Seorang perantau mungkin pergi dengan sebuah dugaan bahwa ia tak perlu kembali. Lewat "Rumbalara Perjalanan", Bernando J. Sujibto menyadarkan pada akhirnya sang perantau akan tetap pulang ke kampung halaman.

SAYA BARU tahu belakangan, setelah hampir setahun tersesat di kota yang notabene terkenal dengan sebutan Kota Pendidikan, Yogyakarta, dan yang paling mutakhir merangkap panggilan sebagai Kota Mantan, bahwa ternyata penulis buku puisi Rumbalara Perjalanan berkelahiran di Pulau Garam Sumenep Madura.

Memang adalah fakta bahwa secara garis terang kecuali tanah kelahiran, saya tak punya hubungan apa-apa dengan penulis, Bernando J. Sujibto. Akan tetapi berkat Komunitas Lesehan Kutub Yogyakarta di mana saya tinggal, secara cepat saya dapat menggali seluk-beluk proses kreatifnya. Bagaimanapun, ia masih dibesarkan berkat komunitas ini. 

Seperti sub judul buku tersebut, saya tergerak meresensi buku ini dari perspektif berjalan, yakni berpangku pada latar belakang penulis dalam mengkaji karya. Bernando bertubuh tambun, jarang berbicara dan kalau berbicara susah menemukan titik-jedanya. Bermata sipit bak bulan sabit dan juga bisa dikatakan bermata empat. Barangkali disebabkan terlalu banyak dan terlalu seringnya ia menelanjangi tubuh bacaan maka ia harus berkaca mata tebal di usia yang relatif muda. Seperti yang sudah terjelaskan dari awal, ia lahir di Sumenep Madura, besar di Yogyakarta, ngekos di Turki, dan tak pernah tinggal di mana-mana.

Semua keunikan yang telah tersebutkan di atas lantas bisa kita temukan dalam buku puisinya yang terbit bulan Mei 2017 ini dengan ketebalan 184 halaman. Prolog dan epilog yang disertakan juga tidaklah main-main: prolog dari Acep Zamzam Noor, epilog dari Muhammad al-Fayyadl. Andai kita percaya bahwa salah satu kriteria buku bagus bisa dilihat dari siapa tokoh yang memberikan catatan pengantar, maka sudah jelas kita harus percaya buku ini adalah buku yang bagus. 

Perlu di garis-bawahi pertama-tama bahwa sang penyair yang melahirkan antologi puisi tersebut bukanlah anak jalanan, beliau memiliki silsilah yang jelas dan terang. Tetapi memang tak bisa disangkal bahwa kesukaannya adalah menjelajah, baik dunia sastra maupun realitas hidup. Barangkali berkat itulah batinnya tergerak menciptakan Peta Perpuisian Dunia.

Mengapa demikan?

Karena jelas buisi-puisi dalam buku tersebut secara mayoritas berisi tempat dan tokoh-tokoh terkemuka di dunia, bolehkah kita sebut deretan panjang judul puisi di dalamnya:

Semuanya Lahir Kepada Namanya Sendiri, ditujukan kepada Gus Zainal Arifin Thoha, (hlm 41). Madah Kendedes, (hlm 49). Rumah Atas Bumi, kepada Raudal Tanjung Banua, (hlm 57). Seandainya Datang, kepada Wiji Thukul, (hlm 67). Rumah Piano, kepada Ahmad Nurullah, (hlm 70). Pada Sebuah Cermin, kepada Michel Foucault, (hlm 72). Mata Peluru, kepada Ahmed Hassem, (hlm74). Sore Sebelum Blues Concert, kepada Finlay Park, (hlm 76). Charlotte dan Jenderal Sumter, (hlm 79). Horseshoe 1 & 2, (hlm 80). Menepi ke Burley Griffin, (hlm 86). Di Tepi Sungai Yarra, (hlm 89). Pagi di Opera House, (hlm 91). Suatu Malam di Selat Bosphorus, (hlm 97). Perempuan Bersyal Merah di Gatala, (hlm 99). Di Canakkale, (hlm107). Pada Tujuh Bukit, kepada Orhan Pamuk, (hlm 109). Perang Cankkale, (hlm 111). Kematian di Bulan Juni, kepada Nazim Hikmet, (hlm 117). Seperti Deras Sungai Tigris, kepada Neseer Shamma, (hlm 121). Bataille d’Aboukir, (hlm 127). Di Kalekoy, (hlm 128). Di Side, (hlm 130). Malam Natal di Turki, (hlm 133). Malam di Laut Mediterania, (hlm 136). Menunggu Matahari Pulang di Hierapolis, (hlm 137). Sheb-i Arus 1&2, kepada Jalaluddin Rumi, (hlm 142). Suatu Waktu di Anatolia, (hlm148). Jalan Lycia, (hlm 152). Ke Smyrns, (hlm 153). Empat Istambul, (hlm 164). Misalkan Aku Hrant Dink, (hlm 170). Mata Nazar, (hlm 172).

Fantastis.

Bernando Sebagai Pencuri       

Bernando hidup dengan standar sederhana: pengoleksi jaket warna kebal (hitam, cokelat tua, merah saga). Ada istilah sendiri untuk jaket semacam itu yakni Jaket Aliran Dualisme, nama yang lahir tersebab ia bisa dipakai secara bolak-balik. Rambutnya lebih sering dicukur secara merata, tipis kira-kira setengah sentimeter.

Mungkin gara-gara itulah puisi-puisinya sublim dengan kesederhanaan bahasa. Sebuah upaya yang bisa dikatakan bertolak dari tujuan mengakrabi pembaca dari setiap kalangan tanpa harus memiliki pengetahuan tinggi tentang sastra: yang bukan penyair pun bisa ambil bagian. Hal itu selaras pula dengan adagium terkenal yang penulisnya sudah kabur dari ingatan, yakni:

kalau mau menjadi matematikawan belajarlah ilmu tentang menghitung, kalau mau menjadi dokter belajarlah ilmu pengetahuan alam, kalau mau menjadi penyair belajarlah segalanya”.

Sedari dulu Masyarakat Madura secara keseluruhan dikenal sebagai perantau. Penulis buku ini, sang penyair, sebenarnya hendak melestarikan kebiasaan tersebut, mencari peruntungan demi hidup yang lebih mentereng. Sadar terlahir sebagai perantau modern, Bernando memilih peruntungan melalui pendidikan, bukan sebagai penjual  sate madura seperti kebanyakan. Apa boleh buat, hidup memang kadangkala sebuah pilihan dan nasib adalah “kesunyian masing-masing”.

Sejarah pendidikan sang penyair cukup mengesankan, dimulai di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berakhir di Selcuk University, Turki. Berkat memilih peruntungan di jalan pendidikan ini lahirlah Rumbalara Perjalanan. Sebuah buku oleh-oleh dari Eropa, sebuah oleh-oleh paling sederhana yang bisa dilahirkan oleh seorang perantau. Saya kira dari kesederhanan itulah mustinya kita sadar untuk belajar mencintai dan mewarnai hidup.

Kesederhanaan yang saya maksud bisa ditemukan pada kutipan baris-baris puisi berikut:

yang berjejak di dada ini

adalah akar pohon siwalan

tumbuh menyambut rindu

mengitari semestaku

diam

Aku pelaku dalam larik puisi di atas jelas sedang menikmati dan mengukur batas impian-impian dalam hidupnya. Impian yang selalu dibawa ke mana-mana, baik dalam keadaan bahagia maupun dalam keadaan terluka sepanjang perantauannya. Keadaan itu dipungkas saat pada akhirnya si pelaku tersadarkan bahwa menjadi dan mendapatkan apapun di perantauan, pada akhirnya ia akan tetap pulang, melambaikan tangan pada pohon siwalan, mengucap salam pada kampung halaman.

Bernando juga dikenal sebagai pemburu  buku-buku yang terbit dalam banyak bahasa: bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Turki, bahasa Indonesia, dan bahasa Madura. Artinya, ia memiliki kefasihan memahami beberapa bahasa. Sayangnya kemampuan besar tersebut tidak ia fungsikan sebagaimana mestinya, setidaknya dalam penerbitan antologi puisi yang judulnya pasti menarik rasa penasaran sekaligus juga tak terpecahkan hanya dengan menengok KBBI ini.

Saya berandai-andai bahwa buku puisi Rumbalara Perjalanan ini terbit dalam banyak versi bahasa dan ditulis serta diterjemahkan oleh tangan sang penyair sendirian, hal itu akan membuat karya ini nampak lebih fantastis: Bernando bukan hanya berhasil menjadi pencuri Kekayaan Kesusastraan Dunia tetapi juga ikut andil memperkayanya. Pada akhirnya jika demikian maka dia akan menjadi Pendekar Penulis Indonesia pertama yang menulis puisi dalam banyak bahasa.

Suatu hari nanti, semoga demikian adanya.


Sengat Ibrahim
Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Karya-karyanya pernah dimuat di koran Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Merapi, dan banyak yang lainnya
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara