Di dunia buku hal yang sangat unik bisa terjadi: kelahiran anak kembar dari orangtua yang berbeda. Hal itu terjadi pada tahun 2016 yang melahirkan Animal Farm, Rasia Bandoeng, dan Candide.

SEPANJANG TAHUN 2016, penerbitan buku alternatif kembali menggeliat di berbagai daerah. Kita menyaksikan kemunculan beragam wajah baru dengan visi dan misi masing-masing. Penerbit-penerbit itu menghasilkan keberagaman sekaligus juga tak jarang keseragaman baik ideologi, tema, maupun bentuk, yakni, ketika teks telah menjadi produk.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika satu judul buku bisa jadi dirilis oleh penerbit yang berbeda pada waktu yang sama. Bisa ada banyak alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, akan tetapi satu yang paling sering dipakai adalah naskah tersebut dianggap telah menjadi domain publik. Kami dari PoCer.Co memilih tiga pasang buku yang sama namun diterbitkan oleh penerbit yang berbeda sepanjang tahun 2016:

1. Animal Farm (Penerbit Bentang Pustaka dan Penerbit Gading)

Karya klasik George Orwell ini adalah sebuah novel satir pendek. Gaya pengisahannya mirip dongeng dan memenuhi pula kriteria untuk disebut sebagai fabel modern sebagai turunan dari fabel Aesop. Novel ini bertutur tentang sekelompok hewan yang mencoba menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan.

Sejak pertama kali terbit pada tahun 1945 dan melambungkan nama Orwell sebagai salah seorang sastrawan besar Inggris, buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Terjemahan pertama muncul pada tahun 1963, dilakukan oleh Joesoef Sou’yb, dengan judul Kisah Sebuah Pertanian Hewan.

Baru pada tahun 1983 muncul terjemahan selanjutnya yang dilakukan oleh Mahbub Djunaidi dan diberi judul Binatangisme. Perbedaan yang nampak pada dua edisi itu adalah citarasa sastra-nya yang bisa dikatakan lebih unggul pada terjemahan kedua, karena Mahbub Djunaidi sendiri memang merupakan seorang sastrawan yang jago satir dan humor, sementara Joesoef Sou-yb lebih terkenal sebagai seorang wartawan dan sejarawan.

Sejak saat itu, naskah ini terus muncul oleh berbagai penerbit dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Penerbit Sumbu menerbitkannya pada tahun 2001 dengan judul Animal Farm, disusul pada tahun 2006 Fresh Book menerbitkannya kembali dengan judul yang sama.

Menariknya, pada tahun 2016, terjemahan buku tersebut hadir bersamaan dari dua penerbit yang berbeda. Yang pertama adalah penerbit Bentang Pustaka yang merilis terjemahan Bakdi Soemanto, sedangkan yang kedua adalah penerbit Gading yang menyodorkan ulang terjemahan Mahbub Djunaidi.

Perbedaan kedua terjemahan itu nampak terutama pada bagian judul. Sementara penerbit Gading memakai judul Binatangisme, penerbit Bentang Pustaka mempertahankan judul aslinya.

2. Rasia Bandoeng (Penerbit Ultimus dan Penerbit Katarsis Book)

“Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa: Satoe Tjerita jang Benar Terjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917”, demikian judul panjang buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit yang berbeda pada tahun 2016.

Dari judul di atas kita sudah bisa menebak apa yang ingin dikisahkan penulisnya, Chabanneau, yaitu tentang cinta terlarang, cinta yang tidak direstui oleh keluarga. Rasia Bandoeng menceritakan kisah cinta antara dua insan Tionghoa yang memiliki marga sama, yaitu Hilda Tan dengan Tan Tjin Hiauw. Cinta tersebut merupakan cinta terlarang karena menurut adat Tionghoa pernikahan satu marga adalah hal tabu.

Buku tersebut diterbitkan bersamaan pada tahun 2016 oleh dua penerbit yang berbeda, penerbit Ultimus dan penerbit Katarsis Book. Uniknya lagi, dua penerbit itu juga berasal dari kota yang sama, Bandung.  Ketika saya mengkonfirmasi pada Bilven dan Andre terkait perbedaannya, keduanya mengatakan terletak pada penyuntingannya.

Sementara Rasia Bandoeng yang diterbitkan Katarsis mempertahankan gaya bahasanya (lingua franca), Rasia Bandoeng yang diterbitkan Ultimus disesuaikan dengan EYD. Katarsis Book memuat kata pengantar dari peneliti Tionghoa Bandung dan diberi pengantar oleh cicit Tan Sim Cong (tokoh utama dalam novel), sedangkan Ultimus memuat artikel wartawan PR sebanyak 6 seri.

3. Candide (Penerbit KPG dan Penerbit OAK)

Candide adalah sebuah novel satir karangan Voltaire yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1759. Inti ceritanya adalah tentang seorang pemuda bernama Candide yang amat jujur, baik hati, dan lugu (Mirip tokoh karya Voltaire yang lain: Zadig) . Namun, keutamaan sifat itu tidak membuatnya terhindar dari musibah.

Penderitaan Candide dimulai ketika ia diusir dari istana baron Thunder-ten-tronckh, di mana Cunegonde, gadis yang dicintainya, tinggal. Selanjutnya, Candide harus mengalami kesialan demi kesialan dalam petualangan lintas benuanya untuk bersatu kembali dengan Cunegonde.

Terjemahan novel ini dalam Bahasa Indonesia pertama-tama diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1989 dari terjemahan Ida Sundari Husein. Satu-satunya terjemahan yang bisa ditemukan (sejauh ingatan saya), sampai akhirnya buku tersebut tidak lagi beredar edisi barunya.

Baru menjelang akhir tahun 2016, Candide muncul kembali dalam dua edisi yang berbeda. Edisi pertama disodorkan oleh penerbit KPG yang menerbitkan ulang edisi terjemahan Pustaka Jaya berbarengan dengan beberapa seri klasik Pustaka Jaya lainnya. Sementara edisi kedua disodorkan oleh penerbit OAK, salah satu penerbit alternatif Yogya, melalui terjemahan dari Bahasa Perancis yang dilakukan oleh Widya Mahardika Putra.

Itulah tiga buku yang ditemukan oleh PoCer.co sebagai buku-buku yang diterbitkan bersamaan oleh penerbit yang berbeda pada tahun 2016. Sejauh buku tersebut sudah merupakan domain publik, kecil kemungkinan akan terjadi konflik.

Dalam kesusasteraan Inggris misalnya, sudah biasa jika naskah drama Shakespeare, dan juga teks-teks sastra yang lain yang sudah menjadi domain publik, diterbitkan oleh banyak sekali penerbit. Hal itu sama sekali tidak menimbulkan konflik antar penerbit, dan pada akhirnya pembaca pun bebas memilih produk dari penerbit yang mana yang dia beli berdasarkan berbagai pertimbangan.

Selain itu, untuk kasus tiga buku yang sudah dibahas di atas, dipandang dari pangsa pasarnya, ketiganya tidak termasuk kategori ‘hot’untuk dijadikan alasan berpolemik. Artinya, ketiganya mungkin akan selalu mendapatkan pembeli yang jumlahnya lumayan, akan tetapi levelnya tak sampai di atas rata-rata.  

Atau mungkin juga polemik itu, karena satu dan lain hal, belum terjadi. Kita akan sama-sama mengawalnya, mengamati.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara