Pada awal tahun 2011, sebuah penerbit berdiri, namanya Omah Ilmu -- "A little Studio of Knowledge". Di masa itu, penerbit yang hanya menerbitkan novel ini sudah menyadari manfaat media sosial, seperti Facebook, untuk menginformasikan produk.

PERTENGAHAN TAHUN 2010, dengan berat hati saya meninggalkan tempat kerja yang lama. Dengan melakukan hal itu pada dasarnya sama juga dengan saya meninggalkan segala fasilitas dan kemapanan ekonomi yang selama ini saya miliki.

“Gila, banyak teman mulai berpikir meninggalkan bisnis ini. Kok sampeyan malah memasukinya’. Kira-kira seperti itulah komentar dari banyak teman mengenai tindakan saya tersebut.

Beberapa di antara mereka menanyakan perihal tindakan saya selanjutnya setelah saya meninggalkan Toko Buku Togamas. Terhadap mereka ini saya menjawab bahwa saya akan mendirikan penerbitan.

Ide untuk mendirikan penerbitan memang mendadak muncul dalam pikiran saya. Saya sendiri tak tahu apakah itu adalah tanda kebandelan atau kesoktahuan saya, yang jelas jika saya memutuskan untuk tetap berada di dunia buku, maka itu disebabkan saya sudah terlanjur menyintai dunia itu.

Lucu juga sebenarnya jika mengingat momen 15 tahun yang lalu. Saat itu saya baru saja lulus S1. Bapak saya demikian terperanjat ketika masuk ke kamar saya, beliau berkomentar: “Hai, Sarjana! Kok hanya segitu buku-buku yang kamu punya? Sarjana macam apa kamu?”

Inilah mungkin salah satu contoh nyata bahwa jalan hidup seorang manusia itu tak bisa ditebak. Saya yang sempat dikomentari bapak karena memiliki sedikit buku, pada akhirnya menempuh kehidupan di dunia buku.

Dengan memilih tetap di dunia buku saat itu, saya memiliki tiga pilihan. Pertama, di ranah retail. Kedua, di ranah distribusi. Ketiga, di ranah produksi.

Pada ranah retail, pilihan yang ada adalah membuka toko buku sendiri. Ada sebenarnya pilihan lain akan tetapi itu sama dengan yang saya lakukan sebelumnya: kerja di toko buku.

Sayangnya, saya tidak berani membuka toko buku sendiri. Saya tak pasti penyebabnya, akan tetapi bisa jadi karena saya membayangkan keruwetan yang akan saya hadapi, atau bisa jadi karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Pada akhirnya, pilihan yang satu ini tidak menjadi pilihan saya.

Sementara itu, ranah distribusi tak menarik bagi saya. Penyebabnya sederhana: porsi yang disediakan oleh ranah ini lebih tentang manajemen dan marketing semata, sementara porsi seputar pergulatan gagasan di ranah ini kecil.

Ranah ketiga adalah produksi. Pilihan di ranah ini ada dua: menjadi penerbit, atau menjadi penulis.

Ranah ketiga inilah yang kemudian menurut saya lebih menjanjikan banyak mimpi indah tentang kebahagiaan batin. Walaupun tak bisa disangkal pula bahwa bayang-bayang sisi kebahagiaan ekonomi banyak yang nampak mulai meragukan dan menyeramkan.

Pada akhirnya keputusan bulat pun saya ambil: menjadi penerbit. Dengan memutuskan seperti itu, pada saat yang sama saya mengesampingkan dulu mimpi untuk menjadi penulis. Untuk sementara.

*

Pada awal tahun 2011, akhirnya berdiri juga penerbit saya. Saya memberinya nama Omah Ilmu—A little studio of knowledge. Maksud “berdiri” di sini sangat sederhana, yakni bahwa penerbit Omah Ilmu sudah mulai beranjak dari ranah teoretis ke ranah praksis.

Pertama-tama, nama dan logo penerbitan sudah jadi. Selanjutnya, pilihan jenis buku yang akan diterbitkan pun sudah pasti: novel. Cara penjualan juga sudah digariskan, yaitu memaksimalkan pre-order melalui ultimate offer (penawaran utama) kepada market trigger (penggerak pasar) agar menjadi first user (pembeli pertama).

Sebagai tambahan, saya memberikan nama ciptaan sendiri untuk alur penjualan tersebut, yakni an epidemic marketing magic, sihir marketing yang epidemik. Saya pikir siapapun akan setuju bahwa itu adalah sebuah nama yang sangat keren.

Satu masalah yang lalu timbul pada saat itu adalah ini: naskah belum ada, dan saya belum tahu juga harus mencarinya ke mana.

Sementara itu perihal kantor, pada awalnya saya berkantor di rumah. Setidaknya dengan demikian saya bisa menghemat biaya. Akan tetapi lama kelamaan saya ingin juga seperti teman-teman penerbit lain, punya kantor sendiri.

Meskipun demikian, saat saya mengingat-ingat lagi kini, sebenarnya penyebabnya bukan itu, melainkan lebih karena saya capek ditanya oleh anak-anak saya yang berbingkai moralitas sosial. Ketika mereka pulang sekolah selalu bertanya, “Pa, nggak kerja tho? Kok masih di rumah”.

Begitulah, maklum anak mantan pegawai.

Akhirnya saya menemukan tempat dengan harga sewa yang murah. Lokasinya di Taman Kuliner Condong Catur. Ada sisi-sisi yang menyenangkan dari kepemilikan kantor ini, misalnya, selain bisa ‘terlihat’ kerja beneran, juga bisa bebas tidur, tidak ada yang mengganggu. Apalagi waktu itu belum ada omset atau hutang, masih bebas finansial.

Setelah itu, lahirlah novel pertama yang diterbitkan Omah Ilmu, bekerja sama dengan Penerbit Ombak, berjudul INFINITUM – Apakah Di ujung Pertemuan, Semua Kisah Berakhir atau Berulang. Jangan menangis karena aku tiada. Menangislah karena air mataku ada di air matamu.

Saya senang sekali menyambut kelahiran novel ini. Penyebabnya karena isi novelnya sangat mencerminkan diri saya. Saya pun merasa yakin dan percaya diri untuk menjual buku pertama Omah Ilmu ini.

Saat itu awal tahun 2011, seingat saya ‘cuap-cuap’ di Facebook untuk jualan buku belum selazim sekarang. Atau bisa dikatakan bahkan belum ada yang melakukannya. Tapi saya sudah menjalaninya.

Saya waktu itu sudah melihat media sosial berpotensi menjadi media baru yang efektif dan efisien untuk menginformasikan produk kepada pasar. Saya terinspirasi buku The Tipping Point-nya Malcolm Gladwell tentang fenomena jejaring yang mampu menimbulkan epidemi.

Hasilnya memang membahagiakan. Dari facebook, saya bisa mendapatkan pre-order sebelum buku masuk toko buku sebanyak 153 eksemplar. Bagi saya angka itu cukup bagus, apalagi jumlah teman saya di facebook waktu itu masih sekitar ratusan.

Alasan menjatuhkan pilihan penetrasi kepada market trigger sebagai first user, karena mereka mampu membantu mengerakkan pembeli-pembeli lainnya. Rasionya, 1 market trigger berpotensi menggerakkan 3 orang lain di sekelilingnya. Namun, mereka harus menjadi first user terlebih dahulu. Untuk ‘memaksanya’, saya menciptakan ultimate offer program, yaitu selain diskon spesial juga beli 3 gratis 1 sebelum buku terbit.

Saya memang rela mengorbankan marjin untuk penjulan kepada market trigger. Karena jika mereka berhasil kita jadikan sebagai first user, maka merekalah nantinya yang akan menggerakkan pembaca-pembaca lain. Asalkan, secara psikologis, jangan berikan gratis tapi special price for special person, harga spesial untuk orang spesial.

Lalu saya juga membuat video promo, bekerja sama dengan Adipati Genk Kobra, menggunakan lagu mereka yang berjudul ‘...Cinta’ dan ‘Takkan Lelah’. Bintang videonya, maunya sih Adjie Massaid, tapi karena mahal, diganti oleh Arif ‘Massaid’ Doelz. Lalu diunggah ke youtube juga. Kalau ditotal dari semua yang terunggah, ada 5.000-an penayangan.

Program pre-order, membidik market trigger, first user, lalu video promo, semua saya jalani karena waktu itu dari cerita teman-teman penerbit saya tahu bahwa rata-rata buku baru relatif terlambat diketahui oleh pembaca. Banyak buku baru di toko buku belum maksimal diketahui kehadirannya oleh pembaca, tetapi sudah diretur dari toko buku.

Dengan adanya masalah seperti itu, perlu dicari cara supaya jauh hari sebelum buku terbit sudah harus dipublikasikan. Atau dengan kata lain, periode promo diundur sejauh mungkin dari kehadiran buku di outlet, tempat penjualan.

Lalu, setelah itu lahir novel kedua dan ketiga. Yaitu novel Pusparatri – Gairah Tarian Perempuan Kembang. Dan ketiga, Novel Syuga Sonyaruri – Asmara Ibu Nyai, setiap hari cinta, selebihnya luka. Untuk dua novel ini, penerbit Omah Ilmu bekerja sama dengan Penerbit Pustaka Sastra LkiS.

Sayangnya, berbeda dengan novel pertama, untuk novel kedua dan ketiga ini saya sudah tidak begitu fokus mempromosikannya. Saya mulai sibuk dengan godaan-godaan urusan lain. Intinya, saya menjadi tak fokus dan tak tekun mengurus penerbitan yang sudah saya dirikan.

*

2012 – sampai sekarang.

Akhirnya penerbitan saya berstatus non-aktif. Tak ada judul yang diterbitkan lagi. Tak ada lagi modal yang tersisa. Apalagi waktu itu belum ada sistem POD (print on demand). Artinya, penerbitan buku hanya bisa dilakukan dengan tiras ribuan eksemplar dalam satu kali cetaknya.

Mungkin ada pertanyaan yang muncul, misalnya, apa yang menyebabkan penerbit saya tidak jalan? Apa karena memang industri buku saat itu sedang terbenam?

Jawabannya, khususnya dalam kasus saya, bisa ya, tapi bisa juga tidak. Saya sendiri memilih jawaban ‘tidak’. Alasannya sederhana: saya belum terbukti ‘kalah’ oleh industri, tapi penerbit Omah Ilmu jatuh karena saya tak setia merawatnya.

Ibaratnya secara sastrawi, Omah Ilmu baru tahap terluka belum terbunuh. Luka itu sendiri bukan disebabkan oleh sayatan pasar atau tusukan rendahnya minat baca, melainkan karena saya tak pernah menyintainya dengan sungguh.

Saya tetap yakin dunia buku tetap prospektif, hanya saja saya belum menemukan titik keseimbangan baru, setelah selama 10 tahun terakhir terombang-ambing dalam perahu di samudera aturan permainan industri yang oportunistik.

Sejujurnya, keyakinan saya semacam ini memang sangat subjektif. Keyakinan dari seorang yang naif dalam menyintai buku.

Akan tetapi, bukankah istikamah pada satu hal adalah lebih baik dari seribu karamah? Begitu yang saya yakini selama ini, dan itu pulalah alasannya mengapa luka ini tak ingin saya sembuhkan.


Arif Doelz
Arif Doelz adalah konsultan toko buku. Salah satu penggagas Kampung Buku Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara