07 Feb 2018 Bandung Mawardi Sosok

Historiografi sastra Indonesia adalah ranah yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Ada banyak rekam jejak sastrawan kita belum terlacak dengan rinci. Termasuk tentang Pram.

PADA peringatan 75 tahun Balai Pustaka (1992), HB Jassin mengenang masa bekerja di Balai Pustaka. Kenangan itu mengikutkan jejak pengarang tenar pernah bekerja di Balai Pustaka. Jassin mengungkapkan: “Ya, dia pernah bekerja sebentar di Balai Pustaka, kemudian berhenti, berusaha sendiri kecil-kecilan, membuat karangan yang dikirimkan ke mana-mana, semacam features.” Dia dalam pengakuan Jassin bernama Pramoedya Ananta Toer.

Di Balai Pustaka, Pram membuat biografi kecil jarang mendapat ulasan di kalangan pengagum Pram. Selama puluhan tahun, Pram selalu dibicarakan bereferensi novel-novel ampuh. Pram dan Balai Pustaka? Apa jenis pekerjaan Pram di institusi bentukan pemerintah kolonial dan bersambung menjadi milik Indonesia setelah Perang Dunia II? Buku berjudul Bunga Rampai Kenangan Pada Balai Pustaka (1992) tak memuat kenangan dari Pram. Barangkali masa kerja sebentar tak menjadi pertimbangan untuk menguak ingatan-ingatan Pram pada masa 1950-an bekerja di Balai Pustaka.

Penasaran itu telat terjawab. Penulis perlahan membuktikan omongan Jassin meski cuma memiliki sedikit informasi. Setumpuk majalah lawas bernama Kunang-Kunang membuktikan Pram pernah bekerja di Balai Pustaka. Kunang-Kunang memuat lembaran redaksi berisi Pram sebagai pengasuh. Balai Pustaka menerbitkan Kunang-Kunang sebagai majalah anak.

Majalah Kunang-kunang Edisi 7

Pram berperan sebagai pengasuh majalah anak? Kita mungkin kaget dan meragu. Majalah terbit dua kali sebulan. Misi Kunang-Kunang: “Madjalah anak-anak untuk kebudajaan dan pengetahuan umum.” Tugas Pram mungkin agak berat dalam mempertimbangkan pemuatan pelbagai jenis tulisan. Redaksi menginginkan menu majalah cenderung hasil tulisan anak, tak melulu orang dewasa.

Pram sebagai pengasuh Majalah Kunang-kunang

Para pembaca buku-buku terbitan Pataba (Blora) mungkin masih bisa melacak cerita-cerita garapan Soesilo Toer berasal dari Kunang-Kunang tapi untuk edisi remaja. Dulu, Kunang-Kunang diadakan dua edisi: anak dan remaja. Pram mengasuh edisi anak. Soesilo Toer rajin menulis cerita-cerita di edisi remaja. Koesalah Soebagjo Toer kadang menulis artikel kecil untuk edisi anak. Keluarga Toer bertemu di Kunang-Kunang. Kita cuma belum memastikan Pram pernah menulis di Kunang-Kunang menggunakan nama sendiri atau sebutan “Kakak”. Sekian tulisan dari pihak redaksi di sana bernama “Kakak”, tak menggunakan nama orang di jajaran pengasuh.  

Masa kerja sebentar di Balai Pustaka menempatkan Pram berurusan dengan anak-anak. Kenangan itu pantas dibuka kembali agar kita “melengkapi” pengetahuan tentang Pram dalam kesusastraan Indonesia dan jagat penerbitan majalah anak, dari masa ke masa. Sejak masa kolonial sampai 1950-an, majalah anak memiliki peran besar dalam pemajuan dan revolusi. Anak-anak melek aksara disuguhi bacaan agar memiliki etos mengubah nasib diri dan Indonesia ke pemuliaan. Pram turut menggerakkan meski orang-orang jarang mencatat dan mengingat.

Informasi tambahan bisa diperoleh di buku Rahasia Dapur Majalah di Indonesia (1995) susunan Kurniawan Djunaedhi. Pada awal masa 1950-an, telah beredar dua majalah anak-anak terbitan Balai Pustaka: Garuda dan Kunang-Kunang. Peran dua majalah itu disusul oleh Si Kuntjung, didirikan Sudjati, 1 April 1956. Di kalangan pengamat bacaan anak, Sudjati adalah nama penting dalam mengusahakan terbitan majalah dan buku anak di Indonesia selama puluhan tahun. Gairah menerbitan majalah anak menular ke pelbagai kota dengan kemunculan majalah Si Kantjil, Putera-Puteri, Nuri, dan Taman Putera. Pada masa 1960-an sampai 1970-an, anak-anak mulai terpikat membaca majalah Kawanku, Bobo, Cemerlang, Putera Kita, Gatotkaca, Ananda, dan Kucica. Puluhan majalah itu gagal awet. Mereka jatuh dan tutup. Majalah terawet tentu Bobo, masih terbit sampai sekarang.

Gejala penurunan dalam industri penerbitan majalah anak pernah diulas oleh Tjokrohadiwokromo di majalah Basis edisi Juni 1970. Ulasan untuk situasi sebelum kemunculan puluhan majalah anak pada masa 1970-an.

“Di Indonesia dengan penduduk 110 djuta manusia, hanja ada dua buah madjalah kanak-kanak. Si Kuntjung terbitan Djakarta dan Kemuning terbitan Semarang,” tulis Tjokrohadiwikromo.

Sekian majalah anak sudah berguguran akibat gagal dalam pengadaan kertas, pemasaran, dan penambahan konsumen. Kabar buruk dari tulisan di tahun 1970-an tak mengutip atau memberi keterangan tentang situasi majalah masa 1950-an, termasuk kemonceran Kunang-Kunang.

Pada abad XXI, Indonesia semakin kekurangan majalah anak saat jutaan anak sudah melek aksara dan bergerak di arus revolusi mental, jenis revolusi berbeda dari masa 1950-an. Kita tak mendapatkan revolusi di majalah atau koran. Lembaran atau rubrik anak di pelbagai koran saja mulai menghilang dan berkurang, memberi sedih atas kelangkaan majalah bagi anak. Barangkali ada anutan baru bahwa anak-anak diajak menikmati bacaan dalam jenis apa saja di gawai. Bentuk majalah tercetak sudah tak memenuhi hasrat kebaruan dan adab teknologi mutakhir.

Kita tak ingin menambahi ratapan atau keluhan nasib majalah anak. Sejak puluhan tahun silam, nasib majalah anak sering tak untung. Kita cuma ingin mengenang sambil mengandaikan pemerintah, penerbit partikelir, atau komunitas mengadakan lagi majalah anak berselera mutakhir tapi tercetak. Pengandaian agak mustahil. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara