Yogya adalah tanah yang subur oleh kegiatan sastra. Tak terbilang pula naskah drama, puisi, dan prosa yang lahir di wilayah ini. Pertanyaannya: siapakah sebenarnya pelopor penyair Yogya?

MENELUSURI ARAH SEJARAH perkembangan dan dinamika sastra Indonesia di Yogyakarta, ketika digali lagi ternyata masih banyak hal yang terlewat dan luput dari catatan. Agak susah memang melacak sejarah yang telah terkubur di kedalaman tanah. Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali membuka buku-buku tua, merawat arsip usang, dan bertanya kepada sejumlah sastrawan mengenai sastra Yogya. Alhamdulillah, dari kerja berderai darah tersebut tidak sedikit data yang dapat dipungut dan cukup runtut.

Puisi disebut-sebut sebagai pembuka dinamika sastra modern di Yogyakarta pada masa awal kemerdekaan. Puisi sebagai karya sastra primadona, tak ubahnya pintu gerbang tegur sapa bagi para sastrawan. Terbukti, saat Yogyakarta menjadi ibukota pemerintahan Indonesia, sejumlah sastrawan ternama seperti Sanusi Pane, Armijn Pane, Usmar Ismail, Aoh Kartahadimadja, dan Chairil Anwar—meskipun dalam waktu sangat singkat, datang ke Yogyakarta dan membawa perubahan berupa gagasan-gagasan pembaruan dalam kesenian khususnya mengenai sastra dan seni rupa yang pada tahun-tahun itu kuat dengan budaya tradisi.1

Jejak telapak kaki para sastrawan itu pun kemudian diikuti oleh sejumlah nama sastrawan Yogya yang bermunculan setelahnya. Di situlah pertanyaan “siapa pelopor penyair Yogya?” terjawab.

Sepanjang pengamatan saya yang tentu saja tidak selalu cermat, berkenaan dengan pertanyaan “siapa pelopor penyair Yogya?” saya jumpai satu nama yang justru tidak cukup dikenal dan dikenang dalam arena sastra Yogyakarta. Adalah Mahatmanto, pelopor penyair Yogyakarta yang dimaksud.

Mahatmanto menjadi nama yang pertama kali disebut ketika merunut sosok mula-mula penyair yang dilahirkan dan berproses kreatif di Yogyakarta. Belum ada penyair Yogyakarta yang berkarya sebelum masa Mahatmanto. Baru kemudian disusul penyair kelahiran Yogyakarta lainnya, yakni Soekarno Hadian dan Kirdjomuljo yang juga aktif mencipta puisi dan menyebarkannya ke majalah-majalah sastra.  

Bagi Mahatmanto, pengaruh para sastrawan terkemuka Indonesia yang datang ke Yogyakarta di masa awal kemerdekaan itu nyata terlihat dari hasil kerjanya yang tidak hanya tekun di bidang penciptaan puisi, tetapi juga seni rupa. Bahkan, selain puisi, lukisan-lukisan karyanya juga terbit sebagai ilustrasi dalam majalah sastra di Jakarta.

 

Menilik Kehidupan Sang Pelopor

Bandoro Raden Bagus Tuwan Saiyid Sulaiman Suradal Adil Arif Agung Adikartono Abu Calis Mahatmanto Murbaningrat al Ahlabi, demikianlah Mahatmanto menuliskan namanya di lembar biodata diri penyair yang turut diundang untuk mengirimkan puisi-puisinya dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 1995. Ia dilahirkan pada tanggal 11 Agustus 1924 di Kulur, Temon, Adikarta (sekarang Kulon Progo), Daerah Istimewa Yogyakarta, ranah wewengkon Pakualaman.2 Dikabarkan, penyair misterius itu meninggal dunia di Banjar Patoman,3 Jawa Barat, pada tahun 1997 dan dimakamkan di kampung halamannya.

Nama yang panjang bergelar-gelar tersebut menegaskan bahwa Mahatmanto benar lahir dari keluarga priyayi yakni garis Pakualaman. Disebutkan bahwa ayahnya bernama Bendara (Bandoro?) Kiai Raden Abdumanan (Abdul Manan?), merupakan seorang sufi yang berguru pada Saiyid Bahaudin dari Suriah yang ada di Singapura pada tahun 1810. Mahatmanto mempunyai lima orang ibu tiri. Saudara kandungnya ada tiga orang, sedangkan saudara tiri ada lima orang.4

Latar belakang pendidikan Mahatmanto yang tercatat di sejumlah sumber adalah Pondok Darul Ulum, Sewugalur, Kulon Progo. Konon ia pun gemar mengembara dari kota ke kota, dari pondok ke pondok.5 Agaknya, pendidikan dan bacaan-bacaan selama di pondok pesantren yang diterima pada zaman kolonial telah membuatnya cukup berwawasan sebagai putra seorang priayi.

Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian minat bakat Mahatmanto yang filosofis dan religius (sebagaimana disebutkan oleh H.B. Jassin dalam Gema Tanah Air) di bidang sastra tumbuh berkembang. Tidak mengherankan pula jika kemudian setelah terjun di arena sastra ia memiliki hubungan baik dengan sejumlah sastrawan terkemuka di Indonesia pada masanya.

Hubungan baik tersebut tampaknya juga terjalin antara Mahatmanto dengan H.B. Jassin. Di dalam buku prosa dan puisi Gema Tanah Air, terhitung jumlah puisi-puisi karyanya paling banyak dimuat. Dalam buku yang menghimpun hasil-hasil kesusastraan semenjak kedatangan Jepang di Indonesia tahun 1942 hingga tahun 19486 itu, ada 9 puisi Mahatmanto yang mula-mula terbit di majalah Pantja Raja dan Mimbar Indonesia pada tahun 1947-1948.

Selain itu, ada satu lagi puisi berjudul “Anjing Belang” yang mula-mula terbit di Mimbar Indonesia Januari 1950, agaknya dimasukkan oleh H.B. Jassin pada cetakan ke-2, yakni tahun 1951.7 Jumlah tersebut berbeda dengan pemuatan puisi-puisi karya penyair lainnya yang rata-rata hanya empat atau lima puisi saja. Namun, bisa jadi tahun-tahun tersebut memang merupakan masa-masa paling produktif Mahatmanto, sehingga ia rajin mengirimkan buah karyanya ke majalah-majalah.

Satu hal yang juga menarik, pada usia 27 tahun (1951) Mahatmanto sudah bergabung sebagai editor di Mimbar Indonesia yang dipimpin H.B. Jassin. Selain itu, setelah pertemuannya dengan Ajip Rosidi di Bandung kisaran tahun 1966/1967, ia pun bekerja di Budaja Djaja saat dikelola Ajip Rosidi hingga menyatakan berhenti kerja pada 1977.8

Mungkin karena pekerjaannya itu, sejak tahun 1950an hingga awal tahun 1970an Mahatmanto tidak banyak menerbitkan puisi-puisinya. Meskipun demikian, puisi-puisinya tetap diumumkan di majalah-majalah sastra, seperti Zenith, Horison, dan terakhir terbit di dalam majalah Budaja Djaja tahun 1972. Setelah itu ia tidak lagi muncul di majalah-majalah dengan puisi atau esai-esainya.

Mahatmanto kemudian menghilang dari hiruk-pikuk pergulatan di arena sastra Indonesia. Salah satu alasan mengapa penyair yang dikenal memiliki sikap dan sifat keras hati itu memilih “keluar” dari jalur sastra ialah pemikirannya yang tidak sejalan dengan apa yang telah dikerjakan Rendra di Yogyakarta.9 Bisa jadi hal tersebut berkaitan dengan hadirnya periodisasi-periodisasi sastra di Indonesia dengan alasan memuat anasir-anasir karya yang hasilnya bernilai kebaruan, namun, nyata-nyata justru hadir bersifat politis dan cenderung tindih-menindih.

Sebagaimana diketahui, menjelang akhir tahun 1953 di Yogyakarta, Rendra dan kawan-kawannya serta beberapa pengarang ibukota menulis dalam majalah Merdeka, memberikan penamaan Angkatan 50 dalam sastra Indonesia. Karena dianggap sebagai sentimen golongan semata, maka hal tersebut tidak mendapat sambutan sebagaimana Angkatan Terbaru yang dicetuskan Ajip Rosidi tahun 1960.10

Benar saja, nama Mahatmanto dan sejumlah sastrawan yang ada dalam Gema Tanah Air pun tidak bisa bertahan lama. Nama-nama itu, juga penyebutan Angkatan 50 dan Angkatan Terbaru pun tertindih oleh terbitnya Angkatan ’66 yang hadir bertalian erat dengan suatu peristiwa politik.

Kekecewaan demi kekecewaannya terhadap sastra barangkali juga disebabkan karena ditolaknya satu-satunya kumpulan puisi karya Mahatmanto yang diberi judul Gandewa oleh Balai Pustaka pada tahun 1950. Puisi-puisi yang telah dikumpulkannya itu pun tidak pernah diterbitkan dan dibiarkan terbengkalai begitu saja di angan-angannya.

Beruntung pada tahun 1993, peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Puji Santosa menyusun penelitian berjudul Biografi Pengarang Mahatmanto dan Karyanya. Meski hasilnya tidak tersebar luas, penelitian tersebut nyatanya telah membuka tabir misteri mengenai siapa sosok pelopor penyair Yogyakarta itu.

Sebelum adanya penelitian itu, rasa-rasanya karya dan sosok Mahatmanto seakan terpinggirkan dari arena sastra. Penyusunan Tonggak I pada tahun 1987 oleh Linus Suryadi Ag. yang memuat karya-karya Mahatmanto pun agaknya tidak disertai dengan penelusuran berkaitan dengan penyairnya walau sama-sama tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sastrawan-sastrawan di Kulon Progo pun tidak ada yang tahu mengenai Mahatmanto.

Berkaitan dengan penelitian Puji Santosa itulah keberadaan Mahatmanto mulai terkuak dan kemudian berhasil dilacak berbekal alamat dari selembar kartu pos yang dikirimkan Mahatmanto kepada H.B. Jassin. Ternyata ia tinggal di sebuah rumah tepat di depan pasar Jombokan, Temon, Kulon Progo. Menurut Dhanu Priyo Prabowo dan Enes Pribadi—sastrawan Kulon Progo yang sempat intens berhubungan dengan penyair misterius itu, rumah yang ditinggali Mahatmanto termasuk bagus untuk ukuran tahun 1990an. Pekarangannya luas dan dikelilingi pohon kelapa. Hal tersebut menunjukkan bahwa hingga masa tuanya ia merupakan orang yang kaya dalam materi.

Anehnya, di usia senja itu ia justru dianggap gila oleh tetangga-tetangganya. Tidak seorang pun tetangga mengenalinya sebagai penyair. Mereka hanya mengetahui Mahatmanto adalah pelukis yang eksentrik dan memiliki pemikiran-pemikiran yang tidak lumrah, sulit dimengerti masyarakat di sekitarnya. Selain itu, kepribadian tertutup serta kenyataan bahwa seumur hidup tidak menikah membuat dugaan-dugaan masyarakat di kampungnya semakin negatif.

Padahal, menurut Dhanu Priyo Prabowo dan Enes Pribadi, ketika bicara dunia sastra, lukisan, dan seni, Mahatmanto sungguh amat lancar menjelaskan. Amat jernih ingatannya, bagus kata-katanya, pula kalimatnya menunjukkan bahwa ia adalah orang terpelajar dan intelektual.

Di waktu senggangnya, diketahui bahwa ia kerap bersepeda keliling kota Wates mengenakan baju koko dan sarung, atau jalan-jalan ke pasar untuk sekadar cukur rambut. Konon katanya, Mahatmanto kerap tinggal berpindah-pindah. Dikisahkan oleh Enes Pribadi,11 satu kali sastrawan gaek itu pernah mengontrak rumah di jalan Wates-Yogya, kali lain menetap di Kriyanan, Mutihan, Kulon Progo. Ia juga pernah tinggal di Bandung dan Banjar Patoman, Jawa Barat. Entah menyewa atau milik sendiri, Mahatmanto bahkan memiliki sebuah rumah singgah di Ubud, Bali sebagai galeri atas lukisan-lukisannya.

Pilihan Mahatmanto untuk menyendiri dan serius melukis, sebagaimana telah disampaikan, jelas berkaitan dengan kekecewaannya kepada sastra. Selain daripada itu, dalam hal meraih modal ekonomi bidang seni rupa tentu lebih menjanjikan. Di bidang ini ia mengikuti gaya Claude Monet, seorang pelukis Perancis dengan aliran impresionis. Ia pun berkawan baik dengan pelukis Widayat dan pelukis sekaligus sastrawan Nasjah Djamin.

Di dunia seni rupa, agaknya Mahatmanto cukup memiliki nama. Lukisan karyanya tergolong bagus dan laku dijual. Tak kurang dari lima sampai delapan juta harga untuk setiap lukisannya. Senisono sebagai gedung pusat kesenian Yogyakarta di zamannya pun mengoleksi goresan-goresan warna karyanya. Sayangnya ia tidak pernah bisa mewujudkan keinginannya untuk menggelar pameran tunggal dan mendirikan museum khusus bagi lukisan-lukisannya.

 

Menilik Karya Sang Pelopor

 

PANTAI

 

Tidak seorang pun yang mengikuti jejakku

jejakku

satu-satunya di sepanjang pantai terasing ini

jejak yang segera akan hilang

dijilat pasang

 

Aku mencari-cari wajah di tiap gelora

wajah apa pun akan mengejutkan wajahku

tapi wajah apa pun tak timbul

 

Aku mencari-cari titik di cakrawala

titik apa pun akan membangkitkan minatku

tapi titik apa pun tak muncul

 

Tidak seorang pun yang mengikuti jejakku

jejakku

satu-satunya di sepanjang pantai terasing ini

jejak yang segera akan hilang

dijilat pasang

 

2-67

 

Demikianlah bunyi salah satu puisi karya Mahatmanto. Secara eksplisit puisi ini menyuarakan nada skeptis yang dirasakan sang penyair. Cara pandang Mahatmanto terhadap jalan hidup yang telah ia pilih dan lalui, sebuah jalan sunyi dalam diri yang berseberangan dengan dunia luar, melahirkan penilaian bahwa ia merasakan keterasingan. Setelah membaca karyanya, akhirnya kita pun tahu siapa Mahatmanto.

Puisi itu seperti tengah menggambarkan perjalanan hidup penyairnya. Tampak bahwa pengalaman empiris memberi makna tertentu baginya sehingga terlahir karya berlatar pengalaman fisik dan pengalaman batin, pengalaman yang ia alami di dunia sastra dan seni rupa sebagai suatu perjalanan yang sendiri, di pantai, di bibir samudra yang tiada tahu di mana ujungnya tanpa ada yang menemani dan mengikuti. Sehingga jejaknya sebagai penyair dan pelukis pun kemudian hilang dijilat pasang zaman, dijilat pasang hiruk-pikuk dinamika sastra di Yogyakarta dan Indonesia.  

Sulit ditemukan jejak Mahatmanto yang menurut Ajip Rosidi datang dengan kecenderungan untuk mendobrak tradisi puisi pada zamannya, seperti memakai kata ulang yang disingkat sebagian, misalnya “rang–orang” untuk kata “orang–orang” dan sejenisnya. Tidak lagi ditemukan jejaknya mengenai esai-esai pendapatnya tentang ketiadaan Tuhan. Hal tersebut termasuk yang diketahui Ajip Rosidi, perdebatan antara Mahatmanto dengan A. Hassan dari Persis (Persatuan Islam) di koran Abadi mengenai ada dan ketiadaan Tuhan yang dimenangkan A. Hassan.12 Setelah terjadi pemberontakan Gerakan 30 September 1965 pemikirannya mengenai hal itu pun tak lagi muncul.

Meskipun demikian, terkait pandangannya tersebut, tampaknya Mahatmanto tidak ikut terseret dalam pusaran pengarang yang tergolong dalam Lekra/PKI. Terbukti dalam Gema Tanah Air cetakan ke-5 yang menghapus sejumlah nama yang termasuk golongan tersebut, nama Mahatmanto masih tetap bertahan di dalamnya.  Barangkali pandangan-pandangan Mahatmanto lebih berkaitan dengan kepercayaannya secara kejawen dan sufistik pengaruh besar dari sang ayah sebagai seorang sufi.

Bisa dilihat dalam puisi-puisinya di Gema Tanah Air atau Tonggak 1, bahwa karya-karya Mahatmanto dominan dengan tema religius. Jika dikaitkan dengan pandangan ateistik hal tersebut justru bertentangan dengan pendapatnya. Namun, jika Mahatmanto terus bertahan dengan pandangannya tentang ketiadaan Tuhan dan menghadirkan dalam karya-karyanya, agaknya tidak hanya para tetangga yang akan menganggap ia gila.

Tokoh kita ini memang benar-benar eksentrik dan misterius. Banyak rahasia tentangnya tersimpan tanpa ada yang mengetahui. Entah bagaimana kini nasib gulungan-gulungan kanvas lukisan dan karya-karya lain yang tersimpan di kediamannya di Kulon Progo karena ia tak memiliki ahli waris, sedangkan saudara-saudaranya kurang memberi perhatian.

Dalam pertemuan terakhir Dhanu Priyo Prabowo dengan Mahatmanto, ia tengah bersiap menuju Bali untuk menengok rumah dan lukisan-lukisannya. Mudah-mudahan di Bali ada teman seniman yang dipercaya untuk merawat rumah dan karyanya. Sementara sebagian dokumen sastra miliknya, termasuk foto-foto, buku, dan majalah-majalah sastra yang memuat karyanya kini disimpan oleh Enes Pribadi.

Mahatmanto! Semoga kini ia tak lagi kecewa dan menyesal karena ternyata karya-karyanya pun ada yang menikmati bahkan ada yang mau mengambil makna di dalamnya.

Samigaluh, 26 Februari 201

 

Catatan Kaki:

1. Farida Soemargono, 2004, Sastrawan Malioboro 1945-1960, Nusa Tenggara Barat: Penerbit Lengge, hlm. 77.

2. Dokumen tersebut disimpan oleh Iman Budhi Santosa. Karena suatu persoalan, buku antologi FKY 1995 urung diterbitkan. Nama tersebut sama dengan yang tertulis di Wikipedia merujuk pada penelitian Puji Santosa. 1993. Biografi Pengarang Mahatmanto dan Karyanya. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nama itu berbeda dengan yang ada di Gema Tanah Air (1969) susunan H.B. Jassin, Tonggak 1 (1987) susunan Linus Suryadi Ag., dan Leksikon Sastra Indonesia (2000) susunan  Korrie Layun Rampan, yakni R. Suradal Abdul Manan yang juga menyebutkan bahwa Mahatmanto memiliki sejumlah nama samaran, antara lain Ibnu Chalis, Sang Agung Murbaningrat, dan Sri Amarjati Murbaningsih. Sementara di ketiga buku tersebut tanggal lahir Mahatmanto tertulis 13 Agustus 1924. Dhanu Priyo Prabowo, peneliti Balai Bahasa DIY yang pernah bertemu langsung dengan Mahatmanto, menyatakan bahwa nama dan tanggal lahir yang tertera di Tonggak I susunan Linus Suryadi Ag. itu salah. Namun, Dhanu justru menyebutkan bahwa namanya hanyalah Suradal Mahatmanto, lahir di bulan Sura pada tahun Dal.

3. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Mahatmanto meninggal dan dimakamkan di Banjarnegara, Jawa Tengah.

4. Lihat Wikipedia.

5. Lihat H.B. Jassin dalam Gema Tanah Air (1969), hlm. 173.

6. Ibid. (lihat pengantar H.B. Jassin pada cetakan pertama)

7. Hal tersebut sebagaimana ditulis H.B. Jassin, 1968, dalam kata pengantar Angkatan ’66 bahwa sejak Gema Tanah Air tahun 1948 dikerjakan penambahan kemudian hingga tahun 1955an.

8. Lihat R. Toto Sugiharto, 2015, “Mahatmanto di Mata Ajip Rosidi (2)”, sorotjogja.com.

9. Informasi ini didapat dari wawancara dengan Dhanu Priyo Prabowo, bulan Januari 2017. Tidak dijelaskan mengapa Mahatmanto berseberangan dengan Rendra.

10. H.B. Jassin, 1968, “Bangkitnya Satu Generasi” dalam Angkatan ’66, hlm. 1-2.

11. Disampaikan dalam Bincang-bincang Sastra, Studio Pertunjukan Sastra, edisi 114, Sabtu, 28 Maret 2015, “Menilik Pelopor Penyair Yogya Mahatmanto.”

12. Lihat R. Toto Sugiharto, 2015, “Mahatmanto di Mata Ajip Rosidi (2)”, sorotjogja.com.

 


Latief S. Nugraha
Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya Menoreh Rumah terpendam (Interlude, 2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara