Sebuah puisi, sebagaimana meteor, bisa berlabuh di mana pun. Ia mungkin berlabuh dalam sebuah kisah cinta, atau dalam sebuah simpati terhadap karya seniman yang lain.

1

Tia Setiadi adalah penyair yang menulis esai, atau esais yang menulis puisi. Pendeknya, dia adalah seorang esais sekaligus seorang penyair. Kita masih bisa memperpanjang daftar “kesekaligusan” itu dengan sederet keterangan yang lain: penerjemah, editor, kurator tulisan di penerbitan, misalnya. Bahkan kabar terbaru dari sastrawan yang satu ini dia konon sedang tertarik menulis cerpen. Bukan masalah, Rendra misalnya juga menulis puisi-puisi yang dahsyat, esai-esai yang memikat, cerpen-cerpen yang mudah diingat.

Esais dan penyair memang kerap kali dipersandingkan dan sudah banyak yang membahasnya sebagai sebuah kewajaran. Kita mengenal banyak sosok nasional di mana dua diksi itu nampak akrab: Emha Ainun Nadjib, Sapardi, Agus Sardjono, Goenawan Mohamad, dan lebih banyak lagi di ranah internasional: termasuk Octavio Paz yang dikagumi sastrawan kelahiran Subang ini.

“Tangan yang Lain” adalah judul antologi puisi tunggal pertama Tia Setiadi. Pertama diterbitkan Interlude tahun 2013, meraih anugerah Mastera tahun yang sama, dan diikutsertakan terjemahan Inggrisnya dalam Frankfurt Book Fair 2015. Judul itu sendiri diambil dari puisi berjudul  demikian di antara 24 puisi yang termuat di dalamnya.

Sejauh ini penelusuran di media daring menunjukkan ada dua tulisan tentang antologi ini yang bukan sekadar. Rehal tulisan Dion Yulianto yang dimuat di basabasi.co 25 April 2016 dan tulisan Narudin yang dimuat nusantaranews.co 27 November 2016. Selain itu ada juga reportase yang lumayan menarik dari Margita Widiyatmaka di kompasiana.com 27 Juli 2012 (disebutkan diperbarui pada 25 Juni 2015) tentang diskusi antologi ini di PKKH UGM pada 25 Juli 2012. Tak menutup kemungkinan adanya tulisan yang lain yang luput terlacak baik itu dipublikasikan daring ataupun dalam bentuk cetak.

2

Puisi “Tangan yang Lain” adalah kisah tentang tangan yang tak diam, “tangan” yang lahir dari tangan yang mencoba melakukan perubahan, dengan caranya sendiri. Sungguh sayang bahwa meski dijadikan judul antologi puisi ini dan bait-baitnya bisa ditemukan menghabiskan ruang yang lumayan panjang dari pagina 84-88, puisi ini—dan juga satu puisi di halaman 83 berjudul wijayakusuma—tak tercatat pada daftar isi edisi Diva Press cetakan pertama Mei 2016.

Bahwa puisi ke-18 dalam antologi ini yang dijadikan judul, pasti ada alasan, dan apapun alasannya tentulah itu menunjukkan satu kelebihan puisi ini dibanding yang lain, meski kita bisa berdebat panjang tentang apa sebenarnya kelebihan itu, sama halnya dengan kita bisa berdebat panjang tentang yang manakah puisi yang paling bagus dalam antologi ini. Kita bisa berdebat bahwa alasannya mungkin soal kepantasan judul puisi ini untuk dijadikan judul antologi, kita bisa berdebat bahwa alasannya mungkin karena puisi ini merupakan favorit sang penyair, dan sebagainya dan sebagainya, dan lain-lain dan lain-lain.

Apapun alasannya, hal itu sudah cukup untuk menjadi alasan pula mengapa hanya puisi tersebut yang ditinjau sepintas dalam tulisan ini berupa pembacaan yang mungkin saja menghasilkan kesimpulan berbeda jika dilakukan kali lain: puisi yang bagus memiliki potensi untuk lahir kembali tiap kali kita membacanya ulang. Adalah terlalu beresiko untuk meninjau semuanya dalam tulisan yang hanya singkat saja: sebuah resiko banyaknya hal yang terlewat, terutama karena puisi-puisi dalam antologi ini nampak disusun secara kronologis, bukan berdasarkan tema.

Puisi “Tangan yang Lain” dibagi menjadi lima bagian yang selintas nampak asal. Per bagian dibagi lagi ke dalam bait-bait yang larik-larik per baitnya juga tidak mendasarkan pada keketatan pola. Sajak ini juga bukan model sajak lawas yang ketat soal rima, meski masih bisa kita temukan di sana-sini rima yang muncul, bukan hanya di akhir larik seperti “malam” dan “mengetam” melainkan juga dalam variasi lain misalnya asonansi: “kertas bekas”.

Dibuka dengan epigraf—dalam pengertian yang disaran oleh kamus susunan Cuddon, bukan KBBI yang canggung—yang berbunyi: Buat: Toni Morrison, lima bagian puisi ini sesungguhnya memiliki kesatuan struktur yang ketat yang bisa ditemukan dengan mendasarkan pada epigraf tersebut. Bahwa nama Toni Morrison disebut, seorang novelis Afrika-Amerika peraih nobel sastra tahun 1993, memunculkan gambaran awal tentang apa pentingnya “tangan” dalam puisi ini sampai dijadikan judul: Riffaterre misalnya mengatakan judul bisa merupakan “tanda ganda”, ia memperkenalkan puisi yang diawalinya, sekaligus menawarkan rujukan ke luar teks, sebagaimana kombinasi judul dengan epigraf tersebut juga bisa membawa pada kesimpulan bahwa hipogram untuk puisi ini adalah teks—dalam pengertian seluas-luasnya—yang dinisbatkan pada Toni Morrison.

Tangan, bagi seorang sastrawan, adalah bagian tubuh yang sangat penting karena dengannya ia menuliskan karya representasi, puisi bagi penyair, cerpen bagi cerpenis, novel bagi novelis. Dengannya seorang sastrawan akan menuliskan “sepatah kata purba” sebagaimana disaran oleh larik pembuka bagian pertama. Diksi “purba” yang menyaran pada masa yang terpisah jauh dari kiwari mengisyaratkan keberbedaan rentang historis “kata” yang disifati. Apapun yang dirujuk “kata” itu, ada kesenjangan yang hadir pada masa kini dan karenanya pemunculan yang purba itu dibutuhkan sebagai semacam koreksi, kembali pada yang murni. Andai yang purba itu yang benar, maka perujukan ke masa purba itu adalah upaya kembali pada kebenaran.

Menarik bahwa dalam bagian pertama ini tak kita temukan diksi “tangan”, yang ada adalah diksi “lengan” (namun lengan-lenganmu terus terjaga, seakan insomnia), sementara pada bagian-bagian selanjutnya kita temukan diksi “tangan” tapi tak ada diksi “lengan”, misal: agar kedua tangannya menjadi selendang (bagian 2), tangan yang menulis, membelah dirinya sendiri (bagian 3), tangan yang lain akan menanam pohon terakhir (bagian 4), tangan yang lain akan mendatangimu (bagian 5).

Sudah jelas bahwa ada beda antara “lengan” dan “tangan”: menurut KUBI susunan Poerwadarminta, yang pertama merujuk pada bagian pergelangan sampai ke bahu, dan yang terakhir menyaran pada bagian siku atau pergelangan sampai ujung jari. Ketika orang ingin melekatkan verba “menulis”, maka ia menggunakan diksi “tangan”, bukan “lengan”. Dengan demikian, bagian awal ini menyaran pada pendahuluan sebelum laku itu terjadi, ketika lambang-lambang masih dalam tahap penyusunan dan si “kau” menjalani tirakat insomnia: nomina yang mengisyaratkan keadaan terjaga di saat yang lain tidak mampu atau tidak mau, situasi yang menyaran pada perbedaan dari manusia pada umumnya, suatu ke-lain-an.

Dari hasil “menelusuri akar kata”, lahirlah tubuh yang tersusun dari musik, kemurnian yang menolak warna meski ia lahir (“disuling”) dari “malam” yang lekat dengan warna gelap, pekat, hitam. Asosiasi warna hitam dalam musik itu sendiri mengingatkan pada asosiasi kulit hitam dengan musik: rap yang merupakan unsur utama musik hip hop sebermula adalah puisi berima yang dilisankan. Asal-usulnya bisa dirunut ke tradisi musik orang-orang Afrika, Afrika-Amerika, dan suku Indian. Dengan demikian, nampak bahwa diksi “malam” dalam larik keempat di bagian kedua ini digunakan bukan semata karena kebutuhan rimawi dengan diksi “mengetam” di larik setelahnya melainkan suatu padanan yang sesuai dengan “insomnia” dan citra “gelap kulitmu” di bagian awal: tak lazim insomnia di siang hari, tak ada malam yang seterang siang hari.

Lagipula Toni Morrison adalah seorang sastrawan Afrika-Amerika. Fiksi-fiksinya banyak mengangkat perihal identitas kulit hitam, dan ia percaya bahwa meski fiksi-fiksinya itu seni akan tetapi bukan berarti mereka apolitis: aku tak tertarik memanjakan diriku sendiri dalam sebuah kegiatan berkhayal yang sifatnya pribadi...ya, karya ini pasti politis, demikian katanya.

Semua huruf pada bagian kedua “Tangan yang Lain” ditulis sebagai huruf italik, miring, menyaran pada sebuah “percakapan” akrab antara penulis puisi ini dengan Toni Morrison yang dia panggil dengan “Mori”. Keakraban yang lazim bagi sesama sastrawan terutama jika kita mengingat tulisan TS Eliot bahwa setiap seniman berutang pada seniman-seniman sebelumnya dan antara mereka terjalin suatu “komunitas tak sadar”.

Dari keakraban itu kita bisa melihat adanya nada simpati pada Toni Morrison—dan mungkin aktivitasnya, dan mungkin pemikirannya—dalam puisi ini. Suatu keakraban yang sudah terindikasikan sedari awal ketika kita menemukan nama sastrawan yang satu ini sebagai epigraf puisi. Sebuah epigraf selalu menandakan ketidaknetralan: antara simpati dan tidak simpati, antara kagum dan tidak kagum.

Baru pada awal bagian ketiga kita menemukan petunjuk tentang tangan yang lain: tangan yang lahir saat tangan menulis, tangan yang lahir ribuan. Bilangan ribuan sendiri bisa dimaknai secara literal sebagai jumlah ribuan, ataupun dimaknai sebagai diksi yang merujuk pada makna “banyak sekali”. Ada dua larik yang disusun dengan gaya diakop yang penting dicatat pada bagian ini:

Bila tangan yang satu menguncup

Tangan yang lain akan mengembang

Setelah dipisahkan oleh tiga larik—keterangan untuk dua larik di atas—diakop itu diulang kembali dengan pola sintaksis kalimat yang identik sebagai berikut:

Bila tangan yang satu sedang menulis

Tangan yang lain sedang menghapusnya

Keidentikan itu bisa memberikan semacam petunjuk untuk memaknai diksi “menguncup” dan “mengembang” karena keduanya menempati posisi yang sama dengan “menulis” dan “menghapus”. Diksi “menguncup” mungkin mengisyaratkan laku menulis sementara “mengembang” mengisyaratkan sebaliknya: menghapus tulisan. Meski demikian, alih-alih menyaran pada semacam kesia-siaan, dua laku yang bertentangan itu justru menyaran pada suatu perkembangan “sesuatu yang dituliskan”, ide, dan penghapusan ide yang awal bukan mengisyaratkan suatu penghapusan total melainkan perubahan sebuah ide menuju yang lebih sempurna, menuju tulisan yang lebih baik.

Dengan kata lain: suatu perjalanan dari utuh ke suwung, suatu perjalanan kembali untuk menemukan “akar waktu” seperti “arus sungai yang kembali ke hulu”. Akar waktu, masa purba ketika warna gelap belum menjadi konotasi tertentu yang buruk. Dalam kisah nabi-nabi kita mengenal bahwa identitas buruk yang melekat pada warna hitam mulai muncul pada anak turun nabi Nuh.

Permasalahan tentang diskreditasi warna hitam itulah yang dijadikan tema tulisan si “kau”: penjelasan yang kita temukan pada bagian keempat. Permasalahan yang bukan hanya di satu wilayah akan tetapi “seluruh dunia”. Bahwa hitam adalah “kerudung janda yang sedang berkabung” dan “janda hitam bukan bekas istri siapa pun”.

Hitam adalah bukan siapa-siapa. Suatu gambaran tentang dehumanisasi mereka yang tersaput warna hitam. Janda hitam, janda berkulit hitam, janda dari suami berkulit hitam. “Kerajaan bumi” mungkin menjadi penganjur dehumanisasi itu, tapi tangan yang menulis mampu membalik “akar pohon” yang ditanamnya menjadi tumbuh di langit menjulur ke bumi: suatu upaya mengingatkan bahwa kerajaan langit mungkin berpihak pada apa yang dihasilkan tangan yang menulis.

Lalu kata pun memilih jalannya sendiri, memisahkan diri dari tangan yang menulis: ia “menuliskan riwayatnya sendiri”, menjadi bahasa sendiri. Dari sana kemungkinan lahir sebuah perubahan, laku yang sederhana (menulis) andai dalam prosesnya terjadi kesungguh-sungguhan dan banyak kesukaran (menulis dengan tinta “tiga tetes darah” yang bersumber dari luka, misalnya) akan membawakan hasil yang luar biasa sampai tiga tetes itu bisa menjelma genangan yang lantas menjadi samodera.   

Begitulah, “Tangan yang Lain” adalah kisah tentang tangan yang menolak diam, dalam lima bagian yang nampak saling terpisah tapi sebenarnya menampakkan kesinambungan struktural yang membentuk keutuhan, semacam “pusat abadi” dalam puisi Octavio Paz yang ditranskreasikan oleh Frans Nadjira ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat bagus:

 

Kata, suku kata, kelompok kata

adalah bintang-bintang yang berputar

            menuju pusat abadi.

(Octavio Paz, “Titik Mula Puisi”)

 

Apa yang bernilai pertama-tama dari hal tersebut bukanlah mengenai sukses tidaknya perubahan itu, melainkan upaya itu sendiri. Kita tak tahu hasil akhirnya memang, terutama karena ia adalah bagian di luar puisi ini sebagai teks. Kita hanya bisa mengintip sedikit di akhir puisi:

Sehingga untuk tiba di pantai penghabisan

Engkau hanya tinggal merenanginya.

Berenang: suatu simbol tangan yang bergerak membawa tubuh ke sebuah tujuan karena berenang bagi manusia membutuhkan tangan, dan lengan. Kata “tinggal” mengisyaratkan bahwa laku berenang itu adalah sesuatu yang mudah dari cara apapun yang lainnya yang mungkin. Dengan berenang itu maka si “kau” pun sampai ke “pantai penghabisan”, suatu wilayah yang tak kita tahu pasti merujuk ke manakah itu, tapi pantai mengisyaratkan suatu tempat berlabuh, sebuah tujuan akhir sebagaimana dirujuk oleh kata “penghabisan”.

Dengan kata lain: sebuah surga. Baik “surga” dalam pengertian agamawi ataupun semacam “surga di bumi” yang menjiplak konsepsi surgawi yang awal. Surga, yang merupakan sumber purba manusia juga, konon, adalah tempat di mana yang ada hanya kebahagiaan, sebuah tempat di mana warna bukanlah dasar untuk memperlakukan seseorang dan karenanya kita bayangkan di sana si “janda hitam” berbahagia. 


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara