06 Dec 2017 Danang Pamungkas Sosok

Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai aktivis sekaligus penulis di negeri kita. Salah satunya adalah ini: Roem Topatimasang.

PERTAMA kali mendengar Roem Topatimasang, aku asing dengan nama itu. Maklum semenjak kuliah aku larut dalam budaya diskusi asal jeplak, dan asal nyangkem. Sehingga tak mengenal aktivis sekaligus tokoh literasi yang sangat populer di kalangan pegiat pendidikan alternatif ini. Meskipun ia bertempat tinggal di Jogja aku belum pernah bertatap muka dengannya, ataupun membaca buku-bukunya semasa mahasiswa.

Ia menulis banyak buku, namun aku baru membaca dua bukunya “Mengorganisir Rakyat” dan “Sekolah Itu Candu” yang semuanya diterbitkan Insist Press. Buku itu kubaca sekitar enam bulan lalu saat aku bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan yang berfokus pada pendidikan alternatif juga. Saat pertama kali aku mengikuti diskusi di Pendopo Insist yang membahas aktivisme dan kerelawanan, aku takjub mendengar cerita, dan gagasannya tentang gerakan sosial yang harus dibangun dengan cara yang berbeda ketimbang pada generasinya.

Pria kelahiran 1958 di pedalaman Lembah Besar Baada’-Verbeck Perbatasan Sulawesi Selatan dan Tengah ini memang unik. Keunikannya terletak pada kesukaannya mengorganisir masyarakat pedalaman dan melakukan inovasi pendidikan untuk pemecahan problem sosial yang konkret untuk rakyat. Gagasannya di dalam buku Sekolah itu Candu mengingatkanku pada gagasan Paulo Freire di buku Pendidikan Kaum Tertindas. Kalau di Brazil ada Paulo Freire yang mengorganisir masyarakat petani, di Indonesia ada Roem Topatimasang yang mengorganisir berbagai kelompok masyarakat pedalaman dan pedesaan.

Tapi kukira gagasan Roem Topatimasang lebih cocok diterapkan di Indonesia, ketimbang gagasan Paulo Freire. Mungkin karena aku tak begitu suka membaca gagasan filsafat pendidikan Marxisnya Freire yang jelimet, sehingga aku lebih menyukai gagasan sederhana, dan narasi yang mudah dipahami di buku Sekolah itu Candu karya Roem.

Bagiku Roem adalah pembuat jembatan antara lulusan akademis dengan masyarakat pedesaan. Ia membawa literasi dan pendidikan kepada masyarakat awam yang tidak terbiasa dengan kultur akademis. Bagiku ia sudah mengejawantahkan teori Freirean yang njelimet ke ranah teknis yang jarang  dilakukan oleh akademisi yang hanya duduk di dalam kelas.

Umurnya sudah tidak muda lagi, sekitar 59 tahun. Namun jangan ditanya kalau perihal semangat dan tenaganya untuk bekerja pada kemanusiaan. Aku masih ingat kata-kata sederhananya di buku Mengorganisir Rakyat:

“Menjadi seorang pengorganisir bukanlah menjadi seorang hero atau pahlawan yang menggurui rakyat. Menjadi pengorganisir adalah bekerjasama dengan rakyat untuk memecahkan persoalan konkret dengan proses belajar partisipatif. Pada akhirnya yang menjadi pahalwan sejati adalah rakyat itu sendiri bukan si pengorganisir.”

Itu kalimat yang masih kuingat dan mungkin saja ada yang luput. Namun yang pasti, Roem telah membuktikan bagaimana gagasan pendidikan alternatif yang berbasis pada kebutuhan lokal masih nihil di sistem pendidikan nasional Indonesia hari ini.

Kembali pada sosok Roem. Sudah tiga kali aku bertemu dan berdiskusi santai dengannya meskipun tidak intens namun ia termasuk orang yang ramah, dan mudah untuk membagikan pengalamannya kepada orang-orang baru termasuk aku sendiri. di tengah kesibukannya yang padat mengelilingi wilayah nusantara dari ujung Sumatera sampai Papua, ia tetaplah orang yang sederhana. Bermodalkan sarung, topi, kaos tipis ditemani  rokok Class Mild, dan kopi, ia akan menerimamu dengan hangat jika ia sedang senggang. Kalau kamu datang ke Insist, kamu akan heran dengan wara-wiri banyak orang yang mengajaknya berdiskusi ataupun ngobrol santai.

Di pertemuanku yang kedua dengannya, aku kagum atas vitalitas, dan energinya meladeni banyak orang yang meminta pendapatnya seputar pengorganisiran komunitas. Aku jadi teringat Pram, kalau melihat situasi pada saat itu. Banyak orang yang meminta tandatangan, membeli buku, dan berfoto dengannya. Kalau di dunia sastra Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer, maka di dunia Pendidikan Kerakyatan ada Roem Topatimasang.

Bukannya, aku asal menyamakan. Namun keduanya sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu kuat, tangguh, dan gaek. Jatuh kesana-kemari, diteror Orde Baru namun juga tetap bisa melawan, dan semakin kuat suaranya. Kalau Pram dipenjara pada saat awal Orba berkuasa, maka Roem Topatimasang dipenjara selama beberapa tahun saat ia mengorganisir gerakan mahasiswa untuk melawan Suharto di era-70 an.

Jarang ada aktivis sekaligus penulis yang mengabdikan dirinya untuk kegiatan pemberdayaan komunitas. Mentok-mentoknya penulis dan aktivis melakukan advokasi dan propaganda perlawanan kepada rezim penindas. Namun orang yang satu ini melebihi itu, ia dengan senang hati berkumpul dengan rakyat biasa, menjadi fasilitator komunitas, dan bekerjasama dengan rakyat untuk menyelesaikan persoalan konkret warga sehari-hari. Ia tak berlarut dalam teks dan teori, ia sudah ke ranah praksis.

“Seorang mobilisator dengan pengorganisir itu beda. Kalau mobilisator adalah seorang ahli propaganda yang mengumpulkan massa untuk mengikuti tujuan si mobilisator. Setelah perlawanan selesai maka mobilisator perannya juga selesai. Namun kalau seorang pengorganisir, ia tidak mengumpulkan dan mengarahkan massa. Tapi ia bekerjasama, melakukan dialog krtis, dan kerja-kerja konkret partisipatif bersama massa. Seorang pengorganisir tidak hanya bersandar pada sebuah isu, namun pada kebutuhan lokal komunitas. Keberhasilan pengorgansiran terletak pada bagaimana komunitas itu bisa mengorganisir dirinya tanpa harus meminta bantuan kepada pihak luar.” (Roem Topatimasang di buku Mengorganisir Rakyat)

Kalimat di atas adalah kalimat paling jujur dan tegas yang pernah kudengar. Pernahkah kamu mendengar banyak politisi yang dulunya saat menjadi aktivis selalu menyuarakan perlawanan dan membela kaum tertindas, kemudian berubah haluan menjadi kamu penindas itu sendiri? Banyak sekali bukan? Bagiku mereka adalah mobilisator yang baik, dan ahli berpropaganda untuk mengumpulkan massa.

Seorang agitator dibutuhkan untuk berdemonstrasi, namun ketika situasi berubah. Sudah tidak ada demonstrasi lagi, dan tidak ada orang yang mau demo lagi, aktivis ini mau ngapain? Ya sudah bisa ditebak, kalau beruntung mereka bisa menjadi anggota dewan, dan kalau tidak beruntung mereka hidup normal seperti biasanya.

“Seorang aktivis yang hanya pandai berteori dan berbicara, namun tidak bisa melakukan ketrampilan teknis untuk menyelesaikan persoalan konkret warga itu sama saja omong kosong. Maka dari itu aktivis harus memiliki keterampilan teknis agar bisa bekerjasama dengan warga dan tidak menggurui warga seperti belajar di dalam kelas.” (Roem Topatimasang, diskusi JARIK di Pendopo Insist 2017)     

Terakhir untuk tulisan ini, Roem Topatimasang adalah guru terbaik bagi penulis yang ingin merealisasikan ide ke dalam ranah konkret. Bagi kamu yang menyukai kerja-kerja pengorganisiran komunitas, kamu harus baca buku-bukunya beliau. Asli, beliau pribadi yang santai, dan suka bercanda. Kalau mau menemui beliau jangan di pagi hari, karena ia masih tidur. Temui dia saat siang hari atau sore hari. Tentunya kalau dia tidak melanglang buana ke daerah pedalaman.

Oh ya, satu lagi. Beliau ini amat gemar membuat video komunitas, dan pemetaan desa sebagai media untuk mempermudah warga mengenali lingkungannya. Jadi kamu gak akan nyesel untuk berkenalan lewat karyanya atau mau berkenalan langsung dengannya di Insist.


Kredit Gambar : ishaksalim.files.wordpress.com/2011/10/roem.jpg
Danang Pamungkas
Penulis dan peneliti di Yayasan Kampung Halaman. Aktif menulis di berbagai media daring termasuk indoprogress.com dan berisik.id. Satu novelnya diterbitkan PATABA Press berjudul "Kisah Harubiru Sang Pengoceh".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara