29 Nov 2017 Dodit Sulaksono Sosok

Tak banyak penulis perempuan Indonesia yang muncul sebelum era perang kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah Soewarsih Djojopuspito.

SOEWARSIH Djojopuspito adalah istri dari Soegondo Djojopuspito, salah seorang anggota awal PNI Baru pimpinan Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta, Ketua Konggres Pemuda tahun 1928 dan pernah menjabat Menteri Pembangunan Masyarakat pada tahun 1949. Perempuan kelahiran Cibatok (Bogor) tanggal 20 April 1912 ini aktif menulis sejak aktif membantu sang suami sebagai guru di Sekolah Taman Siswa di Bandung. Karya awalnya, sebuah novel Roman berbahasa Sunda yang berjudul "Marjanah", pernah ditolak oleh Balai Pustaka di masa kolonial.

Novel roman berbahasa Sunda ini ditolak karena dianggap tidak mengandung unsur "pelajaran" dan terkesan berbelit-belit, tidak sesuai dengan garis Balai Pustaka saat itu yang cenderung memilih menerbitkan karya-karya sastra yang sesuai dengan garis kebijakan pemerintah kolonial. Novel inilah yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya sebuah novel yang banyak disebut-sebut oleh kritikus sastra sebagai karya sastra terbaik yang ditulis sebelum masa perang kemerdekaan.

Semangat berkarya Soewarsih sempat turun drastis akibat penolakan oleh Balai Pustaka tersebut. Namun perjumpaannya dengan seorang penulis Belanda bernama Charles Edgar Du Perron kemudian membuatnya kembali bersemangat untuk menulis. Du Perron adalah seorang pengagum Multatuli dan karena kekagumannya itu, dia kemudian menulis sebuah biografi Multatuli yang berjudul De Man van Lebak.

Perjumpaan keduanya berawal dari datangnya Du Perron ke Indonesia di bulan Desember 1938 untuk  bergabung dalam penerbitan jurnal berbahasa Belanda yang terbit di Bandung dan dinamakan 'Kritiek en Opbouw (Kritik dan Konstruksi). Jurnal ini terbit di awal tahun 1938 dan menyatakan diri sebagai "Jurnal Hindia Belanda yang umum dan independen" dan ditujukan pada pembaca Indonesia maupun pembaca Belanda atas dasar persamaan derajat. Jurnal ini kebanyakan mengupas persoalan sosial politik Eropa dan Hindia Belanda, terutama soal perbedaan budaya dalam sudut pandang yang anti kolonial. Soewarsih termasuk salah satu penyumbang awal tulisan untuk jurnal tersebut, di mana tulisannya kebanyakan mengangkat persoalan kaum perempuan.

Du Perron kemudian aktif dalam kelompok diskusi yang melibatkan Soegondo dan Soewarsih, serta para pemuda radikal di sekeliling pasangan tersebut. Du Perron menyebarkan semangat kesusastraannya dan rasa cinta tanah air kepada para pemuda tersebut. Kebanyakan para pemuda tersebut adalah anggota Partai Pendidikan Nasional yang merupakan partai sempalan dari Partai Nasionalis Indonesia-nya Bung Karno. Soegondo sendiri menuturkan bahwa

''Saat kami duduk berjam-jam di beranda rumahnya, berbincang-bincang dengannya, kami merasa seolah bahasa Belanda adalah bahasa kami juga. Kami mendiskusikan Dostoeivsky, Huxley, Thomas Mann, Malraux, Gide, Slauerhoff, Vestdijk, van Schendel, sampai lupa bahwa kami tengah berhadapan dengan salah satu tokoh besar kesusastraan Belanda."

Pada masa-masa itulah perjumpaan Du Perron dengan Sjahrir terjadi secara literal, ketika Du Perron menanggapi sebuah tulisan Sjahrir yang berjudul "Kesoesastraan dan Ra'jat" yang diterbitkan dalam majalah Poejangga Baroe tahun 1938. Du Perron mengkritik Sjahrir secara halus dan menyatakan bahwa yang dibutuhkan oleh sastra Indonesia adalah bahasa Indonesia yang kaya akan daya ekspresi. Apabila Indonesia telah menemukan sendiri seorang penulis besar yang mampu memberi bentuk pada bahasa Indonesia yang penting tersebut, itu lebih baik. Tapi jika kekuatan dalam bahasa itu datang melalui "para penutur cerita" yang mampu menangkap imajinasi publik dan luas dibaca orang, maka tak ada alasan untuk merasa cemas. Menurut Du Perron, kekuatan dalam kesusastraan, hanya bisa muncul dari kekuatan dalam bahasa. Kedua pernyataan Du Perron tersebut terbukti adanya dengan kemunculan Chairil Anwar dan generasi Angkatan 45 yang menguatkan bahasa Indonesia melalui karya-karya sastra yang mempunyai daya dalam berbahasa.

Keith Foulcher dalam bukunya yang berjudul "Angkatan 45, Sastra, Politik, Kebudayaan dan Revolusi Indonesia" menyebutkan bahwa alur sejarah kebudayaan mengalir dari perjumpaan Soewarsih dan Du Perron menuju Chairil Anwar dan lingkarannya, melewati Sjahrir dan bermuara pada angkatan 45. Soewarsih menyumbang peranan yang tidak sederhana dalam alur yang disampaikan oleh Foulcher tersebut. Karya Romannya yang ditulis di tahun 1938 karena dorongan Du Perron disebutkan oleh Foulcher sebagai novel roman terbaik yang ditulis sebelum era perang kemerdekaan. "Buiten Het Gareel" ditulis tahun 1939 setelah masa patah arang Soewarsih akibat penolakan Balai Pustaka, dimana Du Perron aktif mendampingi Soewarsih untuk terus menulis sejak perjumpaan mereka di tahun 1938.

Soewarsih, dalam testimoninya mengenai penulis idolanya tersebut menyebutkan "Eddie mengajariku menulis dalam bahasa Belanda dengan bukunya "Uren met Dirk Coster". Buku itu diberikannya padaku sambil berkata "dengan membaca buku ini engkau akan belajar menulis dalam bahasa Belanda yang baik".  Bahasa Belanda sengaja ditekankan Du Perron untuk dipergunakan oleh Soewarsih karena bahasa tersebut banyak dipahami oleh kalangan intelektual Indonesia pada saat itu. Selain itu penggunaan bahasa Belanda akan memudahkan para pembaca sastra di negeri Belanda untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di Hindia Belanda pada masa tersebut.

Penggunaan bahasa Belanda sendiri dalam penulisan novel ataupun karya sastra dimasa itu tidaklah populer. Menurut C.M. Watson dalam esainya yang berjudul "Feminism and the Indonesian Nationalist Movement: A Reading of Soewarsih Djojopoespito’s Novel Buiten het Gareel", penggunaan bahasa belanda dalam penulisan karya sastra dihindari oleh kebanyakan penulis, meskipun mereka sebenarnya memiliki kemampuan untuk itu, disebabkan oleh tidak adanya pasar pembaca yang luas untuk buku-buku berbahasa Belanda yang ditulis oleh penulis pribumi di Indonesia saat itu.

Selain itu, sejak tahun 1914, muncul kecenderungan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam penulisan karya sastra adalah untuk memudahkan penyebaran ide-ide politik dan kebudayaan yang tengah digerakkan oleh kebanyakan penulis untuk menunjukkan identitas nasional mereka. Dengan menggunakan bahasa Belanda dalam menuliskan novelnya, Soewarsih disebut Watson telah menetapkan langkahnya ke lapangan yang lebih baru dan lebih luas. Karena dalam sejarah, tercatat hanya 3 penulis Indonesia sebelum masa perang kemerdekaan yang karyanya terbit dalam bahasa Belanda, yakni Kartini, Notosoeroto dan Ahmad Djajadiningrat. Soewarsih adalah orang keempat yang menyeruak dan ia bukan seorang priyayi seperti 3 nama sebelumnya tadi.

Buiten Het Gareel sendiri sebenarnya adalah sebuah novel otobiografi Soewarsih sendiri. Berkisah mengenai kehidupan sepasang suami istri yang memilih untuk mengabdikan dirinya demi kemajuan bangsanya melalui jalur pendidikan walaupun untuk menjalankan perjuangan tersebut mereka harus hidup miskin dan terhina. Soewarsih yang dalam novelnya beralih nama menjadi Soelastri, adalah seorang perempuan yang tahu akan kemampuan dirinya sendiri dan setia pada suami dan persoalan kebangsaan, namun akhirnya terperangkap dalam ketegangan personalnya sendiri.

Semua tokoh dalam tulisan ini adalah para intelektual nasionalis yang bercita-cita memerdekakan bangsanya dari kemiskinan dan kebodohan akibat kolonialisme Belanda. Tapi menurut saya yang paling menarik dari novel ini bukanlah heroisme yang menggelora dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, melainkan cara bercerita Soewarsih yang jujur dan orijinal serta tema yang diangkat cenderung berbeda dengan karya-karya sastra yang muncul di sekitar masa tersebut. Hampir sepanjang cerita, novel ini bercerita mengenai konflik, rivalitas dan ketegangan di antara para tokoh, nyaris tidak bercerita mengenai perjuangan melawan penjajahan Belanda yang menjadi latar belakang novel tersebut. Konflik rumah tangga akibat peran Istri yang terpinggirkan, walaupun sama-sama berasal dari kalangan terpelajar, merupakan inti dari cerita Soewarsih dalam novelnya tersebut. Tema inilah yang seringkali muncul dalam cerita-cerita Soewarsih lainnya yang ditulis setelah era perang kemerdekaan.

Novel tersebut pada mulanya tidak terbit di Indonesia, melainkan terbit di Belanda pada tahun 1940, setelah invansi Jerman ke Belanda dan setelah Du Perron meninggal secara tiba-tiba pada tanggal 14 Mei 1940. Walaupun pada kata pengantar pembuka novel tersebut ditulis oleh Du Perron, namun Du Perron tidak pernah melihat secara langsung wujud novel tersebut. Novel ini nyaris tidak mendapat perhatian penuh hingga tahun 1950 setelah masa penyerahan kedaulatan RI. Kemunculannya di tahun 1940 yang hampir bersamaan dengan pendudukan Jerman terhadap negeri Belanda, membuat novel ini kemudian tenggelam dan nyaris tidak dibicarakan sama sekali oleh kalangan pecinta sastra di negeri Belanda. Di Indonesia, novel ini juga tidak dapat meraih simpati pembaca sastra dalam negeri, karena dianggap terlalu vulgar dan tidak mencerminkan semangat nasionalisme. Karena ditulis dalam bahasa Belanda, novel ini tetap tak mampu menjangkau kalangan pembaca dan kritikus sastra di Indonesia.

Soewarsih sendiri sepertinya tidak berusaha memaksakan novel tersebut agar bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Walaupun hingga kurun waktu 1950-1977, beliau masih aktif menulis dan menghasilkan beberapa karya yang temanya kurang lebih sama dengan novel Buiten He Gareel. Menurut A. Teeuw dalam "Modern Indonesian Literature", cerpen-cerpen Soewarsih yang terkumpul dalam buku 'Empat Serangkai' yakni 'Seruling dimalam Sepi, Artinah, Badju Merah dan Perempuan Djahat' serta satu cerita panjang yang dimuat di majalah Konfrontasi berjudul "Rukmini" memiliki ide cerita yang kurang lebih sama yakni kisah istri yang tidak bahagia dalam pernikahannya, karena kuatnya patriarkisme di masyarakat Indonesia, meskipun sang suami tergolong ke dalam kalangan yang terpelajar dan berpengaruh dalam kehidupan sosial.

Pada bulan Desember 1975, edisi bahasa Indonesia Buiten Het Gareel yang diberi nama "Manusia Bebas" kemudian diterbitkan oleh penerbit Djambatan. Penerjemahan dilakukan sendiri oleh Soewarsih atas permintaan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.

Soewarsih menyambut dengan gembira tawaran penerjemahan tersebut, sebagai bentuk penghargaan atas usaha-usahanya untuk menuturkan kehidupan masyarakat di masa kolonial. Dalam kata pengantar penerbitan buku "Manusia Bebas", Soewarsih menyatakan bahwa dengan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diharapkan agar bukunya tersebut bisa dibaca oleh generasi zaman sekarang yang tak lagi mempelajari bahasa Belanda. "Saya ingin juga buku saya Buiten Het Gareel dibaca oleh pemuda zaman sekarang sebagai karya sastra". 

Soewarsih meninggal dunia pada tanggal 24 Agustus 1977 di Yogyakarta. Sepanjang hayatnya, beliau menulis dalam 3 bahasa, Belanda, Sunda dan Indonesia. Tercatat ada 8 cerpen yang diterbitkan di majalah-majalah Indonesia, 2 kumpulan cerpen yakni Tudjuh Cerita Pendek dan Empat Serangkai, beberapa terbitan lainnya selain Manusia Bebas adalah Marjanah (edisi bahasa sunda dari Manusia Bebas), Siluman Karangkobar, Hati Wanita, dan Maryati. Beliau juga menulis biografi mengenai Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang di tahun 1956. Soewarsih, Si Manusia Bebas, hingga akhir hayatnya tetap menjadi istri Soegondo Djojopuspito yang setia.

 

Sumber Bacaan :

1. Soewarsih Djojopuspito, Manusia Bebas, Djambatan, 1975

2. Soewarsih Djojopuspito, "Rukmini", Majalah Konfrontasi, edisi no. 12 tahun 1956, halaman 18-48

3. Soewarsih Djojopuspito, Empat Serangkai, Pustaka Rakjat, 1954

4. A. Teeuw, Modern Indonesian Literature, Martinus Nijhoff, 1967

5. Kian Kemari, Indonesia dan Belanda dalam Sastra, Djambatan, 1973

6. Keith Foulcher, Angkatan 45, Sastra Politik Kebudayaan dan Revolusi Indonesia, JKB, 1994

7. "Feminism and the Indonesian Nationalist Movement: A Reading of Soewarsih Djojopoespito’s Novel Buiten het Gareel", SARI, 2009

8. Ernst Ulrich Kratz, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah, UGM Press, 1988


Dodit Sulaksono
Dodit Sulaksono adalah seorang pedagang buku sekaligus seorang ayah. Sosok penyayang sekaligus pemarah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara