12 Sep 2017 Aziz Dharma Sosok

Pergerakan Indonesia tak bisa melupakan peranan pers, dan menyebut peranan pers awal di negeri ini tak bisa melupakan nama Tirto Adhi Soerjo. Sebagai seorang penulis produktif, satu kelebihannya yang lain adalah ini: ketajaman pena.

TIRTO ADHI SOERJO bisa saja menghabiskan masa hidupnya sebagai seorang dokter. Lahir di keluarga priayi membuat Tirto memperoleh akses untuk bersekolah hingga School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran zaman Belanda yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sebelumnya, ia berhasil menempuh ELS dan HBS.

Penting untuk diingat, di era pergerakan nasional, sekolah adalah barang mewah. Bisa masuk ELS saja sudah cukup untuk dianggap orang terpandang. Namun karena jurnalisme dan kerja-kerja pengorganisasian lebih memikat keseharian Tirto, ia tak cukup mau menyelesaikan studinya di STOVIA.

Tentang bagaimana Tirto menekuni kerja-kerja pengorganisasian bisa dirunut dari Nasionalisme dan Sejarah yang ditulis Taufik Abdullah. Tahun 1906, dua tahun sebelum lahirnya Boedi Oetomo, Tirto sudah menginisiasi sebuah organisasi modern bernama Sarekat Prijaji. Ya, Taufik Abdullah memang menampik keras tentang pengakuan Boedi Oetomo sebagai organisasi modern pertama yang dibentuk oleh pribumi.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa Sarekat Prijaji tak mampu bertahan lama. Tiga tahun berjalan sebagai organisasi yang sulit berkembang, Tirto membuat Sarekat Dagang Islamijah di Batavia. Berada pada kondisi masyarakat yang baru berkenalan dengan organisasi, membuat Tirto dinilai “genit” dalam usahanya membangun kelompok baru di lingkaran Islam pribumi. Namun demikian, organisasi ini sudah mampu melebarkan sayap di Bogor pada 1911 dan Solo pada 1912. Keduanya tidak bisa dilepaskan dari peranan Tirto sebagai motor gerakan.

Sarekat Dagang Islam kemudian berubah menjadi Sarekat Islam di bawah kepemimpinan Samanhudi. Sarekat Islam selanjutnya menjadi wadah gerakan dalam menguatkan ekonomi masyarakat. Terlebih ketika organisasi ini dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dengan gaya kepemimpinannya yang kharismatik.

Oleh George Donald Larson, Tirto disebut sebagai nominal fouder dari Sarekat Islam. Ia tak secara langsung menakhodai organisasi ini. Namun, hadirnya Sarekat Islam sebagai wadah yang bisa menjahit gerakan masyarakat di zaman itu tidak bisa dilepaskan dari rancangan Tirto. Sekalipun saat ia hendak diasingkan.

Tak salah jika Takashi Shiraishi  lalu menyebut Tirto sebagai model baru pribumi pada zamannya. Ia hadir sebagai seorang pemimpin pergerakan organisasi profesional yang ahli, cerdas, tangkas, dan menyediakan waktu untuk kerja-kerja pergerakan. Sebagai perbandingan, Anda bisa bayangkan orang dengan ciri yang saya sebut di atas berada di lingkaran masyarakat bermental inlander karena sudah seratus tahun lebih ditindas. Masyarakat yang terus bergantung dengan pemerintah kolonial. Betapa kontrasnya.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa Tirto kesepian. Selain karena pengasingan yang menjauhkan dia dari orang-orang di sekitarnya, sikap dan mental Tirto yang amat berbeda dari orang kebanyakan pada masanya membuatnya seakan tak punya kawan sebanding. Pramoedya Ananta Toer, bahkan menulis begini tentang Tirto: “… pada masanya ia adalah pribadi yang berada di garis terdepan dan sendirian.”

Satu hal yang paling membedakannya dari orang-orang pribumi kebanyakan pada masanya adalah bahwa Tirto produktif menulis. Tulisan-tulisannya pun selalu menohok, selalu menjadi bahan bakar untuk gerakan, selalu menekankan pentingnya pers dalam mewujudkan demokrasi.

Model tulisan yang membuatnya dikenal sebagai jurnalis pribumi pertama yang dengan penuh keberanian menyuarakan kegelisahannya atas kondisi masyarakat dengan tanpa dikekang politik keredaksian perusahaan persnya. Hal itu bisa dilakukan Tirto karena ia membuat surat kabarnya sendiri; Soenda Berita.

Surat kabar ini menjadi media pertama yang seluruh kerja jurnalistiknya dilakukan oleh pribumi. Surat kabar ini juga yang menjadikan Tirto sebagai pribumi pertama yang menyandang jabatan redaktur kepala. Zen RS, dalam esainya yang berjudul “R. M. Tirto Adhi Soerjo, Empu Pergerakan yang Dilupakan” melacak bahwa terdapat empat belas terbitan yang sukses digawangi Tirto dalam surat kabar ini.

Zen juga menyebutkan, tulisan Tirto yang berhasil ditemukan antara lain “Gerakan Bangsa Tjina di Soerabaja melawan Handelsvereniging Amsterdam”, “Bangsa Tjina di Priangan”, “Peladjaran Boeat Perempoean Boemipoetera”, “Soeratnja Orang-Orang Bapangan”, “Persdelict: Umpatan”, “Satoe Politik di Banjumas”, “Drijfu-siana di Madioen”, “Kekedjaman di Banten”,”Omong-Omong di Hari Lebaran”, “Apa jang Gubermen Kata dan Apa jang Gubermen Bikin”, dan “Oleh-Oleh dari Tempat Pemboeangan”.

Soenda Berita adalah yang pertama, namun Medan Prijaji adalah yang paling cemerlang. Medan Prijaji punya moto:

“Soeara bagi sekalian Radja-Radja, Bangsawan Asali dan fikiran, prijaji dan saudagar Boemi-poetra dan officier-officier serta sauda-gar-sauda-gar dari jang terprentah laennja jang dipersamakan dengan anak negeri, di seloeroeh Hindia Olanda.”

Meski menggunakan embel-embel “prijaji”, surat kabar ini tak sekadar menjadi wadah bagi para elit. Surat kabar ini menjadi menyalur “soeara” orang-orang “jang terprentah”. Terlebih, surat kabar ini menjadi paling fenomenal karena berhasil menjadi wadah “belajar” menulis bagi para tokoh pergerakan setelah Tirto: Goenawan, Soewardi (Ki Hajar Dewantoro), Dharsono, sampai Marco Kartodikromo.

Kalau kita mengetahui “Semarang Hitam”-nya Marco adalah tulisan yang tajam dan menjadi “bacaan liar”, maka bisa dibayangkan bagaimana kriteria “tajam” versi Marco sendiri. Ia menulis “R.M. Tirto ialah bumiputera yang pertama menjabat sebagai jurnalis. Dialah induk jurnalis bumiputera di tanah Jawa yang tajam sekali beliau punya pena.”


Kredit Gambar : 1001indonesia.net
Aziz Dharma
Pekerja grafis serabutan. Bisa dihubungi via Facebook.com/AzizDhar atau surel azizdarma@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara