Irwan Bajang mendirikan Indie Book Corner bersama istrinya, Anindra Saraswati. Berjalan selama 8 tahun, Indie Book Corner makin memantapkan posisinya sebagai penerbit buku indie di Yogyakarta.

SEMUA INI bermula dari hobi Bajang menulis puisi dan cerpen namun ia tak tahu tentang alur penerbitan buku. Akhirnya pekerjaan mencetak ia serahkan pada tukang fotokopi, mendesain, dan menjilid ia lakukan sendiri di kosnya, “Itu kan wujudnya sudah buku,” kata Bajang memulai cerita.

Pengalaman menerbitkan buku secara profesional ia dapatkan ketika naskahnya diterbitkan penerbit kovensional. Desain sampul, percetakan, penjualan semua diurus oleh penerbit. Bajang hanya menunggu bukunya laku dan dapat royalti. Akan tetapi, sistem seperti itu tak cocok dengan dirinya sebab merasa tak memiliki kontrol akan karyanya sendiri.

Ketika  hendak mengadakan acara diskusi buku misalnya, Bajang sempat pusing untuk mendapatkan akses ke bukunya sendiri. Bajang ingin menggunakan buku sebagai tiket masuk acara diskusi serta ada stan buku dalam acara diskusi tersebut. Sayangnya, penulis tidak mendapat akses langsung ke bukunya sendiri, “Aku minta ke penerbit, mereka nggak punya karena sudah disebar ke toko buku. Kalau ke toko buku berarti kan aku harus beli,” terang Bajang.

Selain perkara kontrol buku, Bajang juga menyayangkan proses seleksi naskah di penerbit konvensional. Ia mengingat kembali betapa naskah teman-temannya yang ia anggap bagus tidak diterima penerbit karena tidak sesuai tren. Masalah tren ini pula yang menurut Bajang menjadi faktor runtuhnya beberapa penerbit di Yogyakarta.

Bajang mengingat kembali saat ia datang ke Yogyakarta pada 2006. Ia masih menikmati masa penerbitan buku Yogyakarta diisi oleh Jendela, Bentang, dll. Masa itu tepat setahun sebelum penerbit konvensional mulai menerbitkan buku-buku tentang cinta karena mengikuti tren Ayat-Ayat Cinta. Begitu pula ketika Laskar Pelangi laris di pasar, semua penerbit merilis buku tentang motivasi. “Kan kasihan beberapa penulis, terutama puisi. Puisi nggak pernah dapat tempat di penerbitan, jarang sekali kecuali kalau namanya sudah besar, itu pun penjualannya biasa-biasa saja.”

Dari keresahan-keresahan yang ia rasakan tentang penerbit konvensional di Yogyakarta itulah, Bajang bersama istrinya, Anindra atau disapa Yayas, mendirikan Indie Book Corner. Mulanya hanya Bajang dan Yayas yang mengurus semua urusan penerbitan buku. Mereka saling bergantian memeriksa pekerjaan. Bila Yayas menyunting, Bajang bertugas memeriksa aksara. Bila Yayas me-layout Bajang akan mendesain sampul. Untuk mempertahankan penerbitan selama 8 tahun dengan sistem kerja yang mapan, Yayas dan Bajang belajar dari beberapa skema penerbitan di luar negeri melalui website, seperti Lulu.com dan Indiebound.org.

Mereka menginginkan penerbit yang ideal untuk para penulis agar tak mengikuti skema pasar, serta kontrol penuh ada pada penulis. Model penerbitan indie menurut Bajang juga cocok untuk para penulis pemula. Pasalnya, seringkali penulis pemula yang meskipun punya ide dan tulisan bagus, tidak lolos di penerbit karena belum punya nama. Penerbit tak mau ambil risiko kalau bukunya tidak laku.

Melalui Indie Book Corner, Bajang juga mengenalkan kepada para penulis bahwa menerbitkan sebuah buku tidak harus mengeluarkan banyak biaya. Dengan adanya teknologi print on demand penulis tidak harus mencetak ratusan buku dan menjulanya melalui toko buku laiknya proses menerbitkan buku secara konvensional.

“Penulis punya kontrol penuh terhadap bukunya sendiri kalau nggak laku ya stok ada di penulis, bisa dijual dengan model yang berbeda. Media sosial sangat membantu sekarang ini.”

Eddward S Kennedy adalah salah satu penulis yang menerbitkan naskahnya di Indie Book Corner. Ia memercayakan naskahnya digarap bersama Indie Book Corner karena lebih leluasa dalam proses pengeditan, penataan letak buku, hingga membagi keuntungan dari hasil penjualan. Pihak Indie Book Corner memberikan pilihan untuk mendanai penerbitan buku Eddward, dan yang paling penting baginya, meskipun penerbit indie serta bekerja dengan jejaring pertemanan, Indie Book Corner tetap menjaga keprofesionalannya. Dicetak pertama kali pada 2014, Sepakbola Seribu Tafsir sudah cetak ulang sebanyak empat kali dan dijual dengan model pre order.

Bajang dan Yayas juga percaya bahwa tugas penulis tidak selesai ketika bukunya sudah jadi. Para penulis harus peduli ke mana mereka akan mendistribusikan bukunya, juga turut mempromosikannya. Sebab, menurut Bajang, pasar buku paling ideal adalah lingkungan penulis sendiri, komunitas yang digeluti oleh para penulis. Hal itu membuat Indie Book Corner menjadi sebuah wadah yang bersedia menjadi teman untuk para penulis membicarakan bukunya. “Launching, desain sampul, model distribusi, editor, cetak berapa, harga buku, itu semua kami bicarakan secara terbuka dengan penulis dan model ini lebih ideal.”

Meskipun berusaha menjadi penerbit yang ideal bagi para penulis, Indie Book sempat mengalami kesulitan di awal pendiriannya. Beberapa orang memandang rendah penerbitan indie karena dianggap menerbitkan naskah-naskah yang ditolak oleh penerbit besar. Selama 2 tahun pertama Bajang dan Yayas berusaha menampik anggapan ini dengan membuktikan bahwa terbitan Indie Book Corner memiliki kualitas yang baik, sama seperti kualitas buku penerbit besar. “Kami minimalisasi anggapan itu dengan editing yang ketat sesuai standar di penerbitan besar. Kami juga nggak mau kover yang asal-asalan, harus bagus dan punya standar.”

Anggapan miring tersebut akhirnya hilang seiring penghargaan yang diterima buku-buku terbitan Indie Book Corner. Beberapa buku masuk dalam longlist Khatulistiwa Literary Award (KLA),  memenangkan ajang Festival Pembaca Indonesia, serta ada pula yang dipilih menjadi Buku Terbaik Tempo. “Nama-nama penulis Indie Book Corner yang pernah masuk, Aku pernah masuk KLA dengan buku Kepulangan Kelima, Nanang Suryadi, juga Dea Anugrah.”

Menjalankan bisnis penerbitan dengan dasar hobi, Bajang dan Yayas terkadang lupa bahwa Indie Book Corner sudah berjalan selama 8 tahun. Jika sebelumnya mereka hanya menjalankan penerbitan ini berdua, pada 2011 Bajang dan Yayas mulai mengajak teman-temannya untuk bergabung di penerbitan mereka sebagai editor dan desainer lepas. Hingga kini, ada 8 orang yang menangani penerbitan tersebut. Delapan orang ini belum termasuk editor dan desainer lepas.

Kesuksesan Indie Book Corner juga dibarengi dengan sambutan baik dari para pembaca. Semakin hari, penerbit indie makin subur dengan kekhasannya masing-masing. Indie Book Corner misalnya, cenderung menerbitkan buku sastra dan buku tentang wacana politik. Bajang mengakui bahwa kecenderungan Indie Book Corner tersebut karena kesukaannya membaca sastra dan wacana politik.

“Penerbit menerbitkan buku yang mereka suka. Oak misalnya menerbitkan buku terjemahan klasik. Aku pun begitu. Dan kekhasan tiap penerbit ini lebih ideal daripada mengikuti tren buku. Semua punya pasarnya sendiri, penulis, penerbit, pembaca bisa bertemu di ruang lingkup yang lebih sempit.”

Dalam setahun, Indie Book Corner bisa menerbitkan 80 buku untuk self-publishing dan 6 naskah pilihan. Penerbit ini aktif dalam event-event buku di Yogyakarta, seperti Mocosik dan Kampung Buku. Selain itu, mereka juga dikenal hingga Malaysia dengan mengikuti Pesta Buku Antarbangsa, sebuah pameran yang diselenggarakan di Kuala Lumpur. Sejak 2015 Indie Book Corner rutin mengikuti acara tersebut. Dari event ini pula mereka mendapat tiga rekanan penerbit di Malaysia, salah satunya Merpati Jingga. Sejauh ini, sudah 10 buku Indie Book Corner yang diterbitkan oleh penerbit Malaysia. “Buku kami yang diterbitkan di Malaysia kebanyakan buku puisi. Ternyata pembaca Malaysia antusias dengan karya teman-teman penulis,” terang Yayas.

Terobosan lain yang dilakukan Indie Book Corner adalah dengan menyediakan pilihan untuk menerbitkan buku versi digital. Meski peminatnya belum sebanyak buku cetak, Yayas yakin kelak penulis akan memilih untuk menerbitkan bukunya dalam dua versi, cetak dan digital. Dan Indie Book Corner terus berkembang didukung semangat pencinta buku dan kondisi perbukuan di Yogyakarta.


Nur Janti
Penulis dan editor lepas. Menggemari bacaan sejarah kehidupan sehari-hari dan kajian gender.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara