Kedekatan hubungan antara penerbit dan media memberikan keuntungan tersendiri, terutama dalam hal promosi produk.

ADA sedikit kesamaan antara bayi yang baru lahir dan buku baru. Ketika bayi lahir, orangtua punya kewajiban untuk memberi nama dan mengabarkannya ke kerabat dan handai taulan. Sepincuk bubur beras merah dan putih sengaja dibagikan disertai secarik kertas bertuliskan nama bayi. Nama bayi itu mesti tersiar agar bayi lekas dikenal. Selain sebagai pengamal tradisi, orangtua itu percaya: perkenalan adalah awal dari sayang. Tiap orangtua berharap anaknya jadi kesayangan masyarakat, syukur-syukur oleh bangsa dan negara.

Begitu pun buku baru. Ketika terbit, penerbit punya tugas untuk mengenalkan “bayinya” ke masyarakat pembaca buku agar tergoda memiliki-membeli. Pengabaran buku baru ditempuh lewat pelbagai cara. Hari ini, kita bisa melihat seliweran foto sampul buku baru di media sosial. Penerbit memanfaatkan media sosial karena tak berbiaya dan praktis. Tak sedikit penerbit yang meminta bantuan orang-orang dengan akun media sosial berpengikut ribuan hingga jutaan. Mereka diminta memberi semacam pengakuan berpamrih, biasa disebut endorse.

Video pendek juga dibuat guna disebar di instagram. Publikasi berupa foto mungkin dianggap kurang memadai. Penerbit ingin lebih meyakinkan calon pembaca: buku berkualitas ciamik, dari kertas, kover, hingga pilihan jenis huruf. Kalau perlu, artis beken, pejabat, politisi, hingga para ulama, diminta turut mengabarkan buku baru itu. Tujuannya tunggal: buku terbeli, biaya produksi terlunasi, dan panen “laba” pun melimpah.

Itu yang terjadi hari ini. Di masa lalu, penerbit sering menyiasati promosi buku baru lewat pariwara di koran dan majalah. Bertujuan menaikkan pamor buku. Penerbit yang tak punya relasi media massa mesti keluar duit promosi. Berpariwara di media tentu tak murah. Keberkahan bakal menimpa penerbit yang memiliki relasi dengan media massa cetak.

Pada awal tahun 1990-an, Tempo hadir sebagai majalah yang paling getol memajang foto buku-buku terbitan PT Pustaka Utama Grafiti. Penerbit ini tak lain sayap usaha bidang penerbitan dari PT Grafiti Pers yang menerbitkan majalah Tempo. Kita pantas menduga, relasi keduanya mesra. Sesama saudara sekandung, majalah dan penerbit ini tentu harus akur dan menghidupi. Bandrol biaya iklan untuk terbitan Pustaka Utama Grafiti tentu punya korting khusus, dibanding penerbit lain.Apalagi jika buku-buku itu karya para penggede perusahaan.

Nama yang jelas sekali harus kita sebut di sini ialah Goenawan Mohamad, orang Tempo biasa menyebut Mas Goen. Tak sekadar orang penting, ia adalah salah satu “bapak pendiri” majalah. Di halaman Surat dari Redaksi (Tempo, 22 Desember 1990) termuat foto Mas Goen tampil semeja bersama “pejabat tinggi”—meminjam istilah Tempo—PT Grafiti Pers:”Direktur Keuangan dan Umum Haryoko, Direktur Pemasaran Fikri Jufri, dan Direktur Produksi Goenawan Mohamad.”Di Foto itu Mas Goen tampak senyum tipis, berjam tangan pula. Ia bersama rekan pemimpin perusahaan lainnya tengah memandu rapat.

Posisi penting itu digenapi produktifitas Mas Goen beresei dan berpuisi. Saya membayangkan ada semacam peraturan tidak tertulis, buku karya orang-orang “dalam” sudah semestinya berkesempatan dipariwarakan di majalah. Apalagi kumpulan tulisan Mas Goen yang berjudul Catatan Pinggir (Caping) memang bermula dari kolom di majalah. Dan ketika buku itu laris di pasaran, Tempo tentu merasa perlu mengabarkan.

Edisi cetak ulang Catatan Pinggir 1 tersiar di Tempo edisi 19 Agustus 1989. Sampul buku termuat jumbo, berdampingan dengan separagraf tulisan tangan berisi ajakan dan rayuan. Harga buku Rp10.000, mahal untuk ukuran kala itu. Kalimat pariwara mengajak pembaca sekalian untuk tak ragu-ragu menjadikan “caping” sebagai hadiah atau kado:“Sebuah buku yang patut dibaca, dimiliki, atau bahkan dijadikan hadiah untuk orang yang anda hormati atau anda kasihi.” Ajakan mulia, orang terhormat dan terkasih mesti dihadiahi caping agar pintar.

Pariwara tetap saja disuguhkan meski buku-buku Mas Goen bukan diterbitkan Pustaka Utama Grafiti. Buku kumpulan esai berjudul Kesusastraan dan Kekuasaan terbitan Pustaka Firdaus (Tempo, 29 Januari 1994). Buku dianggap penting karena Mas Goen dianggap “pelaku langsung dalam pergumulan polemik “ganas” dengan Lekra/PKI.” Untuk itulah buku itu pantas “ditelaah kembali ketika kesusastraan bertautan dengan kekuasaan, negara, dan politik.” Di buku ini Mas Goen menyinggung campur tangan negara yang terlalu jauh di kesusastraan. Dan itu terbukti. Tak hanya di kesusastraan, tetapi juga di bidang jurnalisme.

Lima bulan setelah pariwara itu terbit giliran rezim Orba memberedel majalah Tempo, tepatnya 21 Juni 1994. Klop. Di mana-mana penguasa ternyata sama saja.

Tak hanya buku karya-karya Mas Goen saja. Produk buku Pustaka Firdaus yang lain juga dapat tempat, sebutlah Berhala dan Gergasi (Danarto), Ohoi, Kumpulan Puisi (A. Mustofa Bisri), Sastra Sufi (Abdul Hadi WM), Cahaya Maha Cahaya (Emha Ainun Nadjib), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (Kuntowijoyo), dan Cerita di Daun Tal (Yanusa Nugroho). Beberapa nama tentu tak asing lagi bagi penyetia majalah Tempo. Sampai hari ini nama-nama pengarang itu masih kita jumpai kiprah dan tulisan-tulisannya.

Pun dengan pengarang yang dekat dengan Tempo, baik wartawan maupun para kolomnis. Kumpulan esai Umar Kayam yang sebelumnya terbit rutin di Kedaulatan Rakyat berjudul Mangan Ora Mangan Kumpul, misalnya. Juga novel Putu Wijaya (Perang) dan Y.B. Mangunwijaya (Durga Umayi).

Khusus terbitan Pustaka Utama Grafiti, pariwara seringkali sehalaman penuh, dari seri sastra hingga buku-buku kajian dan sejarah. Tak khilaf buku-buku dengan segmentasi sangat terbatas, seperti perbankan dan kedokteran. Awal 1990-an penerbit ini memang gencar mempromosikan produk-produknya.

Promosi buku pun tak berhenti di pariwara. Pemuatan resensi dianggap pengantar dan rayuan agar pembaca mulus memasuki isi buku. Tak sedikit orang yang mau beli buku dengan syarat dia sudah baca ulasan dan mengetahui seluruh kekurangan buku tersebut. Barangkali ini alasan mengapa majalah perlu memuat resensi.

Buku Konglomerat Oei Tiong Ham: Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara (1991) suntingan Yushihara Kunio, misalnya. Buku ini sering dipariwarakan dalam pelbagai ukuran, dari yang kecil hingga separuh halaman. Buku dibandrol 12.500. Tawaran buku: pembaca bisa mempelajari siasat bisnis berhadapan dengan tekanan politik hingga penggunaan intelligence business (Tempo, 21 Juli 1991). Olahan tema bisnis, politik, dan sejarah, menjadikan buku ini dianggap penting dan perlu dibaca.

Selang tiga Minggu berlalu sejak iklan yang saya kutip di atas, muncul resensi berjudul “Kerajaan Bisnis Si Raja Gula” ditulis oleh Leo Suryadinata, seorang penulis yang tekun mengurusi tema-tema Tionghoa di Indonesia. Leo menyorot pentingnya buku ini dimiliki karena buku yang menggarap tema sejenis masih sedikit. Ajakan itu bersanding kritik. Leo menganggap ada tumpang tindih pembahasan dalam buku (Tempo, 3 Agustus1991). Pemuatan resensi berisi kritik menjadikan pembaca paham dan mengerti kekurangan buku.

Buku terus mendapat perhatian hingga jadi rujukan caping Mas Goen. Membaca caping berjudul Oei kali ini, pembaca sekalian seperti membaca resensi. Beruntung Mas Goen membuka esainya dengan mendeskripsikan kebiasaan Oei saat sarapan pagi, yang konon begitu mewah dan  bergengsi. Sarapan diakhiri mengisap dua batang cerutu sebagai penghilang rasa masam alias kecut di mulut (Tempo, 10 Agustus 1991). Esai jadi agak subtil, tak mutlak mirip resensi.

Selama kurun dua bulan, dari Juli sampai Agustus, Tempo memanjakan buku Oei agar kerap dibaca pembaca. Meski barangkali bukan sesuatu yang dirancang secara serius, upaya memuat resensi dan ulasan buku adalah bagian dari menaikkan oplah penjualan buku. Penerbit dan majalah berkomplot mengangkat pamor sebuah buku.

Pameran

Agenda berpameran jadi siasat lain untuk mendekatkan buku ke calon pembeli. Bagi penerbit, pameran ibarat tanding di atas ring. Tiap penerbit berupaya unjuk produk secara habis-habisan, bersaing dengan penerbit lain. Buku bakal diangkut ke area pameran, dipajang dan pengunjung dipersilakan memegang hingga tergoda membeli. Bahkan seringkali diperlukan korting khusus hingga iming-iming cendera mata demi meningkatkan penjualan saat pameran.

Pada tahun 1991 digelar pameran buku Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), 27 Juli – 4 Agustus, di Hall A-C, Area Pekan Raya Jakarta (Tempo, 20 Juli 1991). Pustaka Utama Grafiti menempati lapak nomor 78 dan 79 Hall. C No.8. Rayuan agar pengunjung datang dibuktikan dengan hadiah-hadiah. Ada tas Grafiti, stiker kotak memo, kartu diskon, gantungan kunci, hingga paket khusus.

Hanya itu? Tidak. Di pojok kiri bawah halaman pariwara terdapat kupon. Pembaca disilakan menggunting bagian tersebut untuk ditukar dengan sebuah buku yang penerbit sediakan. Hadiah, kupon, dan diskon itu menjelaskan persaingan antara penerbit buku di masa lalu berlangsung sengit. Keberuntungan bagi penerbit yang berelasi mesra dengan media massa.

Namun nyatanya itu saja tak cukup, harus ada promo paket khusus, hadiah, hingga potongan harga. Hari ini, Tempo tak lagi memuat pariwara buku-buku dari penerbit Pustaka Utama Grafiti. Terkait kapan tepatnya Pustaka Grafiti berhenti mencetak dan mempariwarakan produk buku mereka di Tempo, saya belum mendapatkan data pastinya.

Kini, pembaca Tempo sering disuguhi buku-buku terbitan Tempo Publishing, seperti buku Wars Within, Seandainya Saya Wartawan Tempo, dan Pengakuan Algojo 1965. Juga seri buku Panduan Memilih Perguruan Tinggi bagi pembaca yang sedang bingung cari tempat kuliah. Saling sokong antara PT Grafiti Pers dan PT Pustaka Utama Grafiti nampaknya telah menjadi masa lalu.


Widyanuari Eko Putra
Pegiat Kelab Buku Semarang.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara