Aksara, toko buku yang menampilkan lanskap unik, oase bagi mereka yang bosan dengan lanskap toko buku biasa. Kabar buruknya, kini toko buku ini menjadikan buku bukan jualan utamanya.

ADA rasa suwung di dada ini, ketika jaringan toko buku Aksara mengumumkan tutup per 15 April 2018. Jujur, saya kehilangan walaupun tak bisa disebut pelanggan setia mereka. Saya lebih sering cuci mata saja saat mampir, dibanding benar-benar membeli buku, CD, atau pernak-pernik lucu di sana. Mentalitas konsumen macam saya ini, barangkali, yang berpengaruh terhadap problem keuangan Aksara.

Bagaimanapun, Aksara punya tempat khusus di hati. Beberapa buku penting untuk proses pengerjaan skripsi saya dapatkan di cabang Cilandak Town Square. Saat mengenal Aksara pertama kali, saya masih mahasiswa kere yang bekerja serabutan di Yogyakarta. Tapi saya memperhatikan kiprah toko buku ini dari media sosial. Termasuk album-album rilisan label mereka.

Aksara, seperti Kinokuniya, adalah alasan saya semasa kuliah dulu ingin mendatangi Jakarta. Yogyakarta tidak kekurangan buku sebetulnya. Namun buku yang saya idamkan—novel grafis, kajian film, komik impor Amerika Serikat, sampai beberapa judul penting sastra dunia—cukup sulit diperoleh. Barangkali karena harganya tidak masuk di kantong mahasiswa.

Di Aksara dan Kinokuniya, judul-judul idaman yang saya bayangkan hanya terdapat di luar negeri, ternyata bisa kita timang-timang. Begitu pula koleksi CD band-band keren (menurut saya tentunya) yang perlu perjuangan ekstra untuk mencarinya, di Aksara tergeletak di beberapa rak sekaligus.

Saya membayangkan, betapa beruntung mahasiswa atau anak muda Jakarta, punya toko buku keren semacam ini. Bukan sekadar toko buku, namun juga pusat kebudayaan alternatif. Baru beberapa tahun kemudian, saya menyadari jaringan Aksara punya cap sebagai tokonya anak hipster. Dan saya tertawa: barangkali saya dulu hipster, tapi belum punya cukup uang.

Ketika akhirnya ditugaskan liputan ke Jakarta pada tahun 2008, saya tak menyia-nyiakan kesempatan main ke Aksara dan Kinokuniya, untuk pertama kalinya. Saya serasa kembali ke masa kecil dan masuk toko mainan serba ada.

Ketika saya terlibat proyek berbayar pada tahun 2010, separuh gaji kala itu saya belikan buku di Aksara. Termasuk novel-novel Cormac McCarthy yang akhirnya saya jadikan bahan utama tugas akhir kuliah.

Setahun kemudian saya bekerja di Jakarta. Kota yang, seperti perasaan banyak alumni Yogya lain, agak saya benci. Masa-masa awal merantau, ada beberapa hal yang belum bisa terdamaikan antara saya dan ibu kota. Mampir ke Aksara menjadi salah satu komprominya. Sekali lagi, tak selalu membeli. Datang dan melihat-lihat buku saja rasanya sudah cukup melipur rasa kesepian karena jauh dari keluarga dan teman-teman.

Kini, setelah nyaris sewindu hidup di Jakarta, kabar buruk itu datang. Aksara hendak mengubah bisnis meninggalkan buku (bukan jualan utama) menyisakan satu gerai saja di Kemang. Sejak awal bulan ini, seluruh cabangnya cuci gudang. Bahkan rak dan meja kayu dijual dengan harga korting. Saya baru sempat mampir malam ini, membeli yang tersisa. Nyaris tak ada apapun. Tinggal ada komik Superman, buku soal Beastie Boys, buku arsitektur, dan kaos yang syukurlah ukurannya pas. Barang-barang ini menjadi kenangan terakhir saya atas kiprah Aksara.

Apapun jalan yang mereka tempuh selanjutnya, saya mendoakan semoga berhasil. Terima kasih Aksara, sudah menemani dan memperkaya batin saya selama kesepian di masa-masa awal merantau ke Jakarta.


Ardyan M Erlangga
Journalist di VICE Indonesia
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara