Seorang penyair menulis cerpen itu sama mungkinnya dengan seorang cerpenis menulis puisi. Telaah cermat dibutuhkan untuk memberi adjektiva pada karya yang kemudian dihasilkan supaya tak jatuh pada labelisasi semata.

TAHUN 2016, kita digoda mengakui Triyanto Triwikromo sastrawan yang komplet. Triyanto menerbitkan tiga buku sastra dalam kurun waktu hampir bersamaan. Tiga buku itu yakni kumpulan puisi Selir Musim Panas, kumpulan cerita pendek Sesat Pikir Para Binatang, dan kumpulan fiksi mini Bersepeda ke Neraka. Triyanto, lewat tiga bukunya, seakan mengisyaratkan sastrawan mesti sanggup menulis prosa dan puisi sama baiknya. Selain itu, Bersepeda ke Neraka menggoda sastrawan (terkhusus sastrawan muda) agar berani bereksperimen dengan cara berkisahnya. Tapi, bukan hanya Triyanto. Sastrawan lain banyak yang menjejakkan kedua kakinya di prosa dan puisi, dan memberanikan diri menjamah penulisan skenario, lirik lagu, bahkan melukis. Bersastra itu melintasi batas.

Hanya saja, kita telanjur membuat penggolongan sastrawan, entah disengaja atau tidak. Penggolongan merujuk pada “dengan apa kita mengenal para sastrawan”. Sapardi Djoko Damono kita kenal dari puisi-puisinya, maka ia digolongkan penyair. Sapardi, meski sebenarnya menulis prosa berkali-kali, selalu dianggap jagoan puisi. Begitu pula Eddy D. Iskandar. Kita mengenal Eddy dari novel-novel populernya yang digandrungi anak muda tahun 70-an, seperti Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Roman Picisan, Semau Gue, Cowok Komersil, dan sebagainya. Namun, kita enggan mengakui Eddy penyair meski ia menulis beberapa puisi dalam bahasa Indonesia maupun Sunda.

Kita mungkin hanya kurang mengenali karya-karya sastrawan sehingga seenaknya membuat penggolongan itu. Kita boleh membicarakan Ratih Kumala. Kita mengenalnya sebagai prosais lewat novel Tabula Rasa (2004), Genesis (2005), Kronik Betawi (2009) yang mulanya cerita bersambung di Republika (Agustus-Desember 2008), Gadis Kretek (2012), dan buku kumpulan cerpen Larutan Senja (2006) serta Bastian dan Jamur Ajaib (2015). Kita pun mengenal Ratih sebagai penulis skenario untuk televisi dan layar lebar. Pengenalan kita dan cara Ratih memperkenalkan dirinya selaras: penulis novel, cerpen, dan skenario. Pembuktiannya di laman ratihkumala.com:

Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja, (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) yang masuk dalam top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke bahasa Inggris Cigarette Girl (moonsoon books, UK), bahasa Jerman Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir. Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Kita tak menemukan puisi dalam pengenalan Ratih. Kita digoda mengklaim Ratih bukan penyair. Klaim itu lalu terbantahkan ketika sebuah buku bersampul sederhana (atau dengan kata yang lebih jujur: jelek) terpungut dari salah satu kios buku bekas di Solo. Buku mungkin terselip bertahun-tahun. Buku berjudul Solilokui Sketsa Nurani (2005) dengan keterangan: Antologi Puisi 21 Penyair Solo. Siapa pun yang puisinya dihadirkan dalam buku itu dinyatakan sah sebagai penyair. Kita tak begitu terkejut saat menjumpai nama Gunawan Tri Atmodjo. Kita sempat bertemu buku kumpulan puisinya, Malam Penghabisan bagi Siluman (2016). Gunawan berpuisi itu tidak aneh. Kita baru merasa aneh saat mendapati nama Ratih Kumala tertera di sampul belakang dan daftar isi. Lima puisi Ratih hadir dalam Solilokui Sketsa Nurani. Ratih dinyatakan penyair!

Lanskap Senja Jogjakarta

Aku jatuh cinta pada lanskap senja Jogjakarta

saat malam belum terbaring sempurna

dan langit masih berwarna jingga

karena matahari akan tidur di Barat cakrawala

Segerombolan burung yang tak kutahu namanya

terbang menuju Utara

sedang tukang becak menggenjot pedalnya

ke gerbang keraton utama

Aku sendiri terjebak dalam jingga

bersama mereka yang menunggu Maghrib tiba

dan lesehan akan menggelar tikarnya

sementara pedagang batik dan bakul buku

mulai menutup kios mereka

Aku jatuh cinta pada lanskap senja Jogjakarta

juga pada aroma

atmosfir suasana

Lanskap Senja Jogjakarta mengawali perjumpaan kita dengan puisi-puisi Ratih. Kita belum tahu kapan puisi itu ditulis. Kita sekadar tahu puisi itu terbit tahun 2005. Saat itu, nama Ratih mulai dipertimbangkan lantaran jadi pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003.

Tentu kita berhak kecewa saat membaca puisi Lanskap Senja Jogjakarta. Puisi itu tak setara nama besar Ratih. Secara bentuk, ia tak istimewa. Puisi itu masih terkurung kecenderungan puisi lawas yang bersajak a-a-a-a. Kecenderungan itu berisiko memaksakan kata-kata agar ujungnya sebunyi belaka, mengabaikan makna dan capaian estetika yang lebih. Secara isi, kita tak menemukan hal baru tentang Jogja dalam puisi itu. Ratih masih menganggap Jogja istimewa dan berhati nyaman: picisan.

Puisi Ratih berikutnya berjudul Setelah Tujuh Tahun. Puisi sudah lepas dari sajak a-a-a-a. Kita wajib bersyukur Ratih tak kebablasan terpengaruh puisi lawas. Sayangnya, tematik yang ditawarkan masih belum memuaskan. Ratih yang ketika itu berusia 20-an tahun tentu mengalami gejolak asmara. Gejolak itu terbawa di puisinya. Ratih mendapat komentar Suksmawan Yant Mujiyanto pada kata pengantar, “memang ada kedalaman dan kedangkalan dalam puisi-puisi ini, ada pengolahan masalah cinta dan pernik-pernik kehidupan yang terlalu sederhana, ungkapan yang meletup-letup, pembebasan diri dari tabu kata sehingga mungkin ada pembaca yang agak risih dan keberatan.” Semestinya puisi memang tak melulu emosional menyoal asmara atau memamerkan diksi berbunga dan bersenja. Puisi boleh ber-asu atau ber-uwuwuwu.

Kedua puisi Ratih masih sekadar presentasi perasaan. Puisi ketigalah yang mulai melampaui itu. Di puisi Dalam Renung, pada Mata, Ratih bicara ihwal gender, tepatnya keperempuaan. Puisi menampilkan pergulatan sepanjang hidup antara perempuan dan kecantikan. “Wanita-wanita dikarantina/ dalam usia dan kecantikannya/ apakah garis pada tangan telah rampung/ di kala wanita tertegun dalam renung,” tulis Ratih. “Dalam pencarian yang terawang sepi/ di kala mata mencari-cari/ sebuah jawab yang tanpa tanya/ ataukah jawab itu adalah tanya?” Di ujung pergulatan perempuan dan kecantikan menantilah momen kritis. Di momen itu, perempuan bukan lagi menghadapi renung diri atau mata publik, namun senjakala diri. “Sebab kami punya diri/ yang kelak tersungkur pada menopause dan usia.”

Laki-laki yang Cinta Kehidupan

Laki-laki yang kutemukan adalah

ia yang mirip diriku hingga ke dalam-dalamnya

Hingga aku mengira kami dari satu indung telur yang sama

pada rahim yang berbeda

Saat dia berulang tahun

aku jadi semakin membencinya

karena mengingatkanku akan ketidakabadian

Semoga laki-laki itu tidak pernah menikah

dan mimpi buruk di setiap tidurnya

Puisi keempat Ratih, Laki-laki yang Cinta Kehidupan, cukup menyenangkan. Kita rupanya tak melulu dilimpahi luapan emosi. Ratih memberi sedikit humor dalam puisi keempat. Kita diajak mengagumi perjumpaan di awal puisi. Perjumpaan lalu mengarah ke kekaguman. Namun, Ratih memutuskan mengakhiri puisi dengan kesal dan sumpah serapah menggemaskan, “semoga laki-laki itu tidak pernah menikah/ dan mimpi buruk di setiap tidurnya.” Sungguh jahat, tapi jenaka. Kita layak berbahagia menjumpai puisi-puisi Ratih Kumala yang terselip di masa lalu. Kita boleh kesal jika merasa puisi Ratih tak sehebat prosa-prosanya. Barangkali, takdir Ratih memang prosais. Barangkali juga, karena itu kita tak pernah mendapati Ratih menulis puisi (lagi).


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara