SORE habis. Lampu-lampu menyala. Orang-orang berdatangan, disambut buku-buku tertata yang pada lima balok kayu. Aroma kertas memenuhi ruangan. Ngaostik dimulai. Itu yang keempat.

Ngaostik tepat sebulan lalu, Sabtu 14 April, jadi istimewa karena bertepatan dengan ‘pendak’ satu tahun sejak festival mini ini digelar pada April tahun 2017 silam. Ngaostik terwujud atas inisiatif bersama kawan-kawan dari komunitas penggerak literasi di Bojonegoro yang sebelumnya tak saling kenal. Selama satu tahun, kami menggelar ngaostik tiga bulan sekali. Tiap akhir pekan kami juga menggelar reading club di Taman Rajekwesi, mendaras paragraf demi paragraf novel Lapar karya Knut Hamsun. Novel itu kami baca sebanyak 3 sampai 5 paragraf setiap pertemuan. Nah, untuk menandai satu tahun kebersamaan kami di Ngaostik, kami menghadiahi diri dengan sebuah buku berjudul Cacing di Lorong Yargusec. Buku itu merupakan 20 cerpen karya para peserta lomba.

Cerpen Fantasi

Cacing di Lorong Yargusec bermula pada suatu malam di bulan Februari. Dian Wisnu, Wahyu Rizkiawan, Chusnul C, dan saya sendiri berkumpul di Kedai Cak Mad, tempat kawan-kawan Ngaostik biasa nongkrong sambil minum kopi. Kami ngobrol seperti biasanya dan di ujung obrolan muncul gagasan untuk bikin buku sebagai hadiah pendak satu tahun Ngaostik yang akan tiba sebentar lagi. Gagasan itu muncul dari Dian Wisnu. Rupanya sarjana perminyakan itu gelisah karena kawan-kawannya jarang menulis. Langkah cepat harus segera dilakukan agar kami sama-sama menulis.

Untuk memancing gairah kawan-kawan, Dian Wisnu usul untuk dibuatkan lomba. Kami bertiga sama-sama oke. Kami putuskan jenis karyanya adalah cerpen dengan genre fantasi. Semua boleh ikut lomba, tak terkecuali kami berempat yang tak lain adalah panitia. Panitia hanya bertugas mengoordinasi. Keputusan siapa yang jadi pemenang lomba dan mana saja karya yang harus masuk antologi sepenuhnya dipasrahkan ke juri. Panitia tidak punya kuasa apapun.

Agak ganjil memang panitia juga ikut lomba. Tapi kami mengabaikan keganjilan itu. Bukan lomba itu yang penting. Yang utama adalah kami bisa berkarya bersama dalam satu buku. Lomba hanya sarana. Hadiahnya tidak besar memang, tapi cukup membuat kami sama-sama bisa tertawa dan makin semangat. Itu sudah cukup. Hadiah itu dari sebagian rezeki Dian Wisnu yang kebetulan berlebih. Dia sendiri adalah kepala suku di Pemuja Alam Semesta, sebuah perkumpulan yang percaya bahwa alam semesta ini penuh keajaiban dan keindahan yang patut dipuja. PAS juga sepakat pada petuah seorang raja kepada Santiago dalam novel Sang Alkemis karya penulis Brazil Paulo Coelho:

“Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bahu membahu membantu untuk mewujudkan mimpi kita menjadi nyata.”

Kami sempat mengira kawan-kawan tidak antusias. Hanya muncul sedikit pertanyaan karena ketentuan genre tergolong sulit dan kurang keren. Sejenak kami merenung, memang itu benar. Terkesan kurang serius dan kekanak-kanakan. Tapi itu tidak sepenuhnya tepat. Genre fantasi adalah genre yang keren. Kita semua tahu bahwa banyak karya sastra fantasi yang mendominasi di dunia ini. The Lord of The Ring karya J.R.R. Tolkien adalah karya fantasi yang ditulis pada abad 17 tapi masih dibaca hingga sekarang dan mendapat sambutan baik saat difilmkan. Sejumlah karakter fiksi genre fantasi jauh lebih mudah menancap dalam ingatan ketimbang yang bukan fantasi. Karena itu menulis cerita fantasi sebenarnya lebih mengasyikkan. Ruang untuk mengembangkan imajinasi juga terbuka lebih luas. Hanya saja di Indonesia karya fantasi kurang mendapat tempat.

Tak dinyana, pengirim mencapai 28 orang. Itu cukup banyak untuk ukuran kami. Tentu saja kami bersyukur. Tiga terbaik ditentukan juri sebagai juara dan bersama 17 terbaik lainnya akhirnya dibukukan. Delapan yang tidak terpilih bukan berarti karya yang buruk. Sebenarnya kami merasa berat untuk tidak mengikutsertakan yang 8. Kami ingin menghargai kerja keras mereka dalam berkarya. Tapi apa boleh buat, sedari awal kami sudah mengumumkan hanya 20 karya yang dibukukan. Jumlah 20 itu kami tentukan sambil pesimis yang ikut serta tak bakal lebih dari 15.

Cacing di Lorong Yargusec

Buku itu akhirnya berjudul Cacing di Lorong Yargusec. Proses penentuan judul kami lakukan di rumah Chusnul C. Sambil minum kopi, kami diskusi cukup lama tentang judul. Biasanya untuk penentuan judul sebuah antologi diambil dari salah satu judul tulisan yang ada. Kebanyakan begitu. Tapi itu bukan satu-satunya cara. Nah kami memilih cara lain. Cara yang kami lakukan cukup ekstrem. Kami membuat judul dengan frasa yang tidak ada dalam buku. Kata cacing, lorong, dan yargusec tidak ada dalam teks cerita manapun dalam buku. Lebih-lebih kata Yargusec. Setahu kami, itu adalah kata yang belum ada dalam kamus bahasa manapun. Kami menciptakan lema itu bersama-sama. Kami iuran huruf hingga sampai jadi Yargusec. Saya kutipkan penjelasan Wahyu Rizkiawan dalam kata pengantar;

“…kami memutuskan mencari dua kata benda dan dua kata kerja. Seperti sebelumnya, dalam hitungan ketiga, kami serempak menulis kata-kata pilihan itu ke dalam grup WA secara bersamaan. Begini penampakan kata-kata itu: lorong, lari, lubang cacing dan menemui. Dari empat kata dan frasa itu, kami campur-adukkan  ke dalam adonan kata dan frasa yang sebelumnya sudah kami rajut.

Dari dua kali percobaan itu, kami mendapat sejumlah rajutan kata yang dijadikan embrio judul. Diantaranya; Cacing Berlari Menemui Lorong dan Puntung Rokok dan Batuk Pelamun. Sayang, dari dua rajutan kata ini, kami merasa masih belum puas untuk dijadikan judul cerita buku. Kami pun memutuskan “iuran” lagi. Tapi, bedanya, ini bukan iuran kata dan frasa, melainkan iuran suku kata: satu huruf konsonan dan satu huruf vokal.

Seperti percobaan pertama dan kedua, dalam hitungan ketiga, kami serempak menulis suku kata pilihan masing-masing ke dalam grup WA secara bersamaan. Begini penampakan suku kata- suku kata itu; Ry, Ga, Ce, Su.  Dari empat suku kata itu, kami aduk menjadi sejumlah kata. Diantaranya; surygave, cerysuga, surycega, rycegasu dan yargusec. Entah kenapa pilihan kami jatuh pada kata Yargusec secara serempak. Karena belum memiliki arti dan makna di bahasa apapun, kami pun memberi makna kata Yargusec sebagai: gembira, surga, kenyamanan hidup dan hal-hal yang mengingatkan manusia pada kebahagiaan.”

Kami mungkin akan mendapat banyak tanggapan berkenaan ulah kami meloloskan lema itu. Orang boleh pesimis kata Yargusec hanya berlaku pada judul buku ini saja dan akan segera dilupakan seiring dengan tenggelamnya buku itu dari pasaran. Itu tidak apa-apa. Tanpa bermaksud keras kepala, kami akan bertahan. Ini justru akan menguji cara kita memandang liyan. Kita kerapkali menaruh curiga dan memaksakan pamahaman diri sendiri kepada liyan atau segala sesuatu selain diri kita secara tidak bijak. Kita menganggap liyan adalah ancaman. Anggap saja kita sedang belajar untuk bersikap terhadap liyan. Kami ingin menyikapi liyan sebagaimana digambarkan dalam film Arrival (2017) karya Dennis Villeneuve. Liyan dalam film itu adalah para alien yang datang ke bumi untuk menyampaikan sebuah pesan perdamaian tapi justru ditanggapi oleh para makhluk bumi bahwa kedatangan mereka membawa ancaman. Para ahli bahasa didatangkan untuk berkomunikasi dengan alien untuk mengetahui maksud kedatangan mereka yang tentu saja tak bisa berbahasa Inggris. Seorang professor bahasa, Louis (Amy Adams) akhirnya bisa berkomunikasi dengan alien yang ternyata bermaksud memberikan bantuan kepada umat manusia di bumi.

Bagi kami sendiri, Cacing di Lorong Yargusec adalah sebuah persembahan untuk diri sendiri, semacam hadiah karena dalam setahun semangat kami masih bergelora. Kami tak punya ekspektasi apapun selain membahagiakan diri sendiri dan lingkungan sekitar kami. Kalau semua orang turut bahagia dan mendapat pencerahan, anggap saja itu sebagai bonus dari Tuhan.

Musik dan Buku

Barangkali kami mewarisi semangat Haruki Murakami, pengarang Jepang paling populer saat ini. Bagi Murakami, buku dan musik adalah hal yang paling menggairahkan dalam hidupnya. Dalam setiap karyanya, Murakami pasti memasukkan unsur musik. Membaca karya Murakami juga sekaligus mendengarkan musik. Nah, semangat Ngaostik juga demikian. Kami memadukan buku dan musik. Di setiap gelaran Ngaostik selalu kami sajikan buku dan musik. Alasannya pun sederhana, kami ingin membaca buku seasyik mendengarkan musik dan mendengarkan musik sekhusyuk membaca buku.

Ngaostik kali ini bertempat di dalam gedung Pusat Pengembangan Industri Kreatif (PPIK) di Jalan Veteran Bojonegoro. Gedung itu milik pemerintah. Ada 3 kelompok musik yang tampil; Black Swan, Saddex dan Mbah Jazz. Musik mereka menyulut gairah para pengunjung di sesi awal.

Buku-buku koleksi masing-masing komunitas kami tata di atas balok-balok kayu. Buku-buku itu jadi suguhan para pengunjung untuk dibaca atau sekadar ditimang-timang di tempat. Menimang-nimang buku akhirnya jadi aktivitas selain menggosok-gosok layar gawai.

Sesi berikutnya adalah penyerahan hadiah untuk juara 1, 2 dan 3. Para juara itu adalah Bagus Hendy Suardana (Varsha), Gadis yang Melintasi Galaksi (Chusnul) dan Miranti Nadya (Carmen). Ketiganya maju menerima hadiah berupa sejumlah uang, buku dan kaos.

Ngobrol Soal Penerjemahan

Sesi selanjutnya adalah ngobrol soal dunia penerjemahan sastra. Dua orang penerjemah berpengalaman hadir untuk berbagi cerita. Mereka adalah Janoary M. Wibowo dari Kota Cepu dan Cep Subhan KM dari Yogyakarta. Janoary banyak menerjemahkan karya-karya Italo Calvino, penulis asal Italia. Sedangkan Cep Subhan adalah penerjemah sajak-sajak karya penyair sufi asal Iran, Fariduddin Attar, berjudul Musyawarah Burung (Mantiq al- Thair).

Menurut mereka ruang untuk menjadi seorang penerjemah saat ini masih terbuka lebar. Banyak sekali penerbit yang menawari mereka untuk menerjemahkan sebuah karya dari luar negeri. Aktivitas menerjemahkan juga bakal menemukan keseruan. Seperti kata Janoary, setiap bahasa memiliki karakter yang berbeda. Apalagi bila dari rumpun bahasa yang berbeda. Seorang penerjemah bahkan bukan sekadar melakukan alihbahasa atau translasi, melainkan juga melakukan transkreasi. Di situ keseruannya.

Obrolan berlangsung sekitar 45 menit. Banyak cerita tentang pengalaman yang mereka bagi. Kami percaya tugas penerjemah adalah tugas mulia. Mereka membuat jembatan untuk dua peradaban suatu negara atau lebih. Paling tidak kita jadi bisa mengukur kualitas karya kita, membandingkannya dengan karya dari negara lain. Secara tidak langsung terjemahan juga menjadi jembatan bagi umat manusia lintas negara.

Malam semakin larut. Kami buyar. Di perjalanan pulang kami mendendangkan lagu-lagu tentang buku.


Mohamad Tohir
Perancang sampul buku di penerbit Nun Buku. Ikut menjadi kontributor buku Bodjonegoro Tempo Doeloe. Aktif di Komunitas Atas Angin.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara