Kampung Buku Jogja #3 2017 dibuka oleh Seno. Sastrawan yang mempopulerkan karakter Sukab itu juga menjadi pembicara kunci dalam talkshow "Sastra dan Jurnalisme" di tempat yang sama.

SEKITAR pukul 13.23, Seno dan Irwan Bajang memasuki venue Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017 di Foodpark Universitas Gadjah Mada pada Senin, (4/10). Seno tampak santai dengan kaus polo hitam, sementara Irwan tampil kasual dengan kaus putih. Siang itu, pria yang mempopulerkan karakter Sukab lewat cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku” ini menjadi pembicara kunci dalam talkshow “Sastra dan Jurnalisme”, dibantu Irwan selaku moderator. Pengunjung yang tadinya asyik melihat-lihat buku yang dijual kontan langsung duduk memenuhi area kosong tanpa tikar atau karpet di depan panggung.

Selama berbicara, Seno sempat menyinggung beberapa isu dengan satire yang tak jarang membuat penonton tertawa. Ketika diminta Irwan untuk memberikan pendapat soal KBJ 2017, misalnya. Seno bercanda dengan mempertanyakan, “Ya, ini acara bagus untuk mengibuli orang bahwa buku itu penting! Tapi apa yang bukan kibul sih, di dunia ini?” Dengan nada memerintah yang kocak, ia menyuruh pengunjung untuk merayakan acara; pengunjung yang senang membaca silakan membaca, yang suka menulis silakan menulis.

Seno yang kini berusia 59 tahun menyempatkan diri bernostalgia, membandingkan aktivitas literasi di masanya dan masa kini. “Komunitas menulis sekarang banyak. Zaman saya dulu, menulis itu dianggap aneh. Tidak gaul. Tapi kalau sekarang kan, yang namanya gaul malah berbuku ria,” ujarnya. Banyak di antara penonton menganggukkan kepala tanda setuju. Lewat acara ini Seno menilai bahwa sekarang banyak individu yang sudah menjadikan membaca sebagai gaya hidup. Hal tersebut diapresiasinya, mengingat di era media sosial sekarang, godaan untuk tidak membaca sangat tinggi. Membaca dan memperoleh pengetahuan baginya adalah aktivitas nirstrategi untuk memerangi hoax dan propaganda SARA yang kini banyak berseliweran di dunia maya.

“Kalau pengetahuan dijadikan alasan kebahagiaan, maka selamatlah hidupnya! Selamat karena ia tidak mati dalam kebohongan,” ungkap Seno.

Bagi Seno, akivitas literasi adalah hal penting, adalah sebuah kerugian ketika hidup tidak tahu apa-apa. Seno kemudian bercerita pengalamannya mencari bacaan dengan menyambangi satu-satunya toko di Jakarta kala itu; Gunung Agung. Lucunya, demi gratisan, Seno rela membaca sambil berdiri di dalam toko sampai diusir oleh pramuniaga. Begitu keluar, ia akan masuk kembali untuk melanjutkan bacaannya sampai kembali diusir pramuniaga.

Talkshow sempat terhenti sebentar ketika kru acara membawa sebuah meja biru kecil ke atas panggung untuk menaruh minuman dan kudapan kecil khusus pembicara. Sepertinya, segala hal bisa disatiri Seno. Ia sempat mengomentari meja tersebut sebagai meja teater. Sontak, penonton kembali tertawa.

*

Langit makin mendung, sejak akhir September lalu Jogja mulai memasuki musim penghujan. Angin yang berhembus terasa semakin dingin, namun penonton di depan panggung tampak tidak ada yang berniat meninggalkan posisinya sedikitpun. Banyak di antaranya sibuk mengabadikan momen Seno yang masih berbicara dengan kamera smartphone. Beberapa yang lain terlihat membawa tumpukan buku karangan sastrawan yang kini menjabat Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut untuk dimintai tanda tangan.

“Memikirkan hal yang baku-baku seperti standar kesuksesan yang baku itu sangat tidak menarik,” Seno berujar, menyinggung orang-orang yang masih enggan membaca di zaman serba mudah ini. Kebanyakan dari orang-orang ini enggan “membongkar”. Menurutnya, semua hal yang kini dimengerti manusia tidak ujug-ujug turun dari langit secara gratis, melainkan tersusun dalam sebuah kebudayaan yang dibentuk. Hal ini dapat dimanfaatkan oknum yang disebut Seno sebagai “orang pintar” untuk melegitimasi suatu hal adalah yang terbaik dan terbenar, begitu pula sebaliknya. Sementara, orang-orang yang enggan “membongkar” anggapan akan menerima legitimasi dengan sukarela, sehingga mudah dimanfaatkan.

“Ini namanya politik kebudayaan. Ia membagi-bagi antara orang yang beradab dan tidak, maupun yang intelek dan tidak. Padahal, cara maupun ukuran untuk disebut beradab dan intelek itu seharusnya merdeka. Jangan terlalu percaya lah (pada oknum),” kritik Seno, salah satunya pada sistem pendidikan dimana guru atau dosen dianggap sebagai sumber kebenaran satu-satunya. Seno menjabarkan bahwa jalan untuk turut menyumbangkan pengetahuan maupun kebudayaan masih terbuka lebar. Menjadi pemimpin, bukan hanya pengikut.

Memasuki sesi tanya jawab, Irwan melontarkan pertanyaan tentang aktivitas membentuk www.panajournal.com sebagai wadah tulisan panjang untuk merayakan kisah tentang kehidupan. Pana Journal merupakan antitesis media daring yang sering menghadirkan tulisan sepenggal-sepenggal yang tidak bernyawa.

“Saya kira kita mesti menyadari bahwa pencerahan dan perenungan itu dibutuhkan. Tapi, itu tidak bisa didapatkan dengan menelan kutipan-kutipan yang secuil. Seharusnya kan, tulisan itu ada pengujian dan argumennya. Proses lebih penting daripada produk!” terang Penulis Cerpen Terbaik Kompas pada 2010 ini. Dampak yang paling mengerikan dari produk instan ini adalah membuat orang merasa ketinggalan informasi. Di zaman serba cepat ini, orang cenderung tidak menghayati hidupnya. Membaca, minimal sebuah esai yang bagus dengan santai seakan jadi sebuah kemewahan di tengah usaha menyibukkan diri demi menemukan makna hidup. “Menjadi bermakna itu tidak harus menjadi terkenal, berprestasi, atau apa. Tai kucing itu buat saya!” seru Seno yang lagi-lagi mendulang tawa penonton. Hal-hal tersebut disebutnya sebagai “berhala sukses”, sementara sukses sendiri adalah konstruksi sosial yang didalangi media dan dimodali uang.

*

Seorang laki-laki maju untuk mengajukan pertanyaan bagaimana ukuran kebenaran Seno? Ia mengutip kalimat di dalam “Sepotong Senja Untuk Pacarku”: 

Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.

Demi menjawab pertanyaan ini, Seno sempat beretorika bahwa kebenaran adalah kerinduan semua orang. Bermacam media digunakan untuk menemukan kebenaran itu; lewat mistik, logika, dan lainnya. Sementara menurut Seno, mengutip dari bidang filsafat, tidak ada satu pun yang paling benar. Hal yang ditawarkan adalah metode mencapai kebenaran, sehingga manusia tidak pernah sampai ke sana. Di bidang sains sendiri, kebenaran yang muncul diuji dengan metode yang sangat ketat.

“Kebenaran itu seperti horison, kita sampai ke manapun, horison selalu ada. Contohnya konstelasi bintang itu bisa dipotret dengan teleskop. Tapi, kita hanya bisa mendiskusikan gambar yng dihasilkan teleskop, tidak mendatangi bintang-bintang itu, wong umur kita nggak cukup,” jelas sastrawan yang pernah menolak Bakrie Award bidang kesusastraan pada 2012 ini. Bagi Seno, manusia ada dalam kondisi anti-realis, alias tidak bisa mencapai kenyataan. Namun, kenyataan dapat didiskusikan untuk mengadu kelas pernyataan. “Bagaimana omongan ‘warung’, omongan (lulusan) S-1, lulusan S-3, lulusan S-3 yang pintar dan yang bodoh? Itu yang bisa diuji.”

Menurutnya, orang yang merasa tahu semua hal yang baik dan buruk kemudian menetapkan kaidah-kaidah yang dikira universal dan abadi, orang tersebut telah membohongi diri sendiri. Hal yang bisa diperiksa adalah konstruksi kebudayaan.

*

Mendekati akhir acara, seorang perempuan di sesi kedua bertanya tentang buku Dunia Sukab (Buku Kompas : 2001). Ia mempermasalahkan kehadiran tokoh Sukab yang hanya muncul di bagian pertama. “Apa yang ingin disampaikan dalam buku itu? Apa ingin menjawab pertanyaan siapa sebenarnya Sukab?”

Seno menjawab bahwa Sukab adalah representasi rakyat. “Nggak penting ada atau tidaknya Sukab. Jangan terpukau hanya pada satu tokoh. Pada bagian kedua saya ingin menunjukkan bahwa tanpa tokoh pun, cerita tetap penting. Di bagian ketiga, saya kira itu yang aktual waktu buku itu terbit, seperti masalah politik. Contohnya masalah separatisme Aceh. Masalah yang sensitif itu saya taruh di bagian belakang.” Tidak seperti sebelumnya, Seno menjawab pertanyaan ini dengan pendek. Ia beralasan bahwa pengantar buku tersebut telah menjelaskan semuanya. “Makanya, belilah bukunya!” serunya lagi sambil tertawa. Namun, Seno menekankan bahwa Sukab itu bukan hanya satu orang. Ia bisa menjadi siapa saja. Sukab yang ingin digambarkan adalah rakyat kecil sebenarnya kritis dan mengerti tipu daya politik.

*

Sebelum talkshow berakhir, Seno diminta membuka acara Kampung Buku Jogja 2017 dengan memotong tumpeng. Potongan pertama diberikan Seno kepada Dodo Hartoko, pendiri Penerbit Buku Baik di Yogyakarta dan penasihat penyelenggara KBJ 2017. Seno sempat bercanda melihat tumpeng yang berbentuk bundar seperti kue tart dengan beberapa lauk seperti tempe kering dan sosis.

“Ini namanya tumpeng, kan? Nggak seperti gunung. Itu sudah konstruksi budaya. Sejak keraton Jogja berdiri apa sebelumnya sudah ada tumpeng? Ketika pertama kali ada tumpeng, pasti tidak ada sosisnya.” Seno, dengan kocak menamakan tumpeng bundar tersebut dengan “tumpeng kontemporer”.

Di sisa waktu yang sempit karena jadwal pesawat pulang, Seno masih melayani permintaan swafoto dan penandatanganan buku hasil tulisannya oleh pembaca. Seno, dengan rambut gondrong yang telah memutih menunjukkan usia dirinya yang tak lagi muda. Namun, dengan pembaca karyanya, ia seakan tidak membentangkan jarak yang lebar.


Fitriana Hadi
Tertarik pada isu-isu gender. Beberapa esainya terbukukan dalam Aku & Buku 4: Para Penyair pun Memilih Buku (2017) dan ID.1 Perayaan Ide, Penghormatan pada Keragaman (2017). Aktif di Komunitas Radio Buku Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara