Sebermula adalah tokoh, lalu cerita pun lahir. Dari seorang sastrawan selalu ada banyak hal yang bisa dipelajari, termasuk soal bagaimana melahirkan tokoh, berikut kisah-kisahnya.

BIRU Laut hadir di Solo (27/1/18). Penciptanya, Leila S. Chudori, membawa Laut ke Balai Sujatmiko dalam acara bertajuk “Bincang Buku Laut Bercerita”. Esoknya (28/1), Laut mengikuti Leila sinau ke Bilik Literasi. Baik saat berbincang atau sinau, Laut lebih sering mendapat pertanyaan ketimbang tokoh lain. Tentu saja, Laut kan tokoh utama.

Sebelum bincang buku dimulai, balai sudah sesak. Para peserta diskusi datang dan memburu liflet beserta poster film yang disediakan. Sebagian besar anak muda. Tapi, ada juga beberapa ibu muda membawa anaknya. Beberapa bahkan membawa lengkap anggota keluarga. Mungkin sengaja menghabiskan sisa malam minggu.

Pemutaran film pendek Laut Bercerita membuka acara. Film pendek berdurasi 30 menit itu dipertontonkan di ruangan terbuka. Dua infokus dihadapkan ke tembok dan sebuah layar putih. Karena jumlah peserta diskusi luar biasa banyak, Balai Sujatmiko tak bisa menampung. Akhirnya, mereka menonton film sampai duduk di sebuah lorong yang digunakan sebagai jalan umum. Keluarga yang lengkap itu turut menonton. Ibu dan bapaknya tak melarang. Padahal, ada banyak adegan gelap yang cukup mengerikan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah Laut tokoh yang benar ada atau bagaimana proses kreatif menciptakan tokoh Laut acapkali diajukan. Leila tentu sudah memprediksi. Karena itu, ia membuat tulisan pendek Mendengar Cerita dari Dasar Laut dan membagikannya ke peserta diskusi.

Segalanya selalu dimulai dari tokoh. Bukan peristiwa sejarah atau tema. Bukan pula dari ideologi atau narasi besar cita-cita sebuah negara.

Begitu Leila mengawali tulisannya. Ia bahkan mengutip pendapat dua tokoh sastra ternama, Ernest Hemingway dan Orhan Pamuk.

Dalam tulisan itu, ia juga membahas bagaimana prosesnya mewawancarai para narasumber agar ceritanya bisa menguat. Kemudian, ia mengolah hasil wawancaranya menjadi karakter tokoh yang kuat. Dijelaskannya bagaimana tokoh seperti Segara Alam, Aji Suryo, dan tak ketinggalan: Biru Laut.

Pengakuan ini membuktikan betapa tokoh amat memengaruhi cerita. Dalam penuturannya, Leila menekankan bahwa ia sering mendengar suara-suara dari tokoh-tokoh yang diciptakannya. Ini menarik. Sebab, suara yang dimaksud Leila tentu suara imajiner. Suara itu berbunyi. Tapi, tak bisa ditangkap indera. Proses kreatif Leila dijejali banyak suara yang menggelisahkannya.

Hal yang ditekankan lagi dari proses penciptaan tokoh Leila ialah saat ia berusaha memasangkan tokoh. Tanpa ditanya, ia bercerita bahwa saat akan memasangkan Asmara Jati, ia menghadapi satu tokoh lagi. Bukannya memilih tokoh pertama yang telah dipikir matang, ia justru memilih tokoh kedua yang diputuskan dengan spontan. Ia juga menambahkan keputusan itu dilakukan tanpa alasan. Hanya mengikuti hatinya.

Dalam novel, Laut menceritakan kisahnya dari dasar laut. Di acara bincang buku, Laut bercerita soal proses penciptaannya. Saat sinau, Laut menggemakan suara yang berbeda: suara mahasiswa masa lalu dan masa kini. Lewat Leila, Laut menampakkan diri sebagai suara yang jauh lebih besar dan kuat. Suara itu hadir dalam ruang imajinasinya dan akan terus ada.

Kondisi saat sinau dan bincang buku sangat berbeda. Jika di Balai Sujatmiko penuh sesak dan pengap, suasana di Bilik Literasi justru sebaliknya. Ruangan itu hangat, dipenuhi buku-buku dan tenang. Suasana yang karib, memengaruhi cara Leila menjawab pertanyaan.

Pertama-tama, suara Laut merasuk ke dalam kepala penciptanya. Dituliskan menjadi novel. Saat sampai ke pembaca, suara itu masih ada dan masuk dengan respons yang berbeda-beda. Dari segi pertanyaan atau sekadar berbagi peserta diskusi tentang Laut Bercerita, suara Laut merasuk ke dalam tubuh-tubuh yang muda sekaligus tua: masa lalu dan masa kini.

Tubuh muda menerima suara sebagai informasi baru. Atau, jika ia sudah mendapatkan informasi sebelumnya, suara dari dalam diri Laut hadir sebagai informasi dalam sastra. Mayoritas, tubuh-tubuh muda itu mencerap dengan baik dan cukup bijak. Bagi mereka, sosok Laut adalah jembatan dalam bentuk tokoh fiksi--yang bersuara dari dasar laut--dan memberikan wawasan sejarah bagi mereka.

Bukan hanya soal sejarah. Ternyata, Leila pun mahir merangkai cerita dan menyatu ke dalam sisi psikologi pembacanya lewat adegan keluarga dan kisah cinta Laut bersama Anjani. Cita rasa sastra dalam Laut Bercerita memang tidak sekuat Pulang. Itu keputusan yang benar. Cara tepat membuat suara Laut merasuk ke dalam tubuh siapa saja.

Berbeda dengan tubuh muda, tubuh tua menyerap suara Laut sebagai nostalgia. Tiga perempuan separuh baya memberikan pernyataan bahwa mereka tergugah membaca Laut Bercerita. Sebab dari novel itu, mereka bisa mengenang kembali masa lalunya. Kemudian, mereka merasa beruntung. Leila tidak merespon pertanyaan itu. Pertanyaan yang justru diresponnya dengan menggebu-gebu justru di saat sinau. Dengan situasi yang guyub, seorang mahasiswa merespons Laut Bercerita dengan satu pertanyaan yang bagus, begitu kata Leila.

Keluar dari isi novel Laut Bercerita, Leila menjawab pertanyaan bagaimana ia mengidealkan sikap mahasiswa. Dengan meyakinkan, ia menuturkan pengalamannya bersama sang anak. Menjabarkan posisinya saat tragedi 1998 terjadi dan menuturkan pandangannya tentang mahasiswa masa kini. Meski dengan informasi yang terbatas, ia memberi solusi untuk menjadi mahasiswa yang cerdas dalam mencerap informasi. Katanya, mahasiswa mesti bisa memisahan sampah, feed news dan berita yang baik. Setiap diri disarankannya membangun sistem dalam memilih pengetahuan.

Ia pun menceritakan pengalamannya berdiskusi di masa Orde Baru. Pengalamannya tentang moment of truth saat di Kanada, dan perjumpaannya dengan ideologi kiri dan kanan. Dengan menggebu, Leila membandingkan bagaimana situasi sosial-politik saat ia berkuliah dengan keadaan saat ini. Memaparkan buku-buku bacaan para aktivis ‘98. Lebih banyak, ia mengenang kisahnya di masa lalu bersama teman-teman seperjuangannya.

Jawaban Leila adalah suara lain dari Laut, tokoh rekaannya. Yang diakuinya juga ada sebagian dirinya dalam diri Laut. Maka, suara imajinatif yang dimaksudkan Leila di awal tidak bisa dianggap sepele. Sebab, imajinasi itu menguat dan mengokohkan tokohnya. Menjadi suara yang benar-benar ada dan abadi dalam benak para pembacanya. Semoga.***


Ayu Alfiah Jonas
Mahasiswi Aqidah Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara