Sastra populer adalah istilah yang pengertiannya masih selalu diperdebatkan. Dalam kekaburan pengertiannya itu perkembangannya tetap sangat menarik untuk menjadi tema diskusi.

PADA malam Kamis, 15 November 2017, kurang lebih seratus mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia berkumpul di ruangan Auditorium Kampus 2 UAD yang romantis. Mereka berkumpul bukan dalam rangka taaruf melainkan berdiskusi. Tema diskusi kali ini adalah ‘Posisi Sastra Populer dalam Wacana Kesusastraan Indonesia’ yang disampaikan oleh peneliti sastra populer, Cucum Cantini, alumnus sarjana Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Apresiasi Sastra (FAS) ini adalah agenda bulanan yang diadakan pada tanggal 15 setiap bulan. Tema diskusi biasanya beragam, terkadang bedah dan diskusi buku, terkadang diskusi teori dan perkembangan sastra di Indonesia. Sebagaimana biasa diskusi dimulai setelah Isya dari pukul 19. 00 – 21. 00 wib. Diskusi malam Kamis tersebut sudah memasuki edisi ke-73.

Dalam diskusi, metode yang digunakan bersifat formal, yaitu dimulai dengan pembicara menyampaikan materi terkait dengan tema. Pembahasan pada malam itu meliputi banyak hal, mulai dari sejarah sastra populer dalam kesusastraan Indonesia, perkembangan sastra populer saat ini, dan novel-novel populer yang terbit masa kini. Setelah pembicara menyampaikan materi, moderator—yang pada malam itu adalah saya—membuka sesi tanya jawab. Setiap penanya yang mengajukan pertanyaan akan langsung dijawab oleh pembicara. Dari sesi tanya jawab inilah muncul suasana diskusi yang santai dan segar.

Tema Sastra Populer sengaja dipilih sebagai tema diskusi karena tema-tema sastra populer dan produksi novel-novel populer saat ini sangat masif dan banyak  bak jamur di musim hujan. Novel-novel populer saat ini juga mendominasi cuaca perbukuan di Indonesia dengan lahirnya karya-karya yang sampai difilmkan, seperti Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia dan serentetan film lainnya yang diangkat dari novel-novel populer tersebut.

Perkembangan sastra populer sendiri telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Sementara sastra populer era 60-an genrenya banyak mengangkat tema seks, maka pada tahun 70, 80, 90-an mengangkat tema percintaan remaja kota.

Kecenderungan tersebut kemudian kembali berganti untuk kurun waktu 2000-an sampai sekarang. Sastra populer kini banyak mengangkat tema fiksi pop Islami dan kisah perjalanan, baik berlatar Timur Tengah dengan hadirnya novel Ayat-ayat Cinta, berlatar Asia Timur (Kkorea, Jepang, China) contohnya Assalamualaikum Beijing, ataupun berlatar Eropa dan Amerika contohnya 99 Cahaya di langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika.

Meskipun begitu, walaupun saat ini didominasi oleh novel-novel pop Islami dan kisah perjalanan, tema percintaan remaja juga masih punya pasar besar dan massa pembaca yang banyak di Indonesia terbukti dengan besarnya nama Tere Liye dan Boy Chandra.

Islam dalam produksi sastra saat ini menampilkan Islam yang pop. Ayat-ayat Cinta menjadi pelopor fiksi populer Islami yang mewakili Islam untuk mengenalkan syariat serta ikon-ikon Islam dalam fiksi yang populer. Dengan berpijak pada genre kisah percintaan bergradasi dengan unsur-unsur Islam yang terbentuk dari formula-formula genre. Menurut John G. Cawelti, seorang perintis telaah akademis budaya populer, formula tidak berbeda dengan definisi unsur, di dalamnya ia memuat kombinasi kultural.

Jika diperhatikan, dalam genre roman pop Islami, formula yang cenderung terpola adalah; adanya hidayah, ideal dengan hijab, dominasi tokoh keturunan Arab, latar Timur Tengah, tokoh-tokoh Islam yang dijadikan teladan, dan sebagainya. Hal yang paling penting adalah hadir-hadirnya tokoh-tokoh non-muslim, khususnya Eropa dan Amerika. Dengan demikian, nampak bagaimana fiksi populer hadir di tengah-tengah budaya yang plural dan cair agar bisa diterima semua pembaca.

Hadirnya wacana-wacana fundamental seperti agama, kultur, bahkan isu politis dalam karya sastra populer membuka peluang bagi pembaca dan juga penulis untuk membuka pengetahuan yang luas melalui bacaan-bacaan yang diterbitkan secara massal. Hal ini kemudian mencairkan sastra populer yang selama ini dianggap tidak berkualitas dan menjadi eskapisme belaka, menuju pada kesamaran definisi.

Kriteria sastra populer sebagai sebuah media yang diproduksi massal berdasar pada aspek-aspek konsumsi dan produksinya. Peran penerbitan yang kini menjamur mengakibatkan perubahan strategi pemasaran untuk melancarkan produksi rela berubah haluan idealisme. Penerbit Mizan yang dikenal sebagai penerbit Islam mencair menjadi penerbit Islam yang modernis dan penerbit Gramedia yang dikenal dengan teenlit dan chicklit-nya, kini juga mencetak buku-buku bertemakan keislaman.

Produksi novel-novel populer yang berserakan saat ini di toko-toko buku tidak akan semulus menerbitkannya jika melihat dua puluh tahun ke belakang. Saat ini semua individu bisa menerbitkan karya, dengan tujuan apapun. Bourdieu pernah menyinggung mengenai modal sosial, dan di era ini sastra nampaknya telah menjadi bagian dari alat dalam modal sosial tersebut. menjalin reaksi sosial dengan menggunakan tokoh-tokoh publik lain sebagai testimoni. Dengan tujuan-tujuan tertentu, seseorang bisa dengan mudah menulis dan berharap pembaca mampu mengerti dan perlahan ter-ideologi: inilah yang mungkin dimaksud oleh Pierre Macherey sebagai proyek ideologis, menanamkan wacana-wacana secara halus untuk tujuan tertentu, dan hal ini terbungkam, tidak terbaca dalam teks namun nampak dalam konteks sastra diterbitkan.

Fiksi atau sastra populer juga terkadang diproduksi untuk tujuan lain yaitu sebagai pengalih isu, sebagai alat propaganda yang perlahan dikonsumsi, hingga pada akhirnya pembaca melupakan apa-apa yang nyata. Dengan kata lain, sebagai alat politis yang kini banyak digunakan untuk melunturkan citra, menaikkan popularitas, bahkan mengubur wacana lain dengan wacana populer.

Salah satu peserta diskusi menanyakan bagaimana tips dan formula dalam menulis sastra populer atau lebih spesifiknya novel-novel populer?

Tulislah hal yang dekat dan  dapat menarik massa pembaca novel kita di Indonesia dengan menulis novel bergenre kisah percintaan, fiksi pop Islami maupun kisah perjalanan yang saat ini masih sangat hangat-hangatnya dibicarakan dan dibaca.

Sastra populer juga berperan penting terhadap peningkatan budaya literasi bagi kaum muda yang “kurang suka”—atau lebih tepatnya mungkin “belum suka”—membaca sastra serius. Novel-novel populer, pada akhirnya, bisa membantu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya-karya sastra. Ia adalah jembatan, atau tempat persinggahan, dan sebagaimana ilaharnya tempat persinggahan, tak baik kiranya tinggal berlama-lama di sana.


Jemi Ilham
Tinggal di Kota Gede, Yogyakarta. Menulis dan berkegiatan di Forum Apresiasi Sastra dan komunitas sastra Jejak Imaji.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara