Nama lengkapnya Ramadhan Karta Hadimadja. Puisi Awakaryanya masih terus dibaca, "Priangan si Jelita", begitu juga novel-novelnya. Salah satu buku lain yang mempopulerkan namanya adalah biografi Inggit Garnasih: "Kuantar ke Gerbang".

PADA 1982 Ramadhan KH mendapatkan sebuah tawaran menulis yang menggiurkan sekaliguskan menegangkan. Kepala Media Massa Sekretariat Negara saat itu, Gufran Dwipayana, menghubungi Kang Atun--panggilan akrab Ramadhan--yang sedang bermukim di Jenewa, untuk menulis biografi Soeharto.

Nama Kang Atun dipilih lantaran buku biografi Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang, amat berkesan bagi Dwipayana yang dipercayakan Soeharto memilih penulis biografinya. Namun Kang Atun tidak serta merta menyanggupi permintaan itu karena khawatir dirinya yang orang Sunda, tidak cukup paham latar belakang budaya Jawa Soeharto yang amat kental itu. Kang Atun khawatir kalau ketidakpahamannya dapat membuahkan kesalahan menuliskan sesuatu yang bisa berujung pada penangkapan. Sesuatu yang amat lazim terjadi ketika Soeharto berkuasa.

Dwipayana lalu meyakinkan Kang Atun untuk menerima tawaran ini. Lagipula kalau sang presiden sudah bertitah, tidak baik menolaknya. Kang Atun akhirnya menyanggupi dengan satu syarat: sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama. Jadi ia memosisikan diri sebagai Soeharto yang menceritakan kisahnya sendiri. Dwipayana setuju dan Kang Atun akhirnya menerima pekerjaan itu. Tapi ia sadar dan tahu pasti bahwa proses penulisan biografi ini tidak akan mudah.

Benar saja. Menulis biografi Soeharto dirasa Kang Atun lebih sulit ketimbang biografi tokoh yang ia tulis sebelumnya. Banyak tekanan yang ia rasakan karena takut salah mengintepretasikan sesuatu. Salah satu yang dirasa cukup mengganggu adalah pernyataan Soeharto terkait fenomena ‘petrus’ yang menyita perhatian internasional. Yang Atun tahu sebelumnya, wakil pemerintah Indonesia di PBB menyatakan bahwa fenomena itu adalah tembak menembak antargeng.

Namun jawaban Soeharto justru jauh berbeda. Soeharto menyebutnya sebagai “treatment”. Sebuah tindakan tegas pada para preman yang harus dilakukan dengan kekerasan. Soal preman-preman yang ditembak, menurut Soeharto itu terjadi karena mereka melawan. Dan mayat-mayat preman yang ditinggalkan begitu saja, Soeharto sebut sebagai shock therapy.

Atun tak bisa berbohong bahwa pernyataan itu sungguh mengganggunya. Jawaban itu ia konfirmasikan berkali-kali dan jawaban Soeharto selalu sama. Selama proses penulisan ini, Kang Atun hanya dua kali bertemu Soeharto. Selebihnya, ia merekam pertanyaan yang hendak dilontarkannya pada Soeharto, dan menitipkan rekaman itu pada Dwipayana yang setiap Jumat bertemu sang presiden. Tujuh tahun selepas tawaran itu datang, biografi Soeharto akhirnya diterbitkan. Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, demikian biografi itu diberi judul.

*

Biografi memang tidak bisa dilepaskan dari jejak karier menulis Ramadhan KH yang panjang. Selain biografi Inggit Garnasih dan Soeharto, Kang Atun juga menulis biografi Ali Sadikin, Sumitro, Hugeng Iman Santoso, Alex Kawilarang, dan Kemal Idris. Ada pula biografi Djamaludin Malik, pemilik perusahaan film Persari dan Sukamdani Sahid Gitosardjono, pemilik jaringan hotel .Sahid dan hotel Sahid Jaya Internasional

Sebelum menulis biografi, Kang Atun sudah produktif menulis puisi, cerpen, dan novel. Kumpulan puisinya Priangan Si Djelita yang terbit pada 1956, dipuji Sapardi Djoko Darmono sebagai salah kumpulan puisi terbaik di tanah air. Kumpulan puisi ini mendapatkan Hadiah Sastra Badan Musyawarah Kebudayaan pada 1960.

Beberapa novel yang ditulis Kang Atun adalah Royan Revolusi (1968), Kemelut Hidup (1977), Keluarga Permana (1978), dan Ladang Perminus (1987). Novel Kemelut Hidup pernah diangkat ke layar lebar dan disutradarai oleh salah satu karibnya, Asrul Sani.

Kang Atun lahir di Bandung, 16 Maret 1927 dengan nama lengkap Ramadhan Karta Hadimadja sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ayahnya adalah seorang Patih Kabupaten Bandung pada masa kekuasaan Belanda, bernama Raden Edjeh Kartahadimadjah. Sementara ibunya bernama Saidah, yang diceraikan ayahnya saat usia Kang Atun belum genap 3 bulan. Saidah pun langsung pindah ke Cianjur.

Di Cianjur inilah Kang Atun menghabiskan masa kecil dan remajanya. Pengalaman ini membuat Kang Atun jadi cukup dekat dengan sang ibu dan menumbuhkan kesadarannya terhadap masalah-masalah perempuan. Tak heran, biografi Inggit Garnasih bisa ditulisnya dengan mengesankan.

Kang Atun menjalani pendidikannya hingga sekolah menengah pertama di Cianjur. Pada 1943 ketika pendudukan Jepang, Kang Atun tidak bisa tetap bersekolah di Cianjur. Dia lalu pindah ke Bogor dan menjalani pendidikan sekolah menengah atas di kota hujan itu. Tahun 1948 Kang Atun masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) tapi hanya berjalan setahun. Kang Atun lalu pergi ke Jakarta dan melanjutkan kuliah ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) tapi tidak juga diselesaikannya. Pada tahun ketiga kuliah, Kang Atun ditawari meliput event Asian Games di New Delhi, sebuah kesempatan yang tidak dia sia-siakan. Kang Atun lalu sibuk mengerjakan berbagai hal di masa kuliahnya itu. Pada tahun terakhirnya di ADLN, Kang Atun memutuskan berhenti.

Kelak, baru saat menerima penghargaan SEA Write Award pada 1993, Kang Atun menyampaikan pidato berjudul “Saya Tinggalkan Dunia Diplomat Karena Sajak”, yang menjelaskan kenapa ia tidak menyelesaikan pendidikannya di ADLN dulu.

Pada 1951 Kang Atun termasuk ke dalam rombongan penyair,  pengarang, dan pelukis yang berangkat ke Belanda atas bantuan Sticusa. Turut bersama Kang Atun ada Pramoedya Ananta Toer, Barus Siregar, Asrul Sani, Sitor Situmorang, Gayus Siagian, dan Mochtar Apin.

Sekembalinya ke Indonesia pada 1955, Kang Atun bekerja sebagai redaktur di majalah Kisah, kemudian pindah ke majalah Siasat. Di majalah ini ia mengasuh rubrik kebudayaan yang dinamai “Gelanggang.” Bersama Ajip Rosidi dan beberapa rekan seniman lainnya, mereka meyakinkan Gubernur DKI Jaya, Ali Sadikin untuk mendirikan Taman Ismail Marzuki. Setelah TIM berdiri, Kang Atun mengurus Dewan Kesenian Jakarta bersama Asrul Sani, Ajip Rosidi, dan Iravati Sudiarso.  

Pada tahun 1956 Kang Atun bersama dengan beberapa pengarang lain yang berasal dari Jawa Barat mendirikan organisasi kebudayaan yang bernama Kiwari. Yang bergabung dalam organisasi tersebut, antara lain, Achdiat Kartamiharja, Ajip Rosidi, Dodong Djiwapraja, dan Wing Kardjo. Organisasi ini banyak menerbitkan buku kesusastraan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Organisasi tersebut menimbulkan berbagai reaksi karena dianggap sebagai gerakan separatisme, provinsialisme, atau sukuisme. Akan tetapi, semua itu akhirnya dapat disangkal oleh para anggotanya.

*

Menikahi Pruistin Atmadjasaputra yang merupakan seorang diplomat pada 1958, Kang Atun pun ikut mendampingi sang isteri bertugas ke beberapa negara seperti Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski cukup lama berada di luar negeri, tapi Kang Atun tetap produktif menulis. Salah satu karya Kang Atun adalah biografi sri panggung tonil Dardanella pada 1930-an di Hindia Belanda, Miss Dja. Biografi itu berjudul Gelombang Hidupku dan ditulis Kang Atun saat tinggal di Los Angeles. Saat berdomisili di Berlin, Kang Atun banyak memperkenalkan sastra Indonesia kepada publik Jerman. Ia juga menerjemahkan sajak-sajak penyair Spanyol, Frederico Garcia Lorca, ke dalam bahasa Indonesia.

Isteri Kang Atun, Pruistin meninggal pada 1990. Tiga tahun berselang Kang Atun kembali menikah dengan Salfrida Nasution yang merupakan teman isterinya terdahulu. Salfrida pun berprofesi sebagai diplomat sehingga Kang Atun dengan setia mendampinginya bertugas ke berbagai negara seperti mendampingi Pruistin dahulu.

Rosihan Anwar dalam Sejarah Ketjil Petite Historie Jilid 3 mengatakan betapa senangnya Kang Atun saat menerima South East Asia Writer Award di Bangkok, Thailand pada 1993. Dari Indonesia sendiri sebelum Kang Atun, ada Putu Widjaya, Y.B Mangunwidjaya dan A.A Navis yang sudah mendapatkan penghargaan ini. Pada 2001, bersama Rosihan Anwar, Kang Atun dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).

Aktivitas menulis yang sudah rutin Kang Atun lakukan sejak belia, tidak ia tinggalkan dihari tua. Setidaknya dalam sehari waktu sebanyak dua jam ia alokasikan untuk menulis berbagai macam hal. Selain itu, hari tua Kang Atun juga diisinya dengan kegemaran lain: melukis. Salah satu objek yang gemar dilukis Kang Atun adalah rangkaian pegunungan di belakang rumahnya di Cape Town. Sejak 2003 Kang Atun bermukim di sana, mendampingi istri keduanya Salfrida Nasution yang bertugas sebagai konsul jenderal di Cape Town.

Di kota ini pulalah akhirnya Kang Atun tutup usia, tepat di hari ulang tahunnya ke 79. Kanker prostat yang mengganggu kesehatannya sejak 2005 tak dapat lagi dilawan. Kang Atun meninggalkan seorang istri dan dua putera buah pernikahannya dengan Pruistin, istri pertamanya.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara