Darmanto Jatman, penyair lulusan Fakultas Psikologi, memiliki ciri khas gaya berpuisi yang sangat unik sekaligus sangat natural. Tanggal 13 Januari 2018, beliau meninggal.

“Saya bersyukur telah menjadi perempuan pertama dan terakhir bagi Pak Darmanto Jatman. Terima kasih atas bantuan selama 11 tahun Pak Dar sakit,” kata Bu Mur setelah satu jam lebih duduk di kursi kehormatan tamu sembari menonton penyair-penyair membaca puisi cinta dengan suara-suara berteriak. Di atas panggung, di depan baliho besar bergambar senyum Pak Dar, bersama dua putra dan dua putrinya, Bu Mur menyampaikan terima kasih kepada semua teman yang memberi dukungan langsung dan tidak langsung selama Pak Dar Sakit. Terkhusus kepada semua orang yang hadir di acara “Doa untuk Darmanto Jatman” pada malam itu.

Kurang lebih satu setengah tahun sebelum Bu Mur mengucapkan kalimat itu. Di sebuah gedung yang ramai orang dan riuh tepukan tangan. Beliau menemani Pak Dar pada acara perayaan ulang tahun yang ke-75 di Taman Budaya Raden Saleh (14/08/2016). Bu Mur menemani Pak Dar yang hanya bisa duduk di kursi roda dan hanya bisa membalas semua orang yang menyalaminya dengan senyum dan air mata kebahagiaan. Pada saat itu tahap penyakit yang menghuni tubuhnya Pak Dar sudah membuat kemampuan memori otaknya tidak lagi mampu mengingat nama-nama dan wajah teman-temannya.

Sehari setelah perayaan ulang tahun ke-75 di gedung. Pada siang harinya, acara bertajuk “Darmanto Jatman Siapakah?” dilangsungkan. Gunawan Budi Susanto yang mengisi acara itu mengusulkan penerbitan buku yang berisi apresiasi terhadap ketokohan Darmanto Jatman sebagai penyair, budayawan, intelektual, kolomnis, dan pengamat aristektur perkotaan.

Satu tahun lewat beberapa bulan setelah Gunawan Budi Susanto mengusulkan ide itu. Naskah yang terkumpul hanya lima tulisan saja. Ide penerbitan buku itu dengan sangat menyesal gagal diwujudkan. Dan, rasa sesal itu menuntut penebusan ketika pada tanggal 13 Januari 2018 Darmanto Jatman meninggal. Ide penerbitan buku itu kembali mengemuka setelah Ganjar Sudibyo berniat menginisiasi pengumpulan naskah tersebut. Ide penerbitan buku tentang Darmanto Jatman setelah sempat redup kini kembali dilanjutkan.

Kembali ke acara tujuh hari kepergian Pak Dar. Banyak penyair yang hadir membacakan puisinya Pak Dar dan membuat puisi persembahan untuk Pak Dar. Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang datang dari Malang, Sutanto Mendut yang datang dari Magelang. Hadir di acara itu. Tidak luput juga dua seniman kondang Semarang  Prie GS dan Eko Tunas turut berada di atas panggung menemani dua temannya Pak Dar yang datang dari luar kota. Kehadiran mereka di atas panggung menandai puncak acara “Doa untuk Darmanto Jatman.” Empat teman akrab Pak Darmanto itu mengisahkan biografi personal Pak Dar dan karya intelektualnya. Khususnya puisi.

Cak Nun mengatakan.”Yang bisa kita pelajari dari Mas Dar adalah keautentikan dirinya. Puisi Mas Dar itu autentik. Tidak ada puisi di seluruh dunia yang seperti puisinya Mas Dar. Puisi sing “ngawur” sak penake dewe. Dinikmati dewe. Dan, melodius.”

Dulu, Cak Nun kerap membacakan puisinya Pak Dar yang berjudul “Main Cinta Model Kwangwung”. Puisi itu kerap menemani Cak Nun ketika masa-masa awal pemanggungan puisi baru dimulai. Beliau sangat hafal model estetika berpuisi Pak Dar. Puisi-puisi Pak Dar identik dengan campuran bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Belanda. Bentuk puisinya juga lebih banyak berupa dialogis. Makanya, ketika puisi-puisi Pak Dar itu dibacakan kita seperti mendengar cerita yang mengandung satire, humor, ironi dan sindiran.

Menyambung uraian Cak Nun tentang puisinya Pak Dar. Sutanto Mendut mengatakan bahwa penggunaan bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, Belanda dan lainnya dalam puisinya Pak Dar. Itu seperti menghilangkan polarisasi yang asing dan tidak asing. “Polarisasi pribumi-non pribumi sudah tidak berlaku di puisinya Darmanto. Dia sering menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak dipaksakan.”

Jauh sebelum kita memerkarakan soal identitas pribumi dan non pribumi. Atau ketika pemerintah sering memberi peringatan kemunduran bahasa Indonesia karena gempuran bahasa asing. Pak Dar dengan estetika puisinya sudah meramu pelbagai bahasa asing di puisinya. Bahasa-bahasa itu seperti bercakap-cakap mewakili budaya masing-masing. Sekat yang asing dan lokal tersamarkan berkat kemulusan dialog yang terjadi. Alih-alih mencurigai hal-hal yang berbau asing. Pak Dar malah meramunya dengan unsur lokal dalam satu bentuk karya puisi. Sutanto Mendut melanjutkan:

“Sebenanrya dia adalah salah satu penyair yang sangat berguna sebagai mesiu. Puisinya bisa mencuci kalimat-kalimat politisi yang penuh janji.”

Pada 16 Agustus 1942 bayi bernama Darmanto Jatman lahir di Jakarta. Pekerjaan “memaksa” orang tuanya berpindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Jadilah mereka keluarga Jawa yang tinggal di ibukota. Mengikuti jejak orang tuanya, pekerjaanlah yang membuat Pak Dar berpindah ke Semarang. Pada masa-masa menjelang pensiun sebagai pengajar di Undip. Beliau sudah memimpikan masa tua tinggal di Yogyakarta. Tapi tampaknya Pak Dar mengoreksi keinginan itu. Beliau selama sebelas tahun sakit tetap tinggal di Semarang. Hingga pada tanggal 13 Januari 2018 Tuhan memanggilnya.

Selama hidupnya Pak Dar gampang bergaul dengan semua orang. Makanya, banyak yang datang bertamu ke rumahnya saat beliau sehat. Banyak yang datang menjenguk saat beliau sakit. Banyak yang datang melayat saat beliau wafat. Dan, seminggu setelah Pak Dar tiada lagi, banyak yang datang memeringati kepergiannya. Di penghujung acara Cak Nun mengatakan,“Ide kita adalah bagaimana Mas Dar itu tidak mati. Bagaimana Mas Darmanto selalu hadir dengan formula-formula yang kita selenggarakan bersama”. Beliau menginginkan harus ada tindak lanjut setelah acara ini.

Tindak lanjut yang paling realistis diwujudkan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama adalah menghimpun tulisan dari semua orang yang mengapresiasi ketokohan dan karya intelektual Pak Dar. Penghimpunan itu akan menjadi bukti bahwa Pak Dar belum berakhir. Setelah sempat gagal karena sedikit yang menulis. Kini saat yang tepat untuk mewujudkannya. Pak Dar menulis dan memang pantas ditulis.


Muhammad Yunan Setiawan
Bergiat di Kelab Buku Semarang. Selain aktif di komunitas itu, aktivitas lainnya adalah menjadi muazin “part time” di musala Alharomain
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara