Menjadi penulis di masa kini adalah jalan yang bukannya tanpa masalah. Dari mulai masalah penerbitan, royalti, ataupun hal teknis lainnya: termasuk pemasaran.

BEBERAPA waktu lalu, saat kali pertama membuka facebook, mata melirik tulisan berisi racauan kemarahan penulis yang salah nama dalam MoU-nya. Tentu hal itu langsung disebar oleh penulis-penulis senior. Penulis yang bukunya akan diterbitkan itu langsung saja ditanya oleh penulis senior berapa banyak buku yang ditulisnya. Dan penulis senior menjawab sendiri pertanyaannya yang seolah menyindir “Saya sudah (menerbitkan) tujuh buku masih slow aja kok” dan masih  sambil dibubuhi penegasan  “santai kayak di pantai” dan  dalam statusnya ada (seolah) keikhlasan dan kemirisan.  

Beranda facebook pun menjadi ramai oleh curhatan. Kisah sedih nan memilukan dari setiap penulis kemudian tertuang dalam kolom komentar. Menjadi penulis di negara ini tentu dilanda nelangsa berkepanjangan. Kalau kata Jokpin, menjadi penulis di Indonesia tak akan bisa setenar dan sekaya JK. Rowling. Mungkin,  dalam kalimat Jokpin tersebut ada keirian atau hanya sekedar sindiran penulis-penulis yang ingin segera kaya karena tulisannya.

Kita sudah tahu, bahwa tulisan-tulisan di koran paling mudah dijumpai menjadi bungkus gorengan, nasi uduk atau ya paling banter jadi masuk ke tong sampah. Aku pernah menemukan tulisan seniorku di suatu lembaga organisasi kampus, menjadi bungkus nasi uduk yang kubeli. Di saat itu aku pun mahfum, barangkali tulisan-tulisan yang kukirim di koran akan berujung dengan banyak minyak. Padahal, si penulis berusaha susah payah menemukan tulisannya untuk didokumentasikan.

Ini saja sudah semakin gengsi dan seolah menusuk harga diri. Tapi masih mending aku (si calon penulis) karena belum sah menjadi penulis pro. Dalam suatu laman facebook lagi, penulis senior menceritakan kejadian mengenaskan nasib tulisan lamanya yang menjadi tatakan sepatu. Dia langsung saja syok dan mengambil kertas koran dan meminta kepada temannya. Dan temannya pun tak terlalu ilik dalam koran bekas itu terselip nama penulis.

Memang, koran bekas selalu menyimpan hal yang tak diduga nasibnya. Penulis yang pro itu bersyukur dapat menemukan kembali tulisannya yang dulu, meski di koran itu ada bekas tanah dan kertasnya telah agak rusak. Tapi si penulis dalam statusnya masih senang bukan kepalang.

Kembali lagi ke  kisah penulis yang namanya salah, segera saja penulis-penulis lain ikut menimpali. Ada yang berkisah tentang tak dibayarnya royalti oleh penerbit, ada yang tidak dapat kepastian cetak atau tidaknya buku dan ia sampai menunggu satu tahun lebih. Kisah-kisah penulis miris dan boleh jadi menjadi kisah drama duka penulis. Di saat mudahnya orang lain memposting semua tulisan, ada (para penulis) orang yang benar-benar menulis menunggu dengan (sangat) sabar kepastian cetak atau tidaknya.

Jadi teringat waktu adanya ulang tahun Sapardi Djoko Damono, ya si penyair itu (mungkin) lebih beruntung, karena karyanya sudah tak disangsikan lagi. Bahkan saat ia nekat menulis novel pun, laris manis, dan kemahakuasaan penulis derajatnya kalau novel telah berhasil dijadikan film. Sungguh, itu adalah kedigdayaan apik dari penulis.

Rata-rata penulis kisah romansa mudah tembus dan laris di pasaran. Tema cinta selalu menggiurkan para pembaca dan penikmat film. Kita bisa berjumpa buku yang naik di pasaran seperti, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Hujan Bulan Juni dan yang paling fenomenal bagi anak remaja sekarang yaitu Dilan 90’an. Semua film membuat mabuk cinta.

Aku jadi teringat Agus Noor saat membuka peluncuran buku cerpen Cinta Tak Pernah Sia-sia, dia kalau tidak salah berujar bahwa sastra yang paling mudah terkenal ialah sastra tentang cinta. Maka, ia pun tergiur menelurkan kisah cinta dalam cerpennya. Meski, kita masih dalam tahap demikian lugu untuk merasakan tentang cinta. Hanya sekadar dua insan atau lebih yang memiliki konflik yang kebanyakan perebutan cinta kepada tokoh utama. Sastra kita belum melek dengan cinta yang dibalut nestapa kemiskinan, atau dirundung nestapa berlebihan akan kemiskinan, ketidakberdayaan, atau ya ada soal politik tertuang. Tapi kita belum bergerak dalam romansa yang lebih dalam.

Kita terlalu banyak haru-biru dengan kisah picisan romansa remaja diselingi gombalan. Belum ada karya sastra yang mengulik benar-benar arti keromantisan menjadi seorang yang bernyawa. Mungkin ada tapi publik tidak terlalu tertarik atau peduli.

Pernah aku bertanya kepada anak SMP mengenai buku apa yang ada di perpustakaannya dan dia menjawab buku-buku serial Dilan. Ketika ditanya ulang “Hanya Dilan?” dan ia pun berkata “Iya”. Ketika ditanya buku serial Pram, sontak si anak hanya bertanya “Pram itu siapa? Memang dia penulis?”. Jawaban demikian sekiranya sangat menohok.

Sastrawan kenamaan tak dikenal dan kisah tetralogi Pram tak bisa ditemui di sekolahan. Lebih miris lagi, kebanyakan buku Pram lebih laris di luar negeri. Sementara di Indonesia, namanya saja sudah ditakuti, barangkali karena kegiatan politiknya di masa lalu. Sehingga karyanya kurang gandrung di dalam negeri. Bahkan sampai sekarang, rumah Pram masih dianggap sebagai rumah zona terlarang oleh penduduk sekitar. Celakanya!

Kisah penulis banyak berujung derita, lantaran di Indonesia tak banyak yang masyhur karyanya. Meski muatan tulisan bagus sekalipun, ada saja celah untuk menjatuhkannya. Tetapi, kasus ini berbeda dengan Tere Liye, yang bukunya laris manis di pasaran. Dunia kepenulisan sempat dilanda kehebohan oleh amukan oleh Tere Liye. Ia pernah menggungat pajak penulis yang terlampau tinggi. Sampai hal ini mengusik Menteri Keuangan (MenKeu) yakni Sri Mulyani. MenKeu sampai mengadakan rapat mengenai pajak penulis, namun hasilnya tak jelas juntrungannya. Sehingga, ini membuat banyak penulis yang makin heran dan bingung dengan peristiwa yang ada di rapat.

Kisah-kisah menyedihkan menjadi penulis tak cuma menimpa Tere Liye, kisah ini selalu mudah dijumpai dalam laman facebook, twitter atau media sosial lainnya (bila berteman dengan penulis). Racauan tentang harga buku yang mendapat obral, atau tentang bukunya yang setelah ditunggu-tunggu akhirnya dapat dimuat meski dengan penurunan harga (lagi). Buku-buku menjadi berserakan.

Penulis, seperti dikatakan penerbit Lontar, sekarang bukan hanya bertugas menjadi penulis, tapi menjadi sales, menjajakan sendiri karyanya.

Benar saja yang dikatakan penerbit Lontar, aku merasakan sekarang penulis harus sigap untuk memposting buku-buku yang ditulisnya. Penulis segera saja menjajakan karya di beranda media sosialnya berharap buku bisa segera menyapa mata pembaca. Karya-karya menjadi (seolah) dilacurkan untuk bersolek pada bagian kovernya sehingga segera dibeli oleh peminat atau pemaca buku. Bagi generasi sekarang ini visualisasi, kover yang mumpuni lebih akan ditengok (setidaknya). Kita akan mudah menerima buku bersampul rupawan dengan harga yang (teramat) mahal.

Bila kita cermati, beberapa waktu yang lalu ada penulis yang meluncurkan bukunya yang diganti sampul barunya dan harganya kelewatan. Tentu buku menjadi lebih rupawan. Ia segera dapat berlenggang manis di toko buku dengan hasrat dapat memikat para penikmat buku. Tinggal kita amini saja, trik ini dapat memicu pembaca untuk bersegera membeli karyanya.

Cerita penulis masih dapat berlanjut dengan kebusukan-kebusukannya, ini diungkap oleh novelet Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, ia sangat apik membuat penulis yang membacanya boleh jadi geram. Sebab, Carlos dalam kisahnya menyindir pula penulis yang suka menggembar-gemborkan tulisannya dan bisa sepanjang malam menceritakan tulisannya. Rumah Kertas menjadi buku ampuh menelanjangi setiap kefrustrasian penulis, Carlos secara lugas mencemoohkan gerak-gerik penulis. Tapi kita boleh saja mahfum, lagi pula menjadi penulis itu berat. Biar Carlos saja!


Ayu Rahayu
Mahasiswi PPKN di UNJ dan penghutang kata, salah satu kontributor buku "Ngombe" dan "Sembrono!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara