Pada masanya dulu Penerbit Bentang adalah salah satu penerbit Jogja yang pernah berjaya. Salah satu pendirinya, Buldanul Khuri, ternyata memiliki pengalaman unik menjadi penjual pohon kaktus di salah satu sudut bundaran UGM.

TAHUN 1992, BERSAMA tiga teman, saya mendirikan penerbit Bentang. Di notaris, kami memakai nama PT Bentang Intervisi Utama. Bergerak di bidang Penerbitan, Percetakan, dan Desain Grafis. Saya jadi Direktur dan tiga teman yang lain jadi Komisaris.

Dua tahun kemudian, karena para komisaris menganggap divisi penerbitan hanya menghambur-hamburkan uang perusahaan, akhirnya dilikuidasi. Yang dimaksud menghambur-hamburkan uang adalah karena keuntungannya tidak bisa langsung dinikmati. Ini bisnis jangka panjang. Dan para komisaris menginginkan agar keuntungan bisa segera dinikmati.

Tahun 1994 akhirnya saya keluar dari PT Bentang Intervisi Utama dan membentuk Yayasan Bentang Budaya, yang hanya bergerak di bidang penerbitan. Kok namanya sama-sama Bentang? Saya nekad saja. Toh yang membuat nama Bentang kan saya. PT Bentang Intervisi Utama kemudian ganti nama menjadi... ah, saya lupa.

Penerbitan memang bisnis jangka panjang dan padat modal. Padahal saya tidak ada modal sedikitpun. Hutang sana hutang sini untuk beli kertas. Kebetulan kakak saya beli mesin cetak mini offset, dan buku-buku Bentang Budaya saya cetak di sana.

Tahun 1997 Indonesia kena krisis ekonomi. Harga kertas naik tiga kali lipat. Penerbitan buku banyak yang gulung tikar, atau mengurangi jumlah produksinya. Bentang Budaya termasuk yang gulung tikar. Untuk menghidupi keluarga, saya “terpaksa” berjualan pohon kaktus di salah satu sudut bundaran UGM.

Saya membeli kaktus untuk jualan dari Lembang, Bandung. Hampir dua minggu sekali saya menyewa mobil L300 untuk membawa sekitar seribu kaktus dari Lembang ke Jogja. Hasil jualannya lumayan. Sering saya memfotokopi puisi Sapardi Djoko Damono tentang bunga untuk saya sertakan di pohon-pohon kaktus yang dibeli orang. Eh, untuk bersastra, tidak harus lewat buku, Bung. 

Saat itu, di UGM dan di kampus-kampus lain di Indonesia mulai sering ada demo menuntut lengsernya Soeharto dan tumbangnya Orde Baru. Sambil jualan kaktus, saya sering nyambi ikut demo. Saya sering melihat Puthut EA mengepalkan tangannya ke atas sambil teriak-teriak...(saya lupa apa yang diucapkannya), tetapi intinya minta Soeharto turun. Ya, Soeharto harus turun, karena dialah penyebab krisis ekonomi Indonesia yang menyebabkan dunia penerbitan jadi macet juga.

*

Situasi dunia penerbitan di Indonesia yang sedang berkabung tampaknya menjadi perhatian Ford Foundation. Lembaga donor Amerika itu mengucurkan dananya untuk membantu dunia perbukuan Indonesia lewat Yayasan Adikarya IKAPI di Jakarta. Ford Foundation menginginkan, meski krisis ekonomi berlangsung, tetapi proses pencerdasan masyarakat harus tetap berjalan.

Ford lalu memberikan dana hibah bagi buku-buku berkualitas dengan tema humaniora kepada seluruh penerbit Indonesia yang mengajukan naskahnya. Informasi ini sempat tidak saya ketahui karena saya sibuk jualan kaktus  dan nonton demo. Eh, saya lupa, program Ford ini berlangsung ketika Soeharto masih berkuasa atau sudah turun.

Lewat bisik-bisik teman penerbitan di Jogja, saya akhirnya ikut mengajukan naskah-naskah yang belum sempat diterbitkan Bentang. Hai, ternyata lolos. Mengajukan lagi, dan lolos lagi. Karena tiap penerbit dibatasi tiap tahun hanya delapan naskah yang dikasih hibah, akhirnya di tahun 2000 saya bikin penerbitan MataBangsa, yang fokus pada tema-tema keindonesiaan dan kebangsaan. Delapan naskah lolos semua dalam setahunnya.

Dana hibah dari Ford ini jumlahnya lumayan. Bisa digunakan untuk membantu terbitnya buku-buku yang lain. Karena lumayan, saya bikin penerbitan lagi, namanya Semesta. Dua naskah yang saya ajukan lolos semua.

Tiap kali ngambil duit dari kantor IKAPI di jalan Kalipasir, Cikini, Jakarta, uangnya minimal separoh saya belanjakan untuk beli buku-buku berbahasa Inggris di QB jalan Sunda atau di Kinokuniya Plaza Senayan. Selain sastra, di sana banyak dijual tema buku berbahasa Inggris yang menarik. Seperti psikologi, religius, dan motivasi.

Nah, di tema psikologi, saya banyak beli buku-buku kecil seri psikoanalisis Sigmund Freud. Buku-buku ini kemudian saya terjemahkan (maksudnya, saya minta teman untuk menerjemahkannya), dan saya terbitkan dengan nama penerbit Pohon Sukma. Lebih dari sepuluh judul buku lahir, judul-judulnya antara lain: Narsisisme, Sadomasokhis, Sublimasi, Superego, dan lain-lain.

Oh ya, tampaknya perlu saya ceritakan juga, bahwa di era Ford Foundation -1998-2002 (semoga saya tidak salah)- karena Bentang Budaya dan MataBangsa punya banyak duit, saya juga melahirkan penerbit Teplok Press (buku-buku kiri) dan Lazuardi (buku-buku agama Islam). Kanan kiri oke, mungkin begitu istilahnya. Yang penting berkualitas.

Jangan lupa juga: Pustaka Promethea. Penerbit yang satu ini dimaksudkan untuk buku-buku pemikiran yang saya sendiri sulit mendefinisikannya. Tapi kurang cocoklah kalau diterbitkan Bentang Budaya. Selain itu, Lotus! Eh, jangan melupakan Lotus. Ini penerbitan khusus buku-buku populer alias enteng-entengan. Tahun 2002 di Jakarta mulai semarak dengan tema buku ini. Istilah teman saya, buku yang nggak pakai mikir. Saya juga bisa dong bikin buku kayak gitu.

Inilah era produktif kami. Dalam sebulan pernah kami menerbitkan lebih dari 30 judul buku. Karena kami punya percetakan sendiri. Enam mesin mini offset, Bung.

Tahun 2002 saya pergi haji dengan istri dan di bulan Oktober saya melihat pameran buku internasional di Frankfurt dengan biaya sendiri. Februari 2003 terbang ke Mesir lihat pameran buku internasional juga di sana. Tentu yang lebih penting bisa ke piramid dan perpustakaan Aleksandria yang melegenda itu.

Di tahun 2003, mulai ada sesuatu yang sedikit aneh dalam dunia penerbitan di Indonesia. Buku-buku ringan mulai laku kencang di pasaran. Buku-buku berat atau wacana mulai goyah kakinya. Hei, apa yang sedang terjadi? Agen-agen kami di Jogja dan Jakarta bangkrut. Cek-cek atau Bilyet Giro yang mereka berikan pada kami sebagai pembayaran buku secara kredit returnable tak bisa dicairkan.

Ada apa ini? Dalam situasi seperti ini, saya mencoba mengaktifkan penerbit Lotus dengan buku-buku populernya. Tapi nggak laku juga. Kenapa tidak laku? Apa yang salah dari buku-buku saya? Bukankah saya telah mengikuti tarian dari irama seruling pasar?

Lebih dari 150 penerbit di Jogja, yang bersemi pasca reformasi, mulai berguguran. Ford Foundation sudah tidak mengucurkan dananya lagi. Buku-buku wacana mulai tidak lagi menjadi wacana pasar. Buku-buku komersial mulai menggantikannya. Dan dengan Lotus saya mencoba untuk mengikutinya. Tapi ternyata tertolak oleh pasar. Padahal tema-temanya sama lho dengan penerbit-penerbit komersial itu. Kenapa buku-buku mereka laku dan buku-buku Lotus tidak laku? Ada apa ini?

Saya tidak tahu. Mungkin dunia penerbitan sudah tidak lagi menjadi milik mereka yang sekadar punya idealisme. Dunia penerbitan telah memasuki era industri. Di situ mungkin manajemen menjadi faktor yang sangat penting. Manajemen pemasaran, keuangan, produksi, pemasaran, dan lain-lain.

Saya hanya lulusan mahasiswa seni rupa dari ISI yang tidak pernah tahu teori manajemen. Kalau saya sedikit paham sastra-budaya-filsafat, itu karena sejak kecil saya memang menyukai buku-buku itu. Menerbitkan buku bagi saya hanya menuruti naluri.

Pada pertengahan tahun 2004 saya benar-benar menyerah. Perusahaan saya bangkrut. Sudah tidak bisa memproduksi apa-apa lagi. Karyawan kocar-kacir. Mesin-mesin cetak dijual untuk menutupi hutang. Zaman gelap, selamat datang!

            `

Yogyakarta, 7 November 2016

 

Catatan:

Perlu dua ratus halaman untuk menceritakan periode 1992-2004. Cerita di atas hanya bagian sangat kecil dari yang bisa saya ungkapkan. Dan tahun 2004-2016, dua belas tahun, telah terjadi peristiwa-peristiwa menarik berkaitan dengan pergulatan saya di dunia penerbitan. Akan saya ceritakan nanti di saat yang tepat.


Buldanul Khuri
Seorang pelaku buku Jogja sejak era sebelum reformasi. Memulai lewat Bentang Budaya, ia melahirkan banyak buku-buku alternatif lewat beberapa imprint seperti MataBangsa, MataAngin, Lotus, dan lainnya. Kini dia kembali lewat brand MataBangsa.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara