Ada banyak cara untuk tamasya di Yogya. Salah satu cara yang unik, murah, dan sekaligus menarik bagi penyuka literasi adalah tamasya ke Pasar Senthir. Sebuah tamasya ke tengah buku-buku bekas di malam hari.

“Tak hanya mantanmu, kelak kamu akan mengerti buku-buku bekas juga berharga,” tatapanmu melesak tepat ke hadapan sepasang mata bola milik seorang lelaki yang sedang memandangmu dari belakang usai mengucapkan kalimat itu.

Kalimat itu keluar dari seorang perempuan tambun yang tertambat hatinya dengan buku. Terlebih setelah seorang lelaki yang sedang ditatapnya itu menghadiahi buku IQ84 Jilid II karya Haruki Murakami pada hari ulang tahunnya tepat pukul 00.00 WIB. Kecintaannya terhadap buku semakin menjadi-jadi.

“Kamu masih berhutang Jilid III-nya padaku di ulang tahunku selanjutnya,” ucapnya dengan senyum kecut dan jarak pandangnya yang semakin dekat dan melotot. Aku masih ingat novel tebal itu ditandainya dengan nama kami di bagian belakang sampul depan bertuliskan “Sa’adah dan Robandi”, lengkap dengan tanda tangannya dan tanggal pembelian.

“Bedebah,” batinku.

“Apa kamu tidak tertarik dengan buku ini?” tanyaku mencoba mengalihkannya sambil menunjuk salah satu buku yang dijejerkan di  salah satu lapak di pasar Senthir. Malam itu 15 Mei 2017, entah di buku bekas berjudul apa lagi yang hendak dibeli dan dilabelinya.

Ia tidak pernah merasa bosan untuk sekadar mondar-mandir sendirian dari lapak satu ke lapak buku lain selepas maghrib di setiap hari lenggangnya hanya untuk tahu “kira-kira buku bekas apa yang dijejerkan di lapak penjual di pasar Sentir?”.

Ia menyebut aktifitasnya itu sebagai tamasya buku bekas.

Buku-buku bekas yang lapuk dengan atau tanpa sampul dan ragam bentuk corat-coretan mantan si empunya buku dan bau apak menyeruak dari kertas-kertas yang berwarna kuning tembaga berkarat serta noda kecil hitam seperti tahi cicak yang menempel sudah mengeras atau bercak kopi di ujung kertas serta selembar kertas pembatas yang tertinggal menyelip di tengah halaman buku. Buku-buku bekas itu dijual dijejerkan bersama aneka barang bekas seperti baut sampai sepatu butut.

Ia lupa kapan lebih tepatnya tamasya itu menjadi aktifitas mengisi waktu luangnya. Biasanya usai tugas makalah dipresentasikan, kala presensi kuliahnya sudah memenuhi standar 75% atau kegiatan organisasi tidak lagi merundungnya. Ia hanya mengingat waktu itu semester II masa perkuliahan secara tidak sengaja terdampar di sebuah tempat parkir di belakang pasar Bringharjo usai menikmati temaram lampu taman Malioboro.

Ia merasa tamasya itu menjadi sebuah alternatif untuk sekadar pemuasan batin yang haus akan bahan bacaan kala uang pas-pasan: apa boleh buat, harga buku di beberapa penerbit ternama juga terus melejit. Tapi di pasar Senthir ia mengaku semacam menemukan oase saat buku-buku di rak kamar kosnya telah habis dibaca dan tanggal muda tiba. Di waktu itulah biasanya ia menyeretku untuk ikut pelesir buku-buku bekas.

Ia pernah mendapati dan membeli buku-buku yang menurutnya bagus dan berguna untuk kebutuhan wawasan pengetahuannya. Di rak bukunya, ia sudah mengoleksi berbagai buku-buku bekas yang dibeli dengan harga murah di pasar Senthir. Walau tidak setiap kali kami tamasya beruntung mendapati buku-buku yang memikat.

Buku Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan dan novel Rantau 1 Muara seri ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi masing-masing ia beli hanya Rp. 10.000, Jurnal Cerpen Indonesia vol 1, Novel detektif zaman SMA macam Tirai Agatha Christie, Tomi Lebang dengan bukunya Sahabat lama, Era Baru: 60 Tahun Hubungan Indonesia-Rusia dan lainnya.

Ia terkadang penasaran oleh motif seseorang menjual buku-buku yang sudah dibeli. Alih-alih menyampuli dan menatanya di rak koleksi pribadi dan membersihkannya dengan kemoceng saban pagi, buku-buku bekas itu justru telantar di pelapak pasar Senthir. Sampai pernah pada suatu kesempatan kami iseng mencoba menghubungi nomor telepon yang dituliskan si empunya pada salah satu buku yang kami beli.

“Orang-orang itu telah menjual keberuntungannya. Dan kini keberuntungan mereka menjadi milikmu,” timpalku memuji.

“Semoga keberuntunganku mewujudkan harapanku punya kamar yang penuh dengan buku jadi cepet nyata ya,” balasnya. Tidak jelas apakah itu kalimat tanya atau seruan. Aku hanya mengangguk pelan.

Lain sepertimu, Fathurahman salah satu pelapak buku bekas pasar Senthir memiliki keberuntungannya dalam bentuk lain. Sebagai penadah buku-buku bekas, ia merasa pantang untuk mengoleksi buku sendiri. Apalagi menanyakan motif kepada seseorang yang merelakan buku-bukunya dijual dengan harga murah.

“Alasannya sederhana,” katanya “agar mudah ditawar”.

Fathurahman juga tidak peduli jika buku yang diborongnya dari orang pertama penjual adalah hasil curian. Ia menceritakan pernah suatu waktu ia didatangi seorang pemuda yang membawa tiga buah buku dan hendak menjualnya dengan harga berapa saja.

“Ini buku dapat dari kos teman,” katanya menirukan. Setengah jam berlalu tiga buku itu sudah berpindah ke tangan pembeli dengan harga lebih tinggi.

“Untung kan,” katanya sambil tertawa.

Rahman—sapaan akrab teman-teman pelapaknya—paham menjual buku hasil curian itu berdosa, tapi ia merasa lebih berdosa jika pulang dengan tangan hampa. Kami berdua hanya mengangguk dan bergegas pindah ke lapak buku-buku bekas lainya.

Ada delapan penjual buku-buku bekas yang melapak malam itu yang tersebar sesuai nomor urut yang didapatkan masing-masing pelapak sebelum pasar dibuka. Selain Rahman, juga ada lapak milik Pradoto yang menjajakan sepuluhan buku-buku bekas di atas tikar yang digelar dengan lebar 4x5 meter. Ia menjual buku-buku bekasnya mulai dari harga Rp. 5.000 sampai Rp. 30.000 tergantung dari muatan isi buku.

Sebelum melapak, Pradoto lebih dulu memilah buku-buku bekas yang menurutnya menarik dan biasa setelah memborongnya dari penadah. Ia memisahkan mana buku yang menurutnya menarik dan mana yang biasa. Ia mengategorikan buku yang menarik seperti buku bahan perkuliahan mahasiswa, buku tebal, buku-buku dengan ejaan lawas, majalah, dan buku-buku yang sudah dipesan pembeli secara pre-order. Sedang buku biasa seperti buku buku tips-tips, dongeng anak, cerita islami, dan lainnya biasanya ia pajang di bagian belakang lapak.

Selain menerima pembelian langsung di tempat, Pradoto juga menerima pesanan pre-order via sms yang pemesannya merupakan pelanggan tetap. Seperti pesanan 26 eksemplar majalah Basis mulai terbitan 1966 yang sedang dipegangnya.

“Saya jual per-eksemplarnya lima ribu rupiah saja. Lumayan untungnya,” kata bapak usia 47 tahun dengan enam anak itu.

Menurut Pradoto, yang laris dan banyak dicari adalah semacam buku-buku lawas dengan ejaan Indonesia tempo doeloe. Buku seperti itu banyak dicari oleh kolektor dan orang-orang yang memiliki hobi mengarsipkan buku atau dokumen lawas yang tidak tanggung-tanggung membelinya dengan jumlah yang ada.

“Kadang tanpa ngeyel menawar harga,” tambahnya.

Malam itu keberuntungan sedang tidak di pihak kami berdua. Sudah satu jam setengah berkeliling menyambangi setiap lapak buku-buku bekas tidak ada satupun buku yang bisa kami bawa pulang. Meski begitu aku merasa tenang selayaknya tamasya dalam arti sesungguhnya dan malam-malam biasa usai tamasya buku-buku bekas di pasar Senthir, bahwa perempuan itu berlalu dengan semburat senyum yang tidak lagi kecut di rona wajahnya.


Robandi
Pelamun suntuk yang demen baca cerita-cerita horor dan detektif. Fans mutlak Raisa daripada Isyana. Tinggal di daerah Gowok, samping kali Gajah Wong.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara