Yogyakarta memiliki Shopping Center, Bandung memiliki Palasari. Di sana buku-buku bekas dan buku-buku baru sama mudahnya untuk didapatkan. Yang paling menyenangkan tentu ini: harga buku di sana bisa ditawar.

JAUH SEBELUM maraknya toko buku daring seperti sekarang, dulu tiap kali mencari buku saya selalu mengandalkan toko-toko buku besar, sebut saja Gramedia, Gunung Agung ataupun Toga Mas. Memang untuk buku terbitan baru dan buku yang berasal dari penerbit besar, toko-toko ini punya stok yang cukup lengkap. 

Namun untuk koleksi buku dengan terbitan lama akan susah mendapatkannya, atau bahkan bisa dibilang mustahil mendapatkannya, Walaupun sudah bertanya pada petugas cenderung akan nihil hasilnya. Selain terbatasnya buku terbitan lama, buku-buku di toko besar ini dibanderol dengan harga yang cukup mahal terutama bagi saya yang saat itu berstatus mahasiswa.

Alhasil untuk membeli satu buku saja, saya harus menyisihkan uang jajan atau mengurangi jatah makan saya dalam sehari. Kalau ingat saat itu saya jadi teringat akan kutipan dari Tan Malaka yang cukup terkenal:

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu pakaian dan makan dikurangi.”

Untuk menyiasati kekurangan bahan bacaan, ketika itu saya biasanya akan datang dari saat toko buku itu buka dan mencuri baca buku di tempat sampai waktu toko itu akan tutup. Tentu saja hal itu saya lakukan dengan catatan buku yang bersangkutan sudah ada yang dibuka.

Pilihan kedua, saya akan meminjam buku yang ingin saya baca dari teman saya, itupun kalau teman saya punya buku tersebut.

Pilihan ketiga, kalau saya sedang beruntung, buku itu tersedia di perpustakaan kampus dan saya bisa meminjamnya serta memperpanjang peminjaman sampai buku tersebut selesai dibaca.

Tapi tetap saja sensasinya beda jika buku itu bukan milik kita. Kita, misalnya, harus segera mengembalikannya ketika sudah selesai membaca. Buku itu tak bisa disimpan lebih lama dan menjadi koleksi yang menghiasi rak buku di kamar kita. Tak apa memang selama masih ada bahan bacaan, maka itu sudah cukup.

Suatu ketika, karena melihat saya terlalu sering meminjam bukunya, teman saya yang bernama Andi memberikan koleksi bukunya kepada saya. Dia titip pesan pada saya begini: “Buku ini akan lebih senang jika bersama dengan orang yang sering membacanya, jaga buku ini baik-baik ya, nanti aku bisa beli lagi di toko buku Palasari.”

Tentu saya sedikit kaget karena ia tiba-tiba saja memberikan koleksi bukunya itu pada saya. Anehnya lagi dia menyebutkan bisa beli di Palasari, nama tempat yang belum akrab di telinga saya saat itu. Andi pun memberitahu saya bahwa kalau ia sedang mencari buku baru atau bekas biasanya ia datang ke kios buku Palasari karena di sana koleksi bukunya cukup lengkap.

“Kamu pasti baru tahu ya? Ya sudah nanti sore kamu ikut aku saja ke Palasari, kebetulan ada beberapa buku yang ingin kubeli.” Ujar Andi.

Sore itu akhirnya saya dan Andi menginjakkan kaki di pasar buku Palasari. Sejak memarkirkan motor sudah terlihat kios-kios berjajar dengan tumpukan buku menjulang tinggi yang katanya jadi ciri khas dari Palasari. Aroma kertas usang langsung menyeruak ke dalam hidung, aroma khas dari kertas yang sangat saya sukai.

Sembari masuk ke dalam jajaran kios, Andi juga menjelaskan bahwa kios buku Palasari sudah lama berdiri sejak sekitar tahun 1980, berawal dari pedagang buku bekas yang berada di daerah Cikapundung Barat dekat Alun-Alun Bandung. Saat itu ada peraturan pemerintah yang melarang berjualan di trotoar atau zona merah sehingga para pedagang buku dipindahkan ke Jalan Palasari. Jalan Palasari ini terletak di dekat kawasan Buah Batu dekat dengan Jalan Banteng, Jalan Lodaya dan bisa diakses dari Jalan Peta depan Hotel Horison Bandung.

Andi pun langsung masuk ke jajaran kios buku. Ia menuju kios buku langganannya yang berada di ujung dekat dengan toko bunga. Andi sudah menjadi langganan di kios ini sejak tahun 2000-an saat ia membeli buku titipan ayahnya. Toko buku langganan Andi bisa dibilang cukup lengkap, mulai dari novel, komik, buku pelajaran SD, SMP, SMA maupun kuliah tersedia dalam bentuk baru atau bekas.

Menurut penjaga toko buku yang saya temui, Palasari memang terkenal dengan koleksi bukunya yang lengkap. Orang Bandung yang gila buku pasti sudah tahu tempat ini. Bahkan tak jarang ada orang luar negeri yang sengaja membeli buku di sini. Itu karena saking terkenalnya tempat ini. Dulu kios buku Palasari kebanyakan menjual buku bekas, tapi sekarang sudah campur dengan buku-buku baru dari beragam penerbit. Demikian kata si penjaga toko.

Uniknya lagi, jika tak mendapatkan buku yang dicari dari satu kios maka si penjual dengan senang hati akan bergegas ke kios lainnya untuk menanyakan apakah mereka punya buku tersebut. Jadi tak usah khawatir tak akan mendapatkan buku yang diinginkan.

Buku yang dijual di Palasari ini dibanderol dengan harga bervariasi mulai dari sepuluh ribu sampai ratusan ribu. Dan yang paling penting, buku di sini bisa ditawar, jadi kita bisa pulang dengan memborong banyak buku sekaligus.

Lantas yang membuat saya penasaran itu ini: kenapa buku di sini bisa dijual lebih murah dibanding toko buku lainnya?

Penjaga kios yang bernama Agus menjelaskan bahwa pedagang di Palasari ini tak mengambil untung yang banyak. Para pedagang hanya mengambil keuntungan 5 % dari setiap buku yang dijualnya.

Tentu dengan harga yang murah dan koleksi yang cukup lengkap, Palasari menjadi salah satu surga buku di Kota Bandung. Ketika tak mendapatkan buku yang diinginkan di toko buku besar coba cari saja di Palasari siapa tahu Anda mendapatkannya dengan harga yang lebih murah.

Satu hal lagi: tak ada kata usang untuk sebuah buku. Walaupun buku itu bekas atau terbitan lama, tapi isinya bisa tetap relevan untuk masa kini. Terlebih lagi si pembaca akan tetap mendapatkan hal yang baru setelah membaca buku.


Rulfhi Alimudin Pratama
Sekarang masih tinggal di Bandung, bergiat, belajar di Komunitas Aleut dan dapat ditemui juga lewat tulisan di upitea.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara