Biodata penulis adalah bagian kecil yang sering terabaikan. “Sembrono” membukukan beberapa pembahasan yang menunjukkan betapa si kecil itu tidaklah sesepele kelihatannya.

SIAPA sangka biodata penulis yang lazim disertakan dalam buku penting untuk dibahas. Sejumlah pembaca yang telanjur mengenali tokoh penulis andalannya mungkin abai atau merasa tak perlu lagi membaca biodata yang berisi informasi lumrah, yang sifatnya biografis-historis.

Sebaliknya, bagi sebagian orang, biodata penulis dianggap sanggup menyelamatkan ketidakkenalan mereka sebagai calon pembaca terhadap penulis yang bukunya ingin ia beli dan miliki. Biodata penulis juga bisa menjadi rayuan bagi calon pembeli untuk lekas melakukan pelacakan rekam jejak karya-karya yang telah dihasilkan penulis dalam kiprah kepenulisannya.

Penyertaan biodata penulis sudah dianggap suatu kewajaran dalam penerbitan buku. Sekian penerbit telah mencoba berbagai jenis penataan letak biodata penulis agar keterbacaannya tinggi sekaligus efektif secara keruangan. Kita, misalnya, tentu sudah sangat akrab dengan posisi tata letak biodata penulis yang ditaruh pada halaman terakhir di sebelah kiri.

Dengan posisi semacam itu, kehadiran biodata penulis seolah jadi isyarat bahwa buku tersebut sudah benar-benar “tamat”.

Biodata penulis pun lekas menyibak seperti apa penulis yang karyanya baru saja kita baca. Saat bertemu biodata penulis, kita mungkin pernah bergumam, “oh, aktivis pergerakan perempuan toh? Pantas ada rasa-rasa feminis,” atau, “lho, novel begini kok penulisnya lulusan teknik mesin?”

Biodata penulis, meskipun singkat, menampilkan secuil latar belakang personal yang mencerahkan, melengkapi, bahkan kadang mengejutkan.

Keisengan memperhatikan biodata penulis dilakukan secara serius (iseng kok serius?) oleh Kelab Buku Semarang bareng Bilik Literasi Solo. Keisengan itu terjadi dalam obrolan, kemudian dijelmakan dalam tulisan. Sekian tulisan lantas dihimpun dan diterbitkan dengan judul Sembrono, terbit pada Agustus 2017 dengan dieditori oleh Bandung Mawardi.

Sembrono hadir di tengah khalayak pembaca yang menganggap biodata penulis hanyalah pelengkap atau pemuas rasa penasaran sementara. Delapan penyumbang tulisan dalam Sembrono masing-masing memaparkan berbagai keunikan biodata penulis-penulis kondang yang bukan cuma berisi narasi saja, melainkan foto pula.

Dalam Sembrono, ada salah satu esai yang secara khusus mempersoalkan kehadiran foto pada biodata penulis. Esai itu berjudul Foto dan Citra yang ditulis oleh Ayu Rahayu. Di esainya, Ayu menulis, “dari foto kita temui wujud penulis. Kenarsisan penulis terlihat dengan fotonya. Cukup dengan melihat penulis bergaya atau tidak.”

Kita pun lantas sadar bahwa biodata penulis tak melulu memuat nama lengkap dan panggilan, riwayat pendidikan, serta kiprah kepenulisannya selama ini. Biodata penulis juga menampilkan foto penulis yang amat membantu pembaca dalam mengimajinasikan seperti apa orang yang telah menulis buku itu.

Kita dapat menilik buku Orang Lain adalah Neraka: Sosiologi Eksistensialisme Jean-Paul Sartre (2013) garapan Wahyu Budi Nugroho. Dalam biodata penulis, Wahyu menyajikan foto dirinya untuk ditonton pembaca. Foto Wahyu terasa amatir, kita mudah menduga foto itu diambil dengan kamera telepon genggam. Posenya terbilang cuek, terlihat dari pandangan matanya yang mengambang ke sekitar, sembari menenggerkan sebatang rokok di jemari. Meski dijepret dengan kamera amatir, Wahyu rasanya ingin menghasilkan produk fotografi yang ikonik, sebagaimana foto Chairil Anwar, Fidel Castro, Sukarno, dan sebagainya: satu pose foto yang awet sepanjang zaman.

Lain Wahyu, lain pula dengan Asma Nadia. Penulis Catatan Hati Seorang Istri (2007) itu memajang foto dirinya sejak bagian terdepan buku atau sampul. Rupanya, Asma Nadia ingin terlihat sedari awal, dengan begitu pembaca tidak perlu repot mencari-cari di sekujur toko buku untuk menemukan buku Asma Nadia. Tinggal lihat saja dari jauh, perempuan yang berkerudung cerah dengan busana santai ditambah senyum yang merekah, kita bisa lekas mengenali bahwa itu buku Asma Nadia. Kita mungkin belum bisa memastikan wajah Asma Nadia dari kejauhan, tapi kita bisa melakukan pengenalan melalui pose andalan yang sering ia tampilkan: melipat tangan sambil senyum yang lebar.

Memerhatikan biodata penulis memang sepele tapi cukup asyik. Tak ada aturan tetap yang mengatur bagaimana biodata penulis harusnya tersajikan. Di beberapa buku karangan Nh. Dini misalnya, tertuang dalam esai Muhammad Yunan Setiawan berjudul Nh. Dini di Halaman Akhir, perkara foto yang biasa terpampang di halaman akhir karya-karya Nh. Dini dibahas. Yunan amat detail mendokumentasikan perubahan foto yang terlampir di halaman tersebut.

“Di foto, Nh. Dini sedang memegang kucing peliharaannya. Rambut berponi dan mulut tersenyum tipis. Di bagian kanan bawah terdapat keterangan kecil si pengambil foto: Yves Coffin, nama sang suami”.

Foto di biodata tersebut seakan mengingatkan masa lalu Nh. Dini yang kini telah melepas status pernikahannya. Merasa tidak ingin lagi bersedu-sedan dengan masa lalu, Nh. Dini pun menghapus kenangan yang bisa mengingatkannya dengan mantan suaminya. “Pasca perceraian dengan suami, kehadiran nama suami di biodata Nh. Dini seperti penyebutan nama tokoh antagonis. Tak ada lagi hasil jepretan sang suami yang dijadikan foto biodata.”

Tentu lantaran tak ingin pembaca mengetahui kisah pahitnya, Nh. Dini pun mengganti foto di biodatanya. Kita lalu mahfum, biodata penulis tak sesepele yang kita pikirkan.


Anggi Widyastuti
Guru SD Al Wildan Islamic School 2 Bekasi. Alumnus LPM Pabelan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara