Aktor film yang lahir dari kawah candradimuka teater cenderung beda dengan aktor yang semata mengandalkan kemolekan fisik. "Napak tilas" ke perteateran dan perfilman Indonesia bisa mengingatkan kita tentang hal itu.

BUDAYAWAN AMERIKA, Lewis W.Spitz, dalam bukunya “God and Culture”  pernah berujar bahwa sejarah bukan sekadar riwayat masa lalu, melainkan juga pancaran masa depan. Demikian semangat penerbitan buku ini yang dengan ketekunannya menjadi catatan penting salah satu pergerakan budaya kita yang nyaris terlupakan, yaitu seni peran (teater).

Sesuai dengan judulnya, Para Penghibur, Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda, buku ini menghimpun 17 artis Indonesia masa Hindia Belanda, dan itulah yang menjadi keunikan buku ini: sangat jarang ada yang berkenan menelusuri perjalanan teater Indonesia (dulu lebih populer disebut”tonil”) masa Hindia Belanda 1920-1940-an yang dengan bahasa sekarang adalah bagian dari industri hiburan khususnya seni peran/panggung.

Dari daftar isinya terlebih dahulu ada sebagian nama besar yang masih disebut oleh terutama wartawan budaya media massa kita di sejumlah artikel era 1970-2000 seperti Wolly Sutinah yang kondang dengan panggilan “Mak Wok”, Fifi Young, Kartolo, Tan Tjeng Bok, dan Roekiah. Berbekal ketekunan penulisnya, Fandy Hutari, Anda akan menemukan sejumlah nama lain yang nyaris terlupakan seperti Dalia, Miss Dja, Raden Mochtar sampai Ratna Asmara yang konon adalah bintang film sekaligus sutradara perempuan pertama Indonesia.

Yang menarik, buku ini juga sedikit menyorot persaingan keras dua grup tonil terkemuka saat itu untuk merebut penonton potensial di Batavia yaitu grup “The Union Dalia Opera” dan “Miss Riboet Opera”.

Dalia Opera yang dipimpin bangsawan Deli Tengku Ratan mendadak menjadi idola baru massa penonton tonil saat itu di Batavia dengan keberaniannya memadukan langgam opera teater Barat modern yaitu memasukkan tari, nyanyi, lawak dan balet. Kisah-kisahnya pun meningkat dari sekadar membawakan dongeng cerita rakyat, menjadi unggul dengan mulai membawa kisah realis yang kontekstual dengan situasi sosial saat itu (hlm.33).

Resep inilah yang semula merupakan keunggulan grup “Miss Riboet Opera” namun kemudian dikalahkan “Union Dalia Opera” yang di kalangan itu sudah terasa mewah ala “extravaganza” (tari, nyanyi, lawak, balet)  jika Anda mengacu pada istilah industri dunia hiburan masa kini.

Dalia sendiri konon adalah putri Tengku Ratan yang semula dilarang ayahnya sendiri untuk menjadi artis seni peran karena dia anak bangsawan yang lebih disiapkan sang ayah menempuh studi di Kairo, Mesir. Dalia (terkadang ditulis Dahlia, Dhalia) akhirnya menempuh karier seninya sendiri di berbagai grup sandiwara di Yogyakarta sampai menjadi bintang film profesional dengan rentang karier yang cukup panjang 1941-1990!  Namanya hanya dicomot sebagai nama grup—barangkali juga hanya sebagai lambang hoki—oleh sang ayah, sedangkan “Union Dalia” sendiri punya artis unggulan Miss Alang.

Ini menarik, dan kita menjadi sedikit paham seluk-beluk dunia hiburan masa itu yang juga bergejolak, apalagi ketika Dalia sungguh berhasil merintis karier sebagai aktris film dan menyembunyikan identitasnya sebagai anak bangsawan terkemuka. “Union Dalia” juga unggul dengan pemain yang banyak dan tentu saja selain pementasannya mewah Tengku Ratan dielukan banyak orang dengan kelebihannya mengelola grup sandiwara yang cukup besar, busana dan properti panggung yang lebih mewah serta modern dibandingkan grup lainnya kala itu.

“Miss Riboet Opera” kemudian merekrut sastrawan dan wartawan peranakan terkemuka saat itu yang akhirnya juga unggul di dunia film, Njoo Cheong Seng, sebagai penulis cerita sehingga kedua grup tersebut dikenal sebagai spesialis kisah realis yang kontekstual ketimbang semula hanya mengandalkan dongeng rakyat antah berantah. Di sini sedikit terlihat, ada perkembangan selera masyarakat penonton yang semula disuguhkan dongeng khayalan lalu akhirnya bosan dan memilih cerita yang aktual kontekstual kondisi saat itu.

Kisah unik lainnya adalah Ratna Asmara yang konon adalah bintang film sekaligus sutradara perempuan pertama kali di Indonesia (hlm.174). Ratna yang semula dikenal sebagai istri artis top Andjar Asmara merintis karier seninya di grup sandiwara Dardanella era 1930-an. Dardanella sangat terkenal hingga berpentas ke luar negeri. Ratna dan Andjar perlahan membentuk grup sandiwara sendiri di luar Dardanella yaitu Bolero yang juga merekrut anggota lainnya dari Dardanella. Kali ini yang terungkap adalah persaingan para artis setelah dunia tonil ke film. Ratna dan Anjar sukses menjadi bintang film dengan bayaran tertinggi menyaingi Roekiah  dan Kartolo.

Aspek lain yang cukup fenomenal tentu saja film yang dibintangi Ratna dan Anjar,”Kartinah”  (1941) yang bisa disebut film kolosal perang Indonesia pertama. Latar dan propertinya digarap dengan cermat dan tentunya menghabiskan biaya terbesar saat itu, lantaran ada banyak rumah yang sungguh-sungguh? dihancurkan untuk adegan pertempuran serangan bom dari udara!

*

Mengurai riwayat masa lalu, khususnya seni hiburan panggung teater masa Hindia Belanda cukup menarik dan tentu saja menjadi pancaran masa depan juga jikalau Anda mencoba merefleksikannya di zaman sekarang, seperti yang dikatakan budayawan Lewis W. Spitz tersebut. Dunia film kita sejak awal tahun 2000-an hingga kini lebih didominasi artis dari kalangan foto model atau peragawati yang tentu saja lebih mengandalkan paras, ketimbang keahlian berakting sehingga kita cukup sulit jikalau mencari apa yang dimaksudkan oleh pengamat seni sebagai “keaktoran”.

Tanpa bermaksud mengecilkan kalangan model, harus kita akui era sinetron televisi swasta dan film layar lebar Indonesia sampai kini masih lebih mengandalkan aspek “prominence” atau ketenaran, jika enggan menyebutkan lebih mengandalkan paras molek, ketimbang ketrampilan berakting yang mumpuni. Hanya sedikit sekali nama bintang dari dunia permodelan yang benar-benar kita layak menyebutnya sebagai idealisme “keaktoran” selain tema cerita film sekarang yang cenderung tidak progresif.

Di masa Hindia Belanda hingga era kemerdekaan Indonesia nyaris semuanya bintang film sudah terlebih dahulu berjibaku di dunia teater yang tentu saja sangat mengandalkan keterampilan ketimbang penampilan paras yang molek.

Dan tentu saja sampai era 1970 s/d 1980-an jangan lupakan peran grup Teater Populer pimpinan Teguh Karya yang kurang lebih mengandalkan semangat serupa seperti teater masa Hindia Belanda di buku ini, yaitu memang menggembleng pemainnya terlebih dulu di panggung teater dan kemudian sempat berjaya di dunia film Indonesia dengan menghasilkan beberapa nama seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Alex Komang sampai terakhir adalah Ayu Azhari. Mereka adalah deretan nama-nama yang cukup diperhitungkan dalam dunia film Indonesia dengan kelebihannya berakting selain memang berparas molek.

Buku setebal 232 halaman ini adalah salah satu ikhtiar mulia  yang bisa dinikmati tak sekadar sebagai “napak tilas” masa lalu artis Hindia Belanda, melainkan juga pancaran masa depan mengenai apa saja yang bisa dikembangkan dari dunia seni teater Indonesia masa kini.


Kredit Gambar : twitter fandy hutari (@fandyhutari)
Donny Anggoro
Redaktur Jakartabeat.net dan CEO Roundabout Music Shop, tinggal di Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara