Suluk Awang-Uwung Kuntowijoyo cukup lama sukar ditemukan dalam satu buku utuh. Sajak ini memang tercantum dalam Laut Biru Langit Biru Ajip Rosidi, tapi hanya bagian 1-10. Tahun ini penerbit Mata Angin menghadirkannya kembali.

SAJAK-SAJAK tak pernah menjadi favorit saya ketika sampai pada pembicaraan mengenai sosok Kuntowijoyo. Saya lebih suka magnum opusnya dalam studi sejarah, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940. Tetapi, rasa-rasanya, hal itu berubah selepas saya menuntaskan Suluk Awang-Uwung.

Sepanjang hayatnya, Kuntowijoyo hanya menulis tiga kumpulan sajak. Semuanya tipis saja dan terbit tiga tahun berturut-turut pada dekade 70-an: Suluk Awang-Uwung (1975), Isyarat (1976), dan Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977). Selepas itu, yang ada hanya cetak ulang demi cetak ulang. Makrifat Daun, Daun Makrifat pernah diterbitkan kembali oleh Gema Insani Press pada 1995. Tahun ini, giliran Mata Angin yang mencetak ulang Suluk Awang-Uwung.

Persoalan mengapa Kuntowijoyo tak pernah lagi membikin sajak-sajak yang baru selepas itu, para kritikus sastra tentu lebih dapat menjawabnya. Namun demikian, bukan berarti puisi tak penting lagi. Kita akan lihat, sajak-sajak itu akhirnya berpengaruh pada berbagai gagasan intelektualnya kemudian.

*

Penyair Hamdy Salad pernah sedikit menyinggung mengenai corak sajak-sajak Kuntowijoyo dalam esainya. Esai itu, yang diterbitkan dalam kumpulan tulisan tentang Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Mitos, menuturkan bahwa sajak-sajak Kuntowijoyo utamanya memuat dimensi transendental antara manusia dan penciptanya. Dimensi inilah yang kemudian dijadikan salah satu pilar ketika Kuntowijoyo merumuskan Ilmu Sosial Profetik.

Bagi Kuntowijoyo, ilmu pengetahuan yang kita warisi dari peradaban Barat telah kehilangan spiritualitasnya. Sebab itulah, Ilmu Sosial Profetik ia gagas untuk memberikan alternatif terhadap arah perkembangan ilmu pengetahuan. Unsur “profetik” di sini sejatinya mengacu pada potensi ilmu-ilmu sosial untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan sehingga ia secara langsung juga bersifat transformatif. Oleh karena Kuntowijoyo merumuskan gagasannya berlandaskan nilai-nilai spiritual, maka terminologi “profetik”-lah yang ia pakai.

Ilmu Sosial Profetik, selanjutnya, memiliki tiga pilar utama, yang semuanya Kuntowijoyo ambil dari Alquran, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ilmu-ilmu sosial, menurutnya, harus dapat memposisikan manusia sebagai manusia dalam konteks budayanya, membebaskan mereka dari setiap bentuk penindasan, dan memberikan landasan spiritual bagi setiap gerakan perubahan. Di sini kita melihat, religiositas masa muda Kuntowijoyo, yang tercermin dalam sajak-sajak yang ia tulis, menemukan ranah aplikatifnya.

Suluk Awang-Uwung berisi 35 sajak yang semuanya berada di bawah payung judul yang sama. Kita akan baca bahwa sejak sajak pertama Kuntowijoyo mengajak kita untuk menempuh satu perjalanan menemukan diri, dari kekosongan dan kerinduan, dari penghayatan atas sekitar kita, dan dari segala hal yang membuat kita terjaga. Semuanya menuju sebuah ujung, yang ternyata juga sebuah pangkal. Atau, dalam kata-kata Kuntowijoyo sendiri, “kiblat dari kiblat”.

Wan Anwar telah mengulas kumpulan sajak ini pada satu subbab dalam Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya. Suluk ialah karya sastra Jawa yang memuat ajaran-ajaran keagamaan, sementara awang-uwung berarti “kekosongan” yang, menurut salah satu kawan yang pernah belajar di Jurusan Sastra Jawa, maknanya tak berbeda jauh dengan “awang-awang”. Bagi Anwar, nada alegoris yang khas terdapat pada suluk-suluk lain juga ditemui dalam karya Kuntowijoyo ini. Tengoklah misalnya sajak ke-19:

Burung malam

mengajakmu menyanyi. Bangunlah

Gema panjang dari gelap. Adalah

suara dalam. Hanya malaikat

sanggup menangkap

maka jantungmu bergetar

tak sanggup kausembunyikan.

Kuntowijoyo seperti mengajak kita untuk sementara meninggalkan dunia fisik tempat kita berdiam, kemudian berkelana ke satu ranah antah-berantah yang luar biasa jauh, namun sejatinya amat dekat dengan diri sendiri.

Saya menyadari satu hal yang sama dengan Anwar ketika menuntaskan buku ini. Yaitu, seringnya Kuntowijoyo memasukkan berbagai hal yang bertentangan hanya untuk menjauhkan diri kita dari kenyataan. Beberapa misalnya, “Yang dekat ialah yang jauh ialah yang dekat ialah yang jauh”, “Yang tertutup ialah yang terbuka ialah yang tertutup ialah yang terbuka”, atau “Yang dahsyat ialah yang tenang ialah yang dahsyat ialah yang tenang”.

Kesadaran semacam ini hanya sampai ketika seseorang mulai mengerti bahwa Tuhan berada jauh di luar batas-batas logika dan betapa akal kita terlampau rapuh untuk memahami segala kontradiksi dan kompleksitas Sang Pencipta. Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya tidak bisa menganalisis sajak-sajak dalam Suluk Awang-Uwung seperti yang Wan Anwar lakukan. Saya hanya bisa merasakannya.

Maka, saya akan berbagi beberapa hal bagi para pembaca yang telah memegang buku ini. Pilihlah waktu yang benar-benar senggang dan cari tempat yang jauh dari kebisingan. Teras belakang rumah di malam hari, misalnya. Rokok dan kopi buat yang menikmati, lebih afdal. Jangan tergesa-gesa. Kendati kata demi kata dalam buku ini dapat dituntaskan dalam sekali duduk, rasa-rasanya kita perlu membaca secara perlahan. Baca ulang bagian yang berkesan, hayati dalam diam, dan temukan diri juga, sekalian Tuhan.

*

Sebagai sebuah buku, Suluk Awang-Uwung merupakan satu karya yang utuh. Satu-satunya hal yang mengganggu saya adalah tidak adanya tulisan pengantar atau penutup entah dari penyair lain atau sekadar kawan Kuntowijoyo. Pihak penerbit pun tampaknya tak ingin susah payah membikin sekapur sirih, beberapa ratus kata saja, untuk sekadar mempersembahkannya ke hadapan pembaca. Saya tak tahu alasan pastinya. Barangkali, untuk memangkas biaya produksi.

Yang kemudian tertinggal hanyalah penggalan kalimat di kover belakang, “…dalam puisi Suluk Awang-Uwung transendensi itu adalah teistik Jawa-Islam”. Kalau tak salah, itu kata-kata Kuntowijoyo dalam karangannya yang terakhir, “Maklumat Sastra Profetik”. Itu saja. Selebihnya hanya isi buku dan keterangan tentang penulis di bagian akhir.

Kendati demikian, kekesalan saya itu tidak banyak berpengaruh. Saya senang memilihnya untuk dibaca dan kemudian diulas. Sebab, di tengah hiruk-pikuk dan kebisingan hidup, kapan dan di mana saja, rasanya buku ini akan selalu jadi tombo ati.


Aufannuha Ihsani
Masih sekolah di Program Pascasarjana UGM, Jurusan Sejarah. Istrinya orang Madura, Alhamdulillah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara