Bayangkan sebuah buku yang ditulis seorang dokter gigi sekaligus pengagum John Lennon. Bayangkan sebuah buku yang bisa bernyanyi sambil membahas orthodonsi.

MUSIK tak hanya menghentak lewat nada, ia juga bersuara lewat buku. Buku melengkapi pesan para musisi yang tak sempat tercakapkan. Satu lagu ditafsir dengan macam-macam pandangan. Tafsiran dituliskan, dikembangkan, bahkan hingga melampaui pesan para penulis lagu.

Membaca buku berarti mendengarkan musik. Setidaknya seperti itu perasaan saya ketika membaca buku Imagine John (2015) anggitan Dhihram Thenrisau yang diterbitkan Kedai Buku Jenny, penerbit indie dari Kota Makassar. Buku bersampul merah, dengan potongan sorot mata John Lennon serasi dengan judul buku.

Imagine John berisi kumpulan esai Tesa—sapaan akrab Dhihram Tenrisau—yang berjumlah 37 tulisan. Esai-esai dipilih dari beberapa tulisan kisaran tahun 2008 hingga 2015. Esai hadir dan berbicara banyak hal. Tema-tema seputar politik keseharian, kesehatan, organisasi kemahasiswaan, hingga sastra dan agama ditulis dengan bahasa yang santai dan segar.

Tesa bukan pembaca yang malas. Setiap tulisannya penuh dengan referensi buku. Imagine John sebenarnya mirip dengan buku kumpulan esai yang lain. Namun, yang menarik dari Imagine John, referensi buku bersanding mesra dengan kutipan dan sedikit tafsir lagu-lagu.

Dari judul buku, kita bisa menebak jika Tesa gandrung dengan seorang musisi. Sebutlah ia John Lennon. John ibarat candu. Proses kreatifnya mencipta musik menginspirasi banyak orang di muka bumi. Kualitas musiknya apik. Pesan-pesan dari lirik lagunya ciamik. Kekuatan instrumen nada tak berselisih dengan menawannya pilihan kata-kata. Hidup di masa kerasnya polemik perang dingin, membuat John Lennon menjadi musisi yang tidak apolitis. Ia protes dan menggugat lewat gaya hidup dan lagu. Lirik lagunya menyiratkan pesan-pesan kemanusiaan, perlawanan, dan anti terhadap perang. John Lennon pantas dikagumi. Maka tak salah jika Tesa takzim dan memutuskan mengambil salah satu judul lagu musisi legendaris itu sebagai judul buku. Tesa sempat mencatat beberapa kisah tentang John Lennon pada esainya yang berjudul sama dengan judul buku, “Imagine John” (hlm. 63).

Tulisan dalam buku Imagine John berinduk lagu. Beberapa esai menjadikan kutipan lagu sebagai ruh. Jika buku mampu menjadi obat untuk kebodohan, lagu pun begitu. Lagu, menurut Tesa, ialah “obat imaji kebebasan bagi kaum muda yang mengalami tekanan sosial” (hlm. 64).

Buku-buku mampu membebaskan pikiran. Lagu mampu membawa semangat menjalani hidup. Ini yang membuat buku Imagine John tampak keren. Tesa mempertemukan dua obat ajaib umat manusia, buku dan lagu.

Dalam sejarah panjang umat manusia, tak berlebihan jika menganggap buku dan lagu merupakan penemuan tercanggih. Buku dan lagu menjadi tak terpisah ketika menemukan momentumnya. Dua hal itu digunakan sebagai alat perlawanan. Saya ingat bagaimana Buku Das Kapital karya Karl Marx dihadirkan beriringan dengan lagu Internasionale. Buku membekali nalar, lagu menggugah jiwa. Hasilnya, pada suatu masa yang aktual, buku dan lagu menjadi penggerak buruh dalam perubahan sosial.

Lagu melahirkan buku. Buku melahirkan lagu. Selain sebagai penulis, Tesa yang saya tahu, juga merupakan seorang “anak band”. Sebagai seorang yang banyak bergelut di dunia musik, Tesa juga menulis lagu untuk album bandnya yang bernama Clementine. Album lagunya diberi judul “Mahamaya”. Album lagu yang lahir dari buku, membawa ingatan saya pada satu band legendaris, Pink Floyd. Album “Animals” berisi lagu bertema kritik. Inspirasinya berasal dari novel satir berjudul Animal Farm karya George Orwell.

Berdasarkan pengakuannya, dalam menulis lirik lagu, Tesa terisnpirasi dari buku-buku yang telah ia baca. Tesa menggemari kajian terkait Cultural Study. Maka esai dalam buku Imagine John dan lagu-lagu yang ia tulis, tak jauh dari diskursus itu. Tulisan membincang Cultural Study, salah satunya bisa kita lihat dalam esai yang berjudul “Orthodonsi Sebagai Hiperrealitas Estetika” (hlm. 76).

Dalam esai ini Tesa mengulas fenomena maraknya penggunaan kawat gigi. Awalnya kawat gigi digunakan untuk memperbaiki susunan dan tingkat kepresisian letak gigi, namun belakangan, kawat gigi beserta hiasannya malah menjadi sekadar simbol kecantikan dengan mengabaikan fungsi awalnya. Dalam esai itu, Tesa menggunakan teori simulakra dari Jean Baudrillard sebagai pisau analisis.

Lagu dan buku sastra berteman akrab. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu media daring pada 12 Januari 2016 (www.damniloveindonesia.com), Eka Kurniawan mengatakan, “Selera musik saya nggak jauh dari selera generasi 90-an: Guns N’ Roses, Nirvana dan Pearl Jam. Saya juga mendengarkan musik dari The Rolling Stones, Queen, Led Zeppelin, Genesis, Toto.”

Lagu-lagu karya musisi luar negeri menjadi teman bagi Eka dalam menambah inspirasi menulis buku Cantik Itu Luka. Kita juga bisa menyebut nama Haruki Murakami sebagai sastrawan yang menjadi penghulu antara sastra dan musik. Untuk itu Murakami menulis novel kolaborasi berjudul Absolutely on Music bersama Seiji Ozawa.

Membaca Imagine John membuat saya berpikir lebih terbuka. Banyak sekali sebenarnya hal yang bisa dieksplorasi. Tulisan bergandengan dengan lagu. Beberapa penulis, termasuk Tesa melakukannya dengan mempertemukan buku dan musik. Namun, ada sedikit catatan di balik kesegaran Imagine John. Persoalan tata letak buku, barangkali harus diperbaiki jika ingin diterbitkan kembali. Jarak antar kata dan kalimat terlihat sangat rapat. Pembaca tak memiliki ruang yang lengang ketika membaca buku.

Buku sama halnya dengan lagu. Satu saja nada yang salah, maka akan sangat menganggu bagi telinga yang mendengarkan. Buku Imagine John dengan tata letak yang kurang rapi, tak hanya mengurangi imaji dan kesegaran, tapi juga terkesan berkontradiksi dengan esai yang menyiratkan pesan-pesan kesehatan. Saya pikir, Tesa, sebagai seseorang yang juga terjun langsung di dunia kesehatan, tak menginginkan pembaca bukunya jatuh sakit dan tak bisa berimajinasi seperti John Lennon, panutannya.


Muhammad Mario Hikmat Anshari
Mahasiswa FKM Universitas Hasanuddin. Tergabung dalam komunitas Cafe Dialektika.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara