31 Oct 2016 Cep Subhan KM Sosok

Karya-karya Tanizaki Junichiro pekat dengan erotikisme. Selain seorang sastrawan, dia juga berjasa dalam merintis masuknya tema-tema modern dalam film Jepang. Namanya kemudian diabadikan untuk nama sebuah penghargaan sastra khusus fiksi dan drama.

TAHUN 1894, GEMPA bumi berkekuatan 6,6 Skala Richter mengguncang Tokyo, dan seumur hidupnya Tanizaki—yang tinggal di kota itu semenjak dia dilahirkan tahun 1886—tak bisa menghilangkan rasa takutnya akan gempa bumi. Tapi hal itu tak membuatnya merasa takut untuk membuat gempa bumi dalam dunia sastra dengan karya-karyanya.

Nama sastrawan satu ini diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan sastra untuk karya fiksi dan drama di Jepang yang digagas oleh penerbit Chuo Koronsha Inc, Tanizaki Prize. Penghargaan tahunan itu diberikan pertama kali tahun 1965 mencakup uang sebesar satu juta Yen Jepang, kira-kira setara dengan 124 juta rupiah kurs hari ini. Beberapa penulis yang pernah mendapatkannya misalnya Endo Shusaku, Oe Kenzaburo, Abe Kobo, dan Murakami Haruki.  

Tanizaki Junichiro lahir pada 24 Juli 1886 dan meninggal pada 30 Juli 1965. Meski tahun kelahirannya hanya terpaut 13 tahun dengan Kawabata, akan tetapi tahun awal kepenulisan mereka membuat keduanya bertolak dari era yang berbeda dan dengan aliran yang berbeda juga.

Karena menulis mulai tahun 1921, maka Kawabata—dan juga Mishima yang mulai menulis tahun 1937—biasa dimasukkan ke dalam penulis zaman Showa, sementara Tanizaki yang mulai menulis sejak tahun 1909 berada dalam tiga zaman secara berurutan: zaman Meiji, Taiso, dan Showa.

Meski demikian, Tanizaki adalah pengagum zaman Edo: periode sebelum Showa yang membentang dari tahun 1603-1868 M. Zaman Edo adalah zaman ketika Jepang dipegang oleh keshogunan Tokugawa, sementara zaman Meiji adalah zaman ketika Kaisar kembali berkuasa penuh. Zaman Edo adalah zaman feodal, sementara zaman Meiji adalah zaman modernisasi—meski sebenarnya hal itu sudah dimulai juga pada masa Yoshinobu Tokugawa, shogun terakhir Tokugawa.

Kekaguman Tanizaki pada zaman Edo mungkin berkaitan dengan pencarian identitas kultural antara Jepang dan Barat. Salah satu pendukung pengembalian kekuasaan pada Kaisar Meiji adalah golongan yang memiliki sentimen terhadap Barat. Akhir zaman Edo adalah masa ketika Jepang membuka pintu lebar untuk “luar”, satu poin yang sering dianggap sebagai kambing hitam perubahan budaya Jepang klasik ke modern, lengkap dengan berbagai ekses negatifnya.

Satu hal lagi: zaman Edo adalah zaman yang menyediakan banyak amunisi untuk erotikisme, aspek yang kemudian mendominasi fiksi-fiksi Tanizaki, terkadang dalam tataran yang lumayan ekstrem. Tanizaki, bersama dengan Nagai Kafuu, adalah pengikut aliran Tanbiha dalam kesusasteraan Jepang: Estetisisme. Bersama dengan aliran intelektualisme yang dipelopori oleh Akutagawa, estetisisme merupakan respon terhadap aliran dominan kesusasteraan Jepang saat itu yakni naturalisme.

Nagai Kafuu dan Tanizaki berkiblat pada pribadi manusia Edo. Nagai mendobrak naturalisme—yang terang-terangan membuka sisi-sisi buruk manusia dengan realis sementara aspek keindahan terkadang tak mendapat tempat—dengan menyodorkan keindahan Geisha zaman Edo.

Posisi Nagai sebagai orang yang pernah belajar di Amerika yang membuatnya sempat mengamati Jepang dari luar, membuatnya mampu menarik kesimpulan bahwa Jepang sudah terlalu realis dan melupakan idealisme, dan imajinasi. Penyajian kembali pribadi manusia Edo dimaksudkan untuk menarik Jepang kembali ke jalurnya.

Sering dikatakan bahwa sementara Nagai Kafuu melukiskan keindahan tersebut sebagai dingin dan hampa, Tanizaki secara ekstrim melukiskan banyak hal indah yang karena satu dan lain hal selama ini tersembunyi. Dengan kata lain, fiksi-fiksinya adalah fiksi psikologis, dan wanita—berikut seksualitas—menjadi tema yang dominan dalam fiksi-fiksinya.

Maka dalam fiksi Tanizaki, kita akan menemukan berbagai gambaran aneh tentang keindahan erotikisme, bahkan sampai taraf yang mungkin selama ini tak terbayangkan. Sado-masochism dalam Shisei (perajah), hubungan ambigu antara anak dan ibu tiri dalam Yume no Ukihashi (Jembatan Impian), sampai troilisme dalam Kagi (Kunci).

Adjektiva “erotik” juga menjadi salah satu yang seringkali ditemukan dalam biografi singkat Tanizaki pada fiksinya edisi terjemahan Bahasa Inggris selain “artistik”, “elegan”, dan “memukau”.

Pernah ada saat dalam kehidupan masa mudanya Tanizaki sangat tertarik pada Barat. Tinggal di rumah bergaya Barat di Yokohama dan hidup dengan gaya bohemian, ketertarikannya kemudian berubah kembali pada estetika dan budaya Jepang setelah gempa bumi menghancurkan rumahnya itu pada tahun 1923.

Satu novelnya—yang semula dimuat sebagai cerbung dalam koran Osaka Asahi Shinbun tahun 1924 dan diteruskan dalam majalah Josei—berjudul Chijin no Ai (secara literal bermakna “Cinta si Bodoh” tapi terjemahan Inggris dan Indonesia memberinya judul “Naomi” berdasarkan karakter utama wanitanya) merupakan kisah lelaki yang mencintai wanita bergaya Barat. Salah satu novelanya berjudul Aoi Hana yang terbit dua tahun sebelumnya menceritakan Aguri, wanita bar yang untuk membangkitkan keeksotikan kulit dan tatoo pada permukaannya mengenakan gaun barat.          

Tanizaki bukan hanya seorang penulis besar, tapi dia juga berjasa dalam merintis masuknya tema-tema modern dalam film Jepang. Dia dikisahkan pernah memiliki karir dalam Film Bisu sebagai penulis skenario. Meskipun karirnya di sana singkat, akan tetapi Thomas Lamarre menyatakan ada banyak orang yang berpendapat bahwa pemahaman akan hubungan antara Tanizaki dengan sinema merupakan hal penting demi pemahaman karirnya secara keseluruhan. Tidak mengherankan juga jika kemudian dibandingkan dengan penulis-penulis Jepang semasanya, karya-karya Tanizaki paling banyak diangkat ke dalam film.

Pada tahun 1958, tangan kanan Tanizaki lumpuh, tapi dia masih melahirkan novel tiga tahun kemudian, Futen Rojin Nikki (Diari si Tua Gila), dan masih mengangkat tema yang “mengejutkan” tentang hasrat erotik yang menggebu seorang pria tua pada menantunya.

Sebagaimana Kawabata mengajak dunia—dan terutama Barat—untuk membaca tindakan bunuh diri yang dilakukan penulis Jepang, Akutagawa, tidak dengan sudut pandang Barat melainkan dengan menelusuri ke jejak Zen, mungkin ada baiknya kita membaca Tanizaki dan erotikismenya dengan mengingat Kundera. Dalam l’art du roman-nya, penulis kelahiran Ceko itu mengatakan bahwa sebuah roman—dan tentu juga cerpen—memiliki moralitasnya sendiri.

Lalu selebihnya adalah tafsir. Sampai sejauh ini, ada dua orang sastrawan yang seringkali dianggap sebagai sastrawan Jepang paling populer, Soseki Natsume dan Tanizaki Junichiro. Dunia nampaknya sudah punya tafsirnya sendiri tentang anak saudagar kaya yang sepanjang hidupnya takut gempa bumi itu.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara