14 Feb 2017 Hamdy Salad Sosok

"Barang siapa menolak eksistensi Tuhan, ada sifat dalam dirinya untuk berubah menjadi Hantu."

Membaca kembali Kuntowijoyo, mengingatkan saya pada baris puisi Ilya Abu Madhi, penyair Libanon yang melanglang buana di Amerika. Katanya: hayaty fil maghrib ma’al jasady, hayaty fil masyriq ma’ar-ruhy. Sungguh, hanya dengan jasad aku hidup di negeri Barat, tetapi di Timur, di negeriku sendiri, aku hidup dengan penuh seluruh, dengan ruh semesta yang abadi.

Demikianlah nyatanya, sepanjang jejaknya sebagai cendekiawan, Kuntowijoyo telah mengajak kita untuk terus bergerak menundukkan teori, ilmu dan metode-metode Barat ke dalam nalar budaya Timur. Atau sebaliknya, mengilmukan sisik melik pengetahuan Timur dengan menggunakan nalar budaya Barat. Sehingga apa itu yang disebut ruhani, substansi realitas, spiritualitas, transendensi dan keimanan, dapat diberi makna baru sebagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun rupanya, pemikiran juga perlu kendaraan, perlu kaki dan kuda-kuda untuk sampai pada tujuan. Membaca kembali pemikiran Kuntowijoyo, seakan kita membaca masa depan Indonesia yang sedang berhenti di stasiun, di terminal, di ruang transit bandara, di kampus-kampus, di masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya. Sampai-sampai kita pun lupa untuk menjemput dan memerjalankannya di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini. Bahkan kita pun nyaris tak peduli pada apa-apa yang pernah terjadi di masa lalu, dan apa-apa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang.

Dalam kurun waktu yang panjang, sejak manusia dilahirkan ke muka bumi, dan kemudian berkembang menjadi komunitas-komunitas budaya, suku dan bangsa, peran-peran kebajikan, keadilan dan kebenaran senantiasa hadir di tengah masyarakat. Akan tetapi, semua itu mesti berhadapan dengan aparat kejahatan yang beroperasi secara sistematis melalui praktik-praktik penindasan dan perbudakan. Sebagaimana dilukiskan dalam lembaran kitab-kitab suci, aparat-aparat kejahatan telah dicatat sebagai amsal dari kepribadian para penguasa yang cacat. Sedangkan tokoh-tokoh kebajikan diwakili oleh manusia utusan Tuhan, yang disebut dengan Nabi. Dan semua nabi yang kita kenal, dari Adam sampai Muhammad, telah dinyata sebagai pemimpin agung yang bertindak secara revolusioner untuk membebaskan jiwa dan sosialitas manusia dari praktik-praktik kebudayaan yang menyesatkan, dan kemudian membimbingnya menuju rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Dan itulah intisari pemikiran Kuntowijoyo. Pemikiran sepenuh akal dan budi, sepenuh jiwa dan hati, guna mencairkan ilmu dari buku-buku yang telah membatu. Untuk membersihkan segala pengetahuan yang telah dicampur dengan rasa dendam, iri dengki dan kekuasaan. Sejajar dengan nilai-nilai yang ditebar oleh kitab-kitab suci, betapa pentingnya pemikiran semacam itu bagi setiap manusia, komunitas sosial dan agama untuk menjangkau segala ikhwal yang melingkupi semesta budaya, semesta alam sejarah maupun alam paska sejarah. Sebentuk jangkauan budaya terjauh yang menjadi cita-cita umat beragama, yang kemudian diberi nama—budaya profetik. Secara substansial, terminologi budaya profetik tersebut dapat kiranya disandingkan dengan istilah—waratsatul anbiya. Intisari budaya yang diwariskan oleh para nabi.

Sebagai tercatat dalam ingatan kita, Kuntowijoyo telah memperkenalkan gagasan budaya profetik untuk pertama kalinya dalam Temu Sastra 1982 di Taman Ismail Marzuki. Dalam forum itu beliau menyatakan: “Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental. Oleh karena tampak aktualitas tidak dicetak oleh ruh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial dan kekuasaan, maka kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata konkret dan empiris yang dapat ditangkap indra kita. Kesaksian kita pada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian lahiriah yang sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri dari aktualitas, dan kedua, membebaskan diri dari peralatan inderawi.”

Empat tahun kemudian, di tempat yang sama, gagasan budaya profetik itu dipertegas lagi dengan jangkauan yang lebih jauh. “Di tengah perkembangan sosial dan budaya material yang akut, manusia perlu menyelamatkan diri dengan berpegang teguh pada etika profetik. Karena itu, kebudayaan kita mesti berakar di bumi sekaligus berakar di langit.”

Setelah itu, hampir dalam setiap periode selanjutnya, tak putus-putus beliau menulis, memperbarui dan menyempurnakan gagasan budaya profetik itu sampai akhir hayatnya. Bahkan, sampai sehari sebelum malaikat Izrail menjemputnya. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu mengunggah gagasannya itu untuk disesuaikan dengan perkembangan teori-teori ilmu modern maupun postmodern, sekaligus mendasari dan meleburkannya ke dalam kaidah ilmu-ilmu agama. Berulangkali disebutkan dalam buku dan eseinya, bahwa gagasan budaya profetik merupakan amanat dari bagian tafsir ayat suci Alquran (Qs. 3:110). Sehingga dengan itu, unsur-unsur pokok budaya profetik tak bisa dipisah dengan tiga dimensi yang tersurat di dalam ayat tersebut, yaitu: amar makruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan tukminu billah (transendensi). Dimensi amar makruf, memiliki muatan untuk memanusiakan manusia sesuai dengan latar sosial dan budaya. Dimensi nahi munkar, mengandung perjuangan untuk membebaskan manusia dari penindasan dan perbudakan sistem budaya yang sedang terjadi. Dimensi tukminu billah, mencakup daya perlawanan kreatif dan intelektual, sekaligus merujuk pada bentuk-bentuk perlawanan budaya yang bersifat religius dan spiritual.

Di tengah perubahan dan perkembangan sosial terkini, ketiga dimensi budaya profetik itu terasa penting untuk diaktualisasi. Bukan saja sebagai jalan untuk meningkatkan penghayatan manusia terhadap sifat dan ide-ide ke-Tuhanan, wahyu suci dan kenabian yang nyaris dihilangkan dari batok kepala, tapi juga laik diberdayakan sebagai jalan merekonstruksi budaya di sekitar kita. Lebih dari itu, kita pun perlu melekatkan budaya dan etika profetik itu sebagai cermin di dinding jiwa, sebagai layar proyeksi untuk melihat diri dan peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.

Hampir setiap hari kita saksikan, betapa proses-proses subordinasi agama dalam kebudayaan telah dijadikan alat untuk menjerumuskan manusia ke dalam ruang kebebasan tanpa pagar. Sehingga logika-logika metafisika dalam setiap diri seakan lenyap entah ke mana. Bahkan dalam pergolakan ideologi dan politik hari ini, rupa-rupa kaidah agama telah dicacah sekaligus dijadikan umpan untuk memancing pertengkaran di sungai keruh kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Maka itu, kita kini mesti yakin dan percaya, bahwa setiap orang yang mengaku beragama, memiliki tanggung jawab yang sama untuk membebaskan kawasan jiwa manusia dari sampah politik, dari limbah sosial dan ekonomi, dari getah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga kita semua, baik dalam eksistensinya sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga kebudayaan dunia, masih berdaya untuk berpikir secara arif dan bijaksana. Masih mampu berikhtiar untuk menghayati citra-citra keimanan dan kemanusiaan, kebenaran, kebaikan dan keindahan, sebagaimana berulangkali ditegaskan Kuntowijoyo baik dalam kapasitasnya sebagai cendekiawan maupun sebagai sastrawan.

Seperti diketahui bersama, Kuntowijoyo telah diberi lencana sebagai salah satu dari sedikit tokoh intelektual Indonesia yang memiliki pandangan holistik, lengkap dan utuh terhadap masalah-masalah keilmuan, keagamaan dan kebudayaan. Dan semua pandangan itu telah dituangkan melalui disiplin bidang sejarah yang disandangnya. Beliau juga telah merumuskan kisi-kisi paradigma profetik di bidang ilmu-ilmu sosial dan politik, di bidang seni dan kesusasteraan, serta signifikansinya dengan perkembangan pemikiran di indonesia maupun di tengah perubahan arus kebudayaan dunia.

Melalui karya-karya akademis dan kreatifnya, biografi dan popularitas Kuntowijoyo bukan saja ditempatkan sebagai sejarawan, tapi juga dinisbahkan sebagai budayawan dan sastrawan, sekaligus dinobatkan sebagai tokoh cendekia yang mampu menyeluk jauh ke dalam substansi ajaran keagamaan. Keterlibatan pemikirannya dalam ranah teoretis, strategi dan metodologi, serta kemungkinan-kemungkinan praksisnya untuk bisa diadaptasi ke dalam mobilitas sosial dan politik, dapat ditelusuri jejaknya dalam berbagai buku esei dan karya sastra yang telah dilahirkan. Melalui karya-karyanya pula, kita semua senantiasa diajak untuk memperbaiki diri dan lingkungan sosial dengan cara melakukan interpretasi, refleksi dan aksi. Sehingga apa-apa yang kita lakukan memiliki fungsi untuk mengarahkan, mendorong, serta mengubah dan merekonstruksi realitas sosial sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang diwariskan oleh para nabi.

Demikianlah kiranya, sejak mula sampai akhir hayatnya, Kuntowijoyo tak pernah lelah mengingatkan kita melalui karya esei, puisi, cerita pendek, novel dan naskah drama. Dalam bahasa kekinian, status-status Kuntowijoyo dapat diringkas dengan lugas. Barang siapa menolak otoritas wahyu suci yang diterima para nabi, akan terpaksa menerima otoritas lain dari para kuasa yang bukan nabi. Barang siapa menolak eksistensi Tuhan, ada sifat dalam dirinya untuk berubah menjadi Hantu. Menjadi makhluk zombi di jagad nyata maupun di jagad maya. Menjelma drakula di jejaring sosial media maupun di dalam lembaran buku-buku yang sedang kita baca.

Yogyakarta, 12 Februari 2017

 

* Naskah dibacakan di panggung Literasi festival MocoSik.


Kredit Gambar : http://2.bp.blogspot.com
Hamdy Salad
Sastrawan kelahiran Ngawi. Menulis puisi, prosa, dan naskah drama. Beberapa karyanya adalah Sebuah Kampung di Pedalaman Waktu (novel), Rubaiyat Sebiji Sawi (puisi), dan Tasbih Merapi (puisi).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara