Penerbitan buku-buku islami di Solo memiliki perbedaan dari zaman kejayaannya dulu dan sekarang yang menggerakkan radikalisme.

PINTU kamar terbuka. Rak kecil hitam bermerek Aviano tampak di hadapan mata. Semestinya VCD player dan kaset-kaset memenuhi rak kecil itu, serta di atasnya televisi tersangga agar layak tertonton sejajar mata. Rak kecil pun semestinya di ruang keluarga. Tapi, rak kecil sudah murtad dari tugas dan tempatnya. Rak kecil kini berada di kamar dan dipaksa menampung buku-buku tematik jihad dan teori konspirasi, entah Yahudi, illuminati, maupun freemasonry. Buku-buku itu tertampung dalam rak dan agak tertutup berbagai barang: celengan merah dari gerabah, beberapa edisi majalah Star Weekly, dan tumpukan kaset OM Monata.

Buku-buku Islam radikal, kendati lebih tepat disebut Islam ekstrem, jadi bacaanku semasa SMA. Buku-buku menandai kiprahku di ROHIS (Kerohanian Islam) salah satu SMA paling favorit di Solo. Beberapa judul buku-buku semasa ROHIS masih teringat hari ini. Buku-buku itu berjudul Jihad: Jalan Khas Kelompok yang Dijanjikan (2007), Harakah Jihad Ibnu Taimiyah (2007), Dari Rahim Ikhwanul Muslimin ke Pangkuan Al-Qaida (2008), Petaka Umat Islam: Konspirasi Musuh Islam di Balik Cerita Israiliat (2009), Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam (2009), dan masih banyak judul lain yang tak kalah keparat.

Buku-buku tersebut aib dan merepotkan. Aku pernah kerepotan menyembunyikan buku-buku itu saat paman yang seorang pendeta di Riau berkunjung ke rumah. Aku tak sanggup menanggung malu seandainya paman melihat di rak ada buku keparat berjudul Stop Kristenisasi: Membongkar Gerakan Pemurtadan & Mencari Solusi Menghadapi Program Kristenisasi (2010). Syukur, alhamdulillah sekaligus puji Tuhan, paman lebih asyik bercengkerama dengan bapak di ruang tamu ketimbang menyurvei kamar-kamar dua keponakannya.

Membaca buku-buku keparat tak menjadikanku radikal dan ekstrem. Aku sangat beruntung bersekolah di SMA yang tepat. Dulu kepala sekolah seorang nonmuslim (aku lupa beliau kristen atau katolik) yang baik dan sangat toleran. Menjadi radikal di SMA itu sangat tidak pantas alias kebangetan sebanget-bangetnya. Pergaulan di ROHIS juga “menyelamatkan”.

Di ROHIS, kami tumbuh bersama Slipknot, Lamb of God, Bullet for My Valentine, bahkan Dream Theater yang pianisnya seorang Yahudi itu.

ROHIS SMA kami pun terlihat beda dan mencolok tatkala berjumpa ROHIS dari SMA lain, semisal di FAROIS (Forum Aktivitas Kerohanian Islam).

Aku sadar, tidak semua pembaca buku-buku Islam radikal berhasil terselamatkan. Banyak juga yang telanjur kelelep dan menjalani sisa hidup sebagai muslim yang wagu. Mengingat pengalamanku berjumpa buku-buku Islam radikal bermaksud membuktikan pemberitaan di tiga surat kabar nasional: Kompas, Republika, dan Media Indonesia, 12 Januari 2018. Ketiga surat kabar itu melaporkan presentasi hasil penelitian Guru Besar Islam dan Politik Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, berjudul Literatur Keislaman Generasi Milenial. Penelitian itu menarik dan relevan di era pasca-212 ini.

Kompas menulis, “Islamisme populer menjadi literatur keislaman paling disukai oleh generasi milenial karena menawarkan literatur-literatur yang mudah dipahami.”

Kita mahfum belaka, buku-buku keislaman yang “bisa dibaca tanpa mikir” lebih banyak beredar dan laris ketimbang buku-buku pemikiran Islam. Dampak buruk bagi generasi milenial, “mereka menjadi terlalu menyederhanakan masalah karena literatur yang ada terlalu instan.” Itulah yang sebetulnya menyebabkan muslim kita mudah bersikap anti terhadap vaksin, kontrasepsi, serta berbagai hal lain hanya karena kesemuanya itu temuan nonmuslim, produk Barat, bikinan Yahudi, dan sebagainya.

Pemberitaan lebih keras hadir di Media Indonesia, berjudul Buku Islam Moderat Minim. Sejak teras berita, Media Indonesia sudah menegaskan, “buku-buku keislaman yang ada saat ini banyak yang mengarah pada ideologi Islam radikal. Buku-buku itu kerap beredar di kalangan pelajar dan mahasiswa.”

Aku membaca berita sambil mesem-mesem sendiri. Sudah lama peristiwa dijumpai, bahkan dialami, namun hasil penelitian baru njedul belakangan. Buku-buku Islam radikal beredar luas dan berharga lebih murah ketimbang buku-buku keren keluaran penerbit-penerbit ampuh. Jelas saja, buku-buku itu berjodoh dengan pelajar dan mahasiswa yang isi dompetnya tak seberapa.

Republika, sepakat dengan Media Indonesia, menulis pernyataan penting, “Solo menjadi kota yang paling banyak melahirkan penerbit yang aktif melahirkan penerbit yang aktif memproduksi literatur Islamisme dan menjadi rumah utama bagi penerbit-penerbit dan toko buku.”

Jika di kota lain, radikalisme perbukuan mewujud lewat gairah menerbitkan buku-buku sastra, pemikiran, sejarah, dan sebagainya, di Solo radikalisme perbukuan benar-benar melalui penerbitan buku-buku radikal. Kita kembali ke Media Indonesia untuk memungut pernyataan tak kalah penting, “ragam bacaan itu diproduksi para penerbit yang berafiliasi dengan gerakan-gerakan dan organisasi keislaman.”

Klaim Solo sebagai pusat penerbit buku-buku Islami jelas tidak salah. Kita pantas menengok artikel Buku-buku Memutihkan Kota di majalah Kentingan edisi 24 tahun XXIV, 2017. Kentingan menulis, “semua bermula pada 1929. Muhammadiyah cabang Solo menyelenggarakan muktamar. Salah satu putusan muktamar adalah mendirikan Uitgeefster Maattschappy, sebuah badan yang membidangi urusan penerbitan. Usaha itu kemudian diserahkan pada Hoofd Bestuur (HB) bagian Taman Pustaka.” Muktamar itu menandai kesungguhan Muhammadiyah memproduksi terbitan Islami selain buku-buku pelajaran.

Menurut Muhammadiyah, penerbitan buku-buku Islami penting untuk dakwah. “Usaha dakwah Muhammadiyah tidak hanya dengan lisan dalam usaha melaksanakan pengajaran dan pembaharuan keagamaan. Upaya penerbitan buku-buku dan media cetak turut dilakukan.” Penerbitan buku-buku Islami bukan semata urusan Muhammadiyah. Penanda penting penerbitan buku-buku Islami di Solo masa lampau tentu saja AB Sitti Sjamsijah. “Temuan paling tua datang dari tahun 1927. Sitti Sjamsijah menerbitkan buku dengan judul Agama dan Pengetahoean.”

Kita lantas mengerti bahwa kegilaan penerbitan buku-buku Islam radikal di Solo bertumpu pada kejayaan penerbitan buku Islami di masa lampau. Selain bagi penerbitan buku-buku pelajaran, Solo sangat subur untuk penerbitan buku-buku Islami. Di masa lampau Solo menjadi radikal lewat penerbitan buku-buku di tengah kebelumsanggupan masyarakat mengentaskan diri dari tradisi lisan. Kini, Solo malah dianggap radikal gara-gara penerbitan buku-buku yang bikin males mikir dan menyesatkan. Na’udzubillah...


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara