Antologi puisi “Nostalgi dan Melankoli” adalah antologi 51 puisi Khoirun Niam. Terbit pada Maret 2018, antologi ini merekam proses kreatif sang penulis sejak tahun 2014.

TAHUN 1981, Budi Darma menulis sebuah esai berjudul “Milik Kita: Sastra Sepintas Lalu”. Esai itu pertama-tama dimuat dalam Kompas edisi 9 Nopember 1981 dan kemudian dibukukan bersama 16 esainya yang lain dalam Solilokui: Kumpulan Esai Sastra (Gramedia, 1983). Dalam esai tersebut, sastrawan sekaligus kritikus sastra kita itu membahas pandangannya seputar banyaknya penulis yang melahirkan karya sastra, kemudian pergi, kadang kembali lagi, lalu pergi lagi. Dengan kata lain: hanya mampir, atau dalam istilah Budi Darma, “keterlibatan mereka dalam sastra hanyalah sepintas-lalu”. Dengan “hanya mampir” itu maka mereka “bermain ala kadarnya, tanpa berusaha keras untuk memperbaiki mutu permainannya”.  

Antologi puisi Nostalgi dan Melankoli ini adalah antologi puisi tunggal Khoirun Niam yang pertama. Bahwa penganggitnya bisa kita harapkan bukanlah penyastra sepintas-lalu maka itu pertama-tama bisa kita lihat dari rekam jejaknya di dunia sastra yang sudah lumayan panjang. Sebelumnya, karya-karyanya sudah termaktub dalam lima antologi bersama. Tahun ketika Nostalgi dan Melankoli ini terbit adalah tahun ketika sang penulis merupakan Ketua Komite Satra Dewan Kesenian Pati yang dia jabat sejak tahun 2015.

Antologi puisi ini menampung 51 puisi anggitan Khoirun Niam yang dibagi ke dalam tiga tajuk besar: Risalah—16 puisi, Cerita Cinta—15 puisi, dan Ayat Kopi—20 puisi. Jika melihat dari tarikh yang terkadang dicantumkan di akhir puisi, baik berupa tahun ataupun bersama dengan bulan, maka nampaknya 51 puisi itu ditulis dalam rentang 2014-2017. Meski demikian, ada juga kita temukan banyak puisi yang tak memiliki penanda tarikh sehingga mungkin saja proses kreatif sang penyair sebenarnya sudah bermula jauh sebelum tahun 2014: lihat misalnya dalam biodata singkat penulis dicantumkan bahwa puisi-puisinya ada yang sudah termuat dalam antologi bersama rilisan Dewan Kesenian Kudus, Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel yang terbit tahun 2013.

Sementara itu, penyusunan puisi-puisinya sendiri tak didasarkan pada urutan kronologis, sebuah metode yang akan menyulitkan penelaahannya akan tetapi di sisi lain berpotensi memudahkan penikmatan puisi-puisi itu sendiri. Pembagian ketiga tema—atau katakanlah tajuk—berupa judul besar yang merangkum sejumlah puisi sendiri bukanlah sesuatu yang baru, kita bisa menemukannya sebagai sesuatu yang juga sudah dilakukan beberapa penyair kita sepanjang waktu, misalnya pada antologi Buku Puisi-nya Hartojo Andangdjaya yang terbit tahun 1973, Notasi Pendosa-nya Acep Iwan Saidi yang terbit tahun 2007, ataupun Pleidoi Malin Kundang Indrian Koto yang terbit tahun 2017.

*

Setiap puisi merupakan eksperimen penyairnya untuk mempraktekkan kemampuannya menulis puisi, demikian pulalah puisi-puisi dalam antologi ini. Nampak bahwa sang penyair tak berpretensi menulis puisi-puisinya dengan aturan rima yang ketat. Puisi-puisinya cenderung merupakan puisi-puisi bebas (free verse), atau lebih tepatnya puisi-puisi awarima. Meski demikian, bisa juga kita temukan terkadang beberapa rima ketat pada bait-bait puisi tertentu, misalnya pada bait awal puisi Plukaran misalnya yang berima aabb.

Pembarisan atau pelarikan (lineation) puisi-puisi dalam antologi ini juga cenderung tak menggunakan aturan umum. Maka kita temukan misalnya huruf-huruf awal per barisnya tidak menggunakan huruf kapital kecuali ketika kata paling awal adalah nama. Ini merupakan teknik yang umum pada puisi-puisi yang menggunakan baris-baris sambung, enjambemen, terutama ketika aspek tanda baca pun tidak digunakan dengan ketat: kita misalnya hanya menemukan beberapa saja tanda petik, titik dua, koma, titik, ataupun tanda tanya pada posisi yang memang sangat membutuhkan tanda-tanda tersebut. Teknik seperti ini memberi kebebasan pada pembaca untuk mengambil jeda sendiri yang kadang tak bisa mengandalkan pemenggalan per baris.

Ada banyak juga ragam gaya bahasa dan bahasa figuratif yang digunakan penyair dalam puisi-puisinya. Kita bisa menemukan banyak penggunaan kilatan atau alusi, misalnya dalam puisi Kau, aku lirik yang “mencari” kekasihnya digambarkan sebagai si “majnun mengendarai rocinante”. Majnun yang dimaksud nampaknya merujuk pada tokoh fiktif Don Quixote yang kudanya memang bernama Rocinante dalam awakarya dunia rekaan Cervantes. Alusi tersebut berguna memperkuat penggambaran kegilaan si aku.

Alusi-alusi yang lain juga bisa ditemukan misalnya Selma dalam Kesedihan Selma, sebagai Selma Karamy (Salma Karamah) dalam Al-Ajnihah al-Mutakassirah (Sayap-sayap Patah) karangan penyair Khalil Jibran. Dalam puisi Suluk Burung, kita bahkan bisa menemukan tiga alusi sekaligus: Attar, Rumi, dan Arabi. Dua yang awal adalah penyair sufistik Persia, sedangkan yang terakhir, Ibnu Arabi, adalah seorang tokoh sufistik kelahiran Spanyol yang digelari Syaikh al-Akbar. Masih dalam puisi yang sama, kita juga bisa menemukan penggunaan Epizeuksis, pengulangan bagian yang dianggap paling penting yang dalam kasus puisi ini adalah frasa “ada yang terbang”.

Sebuah alusi digunakan dengan mengandaikan pembaca mengenal apa yang dirujuk oleh alusi tersebut. Tanpa adanya pengenalan tersebut maka alusi bukannya memberikan efek memperkuat subjek yang dibicarakan, sebaliknya ia akan membuat puisi tersebut membingungkan. Khoirun Niam dalam hal ini nampaknya mengambil alusi yang memang mudah dikenal sehingga akan memudahkan pembacanya pula untuk memahaminya. Terkadang dia juga memberikan petunjuk: dalam puisi Kesedihan Selma misalnya, dia bahkan mencantumkan epigraf berupa nama penyair Khalil Jibran.    

Selain alusi, kita juga banyak menemukan penggunaan simile yang terutama ditandai dengan penggunaan kata seperti, misalnya cahaya bulan mengapung/di langit/seperti warna surga (Subuh), terkadang ada juga penggunaan metafora seperti pada baris aku adalah daun-daun (Risalah Rumah), polisindeton pada Sajak Buat Kurniawan Junaidi, dan anafora pada Sajak Untuk Palestina.   

Lima puluh satu puisi yang ada dalam antologi ini dibagi penyairnya menjadi tiga tajuk, Risalah, Cerita Cinta, Ayat Kopi. Tajuk-tajuk tersebut nampaknya digunakan penyair untuk mengelompokkan puisinya. Hal itu bisa membantu kita melihat konteks keseluruhan puisi-puisi dalam antologi ini. Meski demikian, hal itu bukannya tak berisiko, karena mengelompokkan puisi ke sebuah tajuk kerap kali tidaklah mudah.

Tajuk pertama, Risalah, mungkin dimaksudkan mencakup puisi-puisi yang ditulis dengan tujuan membicarakan berbagai tema yang mungkin saja satu sama lain berbeda, komentar atau kesan sang penulis tentang sesuatu. Tentu tajuk itu juga bisa kita sangkutkan pada empat judul puisi terawal dalam antologi ini, Risalah Rumah, Risalah Dapur, Risalah Perahu, Risalah Anak.

Sementara puisi komentar penyair tentang peristiwa misalnya bisa kita temukan dalam Sajak untuk Palestina, Gaza, Gaza 2 dan Kabar dari Petani Kapulaga. Kesan tentang tempat tertentu bisa kita temukan dalam puisi Plukaran, Pantai Suweru, dan Pantai Benteng Portugis. Kesan tentang momen tertentu bisa kita temukan dalam Satu Gelas Jahe Panas dan Secangkir Kopi, sedangkan tentang sosok bisa kita temukan dalam sajak Ibu dan Sajak Buat Kurniawan Junaidi.

Cukup menarik juga untuk meninjau puisi terakhir di bawah tajuk ini, judulnya Secangkir Kopi. Bahkan dari judul sebenarnya puisi ini lebih cocok dimasukkan ke tema ketiga, Ayat Kopi, tapi mari kita tinjau baris-baris selengkapnya terlebih dahulu sebagai berikut:

secangkir kopi

dibaca diam-diam

 

dari tangan bau tanah

dan kaki masih basah

 

setelah sehari

berkhidmat di sawah

 

secangkir kopi

 

di dalam aromanya

kita bersua

Dalam puisi ini kita temukan frasa secangkir kopi sebagai baris pertama. Frasa tersebut kemudian disangkutkan dengan verba dibaca pada baris kedua sehingga langsung mengangkatnya ke tataran metafor sebagai sebuah hipalase: kopi yang sudah diseduh—dalam cangkir—biasanya dikaitkan dengan verba diminum atau padanannya.

Baris pertama secangkir kopi itu diulang pada baris ketujuh diikuti dua baris penutup yang merupakan keterangan untuk baris ketujuh tersebut. Dengan kata lain, kita bisa mengatakan bahwa pada dasarnya puisi ini terdiri dari dua kalimat: baris pertama sampai keenam merupakan baris-baris enjambemen yang menyusun satu kalimat, sementara baris ketujuh sampai kesembilan adalah baris-baris enjambemen yang menyusun kalimat selanjutnya.

Dengan demikian, verba dibaca itu menjadi lebih mudah dipahami sebagai upaya memadankan secangkir kopi dengan sebuah kisah. Kisah tersebut tersajikan melalui aroma yang disebarkannya, dan di dalamnya “kita” bersua. Relasi dua orang penyusun “kita” ini berdasarkan citraan-citraan yang kita temukan sepanjang puisi akan mudah kita tebak sebagai relasi dua orang pecinta. Karena itulah, andaikata puisi ini tidak ditempatkan di bawah tajuk Ayat Kopi pun maka ia akan lebih cocok untuk ditempatkan di bawah tajuk kedua, Cerita Cinta.

Tajuk kedua, sementara itu, nampaknya membawahi puisi-puisi yang sebagaimana disinggung penyair dalam pengantarnya merupakan hasil usaha dia “mengungkapkan tentang kisah-kisah saya dengan perempuan ada di hati saya”. Sajak-sajak di bawah tajuk ini dengan demikian pada dasarnya sajak-sajak yang cenderung personal dan lebih sukar untuk ditarik ke arah universal. Satu yang berdasarkan kemungkinannya untuk menjadi sebuah puisi yang universal merupakan yang paling berhasil adalah puisi Nelayan Pantai Juwana sebagai berikut ini:

perahu berlayar

mengarungi lautan

 

anak istri

bertatap- setatap

 

di rumah tuanya

ia sempat berucap

 

“kang, besok sepetang

kau sudah ada tangkapan ikan,

pulanglah”

 

ada kabar yang memar

tentang nasib nelayan

dalam telisik keramba

 

sore itu

tak pernah istrinya

menemukan suami pulang

Puisi ini adalah puisi naratif. Di dalamnya kita menemukan tiga tokoh: nelayan, istrinya, dan anaknya. Latar tempat ditunjukkan pada judul: pantai Juwana. Diksi “rumah tua” menunjukkan kemungkinan bahwa kehidupan mereka secara ekonomi tidaklah bagus. “Kabar yang memar” bisa mengisyaratkan dua kemungkinan, pertama, kabar sedih bagi istri si nelayan, kedua, kabar sedih dalam pandangan si pengarang. Atau mungkin bagi kedua-duanya: pesan si istri pada bait keempat ketika sang suami hendak berangkat mungkin menunjukkan firasat buruk akan kabar sedih yang akan tiba, dan itulah yang kemudian menjadi kabar sedih bagi si pengarang ketika misalnya dia membayangkan penantian seorang istri akan suaminya yang pergi melaut tapi kemudian yang terjadi adalah dia tak pernah “menemukan suami pulang”.  

Dalam 15 baris puisi yang pendek-pendek, variasi dua dan tiga kata per baris, meski ada juga yang menggunakan empat dan lima baris, nada sedih bisa lahir dalam puisi ini. Penggunaan diksi-diksi pada akhir beberapa baris, layar dan memar, dua kata yang berakhiran mengambang –ar menyaran pada ketidakpastian kabar dari lautan, sementara setatap dan berucap, dua kata yang berakhir mengatup –ap justru menyaran pada kondisi mulut terkatup, lawan dari keriangan dan tawa. Diksi lautan, ikan, dan nelayan juga mengisyaratkan pertautan antar diksi yang sangat pas.  Lewat puisi ini, kita bisa menemukan bahwa cinta ternyata bisa ditarik ke spektrum yang sangat luas, termasuk kisah cinta suami istri nelayan yang berujung sedih.

Tentu saja puisi cinta adalah jenis puisi yang hampir selalu ditulis penyair mana pun. Ada rujukan ke ungkapan Plato dalam Symposium-nya bahwa “dalam sentuhan cinta, setiap orang menjadi penyair”. Meski kita bisa menemukan kebanyakan puisi di bawah tajuk ini memang puisi cinta—dalam maknanya yang luas, akan tetapi kita hanya bisa menemukan satu nama perempuan yang dijadikan epigraf di bawah tajuk ini: afiz (Cinta Pertama), kita justru menemukan dua nama dua perempuan yang dijadikan epigraf justru pada puisi yang berada di bawah tajuk pertama, nidha ulfa (Pantai Benteng Portugis) dan munawwaroh (Cerita Dari Ujung Desa), ataupun pada tajuk ketiga, yakni khoirunnisa (Pasar Malam) dan muna (Nyanyian Hujan).

Tajuk ketiga dalam antologi ini, Ayat Kopi, serta-merta mengingatkan pada Ayat-ayat Api penyair Sapardi, meski mungkin pula sama sekali tak ada hubungannya. Akan sangat menarik seandainya sang penyair bisa menarik puisi-puisinya di bawah tajuk ini ke arah kritik sosial alih-alih ke kisah cinta. Hal semacam itulah yang dilakukan misalnya oleh penyair Gol A Gong dengan antologi puisinya Air Mata Kopi (Gramedia, 2014). Dalam antologi itu termaktub 49 puisi bertemakan kopi dengan muatan yang sarat kritik sosial. Apa yang dilakukan Khoirun Niam lebih mendekati apa yang dilakukan oleh penyair Agus R. Sardjono dengan puisi-puisinya tentang kopi dalam antologi Kopi, Kretek, Cinta (Komodo Books, 2013).

Lihat misalnya puisi Pemetik Kopi, baris awalnya berbunyi: “sebentar, sayangku, aku pamit memetik kopi”, atau puisi Kopi dan Bahasa Cinta baris-baris pembukanya seperti ini: dik, secangkir kopi darimu pagi ini/meredakan dingin begitu gegas/seperti seretan udara panas pada tungku/yang berapi-api dalam cintanya/dan cintaku memasak bijih kopi. Jika ingin disimpulkan, adalah benar kata-kata sang penyair dalam pengantarnya bahwa puisi-puisinya dalam antologi ini—dan bukan hanya puisi-puisinya yang ditempatkan di bawah tajuk Cerita Cinta—memang merupakan puisi-puisi cinta dalam makna yang seluas-luasnya.

Di bawah tajuk ketiga inilah kita temukan puisi yang bisa kita duga merupakan sumber judul antologi: Nostalgi. Sementara separuh yang lain, Melankoli, secara literal tak ada dalam antologi ini. Kita bisa menduga bahwa kata itu mungkin dihasilkan dari penyimpulan atmosfer puisi-puisi tertentu yang termuat di dalamnya. Sebagaimana tadi sudah ditunjukkan bahwa ada beberapa puisi yang kadang nampak kurang pas di bawah tajuk pertama dan kedua, maka pada tajuk ketiga ini pun puisi Nostalgi nampak sebagai anomali. Begini baris-barisnya selengkapnya:

kemarau panjang mengerkahkan

ladang tebu penuh kembang

 

aku memetik setangkai

merangkainya kerontang

 

dan kupasang di gerai rambutmu

“aih, kau kelihatan cantik sekali”

 

sebuah nostalgi

memaksa kita untuk setia

pada masa lalu

 

memperkenangkan kembang tebu

memperkenangkan dirimu

yang takkan bisa layu di hadapanku

Akan sukar untuk menyangkutkan puisi ini dengan tema besar Ayat Kopi. Citraan yang ada sebagai latar adalah ladang tebu, sementara kontennya sendiri lebih mudah ditarik ke Cerita Cinta. Puisi ini termasuk salah satu puisi yang berhasil dan enak dibaca: atmosfer yang pas disusun melalui diksi yang berima antara panjang, kembang, dan kerontang, jeda yang membuat baris-baris enjambemen tidak terasa dipaksakan, ataupun anafora pada bait terakhir: memperkenangkan. Memang masih kita temukan citraan-citraan yang maknanya sukar diimajinasikan seperti baris merangkainya kerontang, apakah yang dimaksud “kembang tebu yang kering kerontang”? Karena kalau sesuai sintaksis diksi kerontang menjadi adverbia merangkainya, baris tersebut menjadi aneh.

Ambiguitas itu tentu saja berbeda dengan paradoks yang ada dalam baris selanjutnya: rangkaian kembang tebu yang kerontang itu ketika dipasang di gerai rambut maka hasilnya “cantik sekali”. Ini paradoks karena hasil yang logis sebenarnya “buruk sekali”. Tapi paradoks itu terjelaskan oleh baris selanjutnya:

sebuah nostalgi

memaksa kita untuk setia

pada masa lalu

Rangkaian kembang tebu kerontang itu bagian dari nostalgi, kenangan masa lalu, dan kenangan tak pernah menua. “Kita” dalam baris tersebut bisa saja diarahkan untuk menyapa pembaca yang dibayangkan, artinya ungkapan itu merupakan ungkapan umum, akan tetapi bisa juga si subjek lirik dengan “kau” yang disebut dalam baris kelima. Bahwa kenangan tak pernah menua maka hal itu tersirat dari perbandingan kembang tebu yang di musim kemarau panjang pun tetap membuat si “kau” cantik sekali dengan “dirimu yang takkan pernah layu”: sebagaimana “kembang tebu” yang tak tersentuh musim, maka demikian juga “dirimu”.

*

Dalam pengantar yang ditulisnya untuk antologi puisinya ini, Khoirun Ni’am menyinggung bagaimana relasi antara pembaca–teks puisi–penyair terjalin. Pengantarnya merupakan semacam kredo kepenulisan yang sama menariknya dengan puisi dalam antologi ini—atau dalam hubungannya dengan puisi dalam antologi ini—untuk diperbincangkan.

“Pada mulanya puisi ditulis tidak jauh dari biografi penulisnya”, demikian misalnya Khoirun Niam menulis, dan ia sepenuhnya benar, akan tetapi mengutip kata-kata kritikus sastra Rene Wellek dan Austin Warren dalam awakarya mereka Theory of Literature, “meskipun ada karya yang erat kaitannya dengan kehidupan pengarangnya, ini bukan bukti bahwa karya sastra merupakan fotokopi kehidupan”. Dengan demikian, bahkan ketika sebuah puisi ditulis oleh si penyair pertama-tama untuk seseorang—kekasih, ibu, istri, idola, anak, kawan—akan tetapi ketika puisi itu sudah dipublikasikan untuk umum maka sisi personalnya hilang. Bukanlah urusan kita menyelidiki dan mengetahui siapakah Ida dan Mirat dalam puisi-puisinya Chairil sebagaimana siapakah misalnya Nidha Ulfa dan Munawwaroh pada puisi dalam antologi ini, melainkan bagaimana kita menarik sisi universal dari puisi tersebut yang memberikan arti pada kehidupan kita kini.

Merunut puisi sebagai sumber informasi kehidupan penyair mungkin berguna hanya pada saat kita akan menulis biografi penyairnya, atau dalam istilah Wellek: roman biografi. Hal itu pun musti diimbangi oleh penelitian tentang seberapa jauh validitas puisinya dengan dunia nyata. Tanpa tujuan semacam itu, maka tak ada gunanya merekonstruksi—mengutip Wellek—“air mata dan perasaan penciptanya” yang sudah lenyap. Justru tanpa merekonstruksi keduanya itulah sebuah puisi tetap hidup tak ikut raib, sebab ketika sebuah puisi maknanya dikekang oleh makna penulisnya dan taruhlah hal tersebut bisa kita dapatkan, maka puisi itu pun tuntas sebagai puisi: ia tak berpretensi lagi memukau kita.

Sebagai ilustrasi, mari kita baca salah satu puisi Federico Garcia Lorca, salah satu penyair yang juga disinggung penulis dalam pengantarnya. Saya kutipkan satu pasase terjemahan dari versi terjemahan Inggris A.S. Kline yang buku elektroniknya bisa diakses gratis di internet berikut ini:

Maka kubawa dia ke sungai

Beranggapan dia adalah seorang perawan,

Tetapi nampaknya dia memiliki suami.

Saat itu adalah malam Santo Iago,

Dan hampir merupakan malam bertugas.

 

Lampu mati,

Jangkrik pun berbunyi.

Di dekat pojokan jalan terakhir

Kusentuh dua susunya yang terlelap,

Dan keduanya mendadak membuka

Seperti dedaunan bunga bakung.

 

Kanji

Rok dalamnya bergemerisik

Di telingaku seperti potongan-potongan sutra

Yang dicabik-cabik sepuluh belati.

Puisi Lorca di atas bertajuk “Seorang Istri yang tak Setia”. Puisi itu mungkin memiliki makna sendiri yang dipahami Lorca saat dia menulisnya: ia mungkin ditulis berdasarkan pengalamannya sendiri berkencan dengan seorang wanita bernama fulanah dan suaminya bernama fulan, meski bisa juga tidak dan seluruhnya hanya berdasar imajinasinya saja. Taruhlah kita bisa mendapatkan bukti bahwa si aku dalam puisi itu benar-benar Lorca, bahwa kisah dalam puisi itu terjadi pada malam Santo Iago tahun sekian dan adegan dalam puisi itu terjadi di pojokan jalan anu dekat sungai una, lalu—untuk mengajukan semacam pertanyaan pragmatis yang paling mudah—apa gunanya bagi kita? Andaipun pemaknaan semacam itu berguna bagi kita, bukankah pada saat ketika kita memahaminya maka puisi itu pun berhenti memukau kita karena kita sudah tahu maknanya dan tak ada lagi guna membacanya ulang, memaknainya, karena toh maknanya hanya satu, yakni “itu”?

Maka “aku” yang merupakan salah satu pertanda puisi lirik pun pada dasarnya bukanlah “aku-penyair”, ia adalah “aku lirik”, tokoh dalam puisi tersebut yang bisa siapa saja, termasuk kita sang pembaca. Dengan pemahaman seperti itulah maka kita sebagai pembaca mungkin bisa menarik makna dari puisi tersebut yang sangat mungkin berbeda dengan makna seorang pembaca lain yang juga membaca puisi yang sama. Makna puisi yang ditulis Lorca bukan lagi milik Lorca, karena tepat ketika puisi itu menemukan pembacanya, makna puisi tersebut sudah menjadi milik pembacanya. Ketika pembaca bisa menemukan makna puisi tersebut bagi dirinya, maka pada momen itulah Lorca dikatakan sudah berhasil memberikan keuniversalan puisi tersebut meski—misalnya—puisi itu sebermula dimuat olehnya berdasarkan pengalaman personalnya. 

Lagipula, bukankah dengan membatasi makna sebagai sesuatu yang mutlak dipegang penyair, pembaca tak memiliki peran apapun selain menyesuaikan pemahamannya dengan niatan sang penyair ketika menulis puisi itu, atau dalam istilah Khoirun Niam: “puisi itu dapat dipahami oleh penyairnya sendiri”?

Mungkin memang ada pembaca yang menyetujui perannya sebagai hanya seperti itu, akan tetapi akan ada lebih banyak pembaca yang tidak menyetujuinya dan sebaliknya menuntut kebebasan mereka menciptakan makna. Kita, sebagai pembaca, selalu memiliki pilihan lain untuk memaknai sebuah teks sastra melalui perspektif lain, bukan dengan niatan menaruh sang pencipta teks di posisi rendah tanpa diakui sama sekali, melainkan semata supaya teks ciptaannya tetap memberikan “sesuatu” bagi kita, kapan pun ia dibaca, supaya karyanya tetap hidup dan dengan demikian nama penciptanya pun tetap kita ingat.

Begitulah laiknya puisi-puisi Khoirun Niam ini idealnya dipandang, menurut saya: puisi-puisi yang lahir dengan bimbingan ketat sang ayah akan tetapi kemudian membangkang dan pergi dari rumah. Pada akhirnya mau tak mau sang ayah musti merelakan bahwa sang anak memiliki hidup dan cintanya sendiri yang tak terkungkung oleh sebentuk rumah yang disediakannya, ia bukanlah “milik sendiri” sang ayah. Justru karena itulah hidupnya bisa memiliki ragam makna tak terbatas yang bahkan hanya dalam mimpi-mimpi sang ayah pun mungkin tak pernah ada.

“Sastra Indonesia mempunyai jumlah penulis yang bukan main banyaknya. Tapi kebanyakan mereka hanya melongok sastra sebentar, kemudian pensiun.” Demikian kata Budi Darma dalam esainya yang sudah disinggung di awal risalah ini. Antologi Nostalgi dan Melankoli ini adalah antologi puisi tunggal pertama Khoirun Niam. Dengan kata lain, ia adalah bagian dari sebuah awal. Kita bisa membacanya dan menghasilkan kesan kita masing-masing yang membawa pesan sesuai pemahaman masing-masing pula. Setelahnya kita hanya bisa berharap bahwa kehadiran dia dalam dunia puisi bukanlah kehadiran sepintas-lalu, melainkan suatu kehadiran yang berkelanjutan, dengan “permainan” yang terus dia kembangkan dalam antologi-antologi puisinya terkemudian. Semoga.

 

* Tulisan ini dalam versinya yang lebih panjang dimuat sebagai pengantar buku antologi puisi Nostalgi dan Melankoli.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara