Seorang wartawan yang merambah politik, sastra, seni, dan sejarah. Rosihan Anwar mampu menyajikan sejarah dengan narasi populer, karenanya Asvi Warman Adam menyebutnya sejarawan masyarakat.

PADA 2010 sebuah surat dari Jepang sampai ke tangan Rosihan Anwar. Yumiko Hinomoto-Hiraishi, si pengirim surat, hendak mewawancarai Rosihan perihal dua cerita pendeknya “Radio Masyarakat” dan “Pamankoe”. Yumiko sedang menyusun disertasi mengenai kesusasteraan Indonesia di zaman pendudukan Jepang (1942-1945) untuk studi doktoralnya di Universitas Waseda. Dua cerpen yang dimuat di mingguan Djawa Baroe itu menarik perhatiannya.

Dalam kunjungan ke Jakarta pada 16-21 Mei 2010, Yumiko bertemu Rosihan dan wawancara itu pun terjadi. Rosihan menganggap dua cerpennya yang dipilih Yumiko, biasa-biasa saja. Seperti yang diutarakannya dalam Sejarah Kecil Petite Historie Indonesia Jilid 4, “Radio Masyarakat” meraih juara tiga dalam sebuah kompetisi, kemudian oleh H.B Jassin dimuat dalam buku antologi Gema Tanah Air yang beredar pada 1950-an.

Sementara itu, cerpen “Pamankoe”, dipublikasikan pada 1945. Cerpen ini mengisahkan Mohamad Yoenoes, salah satu paman Rosihan dari pihak ibu. Ada banyak hal yang Rosihan pelajari dari kehidupan pamannya itu. Salah satunya adalah keteguhan memilih jalan hidup yang tidak dikehendaki ayahnya, kakek Rosihan.

Selain merekam sepenggal kisah Mohamad Joenoes dalam cerpen, Rosihan memang kerap menulis tentang anggota keluarga lainnya, teman, rekan kerja, bahkan “musuh” dalam hal tertentu. Rosihan memang meyakini setiap jengkal bagian dari keseluruhan hidupnya sangat berharga hingga harus dituliskan sebagai sejarah kecil, petite historie. Keyakinan ini melahirkan enam jilid buku Petite Historie Indonesia, ratusan karya jurnalistik yang memukau, serta puluhan buku lainnya.

Namun tidak semua karya Rosihan terwariskan dengan selamat pada generasi berikutnya. Salah satu warisan yang amat berharga tapi lama terkubur sepi adalah catatan hariannya selama enam bulan pertama Indonesia merdeka. Catatan harian ini merupakan bagian dari sebuah nomor peringatan 6 bulan merdeka berupa majalah, yang diterbitkan oleh surat kabar Merdeka pada 17 Februari 1946, tempat Rosihan bekerja saat itu.

Di dalam catatan harian itu, terkandung informasi-informasi penting perihal sebuah negara baru yang sedang menata diri di semester pertamanya. Adalah Oscar Matuloh, wartawan Antara, yang menemukannya di perpustakaan Monumen Pers Nasional, Solo. Oscar kemudian memfotokopi dokumen itu dan menampilkannya dalam sebuah pameran di gedung kantor berita Antara, Jakarta. Ringkasannya lalu dimasukkan Rosihan dalam Sejarah Kecil Petite Historie Indonesia Jilid 4 yang terbit 2010 silam.

Rosihan memang tersohor sebagai wartawan. Namun ia tidak memilih pada bidang apa perhatiannya ditumpahkan. Politik, sastra, seni, sampai sejarah diraupnya lalu lahirlah karya-karya penting untuk bangsa ini.

Dalam bidang seni khususnya film, Rosihan bersama Usmar Ismail mendirikan Perusahan Film Nasional (Perfini) pada 1950. Ia pun menulis banyak kritik film dan terlibat dalam pembuatan beberapa film di awal berdirinya Perfini. Ia diangkat menjadi anggota kehormatan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) karena berjasa dalam penulisan sejarah Indonesia, terutama dalam memasyarakatkannya sebagai tokoh nonsejarawan.

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mengatakan bahwa membicarakan Rosihan Anwar tidak bisa dilepaskan dari brand mark “In Memoriam” yang ditulisnya di beragam surat kabar selama tiga dekade. Rosihan dengan cepat menulis obituari seorang tokoh yang baru meninggal. Asvi Waman tak segan menyebutnya sebagai sejarawan masyarakat karena mampu mengemas sebuah tulisan sejarah menjadi lebih populer dan tidak membosankan.

Jalan hidup membebaskan rakyat lewat tulisan-tulisannya, tidak dipilih Rosihan secara tiba-tiba. Kehidupannya sedari kecil secara perlahan-lahan membentuk kepekaan baik secara intelektual, emosional, maupun sosial. Rosihan lahir pada 22 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok. Ayahnya, Anwar gelar Maharadja Soetan, pada 1927 menjabat sebagai Binnenlands Bestuur-ambtenaar Asisten Demang Dangung-dangung, sebuah wilayah dekat Payakumbuh. Sementara ibunya Siti Safiah keturunan Jawa, yang masih memiliki hubungan persepupuan dengan penulis Marah Roesli dan Roestam Effendi, sastrawan dan politikus kiri.  

Kakeknya dari pihak ibu, Mohamad Joesoef, dengan bangga memakai kata Raden di depan namanya, untuk menegaskan identitasnya sebagai keturunan Jawa di tengah masyarakat Minang di Padang. Dari silsilah keluarga yang ditulis sang paman, Mohamad Yoenoes, Rosihan akhirnya tahu bahwa sang kakek yang akrab disapa dengan Pa Gaek adalah keturunan dari Senopati Raden Temanggung Ariobroto yang sekitar 1830 dikirim ke Padang bersama Sentot Alibasyah, sebagai salah satu wakil pemimpin tentara Sentot. Di sinilah Rosihan menyadari bahwa perang Jawa yang amat merepotkan pemerintah kolonial itu turut membuat ia dan keluarganya ada.

Seperti yang dirunut Rosihan dalam Petite Historie Jilid 4, selepas 1827, Belanda menerapkan sistem “bentengstelsel” untuk mengakhiri perang yang disulut Pangeran Diponegoro ini. Tahun 1828, Kiai Maja beserta ulama menyerah pada Belanda, pun dengan paman  Diponegoro, Pangeran Mangkubumi yang menyerah pada September 1829. Sebulan setelahnya, panglima tentara Diponegoro, Ali Basa Prawiradirja yang dikenal pula sebagai Sentot, ikut menyerah. Belanda kemudian memberikan pangkat letnan kolonel kepadanya dan dikirim ke Sumatera Barat untuk melawan tentara Pidari yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Bersama Sentot, berangkat juga Raden Temanggung Ariobroto, kakek dari Pa Gaek. Dua adik perempuan Pa Gaek melahirkan dua putera yang di kemudian hari menjadi  tokoh besar di tanah air, yakni Marah Roesli dan Roestam Effendi.

Rosihan kecil tidak benar-benar paham pekerjaan macam apa yang dilakukan ayahnya. Yang ia tahu, jabatan itu memberi penghidupan yang cukup bagi mereka sekeluarga. Rosihan pun berkesempatan mengecap pendidikan yang layak dan tentu saja memiliki akses yang bagus pada bacaan-bacaan yang membentuk intelektualitasnya. Pada 1935, Rosihan menyelesaikan pendidikannya di HIS Padang dan melanjutkannya ke MULO yang selesai pada 1939. Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke AMSA-A II Yogyakarta pada 1942. Di sinilah persentuhan Rosihan dengan bacaan-bacaan sejarah dan politik semakin intens.

Salah satu informasi sejarah yang didapat Rosihan adalah terjadinya pemberontakan PKI di Silungkang pada 1 Januari 1927, tahun di mana ayahnya menjabat sebagai Asisten Demang Dangung-dangung dan turut menanggung kerepotan akibat pemberontakan ini. Dari bacaan-bacaan itulah Rosihan paham bagaimana komunisme dapat masuk ke Sumatera Barat dan bahkan “dikawinkan” dengan ajaran Islam oleh Haji Datuk Batuah. Haji Batuah pula yang menyebarkan Islam-Komunis di kalangan Thawalib, organisasi di kalangan pelajar Islam yang cenderung modernis di Sumatera Barat.

Buku-buku sejarah lain yang cukup penting bagi Rosihan adalah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau/Riau 1945-1950 Jilid I dan Api Perjuangan Kemerdekaan di Kota Padang yang ditulis kakaknya, Jhonny Anwar. Buku ini disusun berdasarkan tulisan Jhonny di surat kabar Haluan Padang tahun 1976. Dari buku-buku ini Rosihan akhirnya memahami bahwa anggota keluarganya banyak terlibat dalam peristiwa besar bangsa ini. Nampaknya, itulah yang merangsanga kesadaran Rosihan untuk menggali cerita-cerita dari keluarga dan kerabat dekatnya.

*

Profesi jurnalis adalah profesi yang tak surut dari risiko. Apalagi bila si jurnalis konsisten bersikap kritis pada siapapun seperti Rosihan Anwar. Sejak awal kariernya sebagai wartawan, yakni pada masa perjuangan melawan penjajah, ia sudah harus berhadapan dengan rezim hingga dibui oleh Belanda di Penjara Bukit Duri, Jatinegara, Jakarta. Pasca-kemerdekaan, salah satu pemimpin yang ia hormati pun, Sukarno, tak luput dari kritik pedasnya sehingga pada 1961 surat kabar yang didirikan dan dipimpinnya, Pedoman, dibredel.

Rezim berganti dan nalar kritis Rosihan tidak mati. Meski mendapat anugerah Bintang Mahaputera III karena dianggap berjasa mengobarkan semangat revolusi dan turut menenggelamkan rezim Orde Lama, Rosihan tidak segan mengkritik pemerintahan Orde Baru. Tak sampai setahun setelah penghargaan itu dianugerahkan, Pedoman dibredel. Lepas itu, Rosihan tetap aktif menulis, menjadi kontributor di berbagai media dan menerbitkan buku, meskipun tidak lagi menjadi wartawan tetap di surat kabar manapun.

Hingga menjelang akhir hayatnya, aktivitas menulis dan membaca tak lepas dari Rosihan Anwar. Menurutnya akan sia-sia bila umur panjang tapi pikiran tidak lagi kuat dipakai. Itulah sebabnya membaca dan menulis tak boleh berhenti barang sehari.


Kredit Gambar : alchetron.com
Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara