Karya sastra bisa menunjukkan salah satu cara menyajikan sejarah supaya tidak menjadi historiografi yang kering.

Rhoma Dwi Arya Yuliantri, dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta mewajibkan mahasiswanya membaca buku-buku Pram untuk mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Sejarah. Hal ini disampaikan Rhoma saat tampil sebagai pembicara dalam acara Bedah Buku Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia karya Max Lane di Student Center UNY, Kamis (28/09).

Menurut Rhoma, Pram dalam karya-karyanya sangat melampaui zamannya. “Pram dapat mempertemukan fiksi dan fakta yang pada masa itu (1950-an) masih dipandang sebagai dua hal yang berbeda yang tidak boleh sama sekali disatukan. Pram bahkan menjadi orang pertama yang menggunakan tape recorder untuk merekam wawancara untuk sejarah lisan. Itu sebuah lompatan besar dalam penulisan sejarah Indonesia walaupun kemudian namanya tidak tercantum dalam dunia sejarah Indonesia atau dalam kuliah mahasiswa sejarah,”ungkap Rhoma.

Lebih lanjut menurut Rhoma, karya sastra, selain karya Pram, harus menjadi bacaan wajib karena mengajarkan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan saat proses perkuliahan. “Dari sastra bisa dilihat bahwa fakta sejarah dapat disajikan dalam banyak bentuk, tidak melulu historiografi yang kering. Dalam bentuk sastra dan film misalnya. Kalau sejarah tidak mau mati, maka penyajiannya harus menyesuaikan diri dengan zaman, agar bisa diterima oleh anak muda,”tambah dosen yang sedang menempuh studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada ini.

Selain aktif sebagai dosen, Rhoma Dwi Arya juga berkiprah sebagai penulis. Salah satu bukunya berjudul Lekra Tak Membakar Buku yang ditulis bersama Muhidin M. Dahlan, pernah dilarang beredar pada 2009 lalu.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara