Kiprah Sutan Takdir Alisjahbana sebagai sastrawan sudah umum diketahui, demikian juga sebagai salah satu peletak dasar Bahasa Indonesia. Satu yang lain yang belum banyak dibedah adalah kiprahnya dalam penerbitan.

ORANG-ORANG AKAN langsung teringat padanya kalau istilah ‘polemik kebudayaan’ disebut. Begitu pula kalau judul semacam Layar Terkembang atau Anak Perawan di Sarang Penyamun disinggung. Tukang polemik yang oleh Budi Darma dikatakan berhasil menghidupkan polemik kebudayaan karena gaya penulisannya yang nyastra itu adalah Sutan Takdir Alisjahbana.

Sebagaimana sosok-sosok termahsyur lainnya yang lebih diingat karena kiprah-kiprahnya yang ikonik, dia juga memiliki sisi lain yang tidak dibicarakan sebanyak itu. Dalam kasus Takdir, satu di antara sekian banyak sisi lain itu adalah penerbitan. Sebagaimana halnya dengan sepak terjangnya dalam beragam polemik, dalam penerbitan pun gregetnya tidak kalah besar.Tidak kurang dari delapan majalah pernah digawanginya dan dua perusahaan penerbitan pernah dinakhodainya.

Kiprahnya di kancah penerbitan dimulai saat dia yang waktu itu belum genap berusia dua puluh tahun bersama beberapa temannya menerbitkan majalah Semangat Moeda di Palembang. Tapi karir penerbitan yang sesungguhnya bagi dia dimulai beberapa tahun kemudian. Setelah beberapa lama bekerja sebagai redaktur buku Melayu di Balai Pustaka, dia menjadi redaktur majalah Pandji Poestaka. Jabatan itu sendiri adalah yang ditujunya pertama-tama saat melamar kerja ke penerbit ikonik itu. Tapi, pada saat itu Adinegoro-lah yang diterima untuk jabatan itu. Takdir menggantikan kedudukannya saat wartawan tersohor itu pindah kerja ke Pewarta Deli. Selain beberapa topik lain, di majalah itu dia menerbitkan gagasannya tentang puisi baru dan Bahasa Indonesia. Dua topik ini adalah embrio bagi beberapa karyanya, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Puisi Lama (1941), dan Puisi Baru (1946).

Pergaulannya yang meluas pada masa ini memperkenalkannya pada Armijn Pane dan Amir Hamzah. Dalam perbincangan yang sinambung antara merekalah gagasan untuk mendirikan suatu majalah yang kemudian dinamai Poedjangga Baroe muncul. Majalah ini lalu menjadi medan polemik kebudayaan yang termasyhur itu.

Akan tetapi kemasyhuran dan kemapanan ekonomi adalah dua hal yang berbeda. Sejak masa perintisannya majalah ini empot-empotan bahkan dalam hal produksi, distribusi, dan pemasaran. Dari 10.000 pamflet dan formulir berlangganan yang disebarkan, hanya tiga ratusan orang yang berminat. Takdir banyak melakukan kompromi dengan Kolff, orang Belanda pemilik percetakan langganan Balai Pustaka, supaya mau tetap mencetak majalah itu, di antaranya dengan memperkecil ukurannya dan mengubah jenis kertasnya. Mereka sendiri yang mengurusi administrasi pelanggan, distribusi, dan pemasaran, dan seringkali menomboki ongkos-ongkosnya.

Militansi Takdir dalam memperjuangkan Poedjangga Baroe pun tampak dalam usahanya untuk menerbitkannya kembali pada 1948-1953, setelah sempat berhenti terbit sejak tahun 1942. Sayangnya, Poedjangga Baroe musim kedua ini tidak semenggebrak musim pertamanya.

Bisa jadi kurangnya greget keredaksian Takdir dalam Poedjangga Baroe musim kedua itu disebabkan oleh makin bercabangnya perhatian yang harus dia curahkan. Selain disibukan oleh urusan politik praktis karena menjabat sebagai anggota parlemen dari Partai Sosialis Indonesia dan oleh urusan pendidikan formal karena terlibat dalam Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan, pada masa-masa itu Takdir juga terlibat dalam beberapa majalah lain.

Takdir misalnya menjadi pemimpin majalah Pembina Bahasa Indonesia, suatu tindak lanjut atas usahanya mengkaji dan memberi penerangan tentang Bahasa Indonesia sejak tahun ’30-an. Dia juga terlibat dalam dewan redaksi majalah Ilmu, Teknik, dan Hidup, suatu majalah yang erat kaitannya dengan program Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan.

Pembina Bahasa Indonesia terbit pertama kali pada tahun 1947. Memang, pada selang waktu antara dua musim Poedjangga Baroe Takdir tidak absen dari kesibukan di dunia penerbitan. Pada masa pendudukan Jepang, Takdir terlibat dalam Komisi Bahasa Indonesia yang salah satu program kerjanya adalah menyusun suatu leksikon istilah Bahasa Indonesia untuk disebarkan lewat surat kabar.

Pada tahun 1945 sampai 1946, Takdir terlibat dalam penerbitan majalah Pembangoenan. Penerbitan naskah drama Amal Hamzah yang menyindir Armijn Pane berjudul Tuan Amin dalam majalah ini edisi ke-10, th.1, 1946, dipengaruhi oleh seteru pemikiran antara Takdir dan penulis Belenggu itu Pane yang sudah dimulai sejak masa Poedjangga Baroe.

Setelah berhenti memperjuangkan Poedjangga Baroe, Takdir turut mendirikan Konfrontasi pada tahun 1954. Meskipun demikian, oleh redaksinya sendiri majalah ini dimaksudkan sebagai ‘pengganti’ Poedjangga Baroe. Tulisan Soedjatmoko, “Mengapa Konfrontasi?”, pada edisi perdananya memicu suatu polemik yang dikenal dengan istilah Krisis Sastra, suatu polemik panas yang juga melibatkan Pramoedya Ananta Toer dan H.B. Jassin.

Lama setelah itu, tepatnya pada tahun 1979, Takdir menggawangi majalah Ilmu dan Budaya. Sebagaimana Universitas Nasional, penerbit majalah ini, merupakan kelanjutan kiprah takdir dalam ranah pendidikan formal setelah Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan, majalah ini pun merupakan kelanjutan dari Ilmu, Teknik, dan Hidup. Umurnya pun paling panjang di antara majalah-majalah yang pernah diasuhnya.

Kalau lembar informasi penerbit kebanyakan majalah tersebut ditengok, berkali-kali kita akan mendapati satu nama: Poestaka Rakjat. Sejak didirikan pada zaman pendudukan Jepang, penerbit ini berkali-kali dijegal persoalan. Pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia percetakannya disita pemerintah karena Takdir dianggap berada di kubu Malaysia. Melalui kedekatan pribadi keluarganya dengan Soekarno, urusan penyitaan itu diselesaikan. Dalam pemulihan aset itu, tepatnya pada 22 Desember 1963, pada akhirnya nama penerbit itu diganti menjadi Dian Rakyat.

Sayangnya, aset-aset itu tidak bisa dipulihkan kembali saat kantor Dian Rakyat yang terletak di Jalan Ketapang, Jakarta, hangus terbakar pada 6 Juni 1976. Kalaupun ada yang tersisa, barangkali selain majalah-majalah tadi, masih tersedia untuk dicetak ulang terbitan-terbitan Dian Rakyat dalam bentuk buku, seperti  kumpulan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris Sitor Situmorang yang memenangkan penghargaan BMKN 1955/1956 atau kumpulan puisi Chairil yang satuan, Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang putus. Zaman sekarang kalau kita menengok katalog Dian Rakyat yang dipajang di toko-toko buku diskon, kebanyakan adalah terbitan mereka di luar bidang sastra atau budaya.

Pada masa Konfrontasi itu, Takdir yang mencari suaka di Malaysia mendirikan penerbit Zaman Baru—bedakan dari majalah bernama sama yang pernah diterbitkan Lekra. Takdir yang menggantikan Prof. Dr. R. Roolvink sebagai guru besar Malay Studies Department memanfaatkan dana hibah pembangunan rumah pegawai yang diberikan Universitas Malaya untuk membangun kantor dan tokoh Zaman Baru di sekitar Petaling Jaya. Lewat penerbit itulah dia menyebarkan karya Armijn Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dll. ke warga Malaysia. Menarik untuk dikaji lebih lanjut seberapa jauh pengaruh Zaman Baru terhadap penyebaran Sastra Indonesia di Malaysia.

Tentu saja Takdir tidak sendirian menjalankan segala usahanya. Salah satu pihak yang banyak dilibatkannya dalam kerja-kerja penerbitannya adalah keluarganya, khususnya anaknya, Sofjan Alisjahbana. Pada masa-masa awal Poedjangga Baroe, Sofjan dan kakaknya, Iskandar, sering disuruh untuk menjajakan majalah itu kalau ada pasar malam.

Sementara itu, pada awal pendirian Poestaka Rakjat, Takdir sebagai presiden direktur mengangkat Mohammad Ais sebagai direkturnya. Ais-lah yang kemudian mendampingi Sofjan yang sempat sekolah grafika di Amerika sebagai direktur Dian Rakyat selama Takdir berada di luar negeri. Pada akhirnya Sofjan yang menjadi orang penerbitan bersama adiknya, Mirta, mendirikan Femina Group.

Yang tidak kalah banyaknya terlibat bersama Takdir dalam kerja-kerja penerbitannya adalah rekan-rekan politisnya di PSI. Hubungan ini paling kentara terlihat dalam keterlibatan Sjahrir, dedengkot PSI. Pikiran dan Perdjoeangan, salah satu tulisannya, diterbitkan Poestaka Rakjat pada tahun 1947. Jauh sebelum itu pun Sjahrir sudah menulis di Poedjangga Baroe, bahkan sempat berpolemik dengan J.E. Tatengkeng. Maria Ulfah Santoso (Soebadio), salah satu penulis rutin Poedjangga Baroe, juga adalah seorang anggota kelompok Sjahrir, begitu pula Ismail Thaib, sekretaris Takdir di Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan dan salah satu redaktur Ilmu, Teknik, dan Hidup, dan Soedjatmoko, salah satu dedengkot Konfrontasi. Menarik untuk dikaji lebih lanjut seberapa jauh pengaruh ideologi yang diusung PSI terhadap terbitan-terbitan yang berkaitan dengan penerbitan Takdir.

Lebih jauh lagi, penerbitan adalah salah satu jalan yang ditempuh Takdir untuk mewujudkan ambisinya akan ilmu. Ada suatu keyakinan dalam kiprahnya bahwa pendidikan (diri maupun institusi) adalah hal yang bisa membuat manusia bebas dan mandiri. Penerbitan adalah perpanjangan tangan kiprahnya dalam bidang pendidikan, baik sebagai seorang guru yang mengajari seperti dalam tulisannya di rubrik ‘Memadjoekan Kesoesasteraan’ maupun sebagai seorang pelajar yang mencari kawan bertengkar pikiran seperti dalam polemik kebudayaan.

Sampai menjelang wafatnya Sutan Takdir Alisjahbana tetap bersemangat bekerja, termasuk dalam bidang penerbitan. Majalah terakhir yang digawanginya, Ilmu dan Budaya, baru berhenti terbit setelah Takdir wafat pada tahun 1994. Sampai wafatnya dia berpegang teguh pada suatu keyakinan yang sempat dituliskannya menjadi puisi: “Hanja dalam berdjuang beta merasa tentram dan damai / Hanja dalam berdjuang Engkau Tuhanku di dalam dada”.


Kredit Gambar : store.tempo.co
Muhammad Al Mukhlishiddin
Lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, menulis ulasan buku, film, dan gim di al-ulas.blogspot.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara