Antologi “Seperti Malam-malam Februari” terbit merekam jejak 20 tahun keakraban Agus Manaji dengan puisi. Antologi ini memuat 110 puisi yang ditulisnya dalam rentang tahun 1997-2017.

SEBUAH puisi yang bagus adalah sebuah puisi yang “berbunyi”, dan sebuah puisi akan “berbunyi” ketika terjadi proses “persentuhan” dengan pembacanya. Proses itu mungkin lahir ketika pembaca mendapatkan “sesuatu” darinya, dan “sesuatu” itu seringkali direduksi sebagai “makna”.

Mungkin laku itu benar, meski tak sepenuhnya, terutama ketika makna “makna” dipersempit ke arah “pesan”. Mengapa ia tak sepenuhnya benar adalah karena hal itu tak menjelaskan kenapa ada puisi-puisi yang tak bisa—atau belum—kita temukan “makna”-nya tetapi ia tetap memukau kita. Dengan kata lain, ia tetap “menyentuh” kita, menyentuh sesuatu dalam diri kita.

Hal itu mungkin terjadi karena puisi tersusun dari kata, dan kata dalam puisi tidaklah memiliki nilai pragmatis semata: untuk menyampaikan pesan. Ia mungkin saja mengandung nilai semantis, tapi ia juga mengandung aspek yang lain: fon, bunyi. Aspek bunyi ini mungkin tak diperhatikan dalam penggunaan kata sebagai alat komunikasi, akan tetapi dari segi retorika ia mungkin memiliki guna untuk mengendalikan resepsi pembaca.

Mereka yang berpendapat bahwa sebuah puisi musti memiliki pesan, secara tidak langsung, telah mereduksi puisi menjadi setara dengan dialog dalam sebuah percakapan dan kotbah Jumat di mana kata berfungsi semata untuk menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan. Mereka membayangkan bahwa ketika seorang penulis puisi menuliskan puisinya, mereka juga membayangkan adanya komunitas pembaca yang siap melahap dan menangguk pesan dari puisinya.

Dalam banyak kasus, hal itu mungkin terjadi, tetapi ia juga tak absolut. Ada terlalu banyak varian yang terkandung dalam benak penulis ketika ia menuliskan puisi, dan pembaca yang dibayangkan hanyalah salah satu varian di antara sekian varian yang lain. Sebuah puisi, pada akhirnya, tidaklah jatuh menjadi nonsens ketika kita tak bisa menemukan “pesan”, seambigu apapun makna dari kata ini, yang berguna bagi kita.

Bagi para pembaca pemburu pesan, sebuah puisi tuntas ketika pesannya sudah—mereka bayangkan—jelas. Padahal sebuah puisi yang bagus tak pernah mengenal istilah tuntas, ia selalu melahirkan sebuah dunia yang baru tiap kali kita membacanya. Pemaknaan, dalam hal ini, adalah proses terus-menerus mencapai kenikmatan demi kenikmatan. Karena itulah puisi yang bagus tak pernah berhenti menarik kita.

*

Antologi Seperti Malam-malam Februari adalah antologi puisi tunggal Agus Manaji yang pertama, dan kita yakin bukanlah yang terakhir. Buku ini diterbitkan penerbit Interlude pada bulan Februari 2018 dan dibedah pada bulan yang sama pula. Meski ini merupakan antologi pertama Agus Manaji, akan tetapi hubungan Agus Manaji dengan puisi sudahlah sangat lama terjali dengan sangat akrab. Satu contoh yang paling mudah, antologi ini merekam 20 tahun pergulatannya dengan kepenulisan puisi.

Sebelum puisinya terbit dalam antologi tunggal, puisi-puisi Agus Manaji sudah dimuat banyak dalam antologi-antologi bersama. Lembar biografi di belakang buku misalnya mencantumkan judul 12 antologi di mana puisi-puisi Agus Manaji termuat dalam rentang tahun 2001 (antologi Lirik Lereng Merapi) sampai tahun 2017 (antologi Yogya Halaman Indonesia jilid II).

Selain dalam buku antologi, puisi-puisi Agus Manaji juga banyak dimuat di majalah dan jurnal cetak termasuk Horison dan Jurnal Puisi, ataupun dalam situs-situs daring. Saat majalah Horison mengadakan Sayembara Penulisan Puisi pada tahun 1997, Agus Manaji menjadi Pemenang Hiburan. Setelah tahun itu, dia juga tercatat memenangkan beberapa lomba yang berkaitan dengan puisi sampai tahun 2010, termasuk lomba Mengulas Karya Sastra yang diadakan Kemendikbud 2010.

Tak ketinggalan pula, Agus Manaji pernah bergiat di Komunitas Sayap Oetara, Komunitas Jumat Sore, dan Komunitas Puisi Pro. Selain di bidang mencipta dan mengulas puisi, dia juga berperan sebagai editor beberapa buku terjemahan: Van Gogh: Sebuah Biografi (2007), Biografi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karya (2007), dan Ciuman Hujan: Seratus Soneta Cinta Pablo Neruda (2009).

Antologi Seperti Malam-malam Februari memuat 110 puisi, jumlah yang terdengar luar biasa, tapi sekaligus juga wajar ketika melihat bahwa puisi tertuanya (Di Sebuah Penghabisan) ditulis pada tahun 1997 dan puisi termudanya (Dusun Gamplong) ditulis pada tahun 2017. Urut-urutan puisinya tertib dari belakang buku maju ke depan dari yang tertua sampai yang termuda. Dengan perhitungan kasar, kita mendapatkan angka 5 sebagai jumlah kira-kira puisi yang ditulis oleh Agus Manaji setiap tahunnya.

Mungkin sebenarnya jumlah puisi yang ditulis Agus Manaji per tahunnya jauh lebih banyak, tapi proses seleksi kemudian terjadi sehingga melahirkan antologi ini. Setiap penyair selalu memiliki alasan tersendiri untuk “tidak mempublikasikan” sebagian puisinya. Atau bisa jadi juga Agus Manaji memang bukan penyair yang produktif, seperti Chairil Anwar, penyair yang memiliki ketekunan luar biasa dalam menimbang dan memilih kata yang tepat bagi puisi-puisinnya.

Yang manapun kemungkinan itu yang benar, kita patut bersyukur karena boleh berharap bahwa puisi-puisi yang tersaji dalam antologi ini adalah puisi-puisi hasil kriya terbaik Agus Manaji. Seorang penyair besar sekalipun tak selalu menghasilkan puisi-puisi yang baik, pun dan terutama dari sudut pandang mereka sendiri.

Judul antologi ini diambil dari puisi ke-35 dalam antologi ini. Bahwa puisi tersebut yang dijadikan judul dan bukan salah satu dari 109 puisi yang lainnya mungkin menunjukkan keistimewaan puisi ini meski tak menutup juga kemungkinan bahwa hal itu justru memiliki hubungan dengan penerbitan dan pembedahan buku ini yang kesemuanya juga terjadi pada bulan Februari.

Puisi Seperti Malam-malam Februari tersusun dari 22 baris yang dibagi menjadi empat bait. Bait pertama 4 baris, bait kedua 9 baris, bait ketiga 7 baris, dan bait terakhir 2 baris. Bait pembuka puisi itu sebagai berikut:

Kuulungkan beberapa patah kata ke tambir

sepi. Lalu, kaupun tuturkan kisah getir

yang bertahan menyimpan cahaya lirih

sepanjang musim di jalan-jalan kotamu.

Larik-larik aabc yang jelas disusun dengan memperhatikan kekuatan rima, fon akhir. Larik-lariknya merupakan larik sambung yang ditulis dengan tertib: kita menemukan awal larik kedua dimulai dengan huruf kecil karena secara sintaksis ia masih merupakan bagian dari larik awal, sementara diksi “lalu” pada larik kedua ditulis dengan huruf kapital meski ia berada di tengah larik setelah jeda. Penulisan yang tertib seperti ini nampak berlaku bagi seluruh puisi dalam antologi ini.

Pada baris-baris di atas, rima akhir berperan bukan hanya demi mendukung enaknya pengucapan baris-baris tersebut, melainkan juga juga mendukung nada yang coba dibangun. Lihat misalnya diksi “tambir”—kita bisa berdebat panjang tentang apa makna diksi ini berikut juga makna diksi “kuulungkan”—pada ujung larik pertama yang berima dengan diksi “getir” pada ujung larik kedua: bunyi akhir “-ir”yang diucapkan dengan bibir bergetar mengisyaratkan nada “getir”. Rima yang sama pada akhir larik kedua menguatkan apa yang dibangun oleh rima larik pertama, sekaligus sedikit meredamnya melalui jumlah suku kata yang lebih sedikit pada larik tersebut.

Kegetiran itu tetap “bertahan” pada larik ketiga dengan citraan cahaya yang diibaratkan dengan bunyi, “cahaya lirih”, karena kesinambungan dengan kisah yang memang disampaikan dengan cara “dituturkan”. Bunyi akhir larik “-ih” mengisayaratkan perhentian yang lebih matang di mana si aku-lirik sudah lebih bisa menguasai diri dari kegetiran yang menguasai, meski ia tetap sedih. Lalu datanglah akhir larik keempat, vokal yang kuat “-mu”, sebuah penutup yang lebih tuntas. Tak ada lagi sesuatu yang menggantung seperti pada larik sebelumnya, penguasaan diri si aku-lirik sudah tuntas dan kita temukan setelahnya tanda titik.

*

Agus Manaji adalah seorang penulis puisi yang sederhana. Penyair Tia Setiadi dalam bedah buku Seperti Malam-malam Februari pada tanggal 24 Februari lalu di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta mengatakan bahwa kita tak akan menemukan gagasan-gagasan besar dalam puisi-puisi Agus Manaji, tapi kita akan menemukan sosok sang penyair sebagai orang besar.

Sehari-harinya kini Agus Manaji juga merupakan guru SMK, sekaligus pedagang buku-buku lawas secara daring dengan beragam tema yang menarik. Jelajah harta karun bukunya terbentang jauh dari mulai buku lawas Dari Sunyi ke Bunyi-nya Hartojo Andangdjaja terbitan Grafiti sampai ke Pikiran-pikiran Setengah Gila yang merupakan terjemahan Uqala al-Majanin, karya legendaris Abu Qasim al-Hasan an-Naisabury di ranah mistisisme Islam.

Jejak keguruan Agus Manaji juga bisa kita temukan dalam antologi ini, misalnya pada puisi Sajak Pagi Seorang Guru Kepada Istrinya:

Isteriku,

segelas teh yang kau suguhkan

sungguh berasa manis keikhlasan

melapangkan dadaku mencintai semua kenangan.

Puisi ini jelas sebuah puisi cinta yang romantis tapi tak nampak berlebihan. Bagi sang “guru” segelas teh yang mungkin sangat biasa bagi orang lain menjelma sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang “membuat dada lapang dan mencintai semua kenangan”. Pada satu titik puisi ini jelas bertolak dari pengalaman individuil penyair, tetapi puisi yang bagus—kata Chairil Anwar dan TS Eliot—memang merupakan puisi yang beranjak dari pengalaman individuil menuju universil.

Maka meski kita masih menemukan jejak romantisme dalam kelanjutan baris-barisnya—misalnya senyum sang isteri yang diibaratkan dengan mekarnya bunga—tetapi kita juga menemukan baris-baris kritik sosial di dalamnya, sesuatu yang bisa dijadikan contoh sederhana sebagai “universil”:

Tambah sekuntum senyummu

melegakan kepergianku mendidik buah cinta bangsa

yang diabaikan gelisah kerusuhan, pembantaian,

dan harga barang-barang di toko swalayan.

...

meneguhkan niatku berjuang mengantar bocah-bocah yang kasmaran

pada dendam, obat-obatan, film barat murahan,

dan sinetron sore perselingkuhan.

Kritik sosial yang terselip dalam baris-baris puisi di atas tentang “buah cinta bangsa yang diabaikan gelisah kerusuhan” dan bocah kasmaran “pada dendam, obat-obatan, film barat murahan”, adalah kritik yang terasa natural dan karenanya sama sekali tak mengganggu romantisme yang coba dibangun sejak awal. Si aku-lirik tidak mengungkapkan kritikannya dengan menggebu-gebu, ia mengucapkannya dengan penguasaan diri sepenuhnya sehingga puisi seperti di atas tidak terkesan kenes, ia sederhana.  

Dari kesederhanaan puisi-puisi Agus Manaji, kebesaran seorang penyair justru muncul. Sebuah puisi yang bagus justru memiliki kecenderungan lahir dari puisi yang tak berpretensi menggerakkan dunia dengan menyodorkan gagasan-gagasan besar, melainkan dari puisi yang lahir seperti sajian seorang koki dengan keahlian yang sesungguh-sungguhnya. Yang menentukan bahwa sebuah puisi menggerakkan dunia atau tidak, pada akhirnya, adalah mereka yang kemudian bersentuhan dengan teks puisi itu pasca-pengarang.

Mungkin karena itu pulalah penyair Tia Setiadi yang sekaligus merupakan sahabat Agus Manaji, meski pada saat pembedahan buku ini mengatakan bahwa ia tahu kisah-kisah di balik penciptaan puisi-puisi dalam antologi ini, akan tetapi dia tidak merincinya. Tentu Tia Setiadi yang bukan hanya seorang penyair melainkan juga seorang kritikus sastra tahu bahwa ketika asbabun nuzul puisi dalam antologi ini dijelaskan, pembaca akan memiliki pembatas saat melakukan pemaknaan. Puisi, kemudian akan menjadi terkungkung dan tak lagi memiliki ketaksaan makna.  

Sebuah puisi yang sarat dengan pesan—dalam istilah kesusasteraan kita pernah dicakup oleh istilah-istilah semacam “sastra bertendens” dan “sastra didaktik”—belum tentu lebih menggerakkan pembacanya dibanding puisi yang hanya merekam hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Puisi yang “merekam hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari” itulah yang disodorkan Agus Manaji dalam Seperti Malam-malam Februari.

Simak misalnya satu puisinya tentang Pasar Buku Shoping, Yogyakarta ini:

Kutemukan di sini prasasti alit

prasasti sunyi. Kertas-kertas tua

menguarkan aroma peristiwa dan nama.

Kata-kata lahir, hadir, mengerik dada.

Puisi bertarikh 2011 ini adalah tipikal puisi lirik sebagai monolog yang ditandai oleh penggunaan pronomina persona ku. Ia merekam persentuhan si aku-lirik dengan suasana di pasar buku Shoping pada suatu masa yang entah. Diksi “prasasti” menyimbolkan suatu penanda peristiwa agung pada masa lampau, sesuatu yang ada dalam kenangan. Tapi prasasti itu sendiri bukanlah sesuatu yang “agung”, ia “alit” dan “sunyi”, sesuatu yang lahir dari aroma “kertas-kertas tua” yang mengingatkan pada deret “peristiwa dan nama”.

Kertas-kertas tua, dan nama. Kita lantas membayangkan buku-buku lawas dengan sederet nama yang kita kenal suatu hari di masa lalu tapi kini tak lagi ditemukan dalam pajangan buku-buku baru di toko buku. Ada nada khidmat dalam baris-baris ini yang berpuncak pada “mengerik dada”. Bukan tanpa alasan bahwa kata yang hadir adalah “mengerik”, yang bukan hanya merujuk pada verba “mengikis” tapi juga merujuk pada nomina “suara kikisan” sekaligus suara jangkrik saat malam turun dan bebunyian lain terhenti.

Atau pada puisi lain misalnya puisi Masjid Kampus UGM, Ba’da Isya:

Langit telah meruangkan kita di antara rusuk-rusuk masjid

yang khusyuk. Begitu bersih senyummu, sewarna temaram lampu

yang fasih meng-emas-kan kaligrafi ayat itu.

Puisi ini diawali dengan epigraf “buat Miftakul Huda”. Pada bait pembuka puisi tersebut yang dikutip di atas, kita menemukan narasi tentang “kita” yang terjelaskan bahwa pronomina persona tersebut merujuk pada si aku-lirik dan Miftakul Huda. Masjid pada ujung baris pertama merujuk pada masjid yang disebut dalam judul, Masjid Kampus UGM. Judulnya juga menjelaskan latar waktu puisi tersebut: ba’da Isya, dan karena itulah baris kedua pun menjadi masuk akal: “temaram lampu” yang dibandingkan dengan “bersih senyummu”.

Bait itu sendiri adalah bait pembuka, baru pada bait-bait selanjutnya kita akan menemukan narasi lanjutan tentang apa sebenarnya yang diperbincangkan “kita” sampai-sampai hal itu penting menjadi puisi. Ada misalnya penjelasan tentang posisi Miftakul Huda dalam baris ke-14 sebagai “Sahabat”, meski mungkin saja diksi tersebut merujuk pada sosok komunikan yang lain. Bagi mereka yang merasa cukup dengan teks, teks puisi itu sendiri sudah cukup “menawarkan” sesuatu, tanpa harus mencari-cari tahu siapakah nama yang disebut dalam epigraf, atau apakah “kaligrafi” yang dirujuk di dalam baris ketiga tersebut dengan mengunjungi masjid kampus UGM.

Kekhususan nama yang dirujuk pada awal puisi tak berarti puisi itu hanya boleh dibaca dan hanya mungkin dipahami oleh pemilik nama yang bersangkutan. Puisi Address to the Devil-nya Byron tidak berarti puisi tersebut hanya boleh dibaca oleh Devil dan hanya mungkin dimaknai olehnya. Baris ketiga puisi di atas juga menyodorkan opsi yang tak mengharuskan pemahaman akan apa kaligrafi yang dimaksud, karena ia bisa saja dibaca dengan penggal kaligrafi ayat/itu sebagaimana ia juga mungkin dibaca dengan penggal kaligrafi/ayat itu.

Ketaksaan kemungkinan pembacaan puisi semacam itulah yang justru membuat sebuah puisi yang baik tak pernah henti dibaca. Dalam dua contoh puisi di atas, Agus Manaji tidak menyodorkan konsep, ideologi, ataupun jargon dengan menggebu, ia hanya merekam suasana sekitar. Ia hanya mencoba menunjukkan bahwa hal-hal kecil yang nampak remeh mungkin saja diangkat menjadi sebuah puisi sebagai satu bentuk perenungan.

Pada akhirnya, pertemuan antara seorang pembaca dengan teks puisi adalah “kesunyian masing-masing”. Sebagian pembaca mungkin langsung mengobrol akrab saat kali pertama menjumpai puisi-puisi dalam antologi ini. Sebagian pembaca yang lain mungkin saja tak menemukan persentuhan dalam pembacaannya yang pertama, tetapi kali lain ketika ia membacanya ulang mungkin saja penilaiannya lain lagi. Setiap hari pelbagai pengalaman baru menyeruak menghampiri kita, dan itu berpengaruh terhadap kemungkinan pengalaman baru saat melakukan pembacaan ulang.

Puisi, hanya memiliki separuh makna inheren dalam dirinya, separuh yang lain ada pada diri pembacanya. Ketika dua paruh itu “bersentuhan”, kita mengalami ekstase tanpa harus berpikir bahwa setelahnya dunia sekitar berubah dan kita menjadi lebih dekat ke surga. Puisi sufistik ataupun puisi mundan, puisi pastoral ataupun puisi kota, kesemuanya tetaplah merupakan puisi: mereka bagus bukan karena mereka memberikan “pesan” sebagaimana yang mungkin kita dapatkan dari sebuah risalah dakwah, melainkan karena mereka selalu menggelitik kita untuk percaya bahwa dengan menyerahkan separuh diri kita kepada teks yang dilahirkan oleh seorang penyair maka kita akan bisa mendengar bunyi-bunyi baru yang mungkin luput dari segala yang sudah kita tuliskan rutin dalam diari.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara