"Menunggu pemerintah daerah bergerak membantu menyediakan bahan bacaan bagus itu sama halnya seperti seorang laki-laki menunggu pacar yang tidak datang-datang. Kecewanya berkali-kali."

TIDAK ADA YANG salah dengan tempat tinggal kita. Begitu kira-kira obrolan itu diawali. Obrolan seputar buku dan minat baca di daerah yang jauh dari pusat perbukuan. Obrolan itu meng-ada dari suasana prihatin yang kami rasakan, ketika mendapati sulitnya memperoleh bahan bacaan yang bagus. Kesulitan itu bertumpuk, dari minimnya uang di kantong, hingga memang tidak adanya akses yang mudah untuk membeli dan melihat-lihat buku.

Kami tinggal di Bojonegoro, ujung kulon Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Pada tahun 2008, ketika obrolan itu terus berbusa-busa, tidak ada toko buku yang memadai. Satu-satunya toko buku adalah Toko Nusantara yang banyak menjual buku-buku pelajaran. Toko Buku Togamas baru-baru ini saja hadir dan sedikit memberi warna perbukuan Bojonegoro.

Bojonegoro lebih dikenal sebagai daerah banjir karena belasan kecamatannya berada di sepanjang sungai Bengawan Solo yang tiap tahun menerima luapan sungai. Banjir terbesar adalah hari-hari pergantian tahun 2007/2008 yang melumpuhkan kota selama hampir dua minggu. Selain banjir, Bojonegoro dikenal dengan minyak Blok Cepu yang menjadi andalan migas nasional.

Tapi soal buku? Itulah masalahnya.

Perbandingannya begini. Jika kau tinggal di Surabaya, Jogja, Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar lain, dan ingin mencari buku, maka dengan jarak selemparan batu saja kau akan mudah menemukan perpustakaan, toko buku, kolektor buku, dan semacamnya. Tapi, jika kau berada di daerah pinggiran, kau harus menempuh berpuluh-puluh hingga ratusan kilometer untuk bisa mendapatkan buku bagus. Kau harus keluar daerah dulu. Dan yang pasti hal itu tidak bisa dilakukan sesering orang pergi ke pasar.

Ketika akses mendapatkan bahan bacaan bagus itu lumayan sulit, jangan heran jika banyak orang-orang pinggiran yang sebenarnya memiliki minat baca tinggi, tak pernah mengenal nama-nama Jean Paul Sartre, Albert Camus, Pramoedya Ananta Toer, Multatuli, Kuntowijoyo, Umar Kayam, Budi Darma, dan nama-nama penulis keren lainnya. Bukan lantaran enggan membaca melainkan karena mereka hanya mengonsumsi apa yang ada saja. Mungkin ada yang mengenal mereka, tapi hanya satu-dua karyanya yang tuntas terbaca. Mau membaca buku yang lain? Dari mana memperolehnya. Setidaknya butuh waktu agak lama sebuah buku bagus bisa ada di tangan pembaca di daerah pinggiran.

Begitulah. Dan ini sepertinya menjadi masalah di tiap daerah pinggiran yang menganggap buku sebagai dunia yang tak begitu penting. Sangat sedikit daerah pinggiran yang memberikan akses seluas-luasnya untuk dunia perbukuan semisal menyediakan perpustakaan besar untuk memanjakan pembaca daerah. Yang terjadi, pengelola perpustakaan daerah adalah orang-orang “buangan” dalam karier pemerintahan. Masih beruntung jika pengelola perpustakaan daerah pada akhirnya memiliki minat baca tinggi, lha kalau mereka tak peduli dengan dunia membaca bagaimana? Bisa dipastikan tak ada target apapun dalam gerakan membaca di daerah. Sementara kepala daerah biasanya hanya disibukkan dengan pekerjaan “besar” seperti membangun jembatan, jalan, dan memperbaiki irigasi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Orang-orang yang tinggal di daerah, sebagian besar adalah pekerja dengan gaji standar, mahasiswa yang kuliah sambil kerja, guru atau dosen yang disibukkan dengan ritme mengajar, dan seniman yang bekerja keras untuk tetap berkarya. Mereka banyak yang memiliki minat pada buku. Tapi ya itu tadi, akses dan lingkungan tidak mendukung. Sehingga, bacaannya bergerak lambat dan hanya itu-itu saja.

Di daerah seperti Bojonegoro misalnya, memang sering digelar pameran buku murah. Biasanya penyelenggaranya berasal dari Jogja atau Surabaya. Namun, buku-buku yang dipajang hampir selalu sama tiap tahunnya. Itu-itu saja. Sepertinya buku-buku tersebut adalah buku returan dari toko buku besar. Jadi, untuk mendapatkan buku berkualitas sangatlah sulit. Kesannya, pembaca daerah cukuplah mendapatkan sisa-sisa buku dari kota besar saja. Menyedihkan memang.

Tapi, begitulah kenyataannya. Gerak literasi di daerah berjalan lambat. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Selain akses yang tak mudah, harga buku yang relatif mahal juga memberi andil besar dalam lambannya gerak literasi daerah. Buku baru  yang masuk ke rak “buku bagus” selalu dibanderol dengan harga mahal, atau minimal di atas 50.000 rupiah. Sedang buku-buku lama bagus bisa melejit hingga di atas 1 juta rupiah. Tak mengherankan jika tren buku di daerah adalah buku bajakan. Karena buku bajakan lebih terjangkau dari sisi harga dan mudah diperoleh.

Saya pernah punya pengalaman diundang untuk menjadi salah satu pembahas buku Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer di daerah Tuban, di sebuah sekolah yang lumayan jauh dari pusat kota.

Saya melihat semua pembahas memegang buku Arus Balik. Tapi sayangnya buku tersebut adalah bajakan.

Saya sendiri memilih tidak mempermasalahkannya, karena bagaimana mungkin mereka akan mendapatkan buku tersebut, ketika buku itu tidak dicetak ulang dan sulit sekali didapat. Kalaupun ada yang menjual secara daring, harganya bisa di atas 1 juta rupiah. Lalu kapan mereka bisa membaca buku itu jika harus menunggu membeli buku asli? Saya sendiri beruntung mempunyai buku itu dengan harga beli 90.000 rupiah. Padahal, kisah tentang Wiranggaleng itu adalah sepenggal sejarah Tuban yang ingin diketahui secara massal oleh warga Tuban.

Memang, buku bagus (lama maupun baru) dibanderol dengan harga mahal bukanlah sesuatu yang keliru, karena dalam hukum dagang, sesuatu yang bagus wajar jika memiliki nilai ekonomi tinggi. Tapi masalahnya, bagaimana anak-anak muda di daerah bisa dengan mudah membacanya? Siapa yang peduli dengan itu? Menunggu langkah pemerintah daerah?

           *

Tidak ada yang salah dengan tempat tinggal kita. Begitulah keyakinan yang kami awetkan dalam diri kami. Dan mencoba tak sekadar mengeluh, kami bergerak membuat pusaran. Membuat lingkaran kecil. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengobrolkan buku, mendiskusikan karya, mengelola bengkel menulis, menerbitkan buletin, hingga menerbitkan buku. Semua coba kami coba lakukan meski dengan merangkak-rangkak.

Pada tahun 2009, Sindikat Baca berdiri dan menerbitkan buletin kecil “Baca!”. Buletin itu masih menggunakan kertas hvs dan dicetak dengan mesin manual. Setiap 10 eksemplar buletin itu kami kemas dengan bagus dan kami sebar ke sekolah-sekolah secara cuma-cuma. Arisan Buku menjadi agenda rutin dengan mengundang guru, mahasiswa, karyawan, pengangguran, wartawan, dan siapapun untuk menjadi “anggota tetap”.

Pada tahun 2015, Sindikat Baca bermetamorfosis menjadi komunitas literasi Atas Angin. Atas Angin menerbitkan jurnal bernama Atas Angin yang kini sudah cetak edisi ke-7. Mencoba menjawab kegundahan gerak membaca buku yang lamban di daerah, Atas Angin terus membikin acara rutin. Arisan Buku digelar sebulan sekali, Tadarus Cerpen digelar seminggu sekali, dan agenda-agenda literasi lainnya.

Di komunitas inilah kami mencoba membangun diskursus baru dan mencoba keluar dari rumah kecil dan membangun rumah besar. Para pegiat Atas Angin intens membangun budaya membaca dan menulis dengan belajar kepada para penulis generasi tua seperti Djajus Pete, JFX Hoery, Nono Warnono, Yonathan Rahardjo, dan penulis-penulis lokal lain. Tapi, kami juga mencoba ngobrol tentang Milan Kundera, Umberto Eco, ataupun Orhan Pamuk. Arisan Buku yang baru saja dilakukan adalah membahas buku Max Havelaar karya Multatuli.

Begitulah. Meski “dipaksa” selalu terlambat dalam hal bahan bacaan, kami pembaca pinggiran, tak pernah berhenti. Ada salah satu pegiat Atas Angin yang saking inginnya mendapatkan ilmu, dia naik motor sejauh 80 kilometer untuk sekadar mendatangi diskusi buku yang menghadirkan penulis seperti Joko Pinurbo atau Seno Gumira Ajidarma.

Karena penulis-penulis jarang sekali menggelar atau menghadiri acara di daerah pinggiran.

Lalu bagaimana dengan pembaca-pembaca di daerah pinggiran yang tak banyak punya waktu berburu sampai ke luar kota? Misalkan mereka adalah para pekerja atau mahasiswa? Perlu dibedakan mahasiswa di kota besar dengan mahasiswa di daerah, karena mahasiswa di daerah sebagian besar nyambi bekerja, entah penjaga warnet, penjaga toko, atau pengusaha UKM.

Perpustakaan daerah adalah salah satu tujuan pembaca pinggiran untuk mengobati kehausan membaca. Tapi sayang, buku-buku di Perpusda banyak yang tidak di-update untuk mengikuti pergerakan dunia perbukuan. Selain itu, alokasi dana pengadaan buku untuk Perpusda selalu minim. Sehingga, koleksi buku di Perpusda akan mudah membosankan bagi pembaca yang doyan.

Selain Perpusda, alternatifnya adalah rumah baca. Di Bojonegoro tidak banyak rumah baca yang berdiri dengan koleksi buku lumayan banyak. Atas Angin memiliki koleksi buku, namun tidak sebanyak Perpusda. Rumah Baca Atas Angin memiliki buku-buku “alternatif” yang tidak ada di Perpusda, seperti buku tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, karya Maxim Gorky, Albert Camus, dan penulis-penulis besar lainnya. Rumah Baca Sanggar Guna yang agak keluar dari pusat kota memiliki koleksi buku yang lumayan lengkap. Di sini, tempat membacanya juga asyik. Sehingga banyak pecinta buku yang datang untuk meminjam buku.

Pernah ada rencana program satu desa satu rumah baca. Tapi, lagi-lagi rumah baca tersebut banyak yang mangkrak karena pengelolanya memang tidak menyukai buku dan hanya menjalankan program saja. Buku-bukunya pun banyak yang tidak terbaca.

Kasus yang lebih parah lagi adalah gerakan membaca di tingkat SD. Beberapa SD mendapatkan bantuan perpustakaan lengkap dengan buku-bukunya. Tapi, perpus itu hanya akan dibuka kalau ada penilik sekolah datang mengecek. Pada hari-hari biasa, ruang perpustakaan sekolah itu ditutup, karena khawatir buku rusak atau hilang. Wow sekali kan?

           *

Tapi, tidak ada yang salah dengan tempat tinggal kita di daerah pinggiran. Dunia internet telah banyak membantu mendapatkan bahan bacaan bagus. Tidak perlu mengeluh dan ciut dengan keterbatasan bacaan. Ada banyak cara untuk merawat semangat membaca di daerah pinggiran. Salah satunya adalah bertemu, ngobrol buku, dan menyeruput kopi.

Menunggu pemerintah daerah bergerak membantu menyediakan bahan bacaan bagus itu sama halnya seperti seorang laki-laki menunggu pacar yang tidak datang-datang. Kecewanya berkali-kali. Sehingga, pembaca pinggiran sebenarnya mempunyai kekuatan yang besar untuk merawat energi bareng-bareng, tanpa bergantung dengan siapapun. Semangat itu mudah sekali tergelincir ke keputusasaan jika tidak disemai dengan baik. Pada satu sisi, gerakan membaca daerah adalah perlawanan kepada diri agar tidak berhenti bergerak, dan pada sisi lain adalah menggerakkan orang lain.

Tapi, tidak ada yang tidak mungkin. Kami tahu, kami tak memiliki lampu pijar yang terang benderang, melainkan hanya memiliki lilin yang apinya kecil dan sering tertiup angin. Tapi tak apa, kami hanya butuh api lilin untuk membakar semangat kami. Semangat itu meng-ada dalam tanya yang sering kami ucapkan tiap kali berjumpa dengan orang lain: lagi membaca buku apa? Kapan ngopi?

Oh ya, di Bojonegoro ada kopi kothok yang disajikan dengan cangkir kecil.


Nanang Fahrudin
Pecinta kopi dan buku. Ikut mendirikan Komunitas Literasi Atas Angin yang bisa dikunjungi di www.atasangin.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara