03 Apr 2018 Bandung Mawardi Sosok

Membaca buku adalah kebiasaan yang bisa menular. Salah satu contoh tokoh yang memiliki kebiasaan membaca dan juga menularkan kebiasaan itu adalah Gus Dur.

MUSTOFA BISRI (Gus Mus) mengaku mendapat barokah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dua lelaki moncer itu telah bersekutu sejak muda. Persekutuan mengandung cemburu tapi memberi girang berkepanjangan. Di majalah Matra edisi Agustus 1997, Gus Mus memberi jawaban dalam wawancara mengenai titik mula keranjingan membaca dan menulis puisi-puisi.

“Saya kira barokahnya Gus Dur juga. Saya ikut dia sampai mendapat beasiswa. Dan itu saya anggap sebagai barokah. Ya, menonton film, ya, ke mana-mana. Tapi Gus Dur selalu membawa buku. Di atas bus, di mana saja, dia baca buku. Kalau dia sedang baca buku, saya seperti tidak ada di sampingnya. Padahal, nanti, sehabis membaca, saya diajak ngobrol. Setelah saya pikir-pikir, saya rugi kalau dia baca tapi saya cuma bengong sendirian.”

Gus Dur menjadikan Gus Mus “korban” dalam bengong dan pemberi telinga saat Gus Dur mulai bercerita isi buku. 

Persekutuan aneh itu berlangsung saat Gus Dur dan Gus Mus mengaku sedang berkuliah di Mesir. Pada Gus Dur, cemburu membuat Gus Mus membalas dendam secara beradab. Perubahan pun terjadi tanpa menunggu seribu tahun. Gus Mus mulai sering membawa buku bersaing dengan Gus Dur. Perbedaan paling tampak: Gus Dur membaca buku berbahasa Inggris dan Gus Mus membaca buku berbahasa Arab. Dua lelaki berasal dari Indonesia, tak merasa perlu membaca buku berbahasa Indonesia saat berada di negeri asing. Buku selesai “disantap”, mereka saling pamer ocehan segala hal dalam pembacaan.

Gairah membaca itu penularan. Gus Dur menulari Gus Mus meski pengakuan gandrung membaca sudah dibentuk sejak remaja. Pertemuan sesama pembaca memungkinkan sulut cemburu atau perseteruan berbagi cara pembacaan dilanjutkan tafsir-tafsir mumpuni. Adegan membaca tak cuma tangan memegang buku dan mata menatap kata demi kata di sekian halaman. Sebutan khatam bukan setelah menutup buku. Pembaca itu berhak untuk mengobrolkan buku, sebelum ingatan pada ide-imajinasi berguguran di tengah perjalanan dan malam menggelap.

Gus Dur ingin selalu membaca dengan pertambahan usia atau kesibukan mengurusi Indonesia. Ingin itu sempat terhalangi akibat kondisi raga dan kesulitan mata menatap huruf-huruf. Sakit telah mengurangi detik-detik keranjingan bersantap buku. Kondisi raga mustahil menjadikan Gus Dur berhenti atau minder demi urusan bersantap buku. Kondisi mata buruk diladeni telinga. Gus Dur masih “membaca” dengan cara mendengar saat dibacakan buku.

Di majalah Matra edisi April 1996, Gus Dur berkata jika peristiwa membaca tetap berlangsung dengan kehadiran pembaca oleh anak-anak atau sekretaris. Putri-putri tercinta atau sekretaris bergantian menjadi pembaca bagi sang pembaca tangguh dan pemiliki ingatan menakjubkan.

Pengakuan Gus Mus dan Gus Dur di majalah Matra itu bersambungan dengan isi buku Greg Barton. Di buku berjudul Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, pembaca menemukan episode Gus Dur berada di Kairo (Mesir). Semula, ia berniat kuliah tapi lekas disergap jemu. Pada 1964, Gus Dur agak malas berkuliah formal di Al Azhar. Ia memilih menuruti pesona Kairo. Pesona terbentuk dari kebiasaan menonton pertandingan sepakbola, membaca di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film, dan mengikuti diskusi-diskusi di pelbagai kedai kopi. Gus Dur kecewa pada Universitas Al-Azhar tapi terpesona Kairo. Di kota jauh dari kampung halaman, Gus Dur memastikan diri sebagai pembaca tulen, bukan mahasiswa penurut dan tertib.

“Bila ia tidak membaca di perpustakaan Universitas Amerika, ia sering berada di perpustakaan Prancis. Gus Dur masih ingat bahwa ketika itu ia membaca apa saja dan di mana saja, tanpa memilih-milih tempat. Ia juga membaca di sekeliling rumah atau di tempat menunggu bus. Bila tidak ada buku maka potongan surat kabar atau sebuah majalah tua dapat memuaskan dahaga akan bacaan,” tulis Greg Barton.

Pulang ke Indonesia, ia semakin ampuh sebagai pembaca buku dan rajin menulis esai atau kolom di pelbagai majalah. Para pembaca Tempo tentu sering menemukan kolom-kolom Gus Dur. Di majalah “enak dan perlu”, Gus Dur pun membuat resensi buku. Penulisan resensi cenderung membuktikan kejelian membaca dan memberi nilai buku. Gus Dur berpredikat peresensi agak terpinggirkan saat orang-orang memilih mengagumi kolom-kolom lucu dan kritis. Pembaca dan peresensi buku itu terdokumentasi di Tempo, mengingatkan tahun-tahun selalu lapar buku dan haus buku. 

Orang menambahi ingatan bahwa Gus Dur pun penulis untuk halaman-halaman disebut “kata pengantar” di pelbagai buku. Pada usia menua dan kondisi raga semakin buruk, predikat pembaca belum tanggal. Gus Dur tetap sang pembaca, menolak kapok atau capek. Pada 2007, terbit buku berjudul How to Read a Book: Cara Mencapai Puncak Tujuan Membaca susunan Mortimer J Adler dan Charles van Doren. Judul buku terasa wagu dan terduga sesak petunjuk bagi orang mau jadi pembaca. Buku itu diterbitkan Indonesia Publishing, termasuk buku laris. Pada 2012, buku itu sudah cetak ulang ketiga. Buku tebal dan mahal tapi laris. Orang-orang Indonesia mungkin sedang menunaikan janji menjadikan diri pembaca agar bermutu mengalami abad XXI.

Di sampul buku, orang membaca nama Gus Dur. Apa nama itu turut membuat buku laris atau menambahi mutu? Gus Dur membuat sambutan di buku, memicu gairah orang-orang sampai ke puncak kenikmatan membaca ketimbang bengong dan bebal. Tulisan Gus Dur dijuduli “Membaca Haruslah Kreatif”, 3 halaman. Predikat Gus Dur di tulisan: ulama, budayawan, politisi, dan mantan Presiden Republik Indonesia.

Gus Dur berpesan:

“... kegiatan membaca buku mencakup bidang yang sangat luas dan beragam isi maupun maksudnya. Selain itu, harus ada kemampuan untuk memahami secara berbeda bahan bacaan yang berlainan. Itulah sebabnya, kegiatan membaca seharusnya tidak dibatasi pada satu bidang kajian saja.”

Gus Dur memang pembaca segala tanpa sungkan dan berlagak paling mengerti. Ribuan buku beragam tema menjadi santapan terlezat sepanjang hidup. Buku demi buku khatam, menuntun orang sampai ke puncak makna dalam terang dan keinsafan.  

Kemunculan tulisan Gus Dur di buku laris agak mengejutkan, setelah orang-orang belum selesai berdebat mengenai Gus Dur dalam kisruh politik Indonesia, setelah keruntuhan rezim Orde Baru dan Pemilu 1999. Gus Dur dianggap selesai dari puncak kekuasaan selaku presiden, tapi pantang “pensiun” dari perang sebagai pembaca. Peran itu ingin menulari ribuan orang dengan tulisan tiga halaman. Pembeli dan pembaca buku berjudul wagu disulut gairah menetapkan peran membaca buku segala tema berpamrih ingin mengerti, menjauhi bualan dan omong kosong bercap literasi. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara