28 Feb 2018 Setyaningsih Sosok

Anak-anak identik dengan gerak yang alami. Ketika gerak itu dihambat, kemungkinan ia akan tumbuh tanpa menikmati dunianya, dan itu tentu bukanlah hal bagus.

“Kalau dulu masa kecil Romo begitu indah dan menyenangkan, sekarang ini seandainya Romo bisa kembali jadi anak-anak, bagaimana?” pertanyaan ini sempat diajukan tim Bobo dan dimuat di Bobo edisi 26 Desember 1996 edisi profil Romo Mangun.

Pertanyaan dijawab Romo Mangun dengan lugu, “Hemmm...mungkin sekarang saya tidak punya waktu untuk main seperti dulu, karena sepanjang hari harus kursus ini, kursus itu, PR ini, PR itu, dan macam-macam. Wah, saya bisa loyo. Hiihhh…nggak mau ah! Saya mau jadi anak-anak lagi kalau saya menjadi anak-anak, yaitu boleh main, boleh nakal, boleh berkomentar, dan sebagainya. Tapi kalau hanya untuk dipamerkan karena saya kursus ini, kursus itu, bisa ini, bisa itu, ya saya tidak mau.”

Ada sindiran halus pada aktivitas anak-anak mutakhir yang bercap edukatif, tapi sering dijalani karena tuntutan orangtua. Orangtua justru sering menjadi perampas pertama nafas gerak dan bukan menjadi penolong merayakan raga sehari-hari. Sedikit orangtua membanggakan anak pecicilan, banyak polah, dan bertingkah mau tahu, kecuali dengan nada resah, frustrasi, khawatir, dan kesal. Gerak jadi aib, penutup kegagalan orangtua mengasuh.

Kita boleh mengingat Y.B. Mangunwijaya atau Romo Mangun sebagai penghayat anak-anak. Romo Mangun pernah menulis buku Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak (Gramedia, 1986) yang mengalami cetak ulang kedua pada 1991. Peristiwa sehari-hari yang amat sepele menentukan pembiasaan bersikap religius dengan cara menyenangkan dan tanpa paksaan. Romo Mangun mafhum bahwa semakin anak bertumbuh, ia akan semakin disadarkan pada hal yang bersifat dilarang dan keharusan yang mempengaruhi mental, riwayat iman, dan kadar gerak.

Romo Mangun mengatakan, …kearifan orang tua seyogyanya lebih menyadarkan anak daripada mengharuskannya. Anak pun pada ukurannya yang sederhana sudah tahu tanggung jawab…asal itu digubah dalam sesuatu yang menggirangkan. Menyapu lantai dan membersihkan tempat tidur dapat merupakan suatu keharusan yang menjengkelkan, tetapi dapat pula diberi bentuk yang meriangkan, seperti main-main. Pengajaran agama pun dapat memuakkan anak, akan tetapi dapat pula merupakan peristiwa yang mengasyikkan. Juga banyak hal, mandi, tidur, berpakaian, bahwa tugas menjaga adik secara bertanggung jawab dapat menjadi suatu permainan yang menggembirakan. Tetapi anak harus diberi tahu sebab-musababnya, motivasinya, mengapanya, dan juga tujuan mulianya.

Di buku Ragawidya, Religiositas Hal Sehari-Hari (1995) kita bisa menyelami pemikiran Romo Mangun berkaitan dengan gerak, termasuk gerak anak sebagai pelaku paling bergerak. Gerak jadi perlambang daya dan nilai hidup. Berjalan, melonjak, berlari, menari, adalah bahasa sebelum huruf-huruf.

Romo Mangun berkata “Manusia menari sejak ia lahir sebagai bayi.” Tubuh adalah bahasa, “Dalam pembaringannya, si bayi dan kaki tangan berselaweyan asyik selaku ekspresi pernyataan hidup yang pertama, yang otentik, yang mencerminkan gerak sabda pertama: wahai, ada! wahai, hidup! wahai, gerak! wahai, tumbuh! wahai suka! wahai sedih! wahai aku! wahai mau! wahai emoh!”

Gerak sering jadi bahasa spontanitas, tidak dibuat-buat, tidak terencanakan untuk merayakan ragam rasa. Dalam ketakutan sekaligus kasih sayang, tangan mungil merangkul tubuh ibu, bapak, atau kakak demi meminta perlindungan. Raga berlarian di pematang sawah dan menyelami kecipak air sungai, sorak hidup pada perayaan gerak. Saat melihat sesuatu, anak-anak ingin menggapai, mendekati, dan menyentuh sebagai cara belajar mengerti sehari-hari atau melakoni tanpa ancaman hal-hal paling biasa.

Manifestasi gerak pun terekam dalam sosok kanak Larasati atau Atik yang berjuluk ‘burung prenjak’ di novel Romo Mangun, Burung-Burung Manyar (2001). Atik dipilih untuk merepresentasikan perayaan raga kanak. Atik diceritakan sering diprotes ibunya karena bertingkah seperti anak laki-laki; memanjat pohon, menggali lubang, atau berlarian menangkap laron. Kelincahan jadi sumbu masa kanak.

Kita bisa mencerap pemberontakan Atik dalam novel itu saat para emban memanggilnya dengan sebutan “Den Rara”. Atik menanggapi, “Saya bukan Den Rara. Saya At-tik. Sudah.” Pemberontakan terlontar dengan pendek saja, tapi menyampaikan kekeraskepalaan ingin terus bergerak. Latar kebangsawanan di Bogor ataupun Surakarta tidak boleh jadi kungkungan mewaktu sehari-hari. Den Rara ataupun Den Ayu sejak kebahasaan memberikan ancaman halus agar tubuh tetap diam.

Ketokohan Atik merindukan kebebasan naluriah itu lewat jalan menjalin persahabatan dengan burung-burung, Sejak belia, Atik sudah jadi penghayat gerak burung-burung, “Lalu datanglah menyusul beberapa ekor manyar, itu burung-burung yang di mana-mana sibuk membangun sarang-sarang berseni elok. Mereka menyambar dari udara dan puk-puk-puk. Tertawalah lagi Atik. Lucu burung-burung itu. Maka segeralah burung-burung tingkat rakyat jelata, si gereja dan si emprit dan burung “anak kampungan” ketilang ikut pesta juga. Dan nah, tentu saja tak mau ketinggalan si gelatik cantik tetapi pencuri-pencuri padi yang nakal itu, dengan pipinya putih dan picinya biru hitam. Persis anak-anak lelaki di dalam sekolah dan di mana-mana, nakal dan perusak segala.”

Saat memperhatikan burung-burung bertingkah, seolah tampak dari luar tidak terjadi apa-apa pada diri Atik. Namun, penghayatan pada tingkah burung-burung memasuki diri Atik dalam penciptaan rasa bertanah air dan berraga nan merdeka.

Gerak di Sekolah

Romo Mangun memberlakukan gerak demi semarak belajar di ruang paling beresiko menyuruh diam: sekolah. Majalah Bobo edisi 19 Desember 1996 menampilkan dua halaman liputan SD Kanisius Mangunan, Yogyakarta. SD Mangunan berusaha menghindari dari kesan sekolah yang sering beresiko memberlakukan larangan gerak. Tampak salah satu foto memperlihatkan Romo Mangun di antara anak-anak yang menyimak ibu guru. Rasanya tidak mungkin Romo Mangun berujar, “Sttttt”, “Diam, anak-anak”, “Duduk yang rapi” atau kata-kata sejenis yang biasa berlaku di kelas sekolah formal.

Sindhunata di Basis edisi Maret-April (1999) menceritakan bahwa anak-anak adalah kecintaan Romo Mangun. Di ruang tunggu Bandara Adi Sucipto pada 1996, Romo Mangun sempat berbagi impian kecilnya yang tidak kesampaian: menjadi pengarang cerita anak-anak. Baginya, anak adalah pewajahan manusia sejati. Sindhunata pun menuliskan rasa Romo Mangun bahwa,

“anak-anak mengajak dan mengajari dia untuk mempunyai sifat eskatologis, yakni mengakui dan menerima relativitas dari segala kesempurnaan yang telah diraih di dunia masa kini, karena masih ada kesempurnaan yang utuh dan penuh di masa mendatang, setelah berakhirnya perjalanan hidup manusia di dunia ini."

Dengan membangun SD Mangunan, seperti Romo Mangun memberikan dunia yang menggirangkan yang meneduhi raga serta batin anak-anak dari ketidakgembiraan, intrik, dan kekerasan. Di SD Mangunan, daripada dilarang bergerak, lebih penting mengingatkan anak bertanggung jawab pada raga diri. Anak-anak bisa dan boleh bermain tanpa memberi efek samping gangguan pada peristiwa anak yang lain. Gerak-gerak kegembiraan menular Anak-anak bisa belajar bahasa sambil tertawa, menyoal angka dengan meloncat, dan ada pelajaran ngobrol sebagai pengungkapan pengalaman-kepercayaan diri berujung pada rasa selalu ingin tahu, mencari, berkelana-bergerak.

Romo Mangun tidak keberatan dengan anak-anak yang polah. Kodrat gerak tidak membedakan anak kaya atau miskin. Raga bergerak, berarti merayakan hal paling biasa di keseharian dengan kesadaran paling bersahaja mendapati kegembiraan dan makna melakukan sesuatu. Anak bergerak berarti tidak mendiamkan bumi berlalu begitu saja. Anak-anak itu sangat mungkin berani mengajak Tuhan ber-hom-pim-pah, berlari, mengumpet, dan akhirnya saling mencari-mengejutkan sembari tertawa bersama.     


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara