Buldanul Khuri dan penerbitan adalah dua hal yang tak terpisahkan, sejak 25 tahun yang lalu, sampai sekarang.

SEORANG pemerhati buku pernah mengatakan, Buldan itu bukan seorang intelek, bukan orang kaya, dan juga bukan seorang seniman, tetapi dengan “tiga bukan” itu, ia mendirikan penerbit Bentang Budaya dan lainnya dan hingga kini, setelah 25 tahun, masih tetap menerbitkan buku.

Tidak seperti kondisi zaman sekarang yang tidak terlalu sulit menerbitkan buku atau menjadi penerbit, pada tahun 1990-an penerbit yang ada waktu itu hanyalah penerbit-penerbit besar saja dengan latar belakang yang jelas. Contoh yang bisa disebut misalnya Gramedia dan Gunung Agung yang memiliki sejarah panjang dan modal kuat; Pustaka Jaya, LP3ES, Obor, Grafiti, dan Sinar Harapan yang pengelolanya seniman papan atas atau para intelektual, Kanisius yang memiliki komunitas pendidikan dan keagamaan; dan Balai Pustaka milik pemerintah yang sudah memiliki pasar yang jelas. Namun, pada tahun 1992, seorang anak muda asal Kotagede Yogyakarta bernama Buldanul Khuri, dengan di-support oleh tiga temannya (satu wartawan majalah Tempo, yang dua, adik dan kakak ipar penulis Danarto) berbekal melulu kecintaan pada buku, berani memasuki belantara penerbitan yang kokoh dan solid itu dan mendirikan sebuah penerbit kecil bernama Bentang Intervisi Utama (kemudian pada tahun 1994 menjadi Bentang Budaya), walau ia bukan dari keluarga kaya baik secara pribadi maupun dari asal keluarganya, bukan seorang intelektual, sebagai seniman—yakni sebagai desainer visual—ia juga belum banyak dikenal, dan juga tidak memiliki komunitas atau pasar tertentu.

Bentang Budaya dan Buldanul Khuri harus disebut dengan satu tarikan napas. Bentang adalah manifestasi dari obsesi pribadi Buldan. Satu pencapaian Bentang yang paling diakui dunia penerbitan nasional dan menjadi ikon dari penerbitan ini adalah desain kover.

Buldan—bersama si Ong (Hary Wahyu)—menempatkan desain artistik sebagai bagian penting yang membuat buku menarik minat pembaca dan menciptakan citra khusus terhadap penerbit dan, kelak, memunculkan tren desain kover khas Yogyakarta. Buldan melalui Bentang menempatkan desain sampul tak ubahnya sebuah karya rupa, dari objek visual, tipografi, huruf, tata-ruang, maupun tampilan buku sebagai keseluruhan. Dalam membuat kover, Buldan menggunakan drawing, lukisan, dan karya instalasi dari para perupa yang sebagian besar namanya mengkilap di jagad senirupa Indonesia: Djokopekik, Srihadi Sudarsono, Ivan Sagita, Agus Kamal, Nasirun, Dadang Christanto, A Eko T, EddiE haRA, Heri Dono, Dede Eri Supria, Sudarsono, Agung Kurniawan, Danarto, Agus Suwage, Jamaldi Alfi, Haitamy El Jaid, Mella Jaarsma, S Teddy D, Zulfa Hendra, dll. Namun, secara jujur, Buldan menyatakan bahwa apa yang telah dilakukannya dalam pengolahan desain kover ini diilhami oleh kekagumannya atas sampul buku-buku Pustaka Jaya di era 1970-an.

Gaya khas Yogya itu kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain di luar Yogya, termasuk Jakarta sebagai kota utama penerbitan buku nasional. Para penerbit yang ada pada waktu itu rata-rata tidak cukup memiliki perhatian atas aspek artistik dari produk-produk mereka, baik pada desain kover, setting, lay-out, dan format buku secara utuh. Pemilihan finishing doff pada kover juga telah membuat para peminat buku menoleh ke buku-buku terbitan Bentang ketika pada zaman itu semua buku yang terbit tampil mantap dengan sampul mengkilat (glossy). Ada kesegaran yang terasa, di samping logo Bentang yang juga menarik karena artistik dan elegan.

Pilihan tema isi buku terbitan Bentang juga hal lain yang membuat penerbit kecil ini mampu mencuri perhatian masyarakat perbukuan. Bentang Budaya memilih tema-tema utama di seputar seni-sastra-budaya-filsafat. Ini adalah jenis tema yang pada masa itu banyak dijauhi oleh penerbit-penerbit lain karena dianggap tidak mendatangkan keuntungan finansial. Tetapi Bentang secara konsisten memberi tawaran ini ke pembaca karena Buldan menganggap itu adalah buku-buku penting dan perlu diterbitkan. Ukuran aspek penting-tidaknya adalah dari kacamata Buldan sendiri, ia suka atau tidak, cocok atau tidak terhadap suatu naskah. Minat dan kesukaan ini bisa dikarenakan orisinalitasnya, nilai pentingnya, inovasi dan kontekstualitasnya, atau bahkan keklasikannya. Kenangan dan kesenangannya membaca karya-karya sastra, budaya, dan filsafat juga turut memengaruhi dirinya memiliki semacam standar subjektif atas laik-tidaknya suatu naskah dipilih untuk diterbitkan. Baginya, selera personal semacam ini bukanlah sesuatu yang ganjil dan terasing. Ia percaya ada orang lain di luar sana yang mungkin juga memiliki selera yang sama dengan dirinya. Namun, lebih dari itu ketika suatu naskah bisa terbit dalam bentuk buku, ia bisa memiliki kepuasan dan kebanggaan tersendiri.

Membicarakan Bentang Budaya, tak lain, mau tak mau, adalah membicarakan komitmen Buldan. Keseluruhan segi dari keberadaan lembaga penerbitan ini, dari semenjak pemilihan naskah, keredaksian, artistik, percetakan, sampai pascaproduksi, kesemuanya dikonsep dan diimplementasikannya sendiri. Pilihan-pilihan yang diambil oleh Buldan dalam mengelola Bentang seperti sesuatu yang jauh dari ilmu-ilmu manajemen masa kini. Ia berani menanggung risiko atas semua hal yang ditempuhnya. Buldan menyerahkan dirinya sebagai jaminan satu-satunya untuk semua tagihan Bentang, baik tagihan dari percetakan, distributor kertas, penulis, bank perkreditan, dan banyak pihak lain.

 

*Naskah ini merupakan salah satu tulisan dalam buku “Buldan Dengan Tiga Bukan” yang dicetak dalam rangka meramaikan Pameran 25 Tahun Berkarya Buldanul Khuri.


Dorothea Rosa Herliany
Penulis dan penyair Indonesia. Pendiri dan pengelola penerbit Indonesia Tera. Mendapatkan anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2006 dan 2015 untuk kategori Puisi dan Prosa.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara