The Satanic Verses adalah novel penting yang seringkali dihakimi tanpa dibaca. Dalam kondisi semacam itu, terjemahannya pun makin perlu. Pertanyaannya: adakah yang berani menerjemahkan dan menerbitkannya, terang-terangan?

Saya tak mengenal Profesor Igarashi, tapi dia mengenal saya, karena dia menerjemahkan karya saya. Penerjemahan adalah sejenis keintiman, sejenis perkawanan...

--Salman Rushdie

1

ADA BANYAK ALASAN bagi penerbit dan penerjemah tentang perlunya diterbitkan terjemahan sebuah novel. Alasan pertama misalnya masalah pasar: sebuah buku yang fenomenal dan diperkirakan akan laris manis memiliki kemungkinan besar untuk diterbitkan terjemahannya.

The Satanic Verses, novel Salman Rushdie, terbit pertama kali tahun 1988. Kefenomenalan novel ini tak perlu diragukan. Sebuah novel yang membuat penulisnya dihukum mati in absensia dan dengan kepala dihargai 1 juta dolar (1989), 2,5 juta dolar (1997), 3,3 juta dolar (2012) dan ditambah 600 ribu dolar (2016) (lihat http://nypost.com/2012/09/16/iran-adds-to-reward-for-salman-rushdies-death-report/ dan https://www.theguardian.com/books/2016/feb/22/salman-rushdie-iranian-media-raise-more-money-for-fatwa) dengan sendirinya sudah menunjukkan sisi fenomenalnya yang tak terbantahkan.

Belum lagi kenyataan bahwa dalam berbagai pembahasan, terutama wacana sastra postkolonial, novel ini seringkali disebut-sebut. Edward Said misalnya banyak menyentilnya dalam Culture and Imperialism, demikian juga Kundera: buku-buku mereka sudah ditemukan terjemahannya.

Di beberapa jurusan sastra Inggris di Indonesia, novel ini pun menjadi novel wajib baca. Terlepas dari apakah mereka memandangnya negatif atau positif, orang cenderung tahu apa itu The Satanic Verses. Lantas pertanyaannya: kenapa novel Rushdie yang sangat fenomenal ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Apakah karena ia lumayan tebal?

2

“Lumayan tebal”: dalam versi tahun 1989 terbitan Viking Penguin Inc., tebal The Satanic Verses adalah 549 halaman, sedikit lebih tebal dibandingkan Midnight’s Children yang dalam versi penerbit Vintage tahun 1995 diformat setebal 463 halaman. Meski demikian, kita tentu bisa memperdebatkan perihal ukuran huruf, jarak spasi, dan margin keduanya yang berbeda.

Tapi taruhlah Midnight’s Children sudah diterjemahkan sementara The Satanic Verses belum disebabkan masalah ketebalan (yang berpengaruh pada banyak hal: honor penerjemah, biaya cetak, harga jual), mari kita bandingkan The Satanic Verses dengan novel lain yang jelas lebih tebal tapi sudah ditemukan terjemahannya: A House for Mr. Biswasi-nya Naipaul, Sophie’s World-nya Gaarder, Gone with the Wind-nya Mitchell...  

Sebenarnya, tak tepat benar mengatakan bahwa The Satanic Verses belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yang lebih tepat mungkin adalah ia belum diterjemahkan dan diterbitkan dengan prosedur lazim. Kalimat “diterjemahkan dan diterbitkan dengan prosedur lazim” menyaran pada sebuah terjemahan yang diselesaikan dan dipublikasikan terang-terangan sehingga ia mendapatkan hak penuh untuk dipajang di toko buku ataupun lapak penjual buku online dengan bebas dalam bentuknya yang benar-benar buku.  

Selama ini sebenarnya sudah beredar satu terjemahan The Satanic Verses dalam bahasa Indonesia. Penerjemah versi ini adalah Putri Lekso, S.Pd, diterbitkan pada Desember 1997 oleh Penerbit Opini Utama, Jakarta, dengan catatan: isi di luar tanggung jawab penerbit.

Versi terjemahan ini nampaknya hanya dikenal oleh sebagian orang yang aktif dalam jual beli buku online. Versi ini misalnya tak tercatat dalam Ensiklopedia Sastra Dunia-nya Anton Kurnia (terbit pertama kali pada akhir tahun 2006) yang sejauh ini bisa dikatakan sebagai rujukan terlengkap karya-karya sastra dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Terjemahan ini adalah terjemahan lengkap The Satanic Verses, diberi judul Ayat-ayat Setan, ketebalan 250 halaman. Bentuk fotokopiannya akhir-akhir ini bisa ditemukan beredar di beberapa lapak penjual buku online, tanpa publikasi besar-besaran, warna kover tak seragam satu sama lain, dan perwajahan yang mengingatkan pada modul-modul kuliah.      

Kita tak bisa mengatakan bahwa buku ini tak diterjemahkan dengan serius, terutama karena harus diakui bahwa mengalihbahasakan buku ini ke dalam bahasa Indonesia adalah upaya yang patut dikagumi. Meski demikian, kita bisa berdebat panjang lebar misalnya tentang apa alasan dalam novel ini karakter “Mahound” diterjemahkan menjadi “Muhammad” dan pasase “Who is he? An exile.” Diterjemahkan menjadi “Siapa dia? Ia adalah Khomeini” (hal.83).

Di sisi lain, kita justru bisa mempertanyakan “keseriusan” penerbitannya. Simak misalnya kutipan Kata Pengantar penerbit terjemahan tersebut:

Perintah Khomeini mungkin memberi kesan orang Islam fanatik, namun justru Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rushd—dikenal dunia Barat sebagai Averroes—menyarankan agar novel ini disebarluaskan ke dalam berbagai bahasa dunia agar ummat Islam mengetahui isi novel ini secara jelas.

Tak ada aturan resmi mengenai harus tidaknya sebuah novel diberi pengantar. Novel-novel Rushdie dalam edisi bahasa Inggris pun tak memiliki pengantar, kecuali edisi tertentu semacam edisi spesial ultah ke-25 Midnight’s Children versi penerbit Vintage misalnya, akan tetapi kalau pun ia diberi pengantar, tentu pengantar itu tidaklah mencantumkan pasase yang malang seperti di atas.

Betapa tidak, pasase di atas mengesankan Ibn Rushd berada di posisi berlawanan dengan Khomeini sampai-sampai dia “menyarankan” novel Ayat-ayat Setan disebarluaskan. Kenyataannya: Ibn Rushd—dikenal dunia Barat sebagai Averroes—hidup pada tahun 1126-1198 M, hampir 8 abad sebelum Ayat-ayat Setan lahir.

Maka kini kita berlanjut ke satu pertanyaan lain: mengapa buku terjemahan The Satanic Verses yang sudah ada hanya beredar dalam diam, berbentuk fotokopian ala kadarnya, tanpa atribut yang menunjukkan bahwa ia bukanlah modul kuliah melainkan salah satu novel paling menggemparkan dunia sepanjang sejarah?

3

Bagi sebuah penerbit yang merilis karya terjemahan, salah satu masalah yang biasa muncul adalah masalah hak cipta. Di Indonesia, ada banyak sekali terjemahan yang terbit akhir-akhir ini dan kebanyakan diterbitkan penerbit Indie. Dengan sendirinya mengurus hak cipta akan terasa merepotkan dengan oplah cetak penerbit Indie yang terhitung sedikit.

Akan tetapi pada kenyataannya, masalah hak cipta seringkali diterabas oleh penerbit-penerbit kita. Ada banyak buku yang belum menjadi domain publik sudah bisa kita temukan terjemahannya. Tanpa hak cipta. Munculnya gugatan seputar hak cipta terjemahan juga hanya kasuistik: ia cenderung terjadi ketika ada tabrakan antara penerbit besar dan penerbit indie, itu pun bisa lebih dikerucutkan lagi hanya pada buku-buku laris.

Bukan pada tempatnya di sini berpanjang-panjang membahas soal hak cipta karya terjemahan yang dilematis itu. Yang jelas, hak cipta, dengan demikian, nampaknya bukanlah penyebab The Satanic Verses ini belum kita temukan terjemahannya dalam versi terbitan lazim. Bagi penerbit indie, karena satu dan lain hal, hak cipta bisa dikesampingkan. Bagi penerbit mayor, karena buku ini fenomenal, membeli hak cipta lumayan mahal harusnya tak jadi masalah.

Selain itu, The Satanic Verses juga harusnya sudah memenuhi alasan lain untuk diterjemahkan, yaitu bahwa ia adalah novel penting. The Satanic Verses adalah karya yang sama pentingnya dengan One Hundred Years of Solitude-nya Gabo yang terjemahan Indonesia-nya bahkan sudah dilakukan oleh tiga penerbit berbeda. Di dunia akademis, pembelajaran sastra Postkolonial dan Sastra Diaspora juga tak mungkin mengabaikan The Satanic Verses.

Kita tak bisa menafikan bahwa kita bahkan memiliki beberapa penerbit yang rela berkorban menerbitkan buku penting, pun ketika “ke-penting-an” itu tak berbanding lurus dengan pangsa pasar. Tapi kita mungkin harus menyadari satu hal: “penting” bisa dikalahkan oleh rasa takut.   

4

Kita mungkin masih menyimpan ketakutan tentang sejarah yang mengiringi The Satanic Verses, dan juga para penerjemahnya, dan juga para penerbitnya. Dengan kata lain, suatu ketakutan akan nasib buruk yang mungkin menimpa jika terjemahan tersebut dipublikasikan terang-terangan, atau katakanlah, sebagaimana buku lainnya.

Salman Rushdie, sang penulis, harus hidup di bawah nama samaran dan ke mana-mana dijaga untuk menghindari ancaman pembunuhan. Sejumlah uang yang sangat besar juga dijanjikan untuk pembunuhnya sebagaimana sudah dibahas di awal. Sementara catatan menunjukkan nasib beberapa penerjemah The Satanic Verses di berbagai negara juga tak bisa dikatakan baik.

Penerjemah Jepang, Hitoshi Igarashi, ditikam sampai mati tahun 1991, Rushdie menulis sebuah surat terbuka yang dipublikasikan di Jepang dalam setahun peringatan peristiwa itu. Tulisan itu dimuat dalam kumpulan esainya Step Across This Line. Petikan yang membuka tulisan ini bersumber dari surat tersebut.

Ettore Capriolo, penerjemah Italia ditikam di apartemennya di Milan tahun 1991. Beruntung dia selamat. Penerbit Norwegia, William Nygaard selamat setelah tiga kali ditembak di Oslo tahun 1993. Penerjemah Turki, Aziz Nesin, berhasil selamat dari pembakaran di sebuah hotel tahun 1993, kasus yang merenggut kematian 37 orang (lihat https://www.theguardian.com/books/2016/feb/22/salman-rushdie-iranian-media-raise-more-money-for-fatwa).

Daftar itu mungkin masih panjang untuk kasus-kasus senada seputar penerjemah dan penerbit The Satanic Verses. Di negeri ini, kita menyimpan trauma sejenis yang ditimbulkan kasus itu dalam kasus cerpen Kipanjikusmin, ataupun kasus terjemahan Jassin atas Alquran.

Trauma itulah yang nampaknya menjadi alasan bahwa naskah-naskah Rushdie yang sudah ada terjemahan Indonesia-nya adalah naskah-naskah “aman”. Kita bisa menemukan Midnight’s Children: Anak-anak Tengah Malam, Harun dan Samudera Dongeng, Luka dan Api Kehidupan, beberapa cerpen: Rambut sang Nabi, Wawancara, dan Di Selatan, Dua Lelaki Tua India.

Untuk versi terjemahan The Satanic Verses terbitan Opini Utama, dalam halaman cetak tercantum informasi “Indonesian translation published by permission” dan “copyright © 1997”. Andaikata terjemahan ini memiliki hak cipta, kenapa kemudian peredarannya seperti itu?

Tak ada informasi yang pasti sebagai jawabannya. Seorang penjual di bukalapak.com menduga penerbitnya dibredel pemerintah setelah menerbitkannya. Peredaran buku ini dalam bentuk fotokopian juga baru mulai berlangsung ketika penjualan buku melalui media online mulai marak. Kemungkinan lain: kalaupun tidak dibredel, maka rasa takutlah penyebabnya.

5

Bahwa The Satanic Verses memiliki banyak penggemar di Indonesia, hal itu bisa dilihat dari selalu terjualnya versi bahasa Inggris novel tersebut yang sekali-sekali bisa kita temukan di lapak penjual buku online. Dalam kondisi baru ataupun tangan kedua dan seterusnya, buku tersebut selalu memiliki pembeli.

Sementara versi terjemahan yang sudah disinggung di awal, misalnya, bahkan dalam formatnya yang sangat sederhana seperti itu juga laris dengan bandrol harga bervariasi antara 80-100 ribu. Sebuah lapak penjual buku online bahkan mencatat buku itu sebagai salah satu buku terlaris pada bulan Januari 2017.

Tapi mungkin kelarisan The Satanic Verses tak bisa kita jadikan penanda kerinduan akan kontennya. Bisa saja novel itu hanya dijadikan simbol kebanggaan sama seperti di zaman dulu kita memiliki buku Pram ketika distribusi karyanya tak dilancarkan pemerintah. Ada debar tersendiri ketika kita memiliki buku yang kontroversial, buku langka, buku terlarang.

Pun tanpa harus membaca buku itu. Cukup memajangnya di rak, memotretnya sesekali untuk dijadikan pemicu keriuhan lokal di akun media sosial. Suatu gejala fetisisme: The Satanic Verses dihargai melampaui kontennya secara real, dia dihargai sebagai simbol. Maka kita pun tak sayang mendapatkan versi tangan kedua The Satanic Verses yang bisa mencapai harga satu juta.

Karena The Satanic Verses bisa dikatakan bukan buku yang mudah dibaca. Midnight’s Children, meski sama-sama menggunakan teknik realisme magis, lebih mudah dibaca, dan juga bisa lebih mengasyikkan: di dalamnya kita bisa menemukan banyak hal lucu termasuk perihal hidung, perihal dokter yang mengobati pasien perempuan dengan dipisahkan kain yang dilubangi tujuh inci, perihal pendongeng yang tak pernah mandi.

Sementara The Satanic Verses bukanlah novel yang menjanjikan komedi. Bahkan dalam naskah aslinya novel ini termasuk sukar karena gaya bertuturnya yang nyentrik dan diksi-diksinya yang tak sepenuhnya Inggris: Rushdie dalam salah satu esainya menyentil Kipling yang sering memasukkan bahasa Inggris India, pada dasarnya Rushdie pun demikian.

Akan tetapi jika itulah alasan mengapa terjemahan buku ini belum dilakukan, kita bisa bertanya kenapa beberapa novel lain yang sama atau bahkan lebih sukar daripada novel ini sudah bisa kita temukan terjemahannya?

Novel-novel Dickens misalnya, terkenal sulit karena diksi-diksi kawi-nya, akan tetapi terjemahannya sudah bisa kita temukan beberapa. Karya-karya Kundera dalam versi bahasa Inggris termasuk sukar karena banyaknya kalimat kompleks yang tak lazim dalam susunan kalimat bahasa Indonesia juga sudah banyak diterjemahkan.

6

Nampaknya kita memang tak belajar memandang karya representasi pertama-tama sebagai karya representasi. Kita terbiasa menganggap novel-novel Pram sebagai sama otentiknya dengan karya historiografi Sartono Kartodirdjo, kita terbiasa menganggap Musa berwajah Christian Bale dalam film Gods and Kings, kita bahkan mungkin membayangkan Xerxes berkepala botak dan berdandan menggelikan seperti dalam film 300.

Maka kita pun lantas menganggap Mahound dalam The Satanic Verses adalah Muhammad sebagai sosok historis. Bahwa Rushdie menyebarkan kisah tak benar tentang peristiwa ayat-ayat setan yang biasa dianggap penulis biografi Nabi Muhammad sebagai kisah yang lemah akurasinya. Dalam sejarah Islam kisah itu dikenal sebagai kisah Gharaniq.

Secara ringkas kisah itu adalah tentang adanya bisikan setan yang dikelirukan sebagai wahyu dari Tuhan. Kisah ini dipopulerkan di dunia modern oleh Alfred Guillaume melalui rekonstruksi biografi Nabi Muhammad susunan Ibn Ishaq, seorang sejarawan Islam yang pertama kali menulis biografi Nabi Muhammad: Sirat Rasulullah.

Yang jadi masalah, dalam kitab sejarah susunan Ibn Ishaq yang sampai ke kita versi Arab-nya lewat suntingan sejarawan Ibn Hisyam, kisah ini tak ada. Guillaume dalam terjemahan versi bahasa Inggrisnya atas Sirat Rasulullah melakukan rekonstruksi dengan merujuk pada Tarikh dan Tafsir susunan at-Tabari, seorang sejarawan dan ahli tafsir Alquran ternama (lihat dalam Guillaume, The Life of Muhammad:  A translation of Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah,  hal. 165).

Sampai di sini teranglah andai Rushdie menuliskannya dalam bentuk bukan-fiksi, maka kita layak memperbincangkan validasinya. Akan tetapi The Satanic Verses adalah sebuah novel. Ia dimaksudkan bukan sebagai buku pelajaran sejarah Islam, melainkan sebuah novel, untuk dinikmati sambil minum mungkin kopi, untuk dibaca mungkin sambil nongkrong di serambi.

Salah satu patokan yang mustinya digunakan dalam memandang karya sastra adalah memandangnya pertama-tama sebagai karya sastra. Itu adalah sikap dewasa memandang karya sastra, suatu sikap yang menandakan kita tak mengidap skizofrenia literasi.

Skizofrenia: suatu gejala kesulitan membedakan yang fakta dan yang khayal sehingga orang tak bisa membedakan antara karya bukan-fiksi Guillaume The Life of Muhammad:  A translation of Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah dengan karya fiksi Rushdie The Satanic Verses.

Mereka yang mengidap Skizofrenia mungkin sukar pula memahami poetic license. Istilah ini biasa diterjemahkan sebagai “kebebasan pengarang” meski ada juga terjemahan komik untuk term ini sebagai “surat izin berpuisi”: suatu frasa yang justru berkebalikan dengan makna yang disaran.

Poetic license bukanlah SIM, tapi ia berfungsi sama: membebaskan pemegangnya untuk mengendarai imajinasi tanpa batas. Pemegangnya, dalam hal ini, adalah para penulis fiksi. Rushdie tentu tak terkecuali, ia penulis fiksi, atau lebih tepatnya: ia menulis The Satanic Verses sebagai fiksi, tidak seperti Imaginary Homelands, Step Across this Line, ataupun The Jaguar Smile misalnya sebagai karyanya yang bukan-fiksi.

Ada anggapan bahwa kita memandang seperti itu karena kita mewarisi apa yang disebut sebagai pandangan sastra Islam. Hal itu sebenarnya masih bisa diperdebatkan, terutama karena kita lupa bahwa suatu hari dulu Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan Al-Farabi adalah para pengikut Aristoteles.

Dan mereka yang percaya Aristoteles tak akan terjatuh pada sikap menganggap karya sastra sebagai kumpulan fakta. Dalam Puitika, dia mengatakan tugas penyair adalah menguraikan hal ikhwal yang mungkin terjadi, bukan apa-apa yang sesungguhnya terjadi.

Penyair: dimaksudkan juga secara global pencipta karya representasi, karya sastra, karena bentuk novel belum dikenal di zaman itu. Pada zaman itu baru dikenal tiga bentuk genre yang mana salah satunya adalah asal-usul novel: puisi epik.

Maka ada baiknya kita mempertanyakan benarkah fatwa mati atas Rushdie semata berdasarkan “Islam”, tanpa unsur politis? Kita sudah melihat ada banyak sekali kasus umat Islam mudah digerakkan ke satu arah hanya dengan memanfaatkan nama “Islam” tanpa paham latar belakang lain yang mungkin.

Bab Keempat The Satanic Verses menggambarkan seorang imam yang kembali dari pengasingan untuk menghasut rakyat negerinya melakukan revolusi tanpa memperhatikan keselamatan mereka. Exile is a dream of glorious return, demikian kita temukan dalam paragraf kedua pembuka bab tersebut: pengasingan adalah sebuah mimpi akan laku kembali dengan agung. Dengan kata lain: kita bisa menangkap sindiran akan sang imam dalam novel tersebut yang memanfaatkan rakyat hanya untuk “kemuliaan” dirinya. 

Konon bab ini menyinggung Khomeini. Jika memang demikian, bisa kita duga ada semacam bias pribadi dalam fatwa sang imam. Bias itu mudah tersembunyi ketika sebuah narasi baru disusun dan disodorkan pada umat Islam: Rushdie dengan The Satanic Verses-nya menghina Islam dan Muhammad—dan Imam Khomeini.  

Tapi bahkan dalam memandang novel sebagai sama dengan realitas pun kita bersikap pilih-pilih. Kita, misalnya, menikmati Harun dan Samudera Dongeng tanpa sadar bahwa novel itu menyindir mereka yang menganggap The Satanic Verses sebagai sebuah dokumen sejarah bukan sebagai novel. Dengan kata lain, kita tak menariknya ke arah realitas. Akan tetapi ketika berhadapan dengan The Satanic Verses, kita langsung bersikap sebaliknya.

Penyebab hal itu mungkin karena kita terbiasa budaya ikut-ikutan. Ketika sebuah penghakiman sudah dijatuhkan oleh sosok tertentu yang kita anggap kredibel, sikap kritis pun menghilang, dan kita lantas membebek menghakimi. Suatu sikap yang jauh hari sudah disindir oleh TS Eliot dalam sajaknya: suatu sikap the hollow men, manusia growong, floating mass.

Ada komentar yang sangat menarik tentang The Satanic Verses dari Pamuk dan Kundera. Pamuk dalam tulisannya Salman Rushdie: The Satanic Verses and the Freedom of the Writer, dimuat dalam kumpulan tulisannya Other Colors, menulis:

...tetapi sebagaimana di Iran, [di Turki] mereka yang paling berhasrat untuk masuk ke dalam subjek itu [penghakiman atas The Satanic Verses-nya Rushdie] cenderung merupakan mereka yang tidak membaca satu kata pun dari novel itu dan pada kenyataannya tidak membaca novel sama sekali.

Sementara Kundera dalam The Day when Panurge No Longer Makes People Laugh yang dimuat dalam kumpulan esainya Testaments Betrayed menulis:

Mereka [para sastrawan, para cendekiawan, para calon anggota salon] menandatangani semua petisi untuk Rushdie, sementara itu, menganggap elegan untuk mengatakan, sambil tersenyum congkak: “Bukunya? Oh tidak, tidak, tidak! saya tak pernah membacanya.”

Pamuk dan Kundera: The Satanic Verses dihakimi tanpa benar-benar dibaca. Sebuah terjemahan dibutuhkan supaya penghakiman itu bisa terjadi berdasarkan pembacaan. Ketika terjemahannya sudah ada, peluang untuk memperbanyak jumlah pembacanya pun meningkat. Dari sanalah mungkin lahir penghakiman yang lebih adil. 

Atau mungkin prosesnya sebaliknya: pertama-tama kita harus percaya bahwa novel itu adalah novel bukan dokumen sejarah, baru kemudian akan terbit keinginan membacanya, baru kemudian sebuah terjemahan akan dibutuhkan, penerjemah akan berani menerjemahkannya, dan demikian juga penerbit akan berani menerbitkannya.

Dengan kata lain, sepanjang kita masih latah menghakimi Rushdie sebagai makhluk nista, teksnya tetap akan kelihatan nista. Ketika hal itu digabungkan dengan kepercayaan akan sisi anakronisme novel itu tanpa membacanya, sampai kapan pun tak akan ada penerjemah yang berani menerjemahkannya, atau kalaupun ada, maka tak akan ada penerbit yang mau menerbitkannya selain dengan catatan “isi buku ini diluar tanggung jawab penerbit”.

Nampaknya kita sudah lupa tindakan heroik HB Jassin ketika pasang badan membela cerpen-cerpen Kipanjikusmin, ketika dia menerjemahkan Alquran dalam bentuk puisi. Nampaknya kita tak memiliki keberanian yang sama dengan ketika Muhidin menerbitkan Adam Hawa dan Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur ... 

Atau mungkin saya keliru. Mungkin saja saat tulisan ini selesai dirilis, esok hari sudah bisa kita temukan terjemahan The Satanic Verses di toko buku ataupun di lapak penjual buku online, dengan harga terjangkau, dengan perwajahan yang indah, dengan terjemahan yang layak baca, dan kita pun bisa membeli dan menentengnya ke mana pun dengan aman, tanpa takut dibunuh esok hari dan dijamin tak masuk surga.


Kredit Gambar : http://international.sindonews.com
Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara