“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi” (Tan Malaka, Madilog)

JUJUR saja, tak ada yang istimewa pertemuan saya dengan penulis Dadang Ari Murtono di Surabaya beberapa bulan silam. Selain kami bergunjing soal dunia penulisan dan penerbitan buku, kami pun berkelakar mengenai asmara yang nakal.  

Kami memang sudah berkawan lama di media sosial Facebook. Namun, kesempatan bertemu baru waktu itu terjadi. Kami saat itu bercerita tentang buku yang masih dalam proses di penerbitan masing-masing. Ia sedang menunggu novelnya terbit. Sedangkan saya menunggu kumpulan esai saya terbit. Tak diduga, buku kami sama-sama terbit berbarengan tahun ini.

Pertemuan kami menjadi istimewa, ketika Dadang mengajak saya ke toko buku di Jalan Manyar Kertoarjo. Toko buku ini terlihat kecil dari luar. Kesannya, sudah berdiri sejak lama. Klasik.

Nama toko buku itu Manyar Jaya. Tertulis besar di kaca toko. Kami menapaki anak tangga toko buku itu.

Kesan klasik kembali menyeruak. Rak-rak kayu berisi buku-buku berjejer. Toko buku berlantai dua ini pun sebagian berlantai kayu. Langit-langitnya diterangi lampu neon-lampu neon panjang yang terang.

Saya penasaran usia toko buku ini. Menurut Dadang, pacarnya pernah ke sini membeli buku pelajaran pada 1990an. Dugaan saya, dari arsitekturnya, mungkin saja toko buku ini sudah ada sejak 1970an.

Bisa dibilang, Toko Buku Manyar Jaya berada di dalam lingkaran bisnis toko buku di Surabaya. Di dekat wilayah itu, berdiri pula Toko Buku Uranus di Jalan Ngagel Jaya, yang sudah ada sejak lama. Ada pula Gramedia di Jalan Basuki Rahmat.

Mayoritas buku-buku pelajaran dan kuliah dijual di sini. Selebihnya, ada buku-buku agama, motivasi, politik, sastra, alat tulis, hingga peralatan kantor. Buku-buku bekas yang masih tersegel pun ada di sini, kebanyakan buku-buku fiksi berbahasa Inggris. Jika beruntung, buku-buku karya penulis macam Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah bisa disikat dengan biaya yang miring.

Namun, tak ada buku sejarah yang saya cari. Kami lalu ke kedai kopi, yang masih berdampingan dengan toko buku ini. Saya bisa mengintip lantai dan rak buku tua Toko Buku Manyar Jaya, dari sela-sela rak pernak-pernik kedai kopi.

Bisnis yang tak sepi

Jauh dari Surabaya, tepatnya di Lenteng Agung, Jakarta, berdiri Toko Buku Stasiun Lenteng. Toko buku ini didirikan oleh Husna dan seorang kawannya, Aji, pada 1 Oktober 2016.

“Awalnya, kami bersepakat bahwa bisnis buku persaingan semakin ketat. Untuk tetap eksis, kita harus bersekutu agar lebih kuat. Sesederhana itu,” kata Husna.

Toko buku ini menyediakan buku yang lebih beragam. Justru buku-buku pelajaran dan kuliah sedikit. Husna menjual buku-buku bacaan umum, seperti sastra, filsafat, politik, seni, sejarah, agama, dan lainnya.

Ada alasan khusus mengapa mereka menghindari menjual buku-buku pelajaran. Menurut Husna, kurikulum sering berubah, karena itu menjadi mubazir jika mereka memilih menjual buku pelajaran.

Incaran saya kalau ke sini, tentu saja majalah-majalah lawas yang tersimpan di dalam. Husna pun sudah mengerti hal itu.

Husna mengatakan, peluang toko buku offline saat ini masih menjanjikan. Kuncinya, para pemilik harus paham selera pelanggan, harga terjangkau, dan koleksi bervariasi.

Selain berdagang offline, Husna dan Aji pun menjajakan buku-buku mereka melalui media sosial. Strategi ini harus diikuti, karena banyak pelanggan yang justru memang lari ke online.

Meski begitu, Husna mengatakan, membuka toko buku offline merupakan bagian dari strategi marketing, dengan harapan hasilnya lebih maksimal. Mereka pun mengaku tak sekadar mengandalkan online.

Tak jauh dari lokasi Toko Buku Stasiun Lenteng, berdiri Epikurian. Epikurian tak hanya menjual buku. Mereka juga menyediakan rak besar berisi buku yang bisa dibaca di lokasi, sembari menyeruput kopi.

Pemiliknya Mirza Jaka Suryana. Tahun ini, kedai kopi dan bukunya baru rampung dan resmi berdiri.

Konsep kedai kopi dan buku memang marak di kota-kota besar, terutama Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Namun, biasanya mereka hanya menaruh buku untuk dibaca, bukan dibeli. Akan tetapi, peran mereka mengedarkan bacaan ke publik, terutama pengunjung kedai kopinya, patut diapresiasi.

Mereka, toko buku-toko buku kecil ini, bersaing dengan toko buku besar, yang mengangkang di pusat perbelanjaan. Memang, tak bisa dipungkiri, layaknya kehidupan, toko buku pun ada yang berdiri ada pula yang mati.

Kematian toko buku kecil bukan saja dialami di Indonesia. Di Amerika Serikat pun begitu. Menurut laporan New Atlantic Independent Booksellers Association, sejak 2000, sekitar 75 toko buku independen di dalam dan di sekitaran New York gulung tikar. Teknologi internet menjadi salah satu penyebab tergusurnya toko buku-toko buku itu (The New York Times, 18 September 2008).

Di tengah kegamangan itu, seorang perempuan bernama Jessica Stockton Bagnulo justru terjun mendirikan toko buku. Bersama seorang koleganya, Rebecca Fitting, mereka mendirikan Greenlight Bookstore. Toko buku yang berdiri di Brooklyn ini bahkan sudah ada dua, yakni di Fort Greene dan Prospect Lefferts Garden.

Menurut mereka, seperti dikutip dari The New York Times, 29 November 2016, ada tiga kunci sukses mendirikan toko buku independen, yakni pembiayaan, tempat, dan desain. Pembiayaan dilakukan Bagnulo dan Fitting dengan meminjam modal kepada teman-teman dan keluarganya. Mereka lantas menggunakan setengah modal untuk pembiayaan awal.

Masalah tempat, mereka mempertimbangkan dua hal sebelum mendirikan toko buku, yakni apakah kota itu mendukung gerakan literasi dan apakah lokasi tersebut membutuhkan toko buku. Mereka pun memikirkan masalah desain toko, yang dibuatnya bukan hanya indah, tapi juga menyenangkan.

Apapun itu, bagi saya orang-orang seperti mereka harus ada. Toko-toko buku alternatif harus tetap berdiri, di tengah persaingan dengan toko buku besar dan arus informasi internet yang makin menggila.

Seperti kata Tan Malaka, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali.”


Kredit Gambar : Dadang Ari Murtono
Fandy Hutari
Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah film dan teater. Bermukim di Jakarta. Merawat blog www.fandyhutari.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara