Tanda tangan di halaman awal buku kini menjadi tambahan nilai buku itu sendiri. Pandangan itu belum tentu berkaitan dengan peningkatan apresiasi terhadap bacaan.

BERITA penerbitan buku-buku baru membawa cerita-cerita mengejutkan. Buku tak melulu halaman berisi kata-kata. Kini, buku itu diusahakan menjadi “benda” menakjubkan dengan pelbagai peristiwa dan simbol. Dewi Lestari (Dee), penulis novel-novel laris mengumumkan telah menandatangani 10.000 buku terbaru. Buku bertanda tangan telah jadi pemuliaan dari penulis bagi umat pembaca alias penggemar. Dee girang saat memberi tanda tangan di novel terbaru berjudul Aroma Karsa (2018). Girang itu teranggap pemecahan rekor selama Dee bertanda tangan di buku-buku terdahulu (Tribun Jateng, 19 Maret 2018). Dee mengartikan pembuatan tanda tangan itu harus asli, bukan cap. Keaslian itu diartikan “balasan cinta bagi penggemar.” Tanda tangan semakin membuktikan kerja penulis tak selesai cuma dengan buku terbit dan dipajang di rak-rak toko buku. Kerja “terpenting” penulis demi mencipta sejarah bersama pembaca adalah memberi tanda tangan di ribuan buku.  

Dua tahun silam, berita kecil berjudul “Habis 15 Pulpen” di Jawa Pos, 29 Februari 2016, memicu penasaran. Dee memberitahukan telah menghabiskan 15 pulpen untuk membuat tanda tangan di ribuan buku. Dee saat itu menerbitkan novel terbaru berjudul Inteligensi Embun Pagi. Para pembaca atau penggemar telah memesan ke penerbit sebelum buku beredar ke toko-toko. Penulis mesti memberi “hadiah” berupa tanda tangan di buku. Tanda tangan penulis memang jadi incaran pembaca. Tanda tangan dianggap keramat dan “bersejarah”. Buku semakin berarti jika ada tanda tangan penulis. Mengapa harus tanda tangan? 

Pada 1919, terbit buku berjudul Allah Jang Palsoe: Satoe Lelakon Komedie garapan Kwee Tek Hoaij. Barangkali buku itu pantas dianggap pemula dalam terbitan naskah-naskah pertunjukan sandiwara di Hindia Belanda. Sejak abad XIX, sandiwara modern sudah berpentas di pelbagai kota tapi penerbitan buku belum terlalu semarak. Kwee memberanikan diri menulis dan menerbitkan naskah lakon komedi untuk bisa disajikan dalam pertunjukan. Buku dicetak oleh Tjiong Koen Bie, Electrische Drukkerij, Batavia. Kekhasan buku di masa lalu ditampilkan di halaman awal. Pembaca bakal menemukan keterangan dan tanda tangan penerbit atau penulis:

“Kitab jang saboenji dengen ini nanti dinjataken palsoe adanja, djikaloe tida dipertandaken tangan oleh…”

Di bawah kalimat itu ada tanda tangan menggunakan tinta berwarna biru. Tanda tangan sebagai bukti bahwa pembeli atau pembaca mendapatkan buku asli.

Mengapa tanda tangan? Barangkali para penulis dan penerbit menganggap tanda tangan sulit ditiru atau dipalsukan oleh para pembajak buku. Gerak jari dalam menorehkan tanda tangan tentu memiliki kekhasan. Tanda tangan jadi peringatan ke pembaca jika di Hindia Belanda biasa terjadi ada peniruan, penjiplakan, dan pembajakan. Pilihan menaruh tanda tangan di halaman awal juga jadi bentukan ingatan ke pembaca agar selalu mengetahui “identitas” penulis atau penerbit. Buku asli telah terbit. Pembaca mengakui keaslian itu disahkan dengan tanda tangan. Pengertian mulai bertambah bahwa tanda tangan tak cuma ada di lembaran-lembaran resmi kependudukan, surat bisnis, sertifikat tanah, atau surat pengadilan. Di buku sastra, tanda tangan hadir sebagai peringatan dan pembentuk kekhasan.

Tahun demi tahun berlalu. Kebiasaan memberi tanda tangan pengarang di buku tetap berlangsung dengan ekspresi berbeda. Dulu, tanda tangan ada di buku sebelum dipasarkan. Kini, acara-acara peluncuran buku atau diskusi buku biasa disempurnakan adegan kerumunan pembeli dan pembaca minta tanda tangan penulis. Mereka biasa memilih halaman awal untuk ditandatangani.

Apakah cuma tanda tangan? Pembaca dan penggemar mungkin meminta ada pencantuman nama, kalimat sakti, dan tanggal. Peristiwa bertanda tangan terkesan semakin membesarkan kebanggaan dan popularitas.

Di Solo, sekian tahun silam, Sapardi Djoko Damono saat memperingati usia 75 tahun dengan penerbitan novel dan puisi pernah mengaku bergairah memberi tanda tangan di 400-an  buku. Ratusan orang mengikuti acara obrolan novel Suti garapan Sapardi Djoko Damono. Sekian orang sudah membaca. Ratusan orang belum membaca alias datang ke acara dan membeli novel Suti di meja panitia. Mereka melihat dan mendengar penjelasan Sapardi Djoko Damono sambil memegang, memangku, dan memeluk buku Suti. Acara selesai, tepuk tangan meriah. Di depan, orang-orang berkerumun, berebutan minta foto bersama Sapardi Djoko Damono. Acara terakhir adalah memenuhi permintaan pembeli Suti: tanda tangan dari si pengarang. Sapardi Djoko Damono, lelaki tua dan kurus, duduk menjalankan ritual tanda tangan. Acara sastra itu meriah dengan tanda tangan. Buku sastra jadi bertambah keren jika bertanda tangan pengarang.

Tanda tangan pengarang atau penerbit tak lagi jadi bukti keaslian buku. Kini, tanda tangan berperan memuaskan pembeli, pembaca, kolektor, atau penggemar. Pengarang jadi idola. Di mata pemilik buku, tanda tangan di halaman awal mengandung “sihir”, representasi dari peristiwa, ketokohan, waktu, dan derajat  kegandrungan. Apakah tanda tangan cuma urusan pengarang dan pemilik buku? Peran penerbit tentu berpengaruh bagi pemenuhan tugas pengarang bertanda tangan. Acara peluncuran buku atau diskusi biasa bermisi “menjual” buku, tak melulu penghormatan pada pengarang. Penerbit ingin buku laris. Tugas bagi pengarang adalah bersedia memberi tanda tangan agar buku terasa “bersejarah” bagi konsumen. Pemanjaan diperlukan agar buku-buku baru garapan si pengarang bakal terus laku, dinantikan dan diminati konsumen.

Pengarang dan penerbit pun memiliki dalih tanda tangan untuk kesuksesan pemasaran. Habiburrahman ES dan Republika Penerbit dalam penjualan novel Ayat-Ayat Cinta 2 juga memberi godaan ke konsumen berupa tanda tangan. Pada akhir 2015, penerbit mengumumkan novel Ayat-Ayat Cinta 2 sudah bisa dimiliki para penggemar dengan cara memesan secara bersaing. Konon, penerbit memberi jatah terbatas dalam jumlah pemesanan. “Hadiah” bagi konsumen adalah mendapatkan tanda tangan pengarang. Penerbit berhasil memenuhi target penjualan. Jumlah pembeli melampaui ramalan. Si pengarang mesti memberi ribuan tanda tangan.  Ribuan novel dikirim ke pembaca di pelbagai tempat. Penerbit dan pengarang lega bisa “memuaskan” konsumen, berwujud tanda tangan. Di mata konsumen, tanda tangan itu pembeda dari para membeli novel di toko buku, tak bertanda tangan pengarang. Tanda tangan jadi pikat dalam pemasaran dan “memuaskan” konsumen sebagai penggemar.

Kita menduga permintaan tanda tangan pengarang di Indonesia adalah tiruan dari Eropa dan Amerika. Di sana, pengarang biasa memberi tanda tangan saat acara peluncuran buku. Para penggemar antre agar bisa memenuhi ambisi mengoleksi buku bertanda tangan pengarang pujaan. Barangkali tanda tangan itu “kompensasi” pengarang dan penerbit agar pembeli buku bersetia jadi penggemar. Tanda tangan juga berarti sejenis “komunikasi” antara pengarang dan pembaca, mempengaruhi cara membaca buku dan keseriusan merawat buku. Di Indonesia, para pengarang tenar selalu bersiap memberikan tanda tangan. Peristiwa bertanda tangan bakal semakin mengesahkan popularitas dan kelarisan penjualan buku.

Tanda tangan tak selalu kemeriahan dan kegembiraan. Kasus aneh dialami oleh Joss Wibisono saat mengikuti acara penandatanganan buku di Museumplein, Amsterdam, Belanda, 29 Agustus 1993. Joss (2016) mengenang peristiwa diri, buku, tanda tangan, dan penulis. Di hadapan penulis bernama Hella S Haasse, Joss diminta memilih buku De heren van de thee atau Parang Sawat. Joss mengetahui bahwa novel De heren van de thee memihak ke para juragan teh berkebangsaan Eropa di Priangan, menepikan kaum pribumi sebagai buruh di perkebunan teh. Novel itu “bermata” dan “berselera” kolonial. Joss memilih buku Parang Sawat untuk ditandatangani oleh Haasse. Pilihan itu agak membuat Hasse sewot. Semula, Haasse agak mengarahkan agar Joss memilih De heren van de thee. “Bujukan” itu dijawab Joss: “Ah itu bukan untuk saya mevrouw. Saya ini cuma keturunan het volk van de thee (rakyat atau buruh teh), bukan juragan teh.” Jawaban itu mengagetkan dan mengesalkan Haasse. Adegan lanjutan adalah Haasse memberikan tanda tangan di buku Parang Sawat tanpa meminta informasi nama si peminta tanda tangan. Joss pun mengerti. Jadi, Joss membeli buku Parang Sawat bertanda tangan Haasse dengan ingatan tentang konflik, bertaut ke masa lalu saat Belanda menjajah Indonesia.

Sejak hampir seabad silam, tanda tangan di buku jadi referensi untuk mengetahui keaslian, penghormatan, pemasaran, komunikasi, dokumentasi, popularitas, dan konflik. Tanda tangan di buku jadi ingatan bersama saat pembeli mendapatkan langsung dari penulis atau mengikuti tata cara pemesanan buku ke pihak penerbit. Di sela ingatan bersama, tanda tangan jadi penentu harga buku. Di kalangan penjual buku lawas dan kolektor, tanda tangan pengarang di buku sanggup meninggikan harga. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer di masa lalu disertai tanda tangan bakal berharga ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Tanda tangan Wiji Thukul pun jadi penentu harga buku lawas. Tanda tangan memiliki seribu arti. Kita pun berhak mencibir fanatisme tanda tangan sering mengalahkan apresiasi pembaca ke buku-buku. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara