, pertama-tama adalah ide, bukan kata, hal yang juga disinggung penyair Acep Zamzam Noor dalam epilog antologi puisi ini.  

Maka tak heran jika kadang pada puisi-puisi dalam antologi ini kita menemukan terselip diksi yang berasal dari bahasa Jawa: anggak (Testimoni si Dungu), suwung (Jailangkung), manunggaling kawula (Manunggaling Kawula Cinta), ataupun diksi yang mengingatkan kita pada dunia kepesantrenan: taswir (Obituari Cinta), Qaf Ha’ Wawu (Surah Kopi) yang merujuk pada huruf penyusun diksi kopi dalam bahasa Arab, Qahwah, demikian juga baris dalam puisi yang sama, telah kusempurnakan untukmu kopimu, mengingatkan kita pada salah satu ayat Alquran, Surat Al-Maidah ayat 3: telah Kusempurnakan untukmu agamamu.

Kegandrungan sang penyair akan rima juga nampaknya bisa dirunut pada asal-usul ini. Tembang lahir dari kebudayaan lisan, karena itulah matra dan rima menjadi bagian yang penting untuk memikat pendengar. Demikian juga halnya dengan syair-syair yang biasa ditemukan dalam kitab kuning di pesantren karena peraturan prosodi puisi Arab memang juga ketat mengatur matra dan rima.

Kegandrungan itu terkadang membuat sang penyair menggunakan poetic license untuk melanggar peraturan baku demi melahirkan diksi yang pas, sebagaimana ia juga kadang menggunakan diksi cakapan demi menciptakan rima. Lihat misalnya baris dari puisi Nothing ini:

Tak kubiar kecemasan ini menjalar makin liar

Menghalau gusar, menahan getar yang tak kunjung kelar

Diksi kubiar berima dengan liar, gusar, getar, kemudian kelar.  Diksi kelar ini bukanlah diksi yang lazim, ia adalah bagian dari kosakata cakapan yang masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Jawa, sedangkan asal-usulnya sendiri adalah dari bahasa Belanda klaar, artinya selesai.     

Diksi kubiar sendiri bentuk lengkapnya kubiarkan, sufiks –kan dibuang sehingga diksi tersebut menjadi kubiar. Dalam bahasa sastra hal tersebut ada di bawah bendera poetic license, sedangkan dalam peraturan prosodi bahasa Arab yang biasa dipelajari di pesantren itu bisa dimasukkan ke dalam kategori dharurat syi’r. Pada puisi lain, Angin II, kita juga menemukan diksi ngalir, berasal dari diksi mengalir yang prefiks –me-nya dibuang, nampaknya berdasarkan pertimbangan matra.

*

Ada 46 puisi tergabung dalam antologi Kasmaran. Selaras dengan judul antologi ini, puisi-puisinya mengangkat tema besar cinta, meski sebagaimana diungkapkan penyair Sapardi Djoko Damono dalam pengantarnya, cinta itu berkelindan antara cinta manusia terhadap manusia dengan cinta manusia terhadap Tuhan.

Bukan kebetulan pula bahwa dalam epigraf antologi ini kita menemukan dua baris yang mengukuhkan tema besar tersebut:

Setiap daripada kalian adalah seorang pecinta

Dan bertanggungjawab atas air mata kekasihnya

Sebagaimana intertekstualitas dengan ayat Alquran yang tadi sudah disebutkan di atas, kali ini kita akan menemukan bahwa dua baris tersebut nampaknya memiliki intertekstualitas dengan salah satu hadits nabi yang termaktub dalam Sahih Bukhari dan sangat populer. Bagian awal hadis tersebut berbunyi:

Setiap daripada kalian adalah seorang pemimpin, dan setiap daripada kalian akan diminta pertanggungjawabannya.

Dalam tiap tahun yang diterakan sebagai induk kronologis puisi-puisi pada antologi ini, kita bahkan selalu bisa menemukan diksi cinta menjadi judul. Lihat misalnya dari tahun 2013, ada Fatwa Cinta, Ayat Cinta, Rahasia Cinta, Sabda Cinta, dan Titah Cinta. Dari tahun 2014 ada Huruf Cinta dan Manunggaling Kawula Cinta. Dari tahun 2015 ada Obituari Cinta. Dari tahun 2016 ada Pertanyaan tentang Cinta.

Belum lagi puisi-puisi yang lain yang meski tidak menggunakan judul cinta tapi akan kita temukan mengangkat tema itu, termasuk puisi Kasmaran. Puisi Batu misalnya juga merupakan puisi tentang cinta (aku tak perlu memburu untuk merengkuhmu/tak butuh berkata demi membuktikan cintaku), demikian juga puisi Buku dan Kamu yang memperbandingkan buku dengan kamu sebagai pronomina yang merujuk pada objek cinta.

Cinta memang merupakan tema yang tak pernah mati menjadi ilham para penyair. Ada satu kutipan yang sangat populer dari Simposium-nya Plato bahwa “dalam sentuhan cinta, semua orang menjadi penyair”. Chairil Anwar juga memasukkan “percintaan” sebagai salah satu “pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman”. Demikian pulalah ada dua baris puisi penyair Nizar Qobbani yang diterjemahkan oleh Usman Arrumy dan terbit tepat setahun sebelum antologi Kasmaran:

Kekasih, aku cinta

Maka aku ada

Salah satu kelebihan yang juga ditawarkan oleh puisi-puisi dalam antologi ini adalah sifatnya yang kebanyakan quotable. Bukan hal yang mudah untuk membuat puisi-puisi semacam itu karena membutuhkan kemampuan retorika yang tinggi. Kelebihannya ini membuat resepsi pembaca akan pesan yang juga ditawarkan puisi-puisi tersebut kemungkinan akan lebih bagus: di dunia kesusasteraan Inggris, salah satu alasan mengapa puisi-puisi Wordsworth lebih populer daripada puisi-puisi kawan sezamannya yang dari segi kualitasnya bisa dikatakan sepadan, Coleridge, adalah karakteristik puisi Wordsworth yang lebih quotable.

Contoh penyair kita berikut baris puisinya yang memiliki karakteristik ini adalah Chairil Anwar misalnya dengan baris puisinya “mampus kau dikoyak-koyak sepi” yang sangat mudah kita temukan baik menghias tembok pinggir jalan ataupun pembaruan status di media sosial, dan juga baris puisi “sekali berarti, sudah itu mati” yang bahkan pernah dijadikan semboyan kampanye partai. Demikian juga Sapardi Djoko Damono dengan baris puisinya “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” yang sangat sering dijadikan bahan rayuan untuk kekasih ataupun pesan cinta yang menghiasi surat undangan pernikahan.

Simak misalnya baris-baris dari Usman Arrumy ini:

Torehlah aku sebagai Nama, yang jika disebut

Rindumu seketika berdenyut

(Rapsodi Rindu)

Insomnia terbuat dari mata kopi

Yang menyerahkan tatapannya

Pada mata seorang pecinta

(Insomnia II)

Kopi yang baik adalah kopi yang begitu

diseduh dapat mengingatkan pada kekasihmu.

(Surah Kopi)

Malam minggu adalah upacara

Bagi kaum jomblo menyambut kesepiannya

(Ode untuk Jomblo)

Puisi-puisi yang quotable adalah puisi-puisi yang biasanya memiliki perpaduan yang seimbang antara pesan dan citarasa. Tentu ada banyak puisi yang bagus tapi pada saat yang sama tidak quotable, akan tetapi dari sudut pandang retorika nampak bahwa puisi-puisi semacam ini memiliki potensi yang cukup tinggi untuk disukai pembaca, untuk membuat pembaca mulai menyukai puisi.

Begitulah, Usman Arrumy adalah santri yang menulis puisi. Kita percaya bahwa ia akan terus menulis puisi sebagaimana kita juga percaya bahwa masih banyak puisi karyanya yang belum dipublikasikan: antologi Kasmaran ini adalah antologi sepilihan puisi, bukan seluruhnya. Bagi sang penyair sendiri, nampaknya tiap kali ia berdoa, maka ia berpuisi, karena

Di setiap doa ada puisi yang tersembunyi

tiap katanya mengharap ditafsir kembali.

Itu pulalah nampaknya penggambaran yang paling tepat untuk puisi-puisi dalam antologi ini: doa yang menyimpan puisi. Upaya menafsirkan ulang kata-kata yang merangkainya mungkin akan membawa kita pada perenungan cinta dalam spektrumnya yang sangat luas, pada laku kasmaran yang tak pernah tuntas.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara